Dianti- Kalo di tongkrongan anak muda yang ngomongin pasangan pasti dong pernah denger istilah ini "Dia tuh jinak-jinak merpati”
Awalnya aku kira ini cuma istilah random yang sering dipakai orang.
Sampai akhirnya aku pelihara merpati sendiri sebagai bagian dari kegiatan slow lving, dan malah kena mental dikit.
Jadi gini ceritanya...
Setiap aku datang bawa pakan, merpati-merpati tuh langsung heboh, terbang mendekat, ngerubungin, bahkan kayak yang, “akhirnya kamu datang juga.”
Aku juga sempat kegeeran dong sama sambutan geng merpati.
Wah, ini bonding nih.
Tapi ternyata peran aku cuma mirip kurir syopipud, wkwkwk
Karena begitu mereka kenyang?
Langsung dong beda sikap.
Masih di sekitar, iya. Masih mau deket, iya.
Tapi coba pegang dikit aja?
Langsung: “ih apaan sih kita gak sedeket itu.”
Di situ aku langsung diem.
Ini merpati… atau mas-mas milenial yang katanya nyari jodoh tapi hobi ghosting, wkwkwk
Iya sih Jinak-jinak Merpati, Tapi Sensinya Tipis
Semakin aku perhatiin, semakin kelihatan kalau merpati itu bukan berubah-ubah.
Mereka emang dari sananya begitu.
Bisa dekat, tapi gak pernah benar-benar santai.
Bisa diem di sampingmu, tapi dalam mode siaga.
Yaaa.. kayaknya ini alasan mereka disebut "jinak-jinak merpati".
Baca juga: Kelinci Itu Playboy, atau Kita yang Terlalu Cepat Memberi Label?
Dan yang paling menarik, merpati tuh sensinya tipis banget.
Kita salah dikit, kayak gerakan terlalu cepat, suara agak beda, atau mungkin cuma vibes berubah 0,5 langsung ilfeel.
Terbang! Gak pake pamit dulu dah.
Jadi kalau dipikir-pikir… iya sih, cocok dijadiin analogi.
Tapi kayak analogi yang nyelekit.
Karena kok agak mirip sama kelakuan mas-mas milenial yang punya ciri khas dry text itu, familiar ya?
Plot Twist, Kemiripan dengan Mas-mas Milenial
Ternyata di psikologi, pola "jinak-jinak merpati" tuh ada penjelasannya.
Namanya Attachment Theory.
Salah satu tipenya adalah Avoidant Attachment.
Versi gampangnya gini: pengen dekat… tapi takut kalau terlalu dekat.
Mirip sama kelakuan mas-mas milenial kan?
Yang kalo tahajud do'anya gini:
"Ya Allah pertemukanlah hamba dengan jodoh pilihanmu"
tapi pas besoknya dipertemukan nih sama si jodoh, si mas-mas milenial mikir gini:
"Heeemmm, kayaknya dia bukan jodo gue" (padahal ngobrol aja baru 10 kata), wkwkwk
Tapi intinya, makhluk bertipe Avoidant Attachment bukan gak punya perasaan.
Tapi juga gak nyaman sama perasaan itu sendiri, betuuuuul?
Avoidant itu Santai di Luar tapi Panik di Dalam
Yang bikin bingung, orang kayak gini tuh di awal bisa normal banget.
Bisa seru diajak ngobrol. Bisa perhatian. Bisa bikin kamu mikir, “wah ini beda nih.”
Terus begitu mulai serius dikit…
ilang.....
Atau masih ada sih, tapi auranya kayak tiba-tiba asing karena ilfeell.
Kalo softwre tuh kayak update versi, tapi malah downgrade. ehh ngerti kan maksudnya?
Karena di dalam diri mereka tuh ada alarm sendiri.
Dan alarmnya bunyi kalau keadaan mulai terlalu dekat.
Polanya: Datang, Dekat, Hilang, Balik Lagi
Kalau dirangkum, siklusnya tuh gini:
Datang → dekat → nyaman → ghosting→ asing→ muncul lagi → repeat.
Kalau ini dijadiin lagu, mungkin genrenya bukan pop.
Ini EDM, naik turun, tapi capek di kuping.
Dan di titik ini, wajar kalau orang mulai bilang “ini mah jinak-jinak merpati.”
Padahal… Bisa Jadi Bukan Soal Niat
Bagian ini nih yang agak nyesek.
Gak semua yang kayak gini tuh niatnya jahat.
Kadang… mereka cuma gak tahu cara buat tetap tinggal tanpa ngerasa terancam.
Karena buat sebagian orang, dekat itu bukan cuma hangat.
Dekat itu juga rawan.
Rawan kecewa.
Rawan kehilangan.
Rawan ngerasain hal yang dulu pernah nyakitin.
Jadi ya… mereka mundur.
Bukan karena gak peduli, tapi karena takut kebablasan peduli.
Yang Terjadi: Satu Lari, Satu Ngejar
Dan biasanya, ini gak terjadi sendirian.
Yang satu mundur, yang satu maju.
Yang satu butuh ruang, yang satu butuh kejelasan.
Yang satu bilang, “aku lagi butuh waktu.”
Yang satu jawab, “aku tunggu kok,” sambil pelan-pelan kehilangan diri sendiri.
Akhirnya?
Bukan ketemu di tengah.
Tapi saling capek di posisi masing-masing.
Dari Merpati, Aku Belajar Sesuatu
Setelah lama ngeliatin kelakuan merpati setiap hari, aku jadi sadar satu hal.
Merpati gak pernah pura-pura.
Dia cuma mendekat saat merasa aman, dan menjauh saat tidak.
Dan mungkin aja… manusia juga begitu.
Cuma bedanya, kita lebih ribet.
Kita punya ego, trauma, dan kemampuan untuk bilang “gwechana” padahal jelas-jelas sebaliknya.
Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual
Tapi Ya… Kita Juga Punya Pilihan
Ngerti itu penting.
Tapi bukan berarti harus bertahan.
Setiap orang punya hak untuk boleh milih yang jelas.
Yang gak bikin mikir, “ini gue lagi apa sih?” tiap malam sebelum tidur.
Karena jujur aja… suatu hubungan itu gak seharusnya bikin kamu jadi detektif full-time.
Penutup: Mungkin Ini Bukan Tentang Merpati
Akhirnya aku sadar, ini bukan soal merpati.
Ini soal cara kita melihat orang lain dan cara kita bertahan di suatu hubungan.
Merpati akan tetap terbang kalau merasa gak aman.
Dan manusia juga, cuma caranya lebih halus.
Bedanya, manusia berakal dan pasti bisa memilih.
Mau terus ngejar sesuatu yang tiap didekati malah menjauh, atau pelan-pelan mundur, dan cari yang emang dari awal gak niat kabur.
Karena capek juga ya… bareng sama yang tiap dideketin dikit langsung bilang,
“ih kita gak sedeket itu.”***

“Jinak-jinak merpati” ini bukan cuma judul, tapi juga rasa yang kebawa sampai akhir tulisan. Aku suka bagaimana kamu menyampaikan tentang ritme hidup yang kadang harus kita pelankan, meski nggak selalu mudah. Tulisan yang tenang tapi diam-diam ngena
BalasHapusterimakasih kak udah baca tulisannya sampai akhir :D
HapusKalo Ghosting itu gimana? kan mendekaaaat, eh tiba-tiba menghilang. Nanti kalo datang lagi setelah sekian lama, apakah itu termasuk juga avoidant attachment?
BalasHapusavoidant itu lebih ke takut jarak hingga ngaruh ke siklusnya dalam berelasi
HapusBaru tahu aku maksud jinak-jinak merpati selama ini mikir aja maksudnya gimana...jadi meski terlihat jinak mereka itu selalu dalam mode waspada gitu yaaa...mendekat tapi gak mau sampe ketergantungan yaa gak siee hehe
BalasHapusiya betul mbak, hampir kayak hyper independent dalam hal emosional, hehe
HapusWah, kalau dari tulisan ini ternyata saya pernah juga di posisi itu, kalau merasa terancam mencoba menghilang, tapi itu juga semacam seni dalam hubungan ya mbak? jadinya merasa capek sendiri di posisi masing-masing. Jadi inget tempoe doeloe mbak.
BalasHapuscapeeek banget sih pasti mbak, tapi sekarang udah bebas kan? hehe
HapusJinak-jinak merpati, mudah didekati, tetapi sukar ditawan..
BalasHapusAkhirnya sampai usia 30-an, terus tantrum waktu lebaran ditanya "Nikahnya, kapan?" kwkwkwk
memang sukar dijinakkan ya, hehe
HapusTernyata maksud jinak jinak merpati tuh gini ya. Aku baru tahu. Aku baca ini aku merasa menjadi mas mas milenial nya sih. Dulu.. Wkwkwk
BalasHapusalah-alah kok bisa ya (sambil nada nyanyi) hihihi
HapusTernyata begitu ya maksud jinak-jinak merpati itu. Tapi bukannya merpati juga dikenal sebagai hewan yang setia ya, kak?
BalasHapusiya betul mbak, setia sama pasangannya, tapi waspada sama pemiliknya, hehehe
HapusTernyata jinak-jinak merpati itu bukan sekedar slogan ya mba...beneran ada teorinya. Jadi siapapun bisa seperti itu ya kalau merasa aman pasti mendekat.
BalasHapusiya sih mendekat, tapi gak semua bisa clingy
HapusHehehehe tergantung sudut pandangnya sih ya. Asal dibuat perumpamaan ini dulunya ditujukan untuk perempuan. Nah klo sekarang bisa yaa diterapkan ke mas-mas yg suka ghosting 😁
BalasHapussoalnya di jaman sekarang gak cuma mas-mas yang nembak, mbak-mbak juga udah besar nyali, hihihi
HapusTerlalu dekat jangan
BalasHapusKejauhan pun jangan
Padahal jauh dekat 3500 kalau naik TiJe hehe.
Ada makna filosofi tersendiri ternyata soal Jinak-jinak merpati ini ya
iyaa betul, pokoknya ada jarak aman diantara kita (kata merpati) hehe
HapusMashaAllah yaa.. dari burung dan sekitarnya.. kita bisa mengambil pelajaran psikologi yang waw.. kalau dimaknai, seharusnya bikin kita gak baperan sama yang terjadi dalam hidup.
BalasHapusKarena itu sesuatu yang natural aja yaa.. people come and go.
iya mbak, kalo disambung-sambungin ke mas-mas milenial agak maksa gaksih? hehehe
HapusAku justru sering denger istilah jinak-jinak merpati tuh untuk perempuan yang sulit didekati
BalasHapusTapi kalau dari karakter merpati secara real sih memang ya setuju, mereka akan mendekat saat kita bawa pakan lalu bergerak ketika merasa tidak aman dan tidak nyaman
kan gen sekarang mau laki mau perempuan gak masalah buat confess duluan, hihihi
HapusUngkapan jinak-jinak merpati ini sekarang terasa "klasik" (untuk tidak mengatakan "jadul"), mungkin sudah cukup karang dipakai, tapi ternyata ada penjelasannya dari sisi ilmiah ya. Tapi kukira kadang jinak-jinak merpati itu memang ada niatan mau jual mahal sih, rupanya bisa jadi karena kepanikan dalam diri juga ya.
BalasHapusiya ternyata, panik duluan sebenernya mbak, hehehe
HapusJinak-jinak merpati ini bukannya maksudnya sok jual mahal ya? Dia sebenarnya mau, tapi saat kita dekati balik dia malah menjauh atau sok-sok nggak berminat. Kitanya yang harus agak jual mahal dikit biar dia tetep mendekat.
BalasHapustarik ulur itu ternyata salah satu jurus jitu ya mas
HapusSudut pandang yang menarik. Tergantung kita melihat "merpati" ini sebagai objek atau subjek. Kalau dianalogikan dengan mas-mas ghosting, apakah si mas-nya itu memang jinak-jinak merpati, atau sebetulnya ekspektasi yang deketin yang ketinggian?
BalasHapusramai di toktok, gen z sekarang menyebut fenomena tersebut sebagai jomblo seledri (selera tinggi gatau diri), hiihii
HapusBaru tahu dengan istilah ini.. Meskipun sering dengar. Benar banget merpati memang selalu setia jika sudah dikasih makan.
BalasHapusbetah dipelihara dong dia
HapusWah iya, analogi dari kalimat jinak-jinak merpati ini secara nggak langsung pernah aku alami semasa kuliah, syukurlah saat itu aku nganggap senior yang sering datang dan pergi adalah orang gabut yang butuh teman ngobrol, jadi nggak baper karena tau setiap dia ajak ketemuan artinya dia lagi putus sama pacarnya. Cuma kejadian berulang itu bikin eneg, aku putuskan buat membatasi diri dan memilih orang yang dirasa lebih tepat, nggak kabur-kaburan.
BalasHapusDari artikel ini aku memetik banyak info, POV ku bisa meluas juga. Keren sih, satu kalimat bisa dianalisa sedalam dan seluas itu.
Iya siih.. gaenak juga yaa.. kalo didatengin cuma pas lagi "butuh" aja..
HapusBerassaa.. banget tuuh..
Semoga memang attachment ini ada.. bonding dengan kehidupan in realyfe.. gak kayak merpati yang meski tak ingkar janji, tapiii moody-an banget.. huhuhu..
bangga dengan keputusannya mbak, dan bagus untuk menetapkan boundaries, bukan karena kapok, tapi jadi lebih tau nilai diri kita dimata orang
HapusIni aslinya udah kaya karakter sih, dan aku sudah sering nemuin tipikal Avoidant attachment dalam kehidupan baik pertemanan maupun lainnya. Intinya kita jangan terlalu baperan klo nemu yang tipe kaya gini sih hehehe
BalasHapuslevel maklum harus sedikit dinaikan ya kaan? hehe
Hapus