dianti- Terkadang slow living itu ada aja gebrakan yang bikin bengongnya.
Kali ini aku malah bengong di pinggir kolam ikan sambil menjalani rutinitas ngasih pakan.
Di situ aku ngeliatin dua jenis ikan yang menurutku masih bersaudara hidup berdampingan dengan damai, yaitu lele dan patin.
Airnya sama, pakannya sama, kolamnya juga sama, tapi vibe hidupnya beda.
Lele berenang lincah, geraknya cepat, kadang nyeruduk sesama.
Patin lebih kalem, jalannya pelan, kayak mikir dulu sebelum ngambil keputusan.
Aku refleks mikir:
“Ini ikan apa simulasi kelas sosial?”
Dan sejak saat itu, kolam ini berubah jadi ruang observasi sosial paling jujur yang pernah aku lihat.
Satu Kolam, Tapi Nggak Semua Ikan Hidup dengan Cara yang Sama
Secara ilmiah, lele dan patin itu masih satu keluarga besar.
Dua-duanya masuk ordo Siluriformes.
Sama-sama berkumis atau ama-sama ikan jenis lele-lelean.
Kalau di dunia manusia, ini kayak saudara kandung yang lahir dari orang tua sama, tapi dengan karakter yang berbeda.
Yang satu tumbuh di lingkungan keras, satu lagi tumbuh di lingkungan yang masih manusiawi.
Baca juga: Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?
Lele: Aktif, Agresif, dan Terbiasa Hidup di Tekanan
Lele itu sering dibilang galak.
Padahal, kalau mau jujur, lele cuma terlatih hidup susah.
Dalam kajian fisiologi ikan, lele (Clarias sp.) dikenal sebagai spesies dengan toleransi stres lingkungan yang tinggi.
Mereka mampu bertahan di kondisi yang bikin ikan lain KO, kenapa?
Karena airnya itu memiliki kadar oksigen rendah, air keruh, kepadatan tinggi, sampai fluktuasi kualitas air yang ekstrem.
Studi pada Clarias gariepinus pun menunjukkan lele punya sistem respirasi tambahan dan regulasi metabolik yang membuatnya tetap aktif meski kondisi lingkungan buruk.
Artinya lele bukan kebal stres, tapi tubuhnya dipaksa beradaptasi terus-menerus.
Dalam ilmu perilaku stres, pola ini dikenal sebagai active coping style, yaitu strategi menghadapi tekanan dengan respons aktif, agresif, dan konfrontatif.
Individu dengan coping style ini cenderung tetap bergerak, melawan kondisi, dan mempertahankan aktivitas meski stres tinggi (Koolhaas et al., Trends in Neurosciences, 1999).
Versi manusianya?
Ini tipe orang yang hidupnya keras dari awal.
Bukan karena ambisi.
Tapi karena berhenti sedikit aja, sistemnya runtuh.
Secara biologis, strategi ini memang efektif untuk bertahan di lingkungan brutal.
Tapi risikonya jelas, yaitu beban fisiologis kronis.
Penelitian lanjutan menunjukkan active coping yang berkepanjangan berkaitan dengan peningkatan hormon stres dan kelelahan jangka panjang (McEwen, Annals of the New York Academy of Sciences, 2007).
Makanya lele sering dipuji “kuat”.
Padahal kalau mau jujur, itu bukan kuat.
Itu terbiasa dipaksa bertahan.
Patin: Sensitif, Kalem, dan Tubuh yang Masih Mau Jujur
Patin sering kena framing jahat.
Dibilang manja, dibilang lembek, atau yang paling kejam: “kurang mental.”
Padahal patin itu bukan lemah.
Dia sensitif, dan tubuhnya masih jujur sama apa yang dia rasain.
Dalam literatur fisiologi dan budidaya ikan, patin (Pangasius sp.) dikenal sebagai spesies yang responsnya cepat terhadap perubahan lingkungan.
Penelitian di Aquaculture Research dan Journal of Fish Biology mencatat bahwa patin menunjukkan penurunan nafsu makan, perlambatan gerak, dan perubahan perilaku ketika kualitas air, suhu, atau kepadatan tidak ideal.
Bukan drama semata perilaku yang ditunjukan oleh ikan patin, tapi itu respons biologis yang nyata.
Secara ilmiah, pola ini masuk ke dalam apa yang disebut passive coping style.
Bruce McEwen, merupakan nama yang hampir selalu muncul dalam studi stres biologis menjelaskan coping pasif adalah strategi bertahan dengan cara mengurangi aktivitas, menghemat energi, dan menarik diri dari sumber tekanan.
Tubuh patin memilih berkata“Stop dulu, gue nggak sanggup.”
Dan ini penting, coping pasif bukan tanda kelemahan, tapi tanda sistem saraf yang masih peka.
Patin tidak memaksa dirinya “tetap kuat” ketika kondisi sudah tidak aman.
Dia membaca sinyal tubuh, lalu menyesuaikan diri.
Kalau patin manusia, ini tipe yang masih berani bilang,
“Capek ya capek.”
“Lingkungannya nggak sehat.”
“Gue butuh jeda.”
Masalahnya, di dunia yang mengagungkan lele yang aktif, agresif, tahan banting, sikap patin yang pasif dan sensitif sering dianggap cacat karakter.
Padahal secara biologis, ini justru tubuh yang belum mati rasa.
Dalam studi neuroendokrin stres, respons pasif sering dikaitkan dengan sensitivitas terhadap kortisol dan regulasi energi jangka panjang.
Artinya, patin tidak menabrak stres, tapi mencoba bertahan tanpa merusak dirinya sendiri.
Sayangnya, di sistem yang menghargai produktivitas tanpa henti, kejujuran tubuh sering disalahartikan sebagai kemalasan.
Padahal mungkin, patin bukan kurang kuat.
Dia cuma menolak pura-pura kuat.
Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup
Lele dan patin nggak pernah debat siapa paling kuat.
Karena alam nggak peduli pencitraan.
Dia cuma peduli satu hal: siapa bertahan di kondisi tertentu.
Active coping unggul di lingkungan keras jangka panjang, tapi risikonya beban fisiologis tinggi.
Passive coping lebih sehat di lingkungan stabil, tapi rentan di sistem brutal.
Versi manusia:
Yang kuat di sistem keras bukan selalu yang paling sehat.
Cuma yang paling terbiasa.
Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan
Orang dari kelas ekonomi bawah sering dipaksa jadi “lele”.
Aktif. Agresif. Nggak boleh lelah.
Bukan karena mau. Tapi karena nggak punya opsi.
Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman bisa “jadi patin”. Bisa istirahat. Bisa sensitif. Bisa mikir ulang.
Lalu yang terjadi?
Yang lele dibilang toxic. Yang patin dibilang lemah.
Padahal akar masalahnya bukan di orangnya.
Tapi di sistem yang bikin pilihan hidup jadi timpang.
Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Nggak
Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama.
Secara ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan (Begon et al., Ecology).
Alam paham satu hal penting: Keberagaman strategi itu sistem pengaman.
Manusia sering lupa bagian ini.
Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup
Lele dan patin sebenarnya gak pernah ribut, mereka akur-akur aja hidup di kolam yang sama.
Tidak ada debat panjang ala podcast motivasi tentang siapa paling kuat mental.
Karena alam tidak peduli pencitraan.
Tidak peduli siapa yang paling sering bilang “aku kuat kok”.
Dalam biologi perilaku, ini bukan soal niat baik atau karakter, tapi soal strategi.
Active coping seperti lele unggul di lingkungan keras, penuh tekanan, berubah ubah, dan tidak ramah.
Konsekuensinya jelas, tubuh dipaksa kerja terus, stres kronis jadi langganan, capek dianggap default setting.
Passive coping seperti patin lebih sehat kalau lingkungannya stabil.
Masalahnya, dunia jarang stabil dan sistem brutal tidak sabar menunggu orang yang butuh jeda.
Versi manusianya begini:
"Yang terlihat kuat di sistem keras itu bukan selalu yang paling sehat, tapi yang paling lama pura pura baik baik saja."
Dan pura pura kuat itu bukan skill, itu mekanisme bertahan hidup yang sering disalahpahami sebagai prestasi.
Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual
Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan
Bagian ini biasanya bikin aku ketawa kecil, lalu hening setelah mengamati perilaku hewan-hewan peliharaan.
Banyak orang dari kelas ekonomi bawah dipaksa hidup seperti lele.
Aktif dan sigap terus, dituntut ultifungsi tanpa mode istirahat.
Ibarat kata capek mah nanti dulu, tapi tagihan tidak bisa menunggu mood.
Bukan karena mereka ambisius, tapi jika berhenti sebentar saja, hidup bisa langsung goyah.
Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman punya opsi buat jadi patin.
Mereka bisa jujur kalo ngerasa capek, kemudian bisa menarik diri sejenak, dan bisa mikir ulang hidup tanpa langsung panik soal besok makan apa.
Lalu ruang sosial mulai ribut.
Yang hidup seperti lele dibilang toxic, terlalu keras, terlalu reaktif.
Yang hidup seperti patin dibilang lemah, baperan, kurang mental.
Padahal yang satu kelelahan, yang satu kewalahan.
Mereka cuma menjalani hidup dengan beda konteks, bukan beda niat.
Ironisnya, yang paling sering disuruh healing justru yang dari awal tidak pernah punya waktu buat luka.
Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Tidak
Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama, gak saling nyindir, dan gak berebut siapa paling berhak disebut kuat.
Dalam ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies berbeda bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan.
Lele ambil ruang keras, dan patin ambil ruang tenang.
Tidak ada yang maksa patin jadi lele demi validasi.
Alam paham satu hal penting, bahwa keberagaman strategi itu bukan kelemahan, tapi sistem pengaman.
Manusia sering lupa bagian ini.
Kita sibuk nyuruh semua orang kuat dengan cara yang sama, padahal kondisi hidupnya beda beda.
Bertahan Hidup Itu Tidak Harus Seragam
Lele mengajarkan cara tetap jalan saat hidup menekan tanpa ampun.
Patin mengajarkan kapan tubuh perlu dijaga sebelum rusak permanen.
Dua duanya valid dan tidak ada yang lebih mulia.
Kalau hidup seperti lele, terus gas meski capek, itu bukan karena lemah mental.
Itu karena hidupmu tidak ngasih tombol pause.
Kalau kamu hidup seperti patin, sensitif, butuh ruang, ingin pelan pelan, itu juga bukan manja. itu tubuh yang masih berani jujur.
Hidup bukan lomba siapa paling tahan disiksa.
Kadang yang paling waras justru yang berani melambat, meski dunia teriak, “ayo cepetan”.
Dan kalau lele dan patin saja bisa hidup rukun di satu kolam, harusnya kita bisa berhenti saling ngejudge, dan mulai nanya hal yang lebih penting.
Kamu capek karena lemah atau karena terlalu lama bertahan di sistem yang tidak manusiawi.
Sisanya, biarlah alam tetap jadi guru paling jujur.***




