Lele & Patin, Perilaku Active Pasive Coping dalam Bertahan Hidup

Sabtu, Januari 31, 2026 0 Comments


dianti- Terkadang slow living itu ada aja gebrakan yang bikin bengongnya.

Kali ini aku malah bengong di pinggir kolam ikan sambil menjalani rutinitas ngasih pakan.

Di situ aku ngeliatin dua jenis ikan yang menurutku masih bersaudara hidup berdampingan dengan damai, yaitu lele dan patin. 

Airnya sama, pakannya sama, kolamnya juga sama, tapi vibe hidupnya beda.

Lele berenang lincah, geraknya cepat, kadang nyeruduk sesama. 

Patin lebih kalem, jalannya pelan, kayak mikir dulu sebelum ngambil keputusan.

Aku refleks mikir:

“Ini ikan apa simulasi kelas sosial?”

Dan sejak saat itu, kolam ini berubah jadi ruang observasi sosial paling jujur yang pernah aku lihat.

Satu Kolam, Tapi Nggak Semua Ikan Hidup dengan Cara yang Sama

Secara ilmiah, lele dan patin itu masih satu keluarga besar. 

Dua-duanya masuk ordo Siluriformes. 

Sama-sama berkumis atau ama-sama ikan jenis lele-lelean.

Kalau di dunia manusia, ini kayak saudara kandung yang lahir dari orang tua sama, tapi dengan karakter yang berbeda.

Yang satu tumbuh di lingkungan keras, satu lagi tumbuh di lingkungan yang masih manusiawi.


Baca juga: Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?


Lele: Aktif, Agresif, dan Terbiasa Hidup di Tekanan

Lele itu sering dibilang galak.

Padahal, kalau mau jujur, lele cuma terlatih hidup susah.

Dalam kajian fisiologi ikan, lele (Clarias sp.) dikenal sebagai spesies dengan toleransi stres lingkungan yang tinggi. 

Mereka mampu bertahan di kondisi yang bikin ikan lain KO, kenapa?

Karena airnya itu memiliki kadar oksigen rendah, air keruh, kepadatan tinggi, sampai fluktuasi kualitas air yang ekstrem. 

Studi pada Clarias gariepinus pun menunjukkan lele punya sistem respirasi tambahan dan regulasi metabolik yang membuatnya tetap aktif meski kondisi lingkungan buruk.

Artinya lele bukan kebal stres, tapi tubuhnya dipaksa beradaptasi terus-menerus.

Dalam ilmu perilaku stres, pola ini dikenal sebagai active coping style, yaitu strategi menghadapi tekanan dengan respons aktif, agresif, dan konfrontatif. 

Individu dengan coping style ini cenderung tetap bergerak, melawan kondisi, dan mempertahankan aktivitas meski stres tinggi (Koolhaas et al., Trends in Neurosciences, 1999).

Versi manusianya?

Ini tipe orang yang hidupnya keras dari awal.

Bukan karena ambisi.

Tapi karena berhenti sedikit aja, sistemnya runtuh.

Secara biologis, strategi ini memang efektif untuk bertahan di lingkungan brutal. 

Tapi risikonya jelas, yaitu beban fisiologis kronis. 

Penelitian lanjutan menunjukkan active coping yang berkepanjangan berkaitan dengan peningkatan hormon stres dan kelelahan jangka panjang (McEwen, Annals of the New York Academy of Sciences, 2007).

Makanya lele sering dipuji “kuat”.

Padahal kalau mau jujur, itu bukan kuat.

Itu terbiasa dipaksa bertahan.

Patin: Sensitif, Kalem, dan Tubuh yang Masih Mau Jujur

Patin sering kena framing jahat.

Dibilang manja, dibilang lembek, atau yang paling kejam: “kurang mental.”

Padahal patin itu bukan lemah.

Dia sensitif, dan tubuhnya masih jujur sama apa yang dia rasain.

Dalam literatur fisiologi dan budidaya ikan, patin (Pangasius sp.) dikenal sebagai spesies yang responsnya cepat terhadap perubahan lingkungan. 

Penelitian di Aquaculture Research dan Journal of Fish Biology mencatat bahwa patin menunjukkan penurunan nafsu makan, perlambatan gerak, dan perubahan perilaku ketika kualitas air, suhu, atau kepadatan tidak ideal. 

Bukan drama semata perilaku yang ditunjukan oleh ikan patin, tapi itu respons biologis yang nyata.

Secara ilmiah, pola ini masuk ke dalam apa yang disebut passive coping style.

Bruce McEwen, merupakan nama yang hampir selalu muncul dalam studi stres biologis menjelaskan coping pasif adalah strategi bertahan dengan cara mengurangi aktivitas, menghemat energi, dan menarik diri dari sumber tekanan.

Tubuh patin memilih berkata“Stop dulu, gue nggak sanggup.”

Dan ini penting, coping pasif bukan tanda kelemahan, tapi tanda sistem saraf yang masih peka.

Patin tidak memaksa dirinya “tetap kuat” ketika kondisi sudah tidak aman. 

Dia membaca sinyal tubuh, lalu menyesuaikan diri.

Kalau patin manusia, ini tipe yang masih berani bilang,
“Capek ya capek.”
“Lingkungannya nggak sehat.”
“Gue butuh jeda.”

Masalahnya, di dunia yang mengagungkan lele yang aktif, agresif, tahan banting, sikap patin yang pasif dan sensitif sering dianggap cacat karakter. 

Padahal secara biologis, ini justru tubuh yang belum mati rasa.

Dalam studi neuroendokrin stres, respons pasif sering dikaitkan dengan sensitivitas terhadap kortisol dan regulasi energi jangka panjang. 

Artinya, patin tidak menabrak stres, tapi mencoba bertahan tanpa merusak dirinya sendiri.

Sayangnya, di sistem yang menghargai produktivitas tanpa henti, kejujuran tubuh sering disalahartikan sebagai kemalasan.

Padahal mungkin, patin bukan kurang kuat.

Dia cuma menolak pura-pura kuat.

Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup


Lele dan patin nggak pernah debat siapa paling kuat.

Karena alam nggak peduli pencitraan.

Dia cuma peduli satu hal: siapa bertahan di kondisi tertentu.

Active coping unggul di lingkungan keras jangka panjang, tapi risikonya beban fisiologis tinggi. 

Passive coping lebih sehat di lingkungan stabil, tapi rentan di sistem brutal.

Versi manusia:

Yang kuat di sistem keras bukan selalu yang paling sehat. 

Cuma yang paling terbiasa.

Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan

Orang dari kelas ekonomi bawah sering dipaksa jadi “lele”.

Aktif. Agresif. Nggak boleh lelah.

Bukan karena mau. Tapi karena nggak punya opsi.

Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman bisa “jadi patin”. Bisa istirahat. Bisa sensitif. Bisa mikir ulang.

Lalu yang terjadi?

Yang lele dibilang toxic. Yang patin dibilang lemah.

Padahal akar masalahnya bukan di orangnya. 

Tapi di sistem yang bikin pilihan hidup jadi timpang.

Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Nggak

Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama.

Secara ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan (Begon et al., Ecology).

Alam paham satu hal penting: Keberagaman strategi itu sistem pengaman.

Manusia sering lupa bagian ini.

Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup

Lele dan patin sebenarnya gak pernah ribut, mereka akur-akur aja hidup di kolam yang sama.

Tidak ada debat panjang ala podcast motivasi tentang siapa paling kuat mental.

Karena alam tidak peduli pencitraan.

Tidak peduli siapa yang paling sering bilang “aku kuat kok”.

Dalam biologi perilaku, ini bukan soal niat baik atau karakter, tapi soal strategi.

Active coping seperti lele unggul di lingkungan keras, penuh tekanan, berubah ubah, dan tidak ramah.

Konsekuensinya jelas, tubuh dipaksa kerja terus, stres kronis jadi langganan, capek dianggap default setting.

Passive coping seperti patin lebih sehat kalau lingkungannya stabil.

Masalahnya, dunia jarang stabil dan sistem brutal tidak sabar menunggu orang yang butuh jeda.

Versi manusianya begini:

"Yang terlihat kuat di sistem keras itu bukan selalu yang paling sehat, tapi yang paling lama pura pura baik baik saja."

Dan pura pura kuat itu bukan skill, itu mekanisme bertahan hidup yang sering disalahpahami sebagai prestasi.


Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual


Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan

Bagian ini biasanya bikin aku ketawa kecil, lalu hening setelah mengamati perilaku hewan-hewan peliharaan.

Banyak orang dari kelas ekonomi bawah dipaksa hidup seperti lele.

Aktif dan sigap terus, dituntut ultifungsi tanpa mode istirahat.

Ibarat kata capek mah nanti dulu, tapi tagihan tidak bisa menunggu mood.

Bukan karena mereka ambisius, tapi jika berhenti sebentar saja, hidup bisa langsung goyah.

Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman punya opsi buat jadi patin.

Mereka bisa jujur kalo ngerasa capek, kemudian bisa menarik diri sejenak, dan bisa mikir ulang hidup tanpa langsung panik soal besok makan apa.

Lalu ruang sosial mulai ribut.

Yang hidup seperti lele dibilang toxic, terlalu keras, terlalu reaktif.

Yang hidup seperti patin dibilang lemah, baperan, kurang mental.

Padahal yang satu kelelahan, yang satu kewalahan.

Mereka cuma menjalani hidup dengan beda konteks, bukan beda niat.

Ironisnya, yang paling sering disuruh healing justru yang dari awal tidak pernah punya waktu buat luka.

Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Tidak

Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama, gak saling nyindir, dan gak berebut siapa paling berhak disebut kuat.

Dalam ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies berbeda bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan.

Lele ambil ruang keras, dan patin ambil ruang tenang.

Tidak ada yang maksa patin jadi lele demi validasi.

Alam paham satu hal penting, bahwa keberagaman strategi itu bukan kelemahan, tapi sistem pengaman.

Manusia sering lupa bagian ini.

Kita sibuk nyuruh semua orang kuat dengan cara yang sama, padahal kondisi hidupnya beda beda.

Bertahan Hidup Itu Tidak Harus Seragam

Lele mengajarkan cara tetap jalan saat hidup menekan tanpa ampun.

Patin mengajarkan kapan tubuh perlu dijaga sebelum rusak permanen.

Dua duanya valid dan tidak ada yang lebih mulia.

Kalau hidup seperti lele, terus gas meski capek, itu bukan karena lemah mental.

Itu karena hidupmu tidak ngasih tombol pause.

Kalau kamu hidup seperti patin, sensitif, butuh ruang, ingin pelan pelan, itu juga bukan manja. itu tubuh yang masih berani jujur.

Hidup bukan lomba siapa paling tahan disiksa.

Kadang yang paling waras justru yang berani melambat, meski dunia teriak, “ayo cepetan”.

Dan kalau lele dan patin saja bisa hidup rukun di satu kolam, harusnya kita bisa berhenti saling ngejudge, dan mulai nanya hal yang lebih penting.

Kamu capek karena lemah atau karena terlalu lama bertahan di sistem yang tidak manusiawi.

Sisanya, biarlah alam tetap jadi guru paling jujur.***

Pengalaman Belajar Machine Learning dan Artificial Intelligence di DQ Lab: Awal Cerita, Bukan Akhir Perjalanan

Minggu, Januari 25, 2026 0 Comments
Belajar Data Science di DQ Lab
Foto: Data by Freepik


dianti- Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI) itu terdengar keren.

Terlalu keren, malah untukku di tahun 2021 lalu.

Beberapa tahun lalu, jujur aja, aku sempat mikir, “kayaknya ini bukan buat aku deh.”

Bukan karena gak tertarik, tapi lebih ke minder duluan.

Takut banget kalau kelihatan bodoh. 

Takut gak nyambung. 

Takut cuma jadi penonton yang ibaratnya salah masuk ruangan.

Sampai akhirnya di tahun 2021, rasa penasaran menang telak dari rasa insecure.

Aku daftar kelas Data Science di DQLab lewat program DQLab x Kominfo.

Niatnya gak muluk-muluk.

Aku cuma ingin paham.

Gak mau selamanya cuma ikut angguk-angguk kalau dengar orang ngomongin data, machine learning, atau AI, sambil berharap topiknya cepat selesai karena gak ada pengetahuan.

Setidaknya, kalau nanti topik itu muncul lagi, aku tahu gambaran besarnya.

Walaupun gak jadi expert di bidangnya, tapi gak asing dan aku bangga setidaknya pernah mempelajari.

Belajar Data Science di DQLab, Ternyata Seru!

Kalau diingat dan dihitung, itu udah lama banget. 

Di riwayat belajarku, tercatat aku menyelesaikan 8 modul ajar Data Science.

Mulai dari Introduction to Data Science with R and Python, lanjut ke fundamental data, data visualization, sampai akhirnya nyobain project Machine Learning.

Belajar Python dan R itu... menurutku seru banget.

Tapi juga bikin mikir.

Sering banget muncul dialog batin:

“Ini aku yang salah ngetik, atau memang logikanya harus begini?”

Untungnya, materi di DQLab rapi dan runtut.

Jadi walaupun sempat nge-lag, aku masih bisa nyambung lagi.

Pemula kayak aku gak dibuat merasa “tersesat di hutan” karena gak pahan materi.

Virtual Live Coding: Salah Itu Normal

tampilan live code editor DQ Lab

Bagian yang paling aku suka justru virtual live coding-nya.

Gak perlu ribet install ini-itu, langsung praktik.

Kalau salah, langsung ketahuan.

Kalau keliru, langsung dikoreksi.

Dan anehnya, itu gak bikin takut.

Justru bikin ngerasa:

“Oh, salah itu memang bagian dari proses.”

Kalau mentok, ada fitur hint.

Di situ aku malah belajar satu hal:

kalau belajar Data Science tanpa error, justru patut curiga.

Kalau masih bingung, ya ulang lagi.

Santai, gak ada drama, gak ada penghakiman.

Pelan-pelan, ML dan AI Mulai Masuk Akal

Aku gak tiba-tiba jago.

Bahkan jauh banget dari itu.

Tapi konsep ML dan AI mulai terasa “nyantol”.

Bukan sekadar istilah keren, tapi mulai kebayang cara kerjanya.

Walaupun masih dasar, tapi tidak asing lagi.

Dan buatku, itu sudah cukup berharga.

Kelasnya Masih Jalan, Hidupku Sudah Belok

Sayangnya, aku tidak menyelesaikan kelas itu sampai akhir.

Bukan karena bosan atau gak suka.

Tapi karena hidup tiba-tiba minta prioritas lain.

Ada hal yang harus didahulukan, dan aku memilih berhenti di tengah jalan.

Ada rasa sayang, tentu!

Tapi waktu itu aku tahu, memaksa lanjut bukan keputusan yang paling sehat.

Kadang berhenti juga bentuk dari memilih diri sendiri.

Dilihat lagi progress belajarnya, ternyata aku baru beres 6 modul ini


Balik Lagi, Kali Ini Lebih Niat

Di akhir 2025, aku buka lagi modul gratis DQLab: Guide to Learn R with AI at DQLab.

Rasanya beda.

Bukan karena aku lebih pintar.

Tapi karena aku lebih tenang.

Aku gak lagi mengejar cepat.

Gak lagi pengen terlihat “bisa”.

Aku cuma pengen paham, pelan-pelan, tanpa tekanan.

Dan ternyata, kembali belajar setelah berhenti itu gak seseram yang dibayangkan.

Data Science, ML dan AI Satu Jalur

Sekarang aku makin yakin kalau Data Science, Machine Learning, dan AI itu satu jalur atau satu ekosistem.

Python dan R hanyalah alat.

Yang jauh lebih penting justru cara berpikirnya.

Dan dari pengalamanku, DQLab cukup berhasil membuat proses belajar ini terasa ramah.

Terutama buat orang-orang yang sempat ragu, minder, atau merasa “terlambat”.

Kenapa DQLab Cocok Buat yang Gak Mau Terburu-buru?

Menurut pengalamanku, DQLab cocok buat:

  • Yang pengen belajar data tanpa dikejar-kejar

  • Yang penasaran sama Machine Learning dan AI tapi masih ragu

  • Yang lebih paham lewat praktik

  • Yang percaya belajar pelan itu sah

Kalau mau yang lebih intens, DQLab juga punya:
👉 DQLab Bootcamp Machine Learning & AI

Penutup

Belajar Machine Learning dan Artificial Intelligence gak harus selalu lurus dan cepat.

Kadang mulai, tapi harus berhenti.

Lalu kembali dengan versi diri yang lebih tenang.

Aku pernah ada di situ.

Dan sekarang aku percaya, itu juga bagian dari belajar.***


Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?

Minggu, Januari 11, 2026 7 Comments


dianti- Awalnya aku cuma pengen menjalani hidup ala-ala slow living yang bisa menikmati dan memaknai setiap momen dalam fase kehidupan.

Bukan slow living estetik yang cuma ditampilkan lewat konten sosial media.

Bukan yang tiap langkahnya harus difoto lalu dikasih caption “learning to slow down ”.

Tapi slow living yang fungsional dengan diawali bangun pagi tanpa tergesa, ngerjain pekerjaan domestik, ngasih pakan hewan-hewan peliharaan, tanpa target besar selain hari ini jangan meledak mental.

Slow living versiku sederhana, nggak produktif ala LinkedIn, nggak sibuk “healing tapi capek”.

Rutinitas harianku nggak jauh dari unggas, ikan, dan anabul. 

Diantara semua hewan peliharaan itu, ada merpati.

Merpati ini unik, nggak cari perhatian, nggak rewel, nggak sok lucu biar disayang.

Dia hadir tanpa perform berlebihan, dan jujur aja, itu mencurigakan, karena kebanyakan makhluk sekarang butuh validasi.

Refleksi Tingkah Tenang Merpati

Saat aku ngasih pakan dan terhipnotis melihat hewan-hewan peliharaan makan dengan sibuk, terbersit pertanyaan yang butuh pembuktian.

“Katanya merpati setia… tapi setia itu maksudnya apa?”

Karena di manusia, setia kadang artinya: asal nggak ketahuan.

Se-setia apa sih merpati sama pasangannya, sesuai gak sih dengan tingkahnya yang tenang itu?



Dua Pasang Merpati, Satu Kandang, Dua Jalan Hidup

Di kandangku awalnya ada dua pasang merpati.

Pasangan pertama hidupnya lurus-lurus aja.

Berpasangan, bertelur. anaknya tumbuh.

Nggak ada konflik, apalagi fase “kita evaluasi hubungan”.

Hidup yang sering dibilang membosankan, padahal sebenarnya stabil sesuatu yang sekarang malah mahal.

Pasangan kedua nggak seberuntung itu karena si betina mati.

Dan setelah itu, suasana kandang berubah.

Bukan karena jumlahnya berkurang, tapi karena satu relasi benar-benar selesai.

Si jantan ang kusebut si duda tampak hampa, tanpa cari pengganti, pelarian, apalagi ikut seminar self-love.

Si duda tetep hidup di kandang, cuma agak menarik diri.

Lebih sering sendirian, diam lama, dan nongkrong di kolong kandang ayam.

Kalau manusia, ini tipe yang datang ke acara tapi pulang duluan tanpa pamit dan besoknya bilang, “aku lagi capek aja kemarin.”

Bukan Mati, Tapi Kehilangan Minat Hidup

Secara fisik, si duda aman, masih makan dan bergerak walaupun minimal banget.

Tapi secara sosial, dia hilang dan itu yang bikin aku mulai khawatir.

Dalam dunia hewan sosial, menarik diri terlalu lama itu bukan introvert moment, tapi alaram tanda bahaya.

Beberapa penelitian etologi menunjukkan isolasi sosial pada burung berpasangan bisa meningkatkan hormon stres seperti kortikosteron yang berdampak ke imun dan daya hidup.

Dengan kata lain, sedih yang dipendam lama-lama itu bukan dewasa, tapi berbahaya.

Makanya ada keputusan untuk me-rescue si duda.

Bukan karena aku sok penyelamat, tapi karena aku tahu satu hal:

"Kesepian itu jarang membunuh secara dramatis."

Mirip burnout.

Relationship Romantic Ala Merpati

Merpati bukan cuma “burung yang setia” versi poster pernikahan.

Di tubuh kecilnya, ada sistem biologis yang serius banget soal pasangan.

Mereka hidup dengan pair bond jangka panjang.

Begitu memilih satu, otaknya menyimpan pasangan itu bukan sekadar teman kawin, tapi sebagai titik aman.

Sederhananya seperti tempat pulang yang stabil.

Hormon seperti oksitosin dan vasopresin bekerja diam-diam membangun ikatan itu.

Hal itu membantu menenangkan, menjaga ritme hidup tetap normal, makan teratur, aktif terbang, dan responsif terhadap lingkungan.

Lalu saat pasangannya hilang.

Bukan cuma kandangnya yang sepi, otaknya juga kehilangan satu pusat keseimbangan.

Yang terjadi bukan langsung tangisan dramatis, tapi perubahan pelan-pelan.

Seperti geraknya melambat, makannya berkurang, lebih sering diam, dan menjauh dari yang lain.

Di jurnal Animal Behaviour dan Behavioural Ecology, kondisi ini disebut grief-like behaviour.

Perilaku yang menyerupai duka.

Bukan karena mereka “paham konsep kematian” seperti manusia, tapi karena sistem saraf mereka kehilangan ikatan sosial primer.

Hormon stres naik, tubuh masuk mode siaga.

Yaaaa... Dunia terasa tidak lagi stabil seperti kemarin.

Jadi ketika kita melihat si duda diam di sudut kandang, murung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, itu bukan drama romantis.

Tapi pertanda tubuhnya sedang belajar hidup tanpa pasangan yang selama ini jadi pusat ritmenya.

Kalau manusia menyebutnya patah hati, di dunia biologi disebut adaptasi terhadap kehilangan.

Sama sakitnya, bedanya cuma satu: merpati gak upload story,“aku lagi berduka”.

Tapi tubuhnya bicara.


Baca juga: Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess


Hidup Harus Tetap Berjalan 

Setelah di-rescue secara terpisah dari kawanannya, si duda perlahan menunjukan perubahan positif, hingga akhirnya kembali ke kandang.

Si duda mulai responsif, ikut ritme merpati lain yang ada di kandang.

Bukan karena lupa akan duka atau cinta yang sudah sirna, cieelaaah uhuuuy.

Tapi karena si duda sadar kalau hidup nggak nunggu kesiapan emosional.

Dan akhirnya si duda punya pasangan baru.

Plot twist-nya, pasangan baru si duda itu anak dari pasangan merpati sebelah.

Definisi jodoh itu gak lari kemana kali yaaa.

Tapi di momen ini biasanya komentar netizen mulai agak galak.

“Katanya setia?”

“Cepet amat move-on

“Berarti dulu gak beneran cinta dong.”

Komentar yang sering terdengar yakin, padahal jarang mau mikir lebih dalam.

Setia Itu Bukan Membeku di Masa Lalu

Aku berani bilang merpati itu setia.

Tapi setia mereka bukan berarti berhenti hidup demi membuktikan duka.

Dalam biologi, membentuk pasangan baru setelah kehilangan bukan pengkhianatan, tapi mekanisme bertahan hidup.

Tubuh dan otak memang dirancang untuk pulih, bukan membeku di kesedihan.

Ikatan lama tidak dihapus.

Ia selesai dengan hormat, lalu sistem hidup bergerak lagi.

Kalau stres dibiarkan terlalu lama, tubuh justru rusak.

Maka re-bonding adalah cara alam menjaga kehidupan tetap berjalan.

Jadi setia versi merpati bukan tentang hancur demi cinta, tapi tentang menghormati cinta sambil tetap hidup.

Karena bertahan hidup juga bentuk kesetiaan, terutama pada diri sendiri.


Baca juga: Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya


Romantic Relationship versi Dewasa

Melihat kasus si duda yang melanjutkan hidup, aku mengartikan kalau merpati tidak mendefinisikan cinta lewat simbol, pengakuan publik, atau pembuktian berisik.

Mereka membangun ikatan pelan, menerima kehilangan dengan sunyi, dan lanjut hidup tanpa menyalahkan takdir.

Dan jujur aja, ini terasa lebih dewasa daripada banyak hubungan manusia yang rame di awal, tapi hilang pas diuji.

Makna Kesetian Merpati

"Kesetiaan bukan soal bertahan di satu titik, tapi soal jujur menjalani setiap fase kehidupan, termasuk fase kehilangan."

Merpati romantis, tapi mereka juga realistis.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu ribut soal cinta, kita perlu belajar dari makhluk yang setia tanpa pengumuman, sedih tanpa tontonan, hidup tanpa pembelaan.

Karena tidak semua yang diam itu kalah.

Sebagian hanya… sudah cukup dewasa untuk lanjut tanpa ribut.***

Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess

Minggu, Januari 04, 2026 18 Comments


dianti- Aku baru paham satu hal setelah cukup lama duduk bengong di depan kandang,

"anak ayam (piyik) itu bukan Daddy Princess,".

Mereka nggak pernah hidup dengan keyakinan,

“tenang, bapak gue ayam jantan, hidup gue aman.”

Yang ada justru vibe sejak hari pertama menetas, survive now, complain later.

Begitu piyik keluar dari telur dan masih basah, bulunya nempel, matanya setengah loading, hingga kakinya goyang kayak abis turun dari odong-odong, yang pertama kali menyambut dunia itu bukan bapaknya.

Yang datang duluan selalu ibu ayam.

Tanpa aba-aba.

Tanpa rapat keluarga.

Langsung mode perang.

Sayap dibuka, bulu ngembang, badan merendah. 

Tatapannya bukan tatapan penuh cinta ala iklan susu, tapi tatapan yang bilang:

“Siapa ganggu anak gue, mati lo.”

Di situ aku biasanya refleks nengok ke samping, nyari ayam jantan. 

Dan hampir selalu ketemu… lagi makan.

Atau jalan santai. Atau berdiri sok gagah seolah dia CEO kandang.


Naluri Parenting di Keluarga Ayam

Ayam jantan itu menarik, secara tampilan, dia paling niat. 

Badannya tegap, kokoknya keras, jalannya penuh percaya diri. 

Kalau ayam jantan punya LinkedIn, bio-nya pasti "Protector, Alpha Male".

Tapi begitu anaknya lahir, perannya mendadak menguap.

Bukan karena drama dan bukan karena konflik rumah tangga.

Cuma… yaudah.

Dia ada secara fisik, masih nongkrong di kandang. 

Tapi secara fungsi? Kosong, kayak kursi rapat yang selalu disediain tapi nggak pernah dipakai.

Dan ini bukan sekadar asumsi emosional.

Dalam ilmu perilaku unggas, ayam jantan memang tidak dibekali naluri pengasuhan.

Hormon prolaktin yang bikin induk betina rela duduk berjam-jam di sarang dan pasang badan demi anak, nggak bekerja signifikan di tubuh ayam jantan.

Singkatnya alam memang nggak ngasih ayam jantan "software parenting".

Masalahnya, buat piyik, hasil akhirnya tetap sama, "ayahnya ada, tapi nggak berperan".

Yang bikin aku ketawa pahit adalah kontrasnya. 

Karena di sisi lain, ayam jantan itu justru sangat aktif di bidang lain.

Bukan kerja.

Bukan ngasuh.

Tapi kawin.

Literatur ilmiah mencatat, ayam jantan yang sehat bisa melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari. 

Stamina oke, napas panjang, energi penuh. 

Kalau urusan reproduksi, mereka bukan tipe “capek”.

Kalau urusan bikin telur?

GASPOL.

Tapi begitu telur keluar dari tubuh betina, ayam jantan mendadak kayak karyawan yang bilang:

“Wah ini di luar jobdesk aku sih.”

Prolaktin? Nggak dapet.

Naluri ngasuh? Nggak keinstal.

Empati? Error 404.

Sementara induk betina?

Masuk mode kerja lembur tanpa kontrak.

Aku sering lihat sendiri, induk ayam ngumpulin anak satu per satu, manggil dengan suara khas, ngajarin makan, nutupin dengan sayap waktu hujan atau dingin.

Kalau ada bayangan asing lewat, entah burung lain, manusia, atau suara keras, ibu ayam langsung berdiri paling depan.


Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Pakan Malah kena Pencerahan Spiritual


Dan ini bagian paling mengecewakan tapi nyata:

ibu ayam juga sering harus ngelindungin anaknya dari bapaknya sendiri.

Iya, dari ayam jantan.

Dalam studi etologi unggas, ayam jantan kadang menyerang anak ayam karena dianggap gangguan atau pesaing pakan.

Makanya di banyak sistem ternak, ayam jantan memang sengaja dipisah saat fase piyik.

Jadi induk betina itu bukan cuma single mom.

Dia juga bodyguard, satpam, security system sendirian.


Treatment Daddy Princess atau Mama Warrior 

Di titik melihat perilaku sosial unggas,aku mulai mikir:

kok kayak familiar ya?

Fatherless itu sering disalahpahami sebagai “nggak ada ayah”. 

Padahal yang sering kejadian justru sebaliknya. 

Ayahnya ada, tapi fungsinya nihil. 

Hadir, tapi nggak ikut menanggung.

Kayak ayam jantan.

Kokok iya.

Peran? Nanti dulu.

Hadir secara fisik.

Absen secara fungsi.

NPC with ego.


Dan anak ayam tumbuh di tengah sistem itu. 

Tanpa privilege, tanpa janji, tanpa kalimat, “Tenang, ada bapak.”

Yang ada cuma ibu yang nggak pernah absen.

Makanya jangan heran kalau piyik kelihatan tangguh. 

Bukan karena mereka istimewa, tapi karena dari hari pertama hidup, mereka dibesarkan di dunia yang keras tapi jujur.

Ibu ayam nggak ngajarin teori hidup.

Dia ngajarin dengan badan.

Dengan sayap.

Dengan insting.

Sekarang aku ngerti kenapa aku selalu kesel kalau ada yang bilang,

“Ah, anak ayam mah gampang.”

Gampang dari mana, best?

Mereka lahir tanpa Daddy Princess fasilitas.

Tanpa jaring pengaman emosional dari bapak. 

Yang ada cuma ibu yang kerja sunyi, tanpa kredit, tanpa tepuk tangan, tanpa kokok pagi-pagi.

Ayam jantan boleh jadi yang paling berisik di kandang. 

Tapi yang bikin hidup jalan? Bukan dia.

Dan mungkin, di situlah alam lebih jujur dari manusia. 

Dia nggak ceramah, nggak bikin seminar parenting, tapi nunjukin realita apa adanya.

Siapa yang kerja, dia yang bertahan. 

Siapa yang cuma hadir, ya jadi latar.

Dan setelah semua drama kandang ini, teori unggas, dan realita pedes yang kelihatan receh tapi relate, aku sampai di satu kesimpulan paling sederhana.

"Piyik itu hidup dari didikan Mama Warrior. Bukan dari manja-manjaan sebagai Daddy Princess,"

Mereka tumbuh bukan karena bapak yang gagah, tapi karena ibu yang kerja terus tanpa perlu diumumin.

Ayam jantan boleh paling ribut tiap pagi,

boleh sok jadi simbol kekuasaan kandang,

boleh tampil meyakinkan dari kejauhan.

Tapi kalau urusan bikin hidup tetap jalan, yang bangun duluan, yang pasang badan, yang nggak pernah izin cuti… tetap ibu 

Dan mungkin itu sebabnya piyik kelihatan kuat-kuat.

Bukan karena hidup mereka enak.

Tapi karena sejak menetas mereka sudah ngerti satu pelajaran penting.

"nggak semua yang teriak 'aku pelindung' itu beneran ngelindungin".

Sisanya?

Cuma noise.***