Tampilkan postingan dengan label beternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beternak. Tampilkan semua postingan

Lele & Patin, Perilaku Active Pasive Coping dalam Bertahan Hidup

Sabtu, Januari 31, 2026 0 Comments


dianti- Terkadang slow living itu ada aja gebrakan yang bikin bengongnya.

Kali ini aku malah bengong di pinggir kolam ikan sambil menjalani rutinitas ngasih pakan.

Di situ aku ngeliatin dua jenis ikan yang menurutku masih bersaudara hidup berdampingan dengan damai, yaitu lele dan patin. 

Airnya sama, pakannya sama, kolamnya juga sama, tapi vibe hidupnya beda.

Lele berenang lincah, geraknya cepat, kadang nyeruduk sesama. 

Patin lebih kalem, jalannya pelan, kayak mikir dulu sebelum ngambil keputusan.

Aku refleks mikir:

“Ini ikan apa simulasi kelas sosial?”

Dan sejak saat itu, kolam ini berubah jadi ruang observasi sosial paling jujur yang pernah aku lihat.

Satu Kolam, Tapi Nggak Semua Ikan Hidup dengan Cara yang Sama

Secara ilmiah, lele dan patin itu masih satu keluarga besar. 

Dua-duanya masuk ordo Siluriformes. 

Sama-sama berkumis atau ama-sama ikan jenis lele-lelean.

Kalau di dunia manusia, ini kayak saudara kandung yang lahir dari orang tua sama, tapi dengan karakter yang berbeda.

Yang satu tumbuh di lingkungan keras, satu lagi tumbuh di lingkungan yang masih manusiawi.


Baca juga: Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?


Lele: Aktif, Agresif, dan Terbiasa Hidup di Tekanan

Lele itu sering dibilang galak.

Padahal, kalau mau jujur, lele cuma terlatih hidup susah.

Dalam kajian fisiologi ikan, lele (Clarias sp.) dikenal sebagai spesies dengan toleransi stres lingkungan yang tinggi. 

Mereka mampu bertahan di kondisi yang bikin ikan lain KO, kenapa?

Karena airnya itu memiliki kadar oksigen rendah, air keruh, kepadatan tinggi, sampai fluktuasi kualitas air yang ekstrem. 

Studi pada Clarias gariepinus pun menunjukkan lele punya sistem respirasi tambahan dan regulasi metabolik yang membuatnya tetap aktif meski kondisi lingkungan buruk.

Artinya lele bukan kebal stres, tapi tubuhnya dipaksa beradaptasi terus-menerus.

Dalam ilmu perilaku stres, pola ini dikenal sebagai active coping style, yaitu strategi menghadapi tekanan dengan respons aktif, agresif, dan konfrontatif. 

Individu dengan coping style ini cenderung tetap bergerak, melawan kondisi, dan mempertahankan aktivitas meski stres tinggi (Koolhaas et al., Trends in Neurosciences, 1999).

Versi manusianya?

Ini tipe orang yang hidupnya keras dari awal.

Bukan karena ambisi.

Tapi karena berhenti sedikit aja, sistemnya runtuh.

Secara biologis, strategi ini memang efektif untuk bertahan di lingkungan brutal. 

Tapi risikonya jelas, yaitu beban fisiologis kronis. 

Penelitian lanjutan menunjukkan active coping yang berkepanjangan berkaitan dengan peningkatan hormon stres dan kelelahan jangka panjang (McEwen, Annals of the New York Academy of Sciences, 2007).

Makanya lele sering dipuji “kuat”.

Padahal kalau mau jujur, itu bukan kuat.

Itu terbiasa dipaksa bertahan.

Patin: Sensitif, Kalem, dan Tubuh yang Masih Mau Jujur

Patin sering kena framing jahat.

Dibilang manja, dibilang lembek, atau yang paling kejam: “kurang mental.”

Padahal patin itu bukan lemah.

Dia sensitif, dan tubuhnya masih jujur sama apa yang dia rasain.

Dalam literatur fisiologi dan budidaya ikan, patin (Pangasius sp.) dikenal sebagai spesies yang responsnya cepat terhadap perubahan lingkungan. 

Penelitian di Aquaculture Research dan Journal of Fish Biology mencatat bahwa patin menunjukkan penurunan nafsu makan, perlambatan gerak, dan perubahan perilaku ketika kualitas air, suhu, atau kepadatan tidak ideal. 

Bukan drama semata perilaku yang ditunjukan oleh ikan patin, tapi itu respons biologis yang nyata.

Secara ilmiah, pola ini masuk ke dalam apa yang disebut passive coping style.

Bruce McEwen, merupakan nama yang hampir selalu muncul dalam studi stres biologis menjelaskan coping pasif adalah strategi bertahan dengan cara mengurangi aktivitas, menghemat energi, dan menarik diri dari sumber tekanan.

Tubuh patin memilih berkata“Stop dulu, gue nggak sanggup.”

Dan ini penting, coping pasif bukan tanda kelemahan, tapi tanda sistem saraf yang masih peka.

Patin tidak memaksa dirinya “tetap kuat” ketika kondisi sudah tidak aman. 

Dia membaca sinyal tubuh, lalu menyesuaikan diri.

Kalau patin manusia, ini tipe yang masih berani bilang,
“Capek ya capek.”
“Lingkungannya nggak sehat.”
“Gue butuh jeda.”

Masalahnya, di dunia yang mengagungkan lele yang aktif, agresif, tahan banting, sikap patin yang pasif dan sensitif sering dianggap cacat karakter. 

Padahal secara biologis, ini justru tubuh yang belum mati rasa.

Dalam studi neuroendokrin stres, respons pasif sering dikaitkan dengan sensitivitas terhadap kortisol dan regulasi energi jangka panjang. 

Artinya, patin tidak menabrak stres, tapi mencoba bertahan tanpa merusak dirinya sendiri.

Sayangnya, di sistem yang menghargai produktivitas tanpa henti, kejujuran tubuh sering disalahartikan sebagai kemalasan.

Padahal mungkin, patin bukan kurang kuat.

Dia cuma menolak pura-pura kuat.

Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup


Lele dan patin nggak pernah debat siapa paling kuat.

Karena alam nggak peduli pencitraan.

Dia cuma peduli satu hal: siapa bertahan di kondisi tertentu.

Active coping unggul di lingkungan keras jangka panjang, tapi risikonya beban fisiologis tinggi. 

Passive coping lebih sehat di lingkungan stabil, tapi rentan di sistem brutal.

Versi manusia:

Yang kuat di sistem keras bukan selalu yang paling sehat. 

Cuma yang paling terbiasa.

Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan

Orang dari kelas ekonomi bawah sering dipaksa jadi “lele”.

Aktif. Agresif. Nggak boleh lelah.

Bukan karena mau. Tapi karena nggak punya opsi.

Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman bisa “jadi patin”. Bisa istirahat. Bisa sensitif. Bisa mikir ulang.

Lalu yang terjadi?

Yang lele dibilang toxic. Yang patin dibilang lemah.

Padahal akar masalahnya bukan di orangnya. 

Tapi di sistem yang bikin pilihan hidup jadi timpang.

Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Nggak

Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama.

Secara ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan (Begon et al., Ecology).

Alam paham satu hal penting: Keberagaman strategi itu sistem pengaman.

Manusia sering lupa bagian ini.

Bukan Masalah Mental, Tapi Strategi Bertahan Hidup

Lele dan patin sebenarnya gak pernah ribut, mereka akur-akur aja hidup di kolam yang sama.

Tidak ada debat panjang ala podcast motivasi tentang siapa paling kuat mental.

Karena alam tidak peduli pencitraan.

Tidak peduli siapa yang paling sering bilang “aku kuat kok”.

Dalam biologi perilaku, ini bukan soal niat baik atau karakter, tapi soal strategi.

Active coping seperti lele unggul di lingkungan keras, penuh tekanan, berubah ubah, dan tidak ramah.

Konsekuensinya jelas, tubuh dipaksa kerja terus, stres kronis jadi langganan, capek dianggap default setting.

Passive coping seperti patin lebih sehat kalau lingkungannya stabil.

Masalahnya, dunia jarang stabil dan sistem brutal tidak sabar menunggu orang yang butuh jeda.

Versi manusianya begini:

"Yang terlihat kuat di sistem keras itu bukan selalu yang paling sehat, tapi yang paling lama pura pura baik baik saja."

Dan pura pura kuat itu bukan skill, itu mekanisme bertahan hidup yang sering disalahpahami sebagai prestasi.


Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual


Kelas Sosial dan Cara Tubuh Menyerap Tekanan

Bagian ini biasanya bikin aku ketawa kecil, lalu hening setelah mengamati perilaku hewan-hewan peliharaan.

Banyak orang dari kelas ekonomi bawah dipaksa hidup seperti lele.

Aktif dan sigap terus, dituntut ultifungsi tanpa mode istirahat.

Ibarat kata capek mah nanti dulu, tapi tagihan tidak bisa menunggu mood.

Bukan karena mereka ambisius, tapi jika berhenti sebentar saja, hidup bisa langsung goyah.

Sementara yang hidup di lingkungan lebih aman punya opsi buat jadi patin.

Mereka bisa jujur kalo ngerasa capek, kemudian bisa menarik diri sejenak, dan bisa mikir ulang hidup tanpa langsung panik soal besok makan apa.

Lalu ruang sosial mulai ribut.

Yang hidup seperti lele dibilang toxic, terlalu keras, terlalu reaktif.

Yang hidup seperti patin dibilang lemah, baperan, kurang mental.

Padahal yang satu kelelahan, yang satu kewalahan.

Mereka cuma menjalani hidup dengan beda konteks, bukan beda niat.

Ironisnya, yang paling sering disuruh healing justru yang dari awal tidak pernah punya waktu buat luka.

Kenapa Lele dan Patin Bisa Akur, Tapi Manusia Sering Tidak

Di kolam, lele dan patin hidup berdampingan tanpa drama, gak saling nyindir, dan gak berebut siapa paling berhak disebut kuat.

Dalam ekologi, ini disebut resource partitioning atau pembagian peran alami supaya spesies berbeda bisa hidup bersama tanpa saling memusnahkan.

Lele ambil ruang keras, dan patin ambil ruang tenang.

Tidak ada yang maksa patin jadi lele demi validasi.

Alam paham satu hal penting, bahwa keberagaman strategi itu bukan kelemahan, tapi sistem pengaman.

Manusia sering lupa bagian ini.

Kita sibuk nyuruh semua orang kuat dengan cara yang sama, padahal kondisi hidupnya beda beda.

Bertahan Hidup Itu Tidak Harus Seragam

Lele mengajarkan cara tetap jalan saat hidup menekan tanpa ampun.

Patin mengajarkan kapan tubuh perlu dijaga sebelum rusak permanen.

Dua duanya valid dan tidak ada yang lebih mulia.

Kalau hidup seperti lele, terus gas meski capek, itu bukan karena lemah mental.

Itu karena hidupmu tidak ngasih tombol pause.

Kalau kamu hidup seperti patin, sensitif, butuh ruang, ingin pelan pelan, itu juga bukan manja. itu tubuh yang masih berani jujur.

Hidup bukan lomba siapa paling tahan disiksa.

Kadang yang paling waras justru yang berani melambat, meski dunia teriak, “ayo cepetan”.

Dan kalau lele dan patin saja bisa hidup rukun di satu kolam, harusnya kita bisa berhenti saling ngejudge, dan mulai nanya hal yang lebih penting.

Kamu capek karena lemah atau karena terlalu lama bertahan di sistem yang tidak manusiawi.

Sisanya, biarlah alam tetap jadi guru paling jujur.***

Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?

Minggu, Januari 11, 2026 7 Comments


dianti- Awalnya aku cuma pengen menjalani hidup ala-ala slow living yang bisa menikmati dan memaknai setiap momen dalam fase kehidupan.

Bukan slow living estetik yang cuma ditampilkan lewat konten sosial media.

Bukan yang tiap langkahnya harus difoto lalu dikasih caption “learning to slow down ”.

Tapi slow living yang fungsional dengan diawali bangun pagi tanpa tergesa, ngerjain pekerjaan domestik, ngasih pakan hewan-hewan peliharaan, tanpa target besar selain hari ini jangan meledak mental.

Slow living versiku sederhana, nggak produktif ala LinkedIn, nggak sibuk “healing tapi capek”.

Rutinitas harianku nggak jauh dari unggas, ikan, dan anabul. 

Diantara semua hewan peliharaan itu, ada merpati.

Merpati ini unik, nggak cari perhatian, nggak rewel, nggak sok lucu biar disayang.

Dia hadir tanpa perform berlebihan, dan jujur aja, itu mencurigakan, karena kebanyakan makhluk sekarang butuh validasi.

Refleksi Tingkah Tenang Merpati

Saat aku ngasih pakan dan terhipnotis melihat hewan-hewan peliharaan makan dengan sibuk, terbersit pertanyaan yang butuh pembuktian.

“Katanya merpati setia… tapi setia itu maksudnya apa?”

Karena di manusia, setia kadang artinya: asal nggak ketahuan.

Se-setia apa sih merpati sama pasangannya, sesuai gak sih dengan tingkahnya yang tenang itu?



Dua Pasang Merpati, Satu Kandang, Dua Jalan Hidup

Di kandangku awalnya ada dua pasang merpati.

Pasangan pertama hidupnya lurus-lurus aja.

Berpasangan, bertelur. anaknya tumbuh.

Nggak ada konflik, apalagi fase “kita evaluasi hubungan”.

Hidup yang sering dibilang membosankan, padahal sebenarnya stabil sesuatu yang sekarang malah mahal.

Pasangan kedua nggak seberuntung itu karena si betina mati.

Dan setelah itu, suasana kandang berubah.

Bukan karena jumlahnya berkurang, tapi karena satu relasi benar-benar selesai.

Si jantan ang kusebut si duda tampak hampa, tanpa cari pengganti, pelarian, apalagi ikut seminar self-love.

Si duda tetep hidup di kandang, cuma agak menarik diri.

Lebih sering sendirian, diam lama, dan nongkrong di kolong kandang ayam.

Kalau manusia, ini tipe yang datang ke acara tapi pulang duluan tanpa pamit dan besoknya bilang, “aku lagi capek aja kemarin.”

Bukan Mati, Tapi Kehilangan Minat Hidup

Secara fisik, si duda aman, masih makan dan bergerak walaupun minimal banget.

Tapi secara sosial, dia hilang dan itu yang bikin aku mulai khawatir.

Dalam dunia hewan sosial, menarik diri terlalu lama itu bukan introvert moment, tapi alaram tanda bahaya.

Beberapa penelitian etologi menunjukkan isolasi sosial pada burung berpasangan bisa meningkatkan hormon stres seperti kortikosteron yang berdampak ke imun dan daya hidup.

Dengan kata lain, sedih yang dipendam lama-lama itu bukan dewasa, tapi berbahaya.

Makanya ada keputusan untuk me-rescue si duda.

Bukan karena aku sok penyelamat, tapi karena aku tahu satu hal:

"Kesepian itu jarang membunuh secara dramatis."

Mirip burnout.

Relationship Romantic Ala Merpati

Merpati bukan cuma “burung yang setia” versi poster pernikahan.

Di tubuh kecilnya, ada sistem biologis yang serius banget soal pasangan.

Mereka hidup dengan pair bond jangka panjang.

Begitu memilih satu, otaknya menyimpan pasangan itu bukan sekadar teman kawin, tapi sebagai titik aman.

Sederhananya seperti tempat pulang yang stabil.

Hormon seperti oksitosin dan vasopresin bekerja diam-diam membangun ikatan itu.

Hal itu membantu menenangkan, menjaga ritme hidup tetap normal, makan teratur, aktif terbang, dan responsif terhadap lingkungan.

Lalu saat pasangannya hilang.

Bukan cuma kandangnya yang sepi, otaknya juga kehilangan satu pusat keseimbangan.

Yang terjadi bukan langsung tangisan dramatis, tapi perubahan pelan-pelan.

Seperti geraknya melambat, makannya berkurang, lebih sering diam, dan menjauh dari yang lain.

Di jurnal Animal Behaviour dan Behavioural Ecology, kondisi ini disebut grief-like behaviour.

Perilaku yang menyerupai duka.

Bukan karena mereka “paham konsep kematian” seperti manusia, tapi karena sistem saraf mereka kehilangan ikatan sosial primer.

Hormon stres naik, tubuh masuk mode siaga.

Yaaaa... Dunia terasa tidak lagi stabil seperti kemarin.

Jadi ketika kita melihat si duda diam di sudut kandang, murung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, itu bukan drama romantis.

Tapi pertanda tubuhnya sedang belajar hidup tanpa pasangan yang selama ini jadi pusat ritmenya.

Kalau manusia menyebutnya patah hati, di dunia biologi disebut adaptasi terhadap kehilangan.

Sama sakitnya, bedanya cuma satu: merpati gak upload story,“aku lagi berduka”.

Tapi tubuhnya bicara.


Baca juga: Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess


Hidup Harus Tetap Berjalan 

Setelah di-rescue secara terpisah dari kawanannya, si duda perlahan menunjukan perubahan positif, hingga akhirnya kembali ke kandang.

Si duda mulai responsif, ikut ritme merpati lain yang ada di kandang.

Bukan karena lupa akan duka atau cinta yang sudah sirna, cieelaaah uhuuuy.

Tapi karena si duda sadar kalau hidup nggak nunggu kesiapan emosional.

Dan akhirnya si duda punya pasangan baru.

Plot twist-nya, pasangan baru si duda itu anak dari pasangan merpati sebelah.

Definisi jodoh itu gak lari kemana kali yaaa.

Tapi di momen ini biasanya komentar netizen mulai agak galak.

“Katanya setia?”

“Cepet amat move-on

“Berarti dulu gak beneran cinta dong.”

Komentar yang sering terdengar yakin, padahal jarang mau mikir lebih dalam.

Setia Itu Bukan Membeku di Masa Lalu

Aku berani bilang merpati itu setia.

Tapi setia mereka bukan berarti berhenti hidup demi membuktikan duka.

Dalam biologi, membentuk pasangan baru setelah kehilangan bukan pengkhianatan, tapi mekanisme bertahan hidup.

Tubuh dan otak memang dirancang untuk pulih, bukan membeku di kesedihan.

Ikatan lama tidak dihapus.

Ia selesai dengan hormat, lalu sistem hidup bergerak lagi.

Kalau stres dibiarkan terlalu lama, tubuh justru rusak.

Maka re-bonding adalah cara alam menjaga kehidupan tetap berjalan.

Jadi setia versi merpati bukan tentang hancur demi cinta, tapi tentang menghormati cinta sambil tetap hidup.

Karena bertahan hidup juga bentuk kesetiaan, terutama pada diri sendiri.


Baca juga: Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya


Romantic Relationship versi Dewasa

Melihat kasus si duda yang melanjutkan hidup, aku mengartikan kalau merpati tidak mendefinisikan cinta lewat simbol, pengakuan publik, atau pembuktian berisik.

Mereka membangun ikatan pelan, menerima kehilangan dengan sunyi, dan lanjut hidup tanpa menyalahkan takdir.

Dan jujur aja, ini terasa lebih dewasa daripada banyak hubungan manusia yang rame di awal, tapi hilang pas diuji.

Makna Kesetian Merpati

"Kesetiaan bukan soal bertahan di satu titik, tapi soal jujur menjalani setiap fase kehidupan, termasuk fase kehilangan."

Merpati romantis, tapi mereka juga realistis.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu ribut soal cinta, kita perlu belajar dari makhluk yang setia tanpa pengumuman, sedih tanpa tontonan, hidup tanpa pembelaan.

Karena tidak semua yang diam itu kalah.

Sebagian hanya… sudah cukup dewasa untuk lanjut tanpa ribut.***

Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess

Minggu, Januari 04, 2026 18 Comments


dianti- Aku baru paham satu hal setelah cukup lama duduk bengong di depan kandang,

"anak ayam (piyik) itu bukan Daddy Princess,".

Mereka nggak pernah hidup dengan keyakinan,

“tenang, bapak gue ayam jantan, hidup gue aman.”

Yang ada justru vibe sejak hari pertama menetas, survive now, complain later.

Begitu piyik keluar dari telur dan masih basah, bulunya nempel, matanya setengah loading, hingga kakinya goyang kayak abis turun dari odong-odong, yang pertama kali menyambut dunia itu bukan bapaknya.

Yang datang duluan selalu ibu ayam.

Tanpa aba-aba.

Tanpa rapat keluarga.

Langsung mode perang.

Sayap dibuka, bulu ngembang, badan merendah. 

Tatapannya bukan tatapan penuh cinta ala iklan susu, tapi tatapan yang bilang:

“Siapa ganggu anak gue, mati lo.”

Di situ aku biasanya refleks nengok ke samping, nyari ayam jantan. 

Dan hampir selalu ketemu… lagi makan.

Atau jalan santai. Atau berdiri sok gagah seolah dia CEO kandang.


Naluri Parenting di Keluarga Ayam

Ayam jantan itu menarik, secara tampilan, dia paling niat. 

Badannya tegap, kokoknya keras, jalannya penuh percaya diri. 

Kalau ayam jantan punya LinkedIn, bio-nya pasti "Protector, Alpha Male".

Tapi begitu anaknya lahir, perannya mendadak menguap.

Bukan karena drama dan bukan karena konflik rumah tangga.

Cuma… yaudah.

Dia ada secara fisik, masih nongkrong di kandang. 

Tapi secara fungsi? Kosong, kayak kursi rapat yang selalu disediain tapi nggak pernah dipakai.

Dan ini bukan sekadar asumsi emosional.

Dalam ilmu perilaku unggas, ayam jantan memang tidak dibekali naluri pengasuhan.

Hormon prolaktin yang bikin induk betina rela duduk berjam-jam di sarang dan pasang badan demi anak, nggak bekerja signifikan di tubuh ayam jantan.

Singkatnya alam memang nggak ngasih ayam jantan "software parenting".

Masalahnya, buat piyik, hasil akhirnya tetap sama, "ayahnya ada, tapi nggak berperan".

Yang bikin aku ketawa pahit adalah kontrasnya. 

Karena di sisi lain, ayam jantan itu justru sangat aktif di bidang lain.

Bukan kerja.

Bukan ngasuh.

Tapi kawin.

Literatur ilmiah mencatat, ayam jantan yang sehat bisa melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari. 

Stamina oke, napas panjang, energi penuh. 

Kalau urusan reproduksi, mereka bukan tipe “capek”.

Kalau urusan bikin telur?

GASPOL.

Tapi begitu telur keluar dari tubuh betina, ayam jantan mendadak kayak karyawan yang bilang:

“Wah ini di luar jobdesk aku sih.”

Prolaktin? Nggak dapet.

Naluri ngasuh? Nggak keinstal.

Empati? Error 404.

Sementara induk betina?

Masuk mode kerja lembur tanpa kontrak.

Aku sering lihat sendiri, induk ayam ngumpulin anak satu per satu, manggil dengan suara khas, ngajarin makan, nutupin dengan sayap waktu hujan atau dingin.

Kalau ada bayangan asing lewat, entah burung lain, manusia, atau suara keras, ibu ayam langsung berdiri paling depan.


Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Pakan Malah kena Pencerahan Spiritual


Dan ini bagian paling mengecewakan tapi nyata:

ibu ayam juga sering harus ngelindungin anaknya dari bapaknya sendiri.

Iya, dari ayam jantan.

Dalam studi etologi unggas, ayam jantan kadang menyerang anak ayam karena dianggap gangguan atau pesaing pakan.

Makanya di banyak sistem ternak, ayam jantan memang sengaja dipisah saat fase piyik.

Jadi induk betina itu bukan cuma single mom.

Dia juga bodyguard, satpam, security system sendirian.


Treatment Daddy Princess atau Mama Warrior 

Di titik melihat perilaku sosial unggas,aku mulai mikir:

kok kayak familiar ya?

Fatherless itu sering disalahpahami sebagai “nggak ada ayah”. 

Padahal yang sering kejadian justru sebaliknya. 

Ayahnya ada, tapi fungsinya nihil. 

Hadir, tapi nggak ikut menanggung.

Kayak ayam jantan.

Kokok iya.

Peran? Nanti dulu.

Hadir secara fisik.

Absen secara fungsi.

NPC with ego.


Dan anak ayam tumbuh di tengah sistem itu. 

Tanpa privilege, tanpa janji, tanpa kalimat, “Tenang, ada bapak.”

Yang ada cuma ibu yang nggak pernah absen.

Makanya jangan heran kalau piyik kelihatan tangguh. 

Bukan karena mereka istimewa, tapi karena dari hari pertama hidup, mereka dibesarkan di dunia yang keras tapi jujur.

Ibu ayam nggak ngajarin teori hidup.

Dia ngajarin dengan badan.

Dengan sayap.

Dengan insting.

Sekarang aku ngerti kenapa aku selalu kesel kalau ada yang bilang,

“Ah, anak ayam mah gampang.”

Gampang dari mana, best?

Mereka lahir tanpa Daddy Princess fasilitas.

Tanpa jaring pengaman emosional dari bapak. 

Yang ada cuma ibu yang kerja sunyi, tanpa kredit, tanpa tepuk tangan, tanpa kokok pagi-pagi.

Ayam jantan boleh jadi yang paling berisik di kandang. 

Tapi yang bikin hidup jalan? Bukan dia.

Dan mungkin, di situlah alam lebih jujur dari manusia. 

Dia nggak ceramah, nggak bikin seminar parenting, tapi nunjukin realita apa adanya.

Siapa yang kerja, dia yang bertahan. 

Siapa yang cuma hadir, ya jadi latar.

Dan setelah semua drama kandang ini, teori unggas, dan realita pedes yang kelihatan receh tapi relate, aku sampai di satu kesimpulan paling sederhana.

"Piyik itu hidup dari didikan Mama Warrior. Bukan dari manja-manjaan sebagai Daddy Princess,"

Mereka tumbuh bukan karena bapak yang gagah, tapi karena ibu yang kerja terus tanpa perlu diumumin.

Ayam jantan boleh paling ribut tiap pagi,

boleh sok jadi simbol kekuasaan kandang,

boleh tampil meyakinkan dari kejauhan.

Tapi kalau urusan bikin hidup tetap jalan, yang bangun duluan, yang pasang badan, yang nggak pernah izin cuti… tetap ibu 

Dan mungkin itu sebabnya piyik kelihatan kuat-kuat.

Bukan karena hidup mereka enak.

Tapi karena sejak menetas mereka sudah ngerti satu pelajaran penting.

"nggak semua yang teriak 'aku pelindung' itu beneran ngelindungin".

Sisanya?

Cuma noise.***

Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya

Minggu, Desember 28, 2025 12 Comments


dianti- Ayam jantan itu adalah potret paling jujur dari fenomena fatherless.

Dan lucunya atau tragisnya, ini relevan banget sama kondisi sosial Indonesia hari ini.

Sosoknya ada, tapi perannya gak ada 

Ayam jantan kalo disuruh ngurus anak? Error 404: parental care not found.

Saking tingginya angka fatherless di negara kita, pemerintah sampai bikin kebijakan ambil rapor anak sama ayah.

Bayangin aja betapa lelahnya sistem, sampai harus bilang:

“Pak… minimal tanda tangan ya,"


Kokok tiap Pagi, tapi Tanggung Jawab Skip

Setiap pagi ayam jantan di kandangku berkokok kayak alarm default HP Android, nggak bisa dimatiin, nggak bisa di-snooze, dan selalu paling berisik padahal kontribusinya belum tentu paling besar.

Dari luar kandang, si ayam jantan kelihatan sibuk banget.

Kayak orang yang update story “kerja kerja kerja” tapi kerjaannya cuma ngopi.

Begitu ayam betina bertelur, realita langsung kebuka.

Betina: bertelur, mengerami, ngasuh, pasang badan

Jantan: “gue awasin dari jauh aja ya”

Aku sampe gemes sekaligus bertanya-tanya:

“Ini sistem parenting-nya siapa yang nyusun?”


Fatherless, Tapi Versi Berkokok

Dalam ilmu perilaku unggas dan fisiologi reproduksi ayam (avian reproductive behavior), ayam jantan memang tercatat sangat aktif secara seksual. 

Beberapa studi di bidang poultry science menjelaskan bahwa ayam jantan mampu melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari, tergantung ras, umur, kondisi tubuh, dan ketersediaan betina.

Penelitian klasik dalam jurnal Applied Poultry Research dan Poultry Science menyebutkan bahwa seekor ayam jantan sehat dapat melakukan 5–10 kali kopulasi per hari, bahkan lebih pada sistem pemeliharaan intensif. 

Secara fisiologis, hormon testosteron pada ayam jantan mendukung perilaku kawin yang agresif dan berulang.

Tapiii… di sinilah plot twist biologisnya muncul.

Begitu telur keluar dari tubuh ayam betina, peran ayam jantan secara fungsional langsung berhenti.

 Dalam literatur etologi unggas, sistem pengasuhan ayam dikategorikan sebagai maternal-only parental care

Artinya, seluruh tanggung jawab pasca-reproduksi, mulai dari mengerami telur, menjaga piyik, menghangatkan tubuh anak, hingga mengajarkan perilaku makan dibebankan hampir sepenuhnya kepada induk betina.

Artinya ayam jantan tidak ikut mengerami telur, tidak memberi makan piyik, dan tidak memiliki respons hormonal untuk bonding dengan anak

Bahkan, beberapa penelitian observasional (misalnya pada Gallus gallus domesticus) mencatat bahwa ayam jantan dapat bersikap agresif terhadap anak ayam, terutama jika anak tersebut dianggap mengganggu hierarki atau wilayahnya. 

Dalam bahasa ilmiah: low paternal investment. Dalam bahasa kandang: “bukan urusan gue.”



Sementara itu, ayam betina mengalami lonjakan hormon prolaktin yang memicu naluri mengeram dan mengasuh. 

Dia kerja lembur biologis tanpa cuti.

Ayam jantan? Tetap makan, tetap eksis, tetap mondar-mandir di kandang seolah bilang:

“Aku hadir kok… secara visual.”

Dan disinilah konsep fatherless yang sering dibahas dalam ilmu sosial jadi relevan banget. 

Fatherless itu bukan selalu soal ayah yang benar-benar tidak ada, tapi ayah yang hadir secara fisik namun absen secara fungsi.

Ayahnya tercatat.
Ayahnya terlihat.
Ayahnya hidup di sistem.

Tapi dalam praktik pengasuhan?
Dia cuma jadi background NPC, ada di layar, tapi nggak bisa diajak interaksi.

Dan ironisnya, ini bukan cuma fenomena sosial manusia modern.
Ini pola biologis yang sudah lama terjadi di kandang ayam.


Negara Sampai Capek, Ayam Betina Apalagi


Kadang aku mikir, kebijakan publik yang mendorong keterlibatan ayah itu lahir karena negara udah capek.

Capek lihat ibu kerja sendiri, guru koordinasi sama wali murid yang sama terus.

Hingga anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang beneran hadir

Dan ayam betina? Dia capek dari zaman fosil bestiiii tolooooong!

Ayam betina nggak punya privilege “aku lagi fokus diri dulu”.

Begitu telur keluar, hidup langsung berubah jadi:

“oke, sekarang gue single parent by system.”

Dan lucunya lagi, dalam beberapa kasus, ayam jantan malah bisa nyerang anak ayam sendiri kalau merasa teritorinya keganggu.

Aku sampai mikir:

“Ini ayam jantan kok vibes-nya kayak… ah sudahlah.”


Ilusi Kepemimpinan: Jengger Besar, Peran Tipis

Ayam jantan sering disebut pemimpin kandang. Tapi pemimpin versi apa?

Kalau kepemimpinan itu identik dengan banyak suara, tampil dominan, jarang kerja domestik.

Maka iya, ayam jantan menang.

Tapi kalau kepemimpinan itu adalah ambil beban, ngasuh generasi, turun tangan saat chaos.

Maaf ya… ayam betina yang MVP.

Ayam betina nggak berkokok, tapi tanpa dia, populasi bubar jalan.


Merpati Datang, Patriarki Gak Berlaku

Terus aku nengok ke kandang merpati dan di situ aku cuma bisa bilang:

“Oh… pantes.”

Merpati itu setia, berpasangan, dan dua-duanya ikut mengerami telur.

Plot twist-nya? Jantannya juga nyusuin anaknya.

Iya, pakai susu tembolok (crop milk), fenomena yang dibahas serius di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, terutama pada keluarga Columbidae.

Di titik ini patriarki di keluarga merpati auto gak berlaku.

Pantes aja merpati lebih cocok jadi simbol pernikahan daripada ayam.

Bukan cuma karena setia, tapi karena kerja bareng, bukan cuci tangan bareng.


Ayam Jantan, Negara, dan Kesadaran yang Telat

Aku nggak benci ayam jantan, ini bukan artikel cancel culture unggas.

Ayam jantan itu produk sistem.

Sistem yang lama menganggap suara lebih penting dari kontribusi.

Simbol lebih penting dari kerja nyata.

Dan mungkin, kebijakan publik hari ini adalah tanda kita lagi belajar, telat, kikuk, tapi mulai sadar.

Bahwa hadir itu bukan sekadar ada badan.

Hadir itu ada peran.


Kandang Kecil, Realita Sosial

Setiap sore, waktu aku ngasih pakan, aku suka mikir:

“kok dari unggas, aku belajar isu sosial?”

Ayam jantan tetap berkokok.

Ayam betina tetap kerja.

Merpati tetap kolaboratif.

Dan kita? Masih debat di soal parenting, patriarki, feminisme, dan masih banyak lagi di berbagai sosial media.

Mungkin suatu hari, kita nggak perlu lagi kebijakan yang maksa kehadiran.

Karena semua udah sadar, kalo jadi ayah itu bukan status, tapi kerjaan.

Sampai hari itu datang, aku akan tetap berdiri di depan kandang sambil mengamati perilaku sosial hewan peliharaan dan mencari arti kehidupan.

"Alam sudah memberi contoh, unggas berevolusi dalam aspek sosial, kamu mau niru yang mana?"***



Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas

Minggu, Desember 07, 2025 28 Comments

dianti - Awalnya tuh cuma mau slow living, best.

Pengen hidup santai, dekat alam, pelihara unggas sedikit-sedikit… lalu tiap pagi minum teh sambil liatin ayam berkeliaran.

HAHAHAHA

Nyatanya?

Sekarang jumlah unggas di rumahku sudah cukup buat bikin rapat RT khusus hewan.

Total 68 ekor.

Iya, ENAM PULUH DELAPAN.

Bukan slow living, tapi full team building unggas.

Tapi ya gimana… walaupun chaotic, heboh, dan kadang bikin aku pengen pura-pura pingsan, semua itu tetap lucu dan bikin hidup makin rame.

Mari kita mulai dari awal kehebohan perjalanan manis ini.


Kalkun Si Bodyguard dengan Loyalitas Tinggi

Aku punya 9 ekor kalkun (5 dewasa + 4 remaja).

Kalau kamu belum pernah ketemu kalkun langsung, bayangin ayam… tapi versi lebih gede, lebih berotot, lebih berwibawa, dan kalau jalan ada sound effect: “tuk tuk tuk tuk”.

Kalkun-kalkun ini sekarang jadi pasukan keamanan kandang.

Beneran, kalau ada kucing lewat, mereka langsung pasang badan.

Ayam-ayam kecil sampai ngumpet di belakang mereka kayak pegawai magang di belakang manager.

Dan yang paling bikin senyum, kalkun itu makan sampai ke rumput-rumputnya juga habis.

Jadi selain bodyguard, mereka ini sekalian lawn mower hidup.

Lebih hemat listrik, lebih lucu, lebih drama.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Ayam: dari Lokal Sampai ABG KUB-Elba

Karena hidupku udah chaotic, aku tambahin chaos lain berupa AYAM berbagai versi:

4 ayam kampung lokal, ibu-ibu kompleks, kalem tapi selalu benar.

1 ayam kampung Vietnam, aura petarung, tapi halus budi pekerti.

22 ayam KUB si mesin produksi masa depan (kalau mereka berhenti jadi ABG).

8 ayam Bangkok pasukan elite, aura garang, tapi kalau aku datang bawa pakan langsung mendadak manis.

9 ayam Elba, estetika unggas, warna cantik, vibe artis pendatang baru.

2 ayam Sentul, yang ini calon presiden unggas, genetiknya premium.

Nah, sekarang kita bahas dua spesies paling bikin ketawa: KUB & Elba.

Sampai sekarang belum bertelur sama sekali.

Bukan karena bandel.

BUKAN.

Tapi karena…

Mereka masih ABG.

Tubuhnya gede, nafsu makan tokcer, larinya kayak dikejar mantan.

Tapi sistem reproduksi masih loading.

Pantes tiap pagi aku tanya:

“Hari ini ada telur?”

Mereka jawab dengan tatapan kosong versi unggas:

“Bu… kami masih remaja. Yang ada juga PR sekolah belum kelar.”


Merpati: Penghuni Apartemen Vertikal


Jumlah merpati 13 ekor aja sih.

Kalau kandang ayam itu kayak perumahan landed house, kandang merpati ini kayak apartemen sudut kota.

Mereka memanfaatkan ruang vertikal, jadi nggak ganggu ayam bawah dan nggak bikin konflik.

Tinggalnya rukun, estetik, dan penuh PDKT tiap hari.

Kadang aku turun ke kandang cuma buat lihat merpati ngasih kode ke pasangannya:

“Cik. Cik.”

(bahasa merpati: “ayuk jalan bareng.”)

Healing murah meriah.


Sistem Polikultur, Ribet tapi Waras Dikit

Aku pakai sistem polikultur unggas biar kandang katanya lebih efektif. 

Modelnya semi koloni dan postal, lengkap dengan umbaran terpisah khusus karantina unggas. 

Jadi tenang aja, gak bakal ada drama eek nyasar ke teras tetangga. Aman sentosa. hihihi

Ayam dipisah berdasarkan jenis, usia, karakter, dan produktivitas.

Kalkun? Satpam komplek.

Merpati di atas, jadi penghuni vertikal ala apartemen hemat.

Konon sistem ini bikin hidup lebih efisien dan santuy.

HAHA.

Enggak.

Niatnya mau slow living, tapi kenyataannya aku:

lari-lari ngejar ayam yang kabur kayak lagi audisi Ninja Warrior, ngomel tiap sore, tiap pagi ngitung ayam kayak bendahara organisasi yang takut audit.

Slow living dari mana, Bestieeeee.


Baca juga: Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya


Produksi Telur, Konsumsi Mandiri yang Bikin Bangga


Saat ini hasil ternakku masih untuk konsumsi pribadi. 

Aku melihara sendiri, nyiapin kandang sendiri, nyari pakan sendiri, motong sendiri, masak sendiri, makan sendiri.

Apakah ini self-love?

YES.

Apakah ini bentuk hidup mandiri ekstrem?

JUGA YES.

Tiap makan ayam hasil ternak sendiri rasanya kayak:

“Nih hasil kerja keras gue. No cheating. No outsourcing,

Proud level, naik satu bintang.


Drama Harian Singkat yang sebenarnya panjang


Pagi ngasih pakan.

Sore ngasih pakan lagi.

Ada yang kabur.

Ada yang nemplok bahu.

Ada yang pura-pura pingsan kalau aku marah.

Kalkun sok budiman.

Merpati sok romantis.

Aku ngomel terus.

Tapi entah kenapa…

aku menikmati semuanya.


Dari Ngomel Jadi Sayang, Dari Chaos Jadi Cerita

Pada akhirnya, ini bukan cuma soal ngurus unggas.

Ini soal hidup yang ternyata lebih lucu, lebih ramai, lebih hangat dari dugaanku.

Tiap hari ada aja drama.

Ayam remaja lari-lari, kalkun sok jagoan, merpati pacaran.

Tapi mereka bikin aku ngerasa dibutuhin.

Ngerasa hidup.

Ngerasa nggak sendiri.

Kadang aku marah.

Kadang aku ketawa sampe melorot ke tanah.

Kadang aku cuma duduk di depan kandang sambil mikir:

“Ternyata bahagia tuh sesederhana ngeliat ayam makan rakus.”

Dan walaupun aku ngomel tiap hari…

aku selalu kembali ke kandang itu juga.

Karena ini bukan cuma peternakan.

Ini rumah. Ini cerita. Ini hidupku versi paling jujur.***

Daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Minggu, Oktober 19, 2025 22 Comments

dianti- Kalau kita perhatikan baik-baik, alam sebenarnya tidak pernah mengenal kata selesai. 

Yang ada hanyalah pergantian peran. 

Begitu pula dengan pertanian dan peternakan. 

Akhir pertanian selalu menjadi awal peternakan, dan akhir peternakan selalu menjadi awal pertanian.

Di rumah rumah kami, berkebun dengan pot self-watering maupun berdampingan dengan peternakan rumahan (ayam, merpati, kalkun, kambing, dan kelinci), siklus ini bisa terlihat jelas. 

Semua saling melengkapi, semua berputar tanpa henti.

Yuk kita bahas lebih dalam bagaimana daur hidup pertanian dan peternakan bisa berjalan terus-menerus di skala rumah tangga.

Pertanian dan Peternakan: Dua Hal yang Saling Melengkapi

Pertanian dan peternakan ibarat dua sisi mata uang. 

Keduanya tidak bisa dipisahkan. 

Tanaman menghasilkan makanan, tapi juga menghasilkan sisa yang bisa jadi pakan ternak. 

Sementara ternak menghasilkan kotoran yang bisa jadi pupuk bagi tanaman.

Dari sini terlihat jelas, keduanya bukan akhir, tapi siklus. 

Ketika satu berhenti, yang lain justru mulai. Begitulah cara alam menjaga keseimbangan.

Pertanian dalam Pot Self-Watering: Solusi Kebun Atap Rumah

Apa itu Pot Self-Watering?

Pot self-watering adalah sistem tanam yang punya wadah air di bagian bawah. 

Akar tanaman bisa menyerap air sesuai kebutuhan tanpa harus sering disiram.

Keunggulan Pot Self-Watering

Menghemat air → tanaman tidak cepat kering.

Hemat waktu → cocok untuk yang sibuk.

Pertumbuhan stabil → kelembapan tanah terjaga.

Ramah lingkungan → bisa dipakai ulang bertahun-tahun.

Jenis Tanaman yang Cocok


Banyak sayur, buah, daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Dan tanaman herbal bisa tumbuh subur dengan sistem ini, misalnya:

Tomat, Cabai, Kangkung, Bayam, Timun, Seledri, Daun bawang, dan masih banyak lagi.

Setelah beberapa minggu atau bulan, panen pun tiba. 

Tapi bukan hanya panen yang bermanfaat, sisa daun, batang, dan gulma dari kebun juga punya fungsi baru.

Sisa Panen Jadi Pakan Hewan: Dari Kebun ke Kandang


Salah satu manfaat terbesar dari kebun rumah adalah menghasilkan bahan pakan tambahan untuk hewan ternak.

Daun kangkung atau bayam menjadi camilan sehat untuk kelinci.

Daun singkong, jagung, atau kacang menjadi pakan kambing.

Rumput liar yang tumbuh di sekitar pot bisa dipanen untuk kambing dan kelinci.

Dedak hasil sampingan jadi makanan ayam, merpati, atau kalkun.

Artinya, akhir dari pertanian (panen) tidak benar-benar selesai. Justru dimulai lagi dengan memberi energi pada peternakan.

Peternakan Rumahan: Unggas dan Mamalia yang Produktif

Dalam skala rumah kebun, hewan yang cocok dipelihara biasanya tidak terlalu besar dan bisa dirawat dengan pakan sederhana dari kebun. 

Beberapa pilihannya antara lain:

Unggas

Ayam kampung yang menghasilkan telur dan daging, mudah dipelihara.

Burung merpati yang berkembang biak cepat, sekaligus menyenangkan untuk hobi.

Kalkun sebagai pilihan unggas besar bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memberi variasi.

Mamalia

Domba → bisa dipelihara karena bernilai ekonomi tinggi, bisa dimanfaatkan dagingnya, sekaligus menghasilkan pupuk kandang.

Kelinci, mamalia yang lucu, produktif, dan kotorannya bisa langsung jadi pupuk.

Hewan-hewan ini tidak hanya menghasilkan produk pangan, tapi juga menyumbang sesuatu yang sangat penting: kotoran ternak.

Kotoran Hewan Jadi Pupuk: Dari Kandang ke Kebun

Kotoran hewan sering dianggap limbah. Padahal, dalam siklus pertanian dan peternakan, justru inilah harta karun yang membuat daur hidup tidak pernah putus.

Kotoran ayam ternyata kaya nitrogen, cocok untuk tanaman sayuran daun.

Kotoran domba tampak lebih kering, mudah difermentasi, dan tidak berbau menyengat.

Kotoran kelinci bisa ditaburkan ke pot, tanpa harus difermentasi lama.

Dengan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik, tanah dalam pot self-watering akan lebih gembur dan kaya nutrisi. 

Akhir dari peternakan pun menjadi awal dari pertanian berikutnya.

Siklus Berkelanjutan: Daur Hidup yang Tak Pernah Berakhir

Kalau digambarkan, siklus ini berjalan seperti lingkaran yang saling melengkapi:

1. Tanaman dipanen → hasilnya untuk manusia.

2. Sisa tanaman → jadi pakan untuk kambing, kelinci, ayam, merpati, kalkun.

3. Hewan makan → menghasilkan kotoran.

4. Kotoran difermentasi → menjadi pupuk organik.

5. Pupuk dipakai → tanaman di pot self-watering tumbuh lebih subur.

Dan siklus itu terus berulang tanpa henti. Tidak ada limbah yang sia-sia, semua punya peran.

Manfaat Rumah Kebun Berbasis Siklus Pertanian-Peternakan

Menggabungkan pertanian mini dengan pot self-watering dan peternakan rumahan punya banyak manfaat nyata:

1. Hemat Biaya Dapur

Sayuran segar, telur ayam, atau daging kambing bisa dipanen dari rumah sendiri.

2. Pangan Sehat dan Organik

Tidak perlu khawatir dengan bahan kimia berlebih, semua alami dari rumah.

3. Mengurangi Limbah Rumah Tangga

Sisa sayur tidak dibuang, tapi jadi makanan ternak. 

Kotoran ternak tidak dibuang, tapi jadi pupuk.

4. Ketahanan Pangan Keluarga

Dengan rumah kebun, keluarga tidak tergantung 100% pada pasar.

5. Kebahagiaan Batin

Merawat tanaman dan hewan terbukti bisa menurunkan stres dan memberi rasa puas.

Kesimpulan: Dari Rumah Kebun untuk Kehidupan yang Lebih Seimbang

Pada akhirnya, rumah kebun dengan pertanian pot self-watering dan peternakan kecil (ayam, merpati, kalkun, kambing, dan kelinci) bukan hanya sekadar hobi. 

Ini adalah bentuk nyata dari siklus hidup yang berkelanjutan.

Setiap “akhir” dalam pertanian selalu jadi awal untuk peternakan, dan setiap “akhir” dalam peternakan selalu jadi awal untuk pertanian. 

Tidak ada yang terbuang percuma, semuanya saling melengkapi.

Dari rumah kebun yang sederhana, kita bisa belajar satu hal penting: alam tidak pernah berhenti. 

Ia hanya berputar dalam siklus yang tak pernah berakhir.***

Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan

Minggu, September 28, 2025 12 Comments

Slow Living dengan Beternak Kambing
Slow Living Beternak dan Bertani

dianti- Awalnya sih nggak ada niat serius banget untuk mandiri pangan dari rumah.

Cuma karena lihat peluang aja, dan aku sempatkan waktunya jadilah seperti hari ini. 

Rumahku punya atap beton yang luas banget, ada kolam di bawah rumah yang nganggur, sama halaman samping yang lumayan lah daripada nganggur. 

Dari situlah perjalanan kemandirian pangan ala-ala aku dimulai.

Nggak muluk-muluk, aku cuma pengen rumahku bisa jadi sumber pangan sederhana. 

Eh ternyata lama-lama malah jadi kayak mini-farm. 

Serius, tiap bangun tidur sekarang bukan cuma buka jendela, tapi sekalian cek hewan-hewan, siram tanaman-tanaman, sama intip ikan di kolam.

Atap Beton Jadi Kebun Hijau

Tanam Kangkung di Pot

Dulu atap beton rumahku cuma jadi tempat jemur pakaian. 

Panas, gersang, dan yaa gitu-gitu aja. 

Suatu hari aku mikir, “Lha, ini luas banget kenapa nggak aku manfaatin buat nanam sayur?”

Ditambah lagi limbah galon bekas air mineral makin hari makin banyak 

Akhirnya aku sulap limbah galon bekas jadi pot tanaman dengan konsep self watering.

Soal media tanam pun sebenarnya udah melimpah dari kandang ayam dan kandang kelinci, jadi tunggu apalagi?

Akhirnya aku mulai nanam sayuran favorit. 

Ada kangkung yang gampang banget tumbuh, timun buat lalapan, tomat sampai cabe biar nggak khawatir kalau harga di pasar naik. 


Baca juga: Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety


Aku juga coba tanam bawang daun, seledri, plus beberapa tanaman panjang umur kayak jagung, kacang merah, kacang panjang, dan kacang buncis.

Atap beton yang tadinya panas dan bikin mata silau, sekarang berubah jadi kebun hijau yang adem. 

Rasanya tiap sore aku betah nongkrong di atas, sambil nyiram tanaman dan lihat mereka tumbuh.

Kolam Bawah Rumah jadi Lumbung Ikan

Budidaya Lele

Di bawah rumah ada kolam kecil yang dulu sering dipakai cuma buat nampung air hujan. 

Makin kesini malah jentik nyamuk tumbuh liar.

Aku mikir cara membasmi jentik tersebut tapi gak pake zat kimia.

Alhasil setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk menabur bibit ikan nila merah sebagai musuh alami jentik-jentik nyamuk.

Cuma karena kolamnya tidak mendapat cahaya matahari optimal, jadi pertumbuhan nila pun gak sesuai harapan.

Usaha gak berhenti sampai itu aja, setelah ikan nila dipanen, digantilah dengan bibit ikan lele dan patin.

Aku pilih lele sama patin karena gampang banget dirawat dan tahan banting.

Sekarang kalau malam-malam pengin makan ikan goreng, aku nggak perlu ke pasar. 

Tinggal jala, ambil lele dari kolam, langsung masak. 

Segarnya dapet, hematnya juga kerasa. 

Kadang kalau ada teman main ke rumah, mereka suka takjub, “Serius ini lele dari bawah rumahmu?” dan aku cuma bisa nyengir bangga.

Halaman Samping Jadi Kandang Ternak

Ayam Elba

Halaman samping rumah juga nggak mau kalah. 

Aku bikin kandang kecil-kecilan buat hewan peliharaan. 

Awalnya cuma lima ekor, eh sekarang jadi banyak. 

Tiap pagi aku bisa panen telur segar buat sarapan. 

Rasanya beda banget sama telur beli di pasar, kayak lebih gurih, lebih “hidup” aja.

Selain ayam, aku coba tambah koleksi unggas. 

Ada kalkun yang badannya gede dan bikin halaman makin rame, merpati yang awalnya aku pelihara gara-gara dikasih tapi ternyata dagingnya enak juga, dan kelinci yang lucu banget tapi juga cepat berkembang biak.

Puncaknya aku nekat pelihara domba tapi dibantu ngurus sama tetangga. 

Jujur, awalnya agak bingung, tapi ternyata mereka cukup gampang dirawat. 

Domba-domba itu aku kasih makan rumput sekitar rumah, jadi nggak terlalu ribet soal pakan. 


Baca juga: Cerita Me Time yang Nggak Kamu Sangka dari Seekor Kalkun


Emmm... Karena udah ada yang bantu ngurus juga sih kalo domba.

Dan tiap lihat domba ngemil dengan santai, rasanya damai banget.

Saling Melengkapi, Nggak Ada yang Sia-Sia

Salah satu hal paling seru adalah ternyata semuanya saling mendukung. Misalnya:

Kotoran ayam, domba, dan kelinci bisa jadi pupuk buat tanaman di atap.

Sisa sayuran yang layu aku kasih ke kelinci, mereka lahap banget.

Air kolam lele aku pakai buat siram tanaman, jangan salah! nutrisinya kaya banget.

Jadi, dari ternak ke kebun, dari kebun ke ternak, semuanya muter. 

Nggak ada yang sia-sia sama sekali.

Hidup Jadi Lebih Bermakna

Banyak banget manfaat yang aku rasain sejak mulai mandiri pangan.

Belanja dapur lebih hemat, karena beberapa kebutuhan memang sudah tersedia di rumah.

Makanan lebih sehat, aku tahu persis apa yang masuk ke ayam, domba, dan sayuran.

Nggak panik harga naik, cabe mahal? Santai aja, tinggal petik.

Punya hiburan baru, daripada main HP terus, sekarang aku lebih sering main sama kelinci atau sama ayam.

Tapi paling sering sih nguyel-nguyel kucing yang emang di adopsi khusus buat nemenin aku di rumah.

Dan yang penting, aku ngerasa lebih “merdeka”. 

Rasanya tenang banget tahu kalau di rumah sudah ada stok pangan sendiri.

Tips Buat yang Pengen Ikut Coba

Kalau kamu kepikiran buat mandiri pangan juga, jangan langsung besar, tapi mulai dari hal kecil. 

Misalnya tanam kangkung di pot atau pelihara ayam kampung sepasang. 

Dari situ nanti kamu bakal ketagihan sendiri.

Jangan takut gagal, aku pun sering kok, tanaman layu, ayam sakit, atau lele mati. 

Namanya belajar pasti ada jatuh-bangunnya, yang penting jangan berhenti! Lama-lama bakal terbiasa.

Sekarang aku sadar, punya atap beton luas, kolam di bawah rumah, dan halaman samping ternyata rezeki besar. 

Daripada kosong dan nggak kepakai, lebih baik dimanfaatkan. 

Dari situ lahirlah mini farm versiku: ada ayam, kalkun, merpati, kelinci, domba, ikan lele, ikan patin, plus kebun sayuran di atap yang hijau.

Aku nggak bilang ini mudah, tapi percayalah, hasilnya bikin hati puas. 

Rasanya kayak punya lumbung pangan sendiri, langsung di rumah. 

Dan aku yakin, kalau aku bisa, kamu juga bisa. 

Mulai aja dari satu pot cabe atau satu ekor ayam, siapa tahu nanti berlanjut jadi mini farm yang bikin hidupmu lebih bahagia.***


Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety

Rabu, Agustus 13, 2025 0 Comments

Anti Anxiety


dianti site- Kalau kamu mikir anti-anxiety itu cuma bisa dari yoga, meditasi, atau staycation, coba deh upgrade mindset. 

Sekarang aku udah nemu resep ampuh yang nggak kalah healing, yaitu rapihin bulu dan daun. 

Yes, ini bukan metafora, ini literally nyisir bulu hewan peliharaan dan merapikan daun tanaman setiap hari.

Awalnya, aku kira kegiatan ini cuma hobi lucu-lucuan aja. 

Tapi ternyata, efeknya tuh ngena banget ke mental health. 

Anxiety yang dulu sering datang kayak iklan pop-up nggak jelas, sekarang makin jarang nongol.

Dari Gedebak-gedebuk ke Yaudahlah Jalanin Aja

Ibarat kata, perubahan dalam diri aku tuh dari genre yang gedebak-gedebuk dar der dor jadi jalanin aja dulu.

Kalo jalan aja dulu tanpa tujuan dan kepastian??? Red flag tuh (canda) ✌️

Dulu aku tipe orang yang ambisius parah.

Target hidup itu harus detail, harus kejadian sesuai rencana. 

Kalau nggak, otak langsung error, hati nggak tenang, dan tidur pun jadi drama.

Tapi semua mulai berubah waktu aku pindah ke pinggiran kota Tasikmalaya. 

Rumahku nggak fancy, tapi halamannya cukup buat pelihara hewan dan tanam sayuran. 

Aku punya ayam kampung, kalkun, merpati, lovebird, kucing, kelinci… plus kebun mini berisi kangkung, cabai, kacang, sampai tanaman hias di pot.

Setiap pagi, ritualnya selalu sama, yaa nyisir bulu anabul (kelinci dan kucing) biar nggak kusut, ngecek daun yang layu, motong daun yang udah tua, nyapu kandang, dan menyiram tanaman. 

Baca juga: Daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Sounds simple, tapi rasanya kayak soft reset buat otak.

Kenapa Bulu dan Daun Bisa Jadi "Obat" Anti-Anxiety?

Ternyata, ada alasannya kenapa kegiatan ini bikin hati adem:

1. Gerakan Rutin = Meditasi Terselubung

Nyisir bulu kelinci atau kucing itu bikin fokus. 

Suara ssrrk-ssrrk dari sisir, bulu yang rapi satu per satu… rasanya bikin pikiran tenang. 

Ini sama kayak orang yang merajut atau ngecat, cuma versinya lebih feather-friendly.

2. Sense of Achievement

Lihat bulu hewan jadi rapi atau tanaman jadi segar setelah dibersihin itu bener-bener memuaskan. 

Ada rasa "Yes, aku berguna hari ini!" tanpa harus nyelesain target kerja yang ribet.

3. Koneksi Emosional

Hewan dan tanaman itu merespons perhatian kita, serius deh. 

Hewan jadi manja, tanaman jadi subur. 

Dan ketika mereka tumbuh sehat, kita juga ikut merasa dihargai.

4. Mindfulness Natural

Merhatiin detail warna daun, tekstur bulu, atau aroma tanah basah bikin kita hadir penuh di momen itu. 

Anxiety biasanya muncul karena pikiran lari ke masa depan atau masa lalu, dan kegiatan ini narik kita balik ke "sekarang".

Capek Tapi Bikin Tidur Nyenyak

Jujur, ngurusin hewan dan tanaman setiap hari itu bikin pegel. 

Ada keringat, ada bau kandang, ada tangan kotor. 

Tapi justru itu yang bikin badan capek dengan cara sehat. 

Malamnya, tidur jadi lelap tanpa drama overthinking.

Tips Buat Kamu yang Mau Coba Resep Ini

Biar kegiatan ini nggak cuma jadi "niat doang", cobain trik ini:

Mulai dari Kecil

Nggak harus langsung punya kebun besar atau peternakan mini. 

Cukup pelihara satu ekor kucing atau punya tiga pot tanaman hias.

Jadwalin Waktu

Misalnya pagi sebelum kerja atau sore sebelum magrib. 

Kegiatan ini bakal jadi ritual wajib yang bikin kamu selalu punya jeda dari dunia digital.

Nikmati Prosesnya

Jangan buru-buru! rasain tekstur bulu, hirup aroma daun segar. 

Treat it as me time, bukan beban.

Kesimpulannya yaaa "Healing Nggak Harus Mahal"

Rapihin bulu dan daun mungkin kedengeran receh. 

Tapi buat aku, ini udah jadi life hack yang bikin anxiety turun drastis. 

Dari pinggiran kota, aku belajar kalau ketenangan nggak datang dari liburan mewah, tapi dari momen sederhana yang kita jalani setiap hari.

Jadi kalau besok kamu lagi suntuk, coba aja ambil sisir, rapihin bulu hewan peliharaanmu, atau petik daun kering di pot. 

Siapa tahu, ketenangan yang kamu cari udah ada di halaman rumah sendiri.***



Cerita Me Time yang Nggak Kamu Sangka dari Seekor Kalkun

Selasa, Agustus 12, 2025 0 Comments


dianti.site- Siapa bilang cuma manusia yang butuh me-time? 

Nih, kenalin: Si kalkun di kandang rumah aku. 

Dia hidup di pinggiran kota, nggak punya akun Instagram, apalagi jadwal healing ke pantai, tapi skill menikmati hidupnya… jago banget!

Pagi itu udara masih adem, suara motor belum terlalu rame, dan matahari baru nyembul malu-malu di balik atap rumah tetangga. 

Aku jalan ke kandang sambil bawa segenggam jagung buat sarapan hewan-hewan. 

Eh, pas nyampe, si kalkun ini bukannya langsung nyamperin. 

Dia malah berdiri santai di pojokan, nyender ke pagar kandang, matanya setengah merem, bulu-bulunya mengembang kayak habis blow dry.

Aku cuma bisa mikir: 

Wih, ini sih bukan sekadar kalkun… ini vibes-nya kayak orang yang udah check-in hotel, pesen es kopi susu, terus duduk di balkon sambil dengerin lagu mellow.

Baca juga: Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan

Definisi Me-Time Ala Kalkun

Kalau manusia, me-time bisa berarti pergi ke cafe, nonton film, atau staycation. 

Tapi buat kalkun ini? Simpel aja.

Nggak ada listrik, nggak ada kuota internet, cuma tanah kering, sinar matahari, dan jarak aman dari kerumunan ayam-ayam berisik. 

Dia cuma diem, sesekali ngelirik kanan-kiri, kadang melek sebentar lalu merem lagi.

Intinya: slow living tanpa ribet.

Pelajaran yang Aku Ambil:

Jujur, aku jadi mikir: kita sering banget nyari tempat jauh buat istirahat, padahal nggak selalu perlu. 

Me-time bisa kita dapetin di tempat yang udah familiar, asal kita mau nyisihin waktu buat nikmatin momen.

Si kalkun ini ngajarin aku 3 hal:

1. Jauh dari keramaian itu penting – bahkan ayam pun butuh privasi.

2. Nggak semua waktu harus produktif – rebahan itu juga investasi energi.

3. Nikmatin yang ada – mau tanah, matahari, atau udara, semua bisa jadi sumber bahagia.

Pinggiran Kota dan Vibes-nya

Tinggal di pinggiran kota punya keuntungan sendiri. 

Masih ada suara burung gereja, aroma tanah habis hujan, dan ruang buat bikin kandang kecil. 

Tapi juga masih deket kalau mau ke minimarket atau beli gorengan depan gang.

Kombinasi dua dunia ini bikin me-time terasa lebih gampang dijalanin.

Tips Me-Time Simpel Ala Kalkun

Kalau kamu mau coba gaya me-time low budget tapi high healing, ini beberapa ide:

- Berjemur 10 menit di pagi hari sambil minum teh.

- Duduk di teras tanpa pegang HP.

- Lihat hewan atau tanaman di sekitar rumah.

- Tarik napas dalam, buang pelan-pelan, sambil mikir… “hidup nggak harus buru-buru.”

Penutup

Kadang, kita terlalu sibuk ngejar hal besar sampai lupa nikmatin hal kecil. 

Si kalkun di kandang ini mungkin nggak ngerti konsep self-care, tapi tiap kali aku liat dia santai di pojokan, aku langsung keinget kalau me-time itu hak semua makhluk hidup.

Jadi, kalau lagi penat, coba mode kalkun: diem sebentar, hirup udara, nikmatin momen, dan biarkan dunia jalan tanpa kamu harus ikut lari-lari.***


Best Moment Blogging Bagiku si Pelaku Slow Living dan Ternak Polikultur Unggas

Selasa, Maret 25, 2025 0 Comments

dianti- Di era digital yang semakin berkembang, blogging telah menjadi salah satu bentuk ekspresi diri. 

Bagiku yang merupakan salah satu pelaku slow living dan peternak polikultur unggas, blogging bukan sekadar aktivitas menulis, tetapi juga menjadi sarana untuk mengabadikan perjalanan hidup dengan lebih sadar. 

Menulis blog tentang pengalaman sehari-hari tidak hanya memberikan manfaat pribadi, tetapi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang lebih luas.

Slow living menurutku merupakan filosofi hidup yang menekankan pada kesadaran penuh dalam menikmati setiap momen yang bahkan sebagiannya menjadi rutinitas harian.

Begitu pula dengan peternakan polikultur unggas, yang mengajarkan keseimbangan ekosistem dan kesabaran dalam mengelola kehidupan ternak. 

Dengan menggabungkan keduanya dalam sebuah blog, aku berusaha menciptakan catatan perjalanan yang berharga dan berdampak positif bagi kesehatan mental.

Blogging sebagai Sarana Mengabadikan Momen Berharga

Bagiku si pelaku slow living dan peternak unggas polikultur, setiap momen memiliki makna tersendiri. 

Blogging menjadi cara untuk mendokumentasikan perjalanan ini agar tidak hilang begitu saja dalam ingatan. 

Berikut beberapa alasan mengapa blogging menjadi cara terbaik untuk mengabadikan momen:

Refleksi Diri

Menulis tentang pengalaman sehari-hari memungkinkan aku untuk merefleksikan apa yang telah dilalui. 

Ketika menuliskan perjalanan dalam beternak unggas, sangat memungkinkan kembali untuk dapat melihat kembali perkembangan yang telah dicapai, tantangan yang berhasil diatasi, dan pelajaran berharga yang didapat.

Dokumentasi Perjalanan Ternak

Dalam polikultur unggas, setiap unggas memiliki karakter unik yang menarik untuk diperhatikan. 

Ada momen ketika ayam kampung mulai bertelur untuk pertama kali, kalkun yang menunjukkan perilaku sosialnya, atau merpati yang mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. 

Semua kejadian ini tentu menjadi cerita menarik yang layak diabadikan dalam blog.

Interaksi dengan Alam dan Hewan

Blogging juga menjadi sarana untuk menceritakan pengalaman berinteraksi dengan alam dan hewan. 

Peternakan polikultur unggas bukan sekadar tentang produksi, tetapi juga tentang memahami ritme alam dan membangun hubungan yang harmonis dengan hewan ternak.

Dampak Positif Blogging bagi Kesehatan Mental

Selain sebagai dokumentasi perjalanan, blogging memiliki dampak besar dalam meningkatkan kesehatan mental. 

Ya, ternyata sering berinteraksi dengan hewan ternyata menjadi salah satu sumber relaksasi bagi pikiran.

Berikut ini beberapa manfaat utama blogging bagi kesehatan mental yang sudah aku rasakan:

Mengelola Stres dan Kecemasan

Menulis adalah bentuk terapi yang dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. 

Ketika menuliskan pengalaman, perasaan yang sebelumnya terasa berat bisa menjadi lebih ringan.

Baca juga: Rutinitas Pagi Sore dalam Pemeliharaan Sistem Polikultur Unggas

Menumbuhkan Rasa Syukur

Blogging juga sangat memungkinkanku untuk lebih sadar terhadap hal-hal kecil yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan menuliskan pengalaman unik dalam beternak unggas dan menjalani hidup secara perlahan,  ternyata aku bisa berlatih dan terus belajar untuk bisa lebih menghargai setiap momen yang terjadi.

Membangun Komunitas dan Koneksi

Blogging tidak hanya tentang menulis untuk diri sendiri, tetapi juga tentang berbagi pengalaman dengan orang lain. 

Melalui blog, ternyata aku bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, bertukar ide, serta saling memberikan motivasi.

Kisah Bahagia Merawat Unggas dan Mengabadikannya dalam Blog

Menjalani slow living dengan merawat unggas adalah pengalaman yang penuh kehangatan dan kejutan menyenangkan. 

Setiap hari membawa cerita baru, dari momen pertama memulai peternakan hingga kejadian-kejadian kecil yang mengundang tawa.

Aku masih ingat saat-saat pertama memulai beternak 2 ekor ayam, hingga akhirnya menjadi polikultur unggas. 

Suasana pagi yang sejuk, suara kokok ayam bercampur dengan kelembutan angin yang menyapu dedaunan. 

Aku merasa hidup lebih dekat dengan alam, membuka kandang ayam kampung untuk pertama kali dan melihat mereka dengan penasaran menjelajahi pekarangan membuatku tersenyum. 

Setelah itu, aku menyadari bahwa setiap langkah kecil dalam perjalanan ini adalah sesuatu yang layak diceritakan.

Di hari-hari berikutnya, aku menemukan banyak kejadian unik dan lucu. 

Ada satu kalkun yang bertingkah seperti manja, mengikutiku kemana-mana, hingga sekarang pun demikian. 

Merpatiku juga punya kebiasaan unik, mereka suka terbang mengikuti langkahku seolah menganggapku bagian dari kawanan mereka. 

Kadang aku mengabadikan momen ini dalam foto dan video, kebahagian yang didapat dari hewan ternak ternyata terasa hangat.

Namun tidak semua hari berjalan mulus, ada saat ketika cuaca ekstrem membuatku harus bekerja lebih keras untuk memastikan unggasku tetap sehat. 

Pernah suatu kali ayam-ayamku tampak kurang bersemangat, bahkan beberapa diantaranya mati.

Setelah beberapa hari mengamati serta mencari solusi, aku menemukan bahwa mereka membutuhkan asupan makanan tambahan di musim hujan. 

Mengatasi tantangan seperti ini memberiku kepuasan tersendiri, dan menuliskannya dalam blog bukan hanya sebagai dokumentasi.

Tetapi juga sebagai pengingat bahwa setiap rintangan bisa dilewati dengan kesabaran.

Yang paling membahagiakan adalah bagaimana slow living mengubah cara pandangku terhadap kehidupan. 

Dulu, aku selalu terburu-buru, tetapi sekarang aku lebih menikmati setiap proses. 

Aku tidak hanya merawat unggas, tetapi juga menikmati setiap interaksi kecil yang terjadi setiap hari. 

Dari kebiasaan ayam yang mencari tempat favorit untuk bertelur hingga momen saat kalkunku perlahan menjadi jinak dan mulai percaya padaku. Semua ini terasa begitu berharga.

Mengabadikan pengalaman ini dalam blog adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri. 

Aku bisa melihat kembali cerita-cerita yang sudah kutulis dan merasakan kembali momen-momen tersebut seolah baru terjadi kemarin. 

Lebih dari itu, berbagi cerita ini dengan pembaca yang memiliki ketertarikan yang sama menciptakan rasa kebersamaan yang luar biasa.

Baca juga: Manajemen Polikultur Unggas: Efisiensi Pakan, Perilaku, dan Pencegahan Konflik

Trik yang Aku Lakukan untuk Blogging dan Mengabadikan Momen Slow Living dengan Unggas

Menjaga konsistensi dalam menulis blog bukan hal yang mudah, terutama saat sibuk dengan kegiatan peternakan dan menjalani filosofi slow living

Berikut beberapa trik yang aku lakukan agar tetap bisa menulis blog dengan nyaman dan konsisten:

Menjadikan Blogging sebagai Rutinitas Ringan

Aku tidak memaksakan diri untuk menulis panjang setiap hari. 

Aku hanya mencatat pengalaman harian secara singkat, lalu mengembangkannya menjadi tulisan lebih panjang saat waktu memungkinkan.

Menulis dengan Autentik

Blogging bukan tentang membuat cerita sempurna, tetapi tentang berbagi pengalaman nyata. 

Aku selalu menulis dengan gaya yang mencerminkan kepribadianku agar tulisan terasa lebih natural dan menarik.

Menggunakan Foto dan Video sebagai Pendukung Cerita

Foto dan video menjadi pelengkap dalam blog, terutama untuk menunjukkan perkembangan ternak dan mengabadikan suasana peternakan.

Berinteraksi dengan Pembaca

Aku senang berinteraksi dengan pembaca melalui media sosial. Hal ini membuatku semakin semangat menulis dan merasa bahwa ada komunitas yang mendukung.

Kesimpulan

Ternyata bagiku blogging bukan hanya tentang berbagi pengalaman, tetapi juga tentang mengenali dan merayakan perjalanan hidup. 

Bagi pelaku slow living dan peternak polikultur unggas, blogging adalah cara untuk mengabadikan best moment dengan lebih sadar.