Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget
dianti- Awalnya tuh simpel banget, aku cuma pengen ikut tren urban farming yang lagi rame di TikTok, niatnya sih healing tapi malah overthinking.
Katanya, kalau nanam tanaman, hidup jadi tenang, udara bersih, hati adem.
Realitanya? Yang adem cuma AC, bestii
Setiap kali liat orang di TikTok panen kangkung, tomat, sawi dari pot bekas, ekspresinya tuh kayak “hidupku damai banget.”
Aku yang nonton ikut termotivasi.
Mikir, “Ah gampang! Tinggal siram, kasih pupuk, panen. Gitu doang kan?”
Hahaha. Salah besar aku bestii.
Sekarang aku sadar, ternyata berkebun itu bukan cuma soal nyiram dan pupuk.
Tapi juga soal mental support karena tanaman tuh punya drama lebih banyak dari FTV sore.
Kalau sedikit aja telat disiram, langsung kayak mau give up on life.
Dari Galon Bekas Jadi Pot
Karena konsepku zero waste, aku gak beli pot baru.
Aku ambil galon bekas air mineral, potong, cat, kasih lubang di bawah, and done.
Hasilnya? Pot besar gratis dan surprisingly cukup kokoh
Selain lebih hemat, pakai galon itu juga pas banget karena akar melon lumayan panjang.
Jadi, niat zero waste ini bukan hanya gaya-gayaan, tapi beneran kepake.
Drama Pruning: Ketelatan yang Bikin Bingung
Awal nanam, aku beneran nggak tau kalau melon harus dipruning atau dipangkas.
Kupikir melon bakal tumbuh rapi sendiri, tinggal disiram dan dipupuk.
Tapi ternyata enggak!
Melon tumbuhnya liar banget, merambat ke mana-mana kayak tanaman yang haus kebebasan bertahun-tahun.
Setelah banyak masukan dari orang-orang baik di TikTok, aku sadar kalau idealnya melon itu disisakan satu batang utama supaya fokus tumbuh dan berbuah.
Masalahnya… aku udah telat bangetttt.
Saat sadar, batangnya udah bercabang dua dan sama-sama terlihat “penting”.
Aku bingung harus buang yang mana.
Akhirnya keputusan paling aman kuambil: dua-duanya kubiarin hidup.
Tidak sesuai aturan, memang.
Tapi yaudahlah learning by doing yakaaan? hihihi.
Baca juga: Rooftop Garden Story, Kangkung Organik dengan Sentuhan Zero Waste
Dari Kutu Daun ke Ulat Misterius
Awalnya aku pikir semua aman.
Tapi pas perhatiin lebih dekat, kok ada bintik-bintik hitam di bawah daun?
Ternyata kutu daun, banyak banget.
Aku panik, langsung jadi detektif kebun: nyemprot air sabun, ngelap satu-satu, kayak skincare-an tapi buat daun.
Setelah itu, aku pikir aman.
Daun-daun udah kupangkas rapi, tanaman udah cakep lagi.
Eh… seminggu kemudian, kejadian aneh muncul.
Daun yang baru tumbuh tiba-tiba bolong-bolong, kayak abis diserang pasukan tikus ninja.
Aku periksa pagi, oke masih bersih.
Sore, eeeeh kok bolong
Ulatnya tuh kayak makhluk gaib, gak pernah keliatan tapi hasil karyanya nyata.
Aku bongkar tiap daun, tiap lipatan batang, gak nemu.
Tapi tiap pagi, selalu ada daun korban baru.
Beneran aktif dan kreatif banget si ulat tuh udah kayak fandom BlekPing.
Sampai akhirnya aku sadar, mungkin ulatnya tinggal di dimensi lain dan cuma mampir malam buat makan daun lalu menghilang lagi.
Sumpah, kalau ini game, level ulatku tuh boss terakhir kayaknya.
Plot Twist Bernama Hujan
Belum sempat pulih dari ulat misterius, datanglah hujan deras tiap sore.
Dan tolong ingat ya, rooftopku itu open air, gak ada atap, gak ada pelindung, gak ada harapan dahlah..
Begitu hujan, air masuk langsung ke galon.
Tanaman melon yang tadinya semangat langsung letoy, daunnya kayak rambut abis kena rebonding gagal.
Aku naik ke rooftop sambil bawa kopi (niatnya mau chill).
Begitu liat melonnya kedinginan, aku cuma bisa ngomel:
“Baru dihantam hujan aja udah kalah. Gimana kalo nanti dihantam kabar PHK?”
Melonnya diem aja, tapi aku yang nagis meratapi nasib yang sudah diperjuangkan sekian purnama.
Sore itu aku resmi kehilangan satu pot melon.
Aku nunduk, hujan turun, lagu sedih berputar di kepala.
Skenario-nya udah kayak ending Drama Korea versi kebun.
Pupuk Ajaib yang Beraroma Misterius
Karena tetep pegang prinsip zero waste, aku eksperimen bikin POC alias Pupuk Organik Cair.
Bahannya simpel banget, sisa kulit buah, sayur layu, air cucian beras, semua dicemplungin ke wadah.
Minggu pertama, aromanya... luar biasa mengguncang dunia, ehhh hidung.
Campuran antara dapur, selokan, dan eksperimen kimia gagal.
Tapi hasilnya gak bohong!
Daun melon jadi hijau segar, batangnya makin kuat, dan tumbuhnya cepat banget.
Aku sampe mikir,
“Oh, ini ya rasanya jadi ilmuwan, tapi di rumah.”
Sekarang aku udah level pembuat pupuk dengan aroma kejujuran.
Kalau parfum bisa nyimpen aroma gak midal, mungkin POC-ku bisa jadi Eau de Misquens Edition. Wkwkwk
Pestisida Nabati: Racikan Dapur untuk Mengusir Hama
Entah kenapa sisi idealis aku juga muncul saat bahas pestisida.
Aku bertekad nggak pakai pestisida kimia.
Jadi aku buat pestisida nabati sendiri dari bahan sekitar rumah: bawang putih, cabe rawit, daun sirsak, dan sedikit sabun cair sebagai perekat.
Diblender, disaring, dimasukkan botol, selesai.
Wewangiannya khas, tapi lumayan efektif, minimal bikin hama mikir dua kali sebelum makan daun melonku.























