Dianti- Beberapa waktu lalu, aku menemukan sebuah istilah psikologi namanya Post-Traumatic Growth (PTG) yang membuatku berhenti scrolling lebih lama dari biasanya.
Kalau disederhanakan, PTG adalah kondisi ketika seseorang tidak hanya berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, tetapi juga bertumbuh setelahnya.
Bukan berarti lukanya hilang dan hidupnya langsung rapi seperti kamar yang baru dibereskan setelah berhari-hari berantakan.
Tetapi ada sesuatu yang berubah setelah mengalami luka.
Yaitu cara pandang baru yang perlahan terbentuk setelah berkali-kali dihantam kenyataan.
Dan sebelum lanjut, aku mau kasih disclaimer dulu.
Aku bukan psikolog, juga bukan konselor, bahkan tidak punya latar belakang pendidikan yang nyambung dengan dunia psikologi.
Tapi... akhir-akhir ini aku menjadi sosok yang lebih aware terhadap kesehatan mental.
Kalau ada orang melihat riwayat hidupku dari jauh, kemungkinan besar dia bakal ngira aku lagi maen game "pilih jalan hidup secara acak".
SMK elektro, lanjut kuliah ke Teknik Informatika, kemudian menjalani berbagai pekerjaan yang gak nyambung sama sekali dengan background pendidikanku.
Lalu entah bagaimana sekarang aku bisa menghabiskan waktu membahas berbagai hewan peliharaan, seperti kesehatan kalkun, perilaku kelinci, pakan domba, dan seekor kucing yang setiap hari menunjukkan bahwa rumah ini sebenarnya miliknya.
Ga heran sih, pernah dibilang "kutu loncat" dan random people sama HRD di salah satu tempat kerja dulu, wkwkwk.
Dan anehnya, aku menikmati hidup yang seperti ini, walau kadang kena demo ayam-ayam gegara telat ngasih pakan.
Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada satu pun cita-citaku waktu remaja yang berbunyi:
"Suatu hari aku ingin menggendong anak domba sambil merenungkan kesehatan mental."
Tidak ada. Sama sekali tidak ada !
Tapi hidup memang punya selera humor yang liar dan jauh lebih kreatif daripada pikiran manusia.
Apakah ini Fitur Default Orang Dewasa?
Kalau boleh jujur, usia dua puluhanku cukup berisik.
Bukan karena kehidupan sosial yang ramai, atau karena sering nongkrong.
Tetapi karena isi kepalaku sendiri tidak pernah mau diam.
"Aku harus kerja => Kejar deadline => Ambil side job lagi => Ambil proyek => Ambil kesempatan => Ambil tanggung jawab."
Pokoknya semua diambil.
Kalau waktu itu ada yang nawarin kerjaan buat jaga mercusuar di pulau terpencil, kemungkinan besar aku akan jawab:
"Boleh, kirim jobdesc-nya."
Bukan karena aku cocok, atau karena aku ahli.
Tapi karena waktu itu aku punya dua kebutuhan besar: uang dan validasi.
Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu, ingin dianggap berhasil, ingin menunjukkan bahwa aku bisa.
Kalau dipikir sekarang, sebagian tenaga yang mendorongku waktu itu ternyata bukan berasal dari semangat.
Melainkan dari luka yang belum selesai, dari kritik yang terlalu lama tinggal di kepala, penghinaan yang diam-diam berubah menjadi bahan bakar.
Juga dari keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang bahkan mungkin sudah lupa pernah meremehkanku.
Lucunya, aku mengira semua tekanan mental itu normal.
Bangun masih capek? Normal.
Tidur karena capek? Normal.
Hari libur tetap capek? Normal.
Burnout? Ah, paling kurang ngopi.
Waktu itu aku menganggap tekanan dan kelelahan adalah fitur default orang dewasa.
Mirip iklan YouTube yang mengganggu, tapi ya udah cukup diterima aja.
Burnout Datang Tak Diundang
Masalahnya, tubuh punya cara sendiri untuk protes dan tubuh tidak peduli seberapa bagus motivasi yang kita tempel di wallpaper ponsel.
Sialan! Burnout datang tak diundang.
Sampai suatu hari aku bangun dan merasa lelah bahkan sebelum memulai aktivitas.
Bukan lelah yang hilang setelah tidur siang, bukan juga lelah yang sembuh dengan kopi.
Ini jenis lelah yang membuatmu mempertanyakan semua keputusan hidup.
Termasuk keputusan-keputusan receh yang sebenarnya gak penting.
Seperti:
"Kenapa dulu aku potong poni sendiri?"
Atau:
"Kenapa dulu aku pikir kerja terus tanpa istirahat itu keren?"
Kalau sekarang bisa bertemu diriku yang waktu itu, mungkin aku hanya akan menepuk bahunya pelan lalu bilang:
"Best, kamu butuh istirahat. Bukan target baru."
Plot Twist Gak Masuk Logika! Aku Menemukan Diriku di Kandang
Kalau ada seseorang dari masa depan datang kepadaku saat kuliah, lalu berkata:
"Aku dari masa depan, nanti kamu akan menemukan ketenangan saat membersihkan kandang."
Aku pasti tertawa, lalu menjauh perlahan.
Karena terdengar seperti bualan yang dibuat setelah kurang tidur tiga malam berturut-turut.
Aku sekolah elektro, kuliah informatika, selalu berkaitan dengan mesin.
Logikanya pekerjaanku menjadi engineer.
Bukan di kandang, bukan mengurus ayam, bukan memantau kalkun, bukan memeriksa telur, bukan menggendong anak domba yang baru lahir.
Tapi hidup memang sering membuat plot twist yang tidak masuk logika.
Setelah aku menyadari kejenuhan dalam mengejar deadline, bertahap aku mulai memelihara ayam, lalu kalkun, lalu kelinci, lalu ikan, lalu kucing, lalu domba.
Kalau diteruskan beberapa tahun lagi, aku khawatir petugas sensus penduduk datang ke rumah dan bertanya:
"Ini rumah tinggal atau cabang kebun binatang?"
Yang lebih aneh lagi? Aku justru menikmatinya!
Beternak Membuatku Berhenti Tinggal di Dalam Kepala
Memutuskan untuk beternak mungkin jadi titik balik yang paling penting.
Karena sebelum beternak, sebagian besar hidupku terjadi di dalam pikiranku sendiri.
"Aku memikirkan masa depan yang belum terjadi.
Aku menyesali masa lalu yang bahkan tidak bisa diubah.
Aku memperkirakan berbagai kemungkinan terburuk beserta solusinya.
Aku masih mengingat dialog yang sebenarnya sudah selesai bertahun-tahun lalu."
Pokoknya otakku rajin sekali bekerja.
Sayangnya, dia sering mengerjakan proyek yang tidak pernah diminta.
Mirip anggota kelompok tugas yang tiba-tiba mengubah seluruh konsep presentasi jam dua pagi tanpa diskusi dulu.
Lalu datanglah dunia beternak dan dunia itu bagiku sangat unik.
Karena ayam tidak peduli trauma masa laluku.
Kalkun tidak peduli target karier lima tahunku.
Domba tidak peduli pencapaian teman-teman seangkatanku.
Kelinci tidak peduli siapa yang sudah sukses.
Ikan juga tidak peduli apapun.
Kucing apalagi, bahkan tidak peduli kalau aku pemiliknya.
Dia lebih merasa aku adalah staf operasional bagian logistik.
Mereka semua hanya peduli satu hal:
"Makananku mana?"
Dan anehnya, rutinitas sederhana itu mulai mengubah hidupku.
Ada kandang yang harus dibersihkan.
Ada air minum yang harus diganti.
Ada telur yang harus dicek.
Ada anak hewan yang harus dipantau.
Ada kehidupan yang bergantung pada tanggung jawab kecil setiap hari.
Tanpa kusadari, aktivitas-aktivitas sederhana itu memaksaku berada ke masa sekarang.
Hari ini! Bukan kemarin! Bukan besok atau tahun depan.
Dan ternyata, banyak luka mulai sembuh ketika kita berhenti tinggal terus-menerus di masa lalu dan masa depan.
Kukira Merawat Hewan, Ternyata Aku Merawat Luka Sendiri
Awalnya aku benar-benar mengira aku hanya sedang merawat hewan.
Tidak ada makna mendalam, tidak ada refleksi psikologis, tidak ada pelajaran hidup.
Aku cuma memelihara hewan, titik!
Tapi semakin lama aku mulai sadar ada sesuatu yang agak mengganggu.
Aku memperhatikan apakah ayam makan dengan baik.
Aku memperhatikan apakah kalkun sehat.
Aku memperhatikan apakah kelinci stres.
Aku memperhatikan apakah domba tumbuh dengan baik.
Aku bahkan bisa menghafal kebiasaan masing-masing hewan.
Lengkap. Detail. Teliti. Layaknya auditor kehidupan.
Lalu suatu hari muncul pertanyaan yang cukup menyebalkan:
"Kenapa aku bisa sebaik ini kepada mereka, tetapi tidak kepada diriku sendiri?"
Nah lo.
Aku paham bahwa ayam yang kelelahan perlu istirahat.
Aku paham bahwa kelinci yang stres perlu rasa aman.
Aku paham bahwa domba yang sedang beradaptasi perlu waktu.
Tapi giliran diriku sendiri?
Aku selalu menuntut lebih.
Lebih cepat. Lebih kuat. Lebih produktif. Lebih berhasil.
Kalau dipikir sekarang, aku seperti manager terbaik untuk seluruh penghuni kandang, tapi bos paling galak untuk diriku sendiri.
Hidup Ternyata Bukan Sprint
Salah satu pelajaran terbesar dari beternak adalah soal ritme.
Karena tidak ada telur yang bisa dipaksa menetas besok pagi hanya karena aku tidak sabar.
Tidak ada domba yang tumbuh besar dalam semalam, juga tidak ada kalkun yang langsung berbobot ideal hanya karena aku sedang terburu-buru.
Semua punya waktunya, semua punya prosesnya, dan emua tumbuh dengan kecepatannya sendiri.
Dan sebenarnya manusia juga begitu.
Dulu aku sering membandingkan diriku dengan orang lain.
Kenapa dia sudah begini? Kenapa aku belum? Kenapa dia lebih cepat? Kenapa aku masih di sini?
Lama-lama aku sadar. Itu tidak adil!
Karena kita tidak memulai hidup dari titik yang sama.
Ada yang mendapat banyak dukungan. Ada yang harus berjuang sendiri. Ada yang fokus mengejar mimpi. Ada yang sibuk bertahan hidup.
Jadi membandingkan perjalanan hidup sering kali sama anehnya seperti membandingkan ayam dengan domba lalu marah karena hasilnya berbeda.
Ya jelas beda, bestie... Satu mengembik, satu berkokok.
Dari sananya juga sudah beda, dan hidup pun bukan soal siapa yang lebih cepat seperti sprint.
Mungkin Inilah Versi Post-Traumatic Growth-ku
Dulu aku pikir penyembuhan akan terlihat dramatis.
Mungkin aku akan pergi ke pegunungan, menemukan pencerahan, menatap matahari terbit, lalu pulang sebagai manusia baru.
Ternyata tidak!
Versiku jauh lebih sederhana, dan aku sangat bersyukur akan hal tersebut.
Ternyata versi menyembuhkan luka kemudian bertumbuh di versiku dengan membersihkan kandang.
Baju penuh debu, sandal kena lumpur, tangan bau pakan.
Kadang ada bonus aroma yang tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.
Lalu perlahan hidupku membaik, menjadi lebih tenang dan rapi.
Kalau ini film, sinematografinya mungkin kalah, tapi efek terapinya lumayan.
Hari ini aku masih bisa overthinking, masih bisa cemas, masih bisa stres.
Bahkan masih bisa membuka aplikasi mobile banking lalu langsung menutupnya lagi demi menjaga kestabilan emosi. wkwkwkwk
Tetapi ada satu hal yang berubah.
Aku lebih mengenali diriku sendiri, lebih peka terhadap batas kemampuanku, lebih cepat sadar ketika lelah, dan yang paling penting aku mulai memahami bahwa diriku juga layak dirawat.
Ternyata Aku dan Hewan Peiharaanku Bertumbuh Bersama
Selama ini aku melihat ayam tumbuh, melihat kalkun berkembang, melihat kelinci bertambah besar, melihat domba yang dulu kugendong perlahan menjadi lebih kuat.
Aku melihat secara jelas bahwa kehidupan berjalan sesuai ritmenya sendiri.
Tetapi tanpa kusadari, ternyata ada satu makhluk lain yang juga sedang bertumbuh.
"Diriku"
Mungkin aku memang salah satu orang yang mengalami Post-Traumatic Growth.
Aku tidak bangga pada luka-lukanya, tapi aku bangga dan bersyukur karena berhasil melewatinya.
Saat ini, aku bangga karena masih ada disini, masih belajar, masih bertumbuh, masih mencoba menjadi manusia yang lebih utuh.
Dan kalau suatu hari teman-teman lamaku bertemu denganku lagi, aku harap mereka bisa melihat versi diriku yang sekarang.
Bukan versi yang selalu terburu-buru.
Bukan versi yang hidup dari tekanan.
Bukan versi yang terus berlari untuk membuktikan sesuatu.
Melainkan seseorang yang akhirnya mengerti bahwa hidup tidak harus selalu dipercepat.
Karena ternyata, di sebuah kandang sederhana yang penuh ayam, kalkun, kelinci, ikan, dan domba... aku tidak hanya belajar merawat kehidupan.
Aku juga sedang belajar merawat diriku sendiri.***


Konsep Post-Traumatic Growth dengan pengalaman beternak yang terasa hangat, jujur, dan sangat relate, terutama bagian ketika kita sering lebih perhatian pada makhluk lain daripada pada diri sendiri. Terima kasih sudah berbagi refleksi yang sederhana tetapi dalam. Kadang memang proses bertumbuh hadir dari rutinitas kecil yang tidak pernah kita duga sebelumnya, yaa....Semangat kita!!
BalasHapusAku juga beberapa kali mengalami PTG. Alhamdulillah, itulah yang membuat entah kenapa kita jadi beda aja. Memang enggak pernah dramatis. Perbedaan besar cuma ada di isi kepala. Orang ga bener2 tahu pergumulannya setiap hari
BalasHapusTulisannya nyentuh banget mba...iya saya juga sering bertanya seperti itu, kenapa saya sangat telaten dan perhatian waktu mengurus tanaman anggrek sedangkan pada diri sendiri enggak. Saya juga setuju sebenarnya yang kita rawat itu bukan tanaman atau hewan yang kita rawat tapi diri kita sendiri yang sedang bertumbuh bareng.
BalasHapusAlhamdulillah akhirnya bisa merasakan kembali kebahagiaan dengan cara jauh lebih sederhana dari yang pernah dibayangkan..
BalasHapusMembaca ini aku jadi refleksi diri, adakah trauma masa kecilku yang belum sembuh..adakah sakit hati yang belum sembuh..
Semoga kita bisa berjalan bersama untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri kita yg kemarin
Mbak, punya domba makanannya apa? Mbak ngarit alias nyari rumput jugakah?
BalasHapusSaya juga punya ayam, tapi mereka gak perlu pakan karena samping rumah ada pabrik penggilingan padi
Saya juga punya ikan di kolam pakannya mudah dedak barengan ayam cukup
Tapi pas mau pelihara domba, bingung pakannya soalnya kan harus cari rumput...
Bisa share Mbak?
Membaca tulisan ini membuat saya bertanya-tanya mungkinkah saya juga mengalami post traumatic growth?
BalasHapusTerkadang saya merasakan lelah yang teramat tapi tak kunjung hilang meskipun sudah beristirahat. Sepertinya saya perlu juga menemukan aktivitas yang dapat menyembuhkan luka dan semua lelah yang sering saya rasakan.
Mba, tulisannya keren, seperti seorang filsuf. Jadi membuat ikut merenung juga. Suka juga dengan kalimat ini" Semua punya waktunya, semua punya prosesnya, dan semua tumbuh dengan kecepatannya sendiri." Terima kasih banyak mba, sudah memberi pencerahan. Sehat-sehat ya mba
BalasHapusKadang kalau kehidupan itu terasa terlalu berat dan cepat memang ada masanya kita harus sedikit melambat ya. Dengan demikian kita bisa menjalani hari dengan sepenuhnya dan mensyukuri apa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
BalasHapusWah, hewan peliharaannya menarik menarik mbak
BalasHapusDomba!
Aku cuma pelihara kucing. Tapi memang punya hewan peliharaan itu sarana melepas stres
Hebat kak bisa merawat hewan ternak, apalagi ada domba juga. Ini memang jadi healing manis sih buat diri sendiri.
BalasHapusDi rumah pernah merawat ayam waktu daku kecil, tapi ga sampai lama huhu, soalnya daku ga bisa main lebih lama sama mereka karena daku sekolah
Baru tau istilah PTG ini. Ada banyak mungkin ya anak yang tumbuh dewasa membawa luka. Ada yang bisa menyembuhkan diri, ada juga yang sekadar menumpukkannya dalam jiwa. Kau hebat kak karena bisa memvalidasi perasaan ini. Semoga selalu sehat yaaa...
BalasHapusAku jadi ingat ada buku yang berkisah tentang seorang pria yang melalui duka dengan mencuci piring. Kasusnya bukan PTG sih, tapi cara menyembuhkan luka hatinya mirip.