Dianti- Sejak memelihara ayam Sentul, aku punya kebiasaan baru yang agak tidak normal.
Melihat ayam ➡️ penasaran ➡️ buka Google ➡️ menemukan informasi baru ➡️ makin penasaran.
Dan semoga pembaca blog ini gak bosen atau ngedumel "kok ayam lagi ayam lagi sih", hehehe.
Lanjuuuutttt... Sampai akhirnya aku tidak lagi sekadar melihat ayam di kandang, tetapi mulai membaca sejarah ayam tersebut.
Mencari tahu asal-usulnya, sampai akhirnya benar-benar pergi ke Ciamis untuk melihat peternak Sentul secara langsung.
Ini bukan lagi sekadar memelihara ayam.
Ini sudah masuk chicken hole.
Dan kalau sudah masuk chicken hole, susah keluar.
Awalnya cuma mau tahu, “Ayam ini sebenarnya ayam apa?”
Tiga jam kemudian sudah membaca tentang plasma nutfah, kerajaan Galuh, Ciung Wanara, sabung ayam, sampai sejarah genetik ayam lokal.
Padahal ayamnya sendiri mungkin sedang mikir, “Mbok ya kasih makan dulu.”
Dari versatile player sampai ayam yang punya lore kerajaan
Kalau mengikuti tulisan sebelumnya yang pernah aku buat tentang ayam Sentul, aku sempat mengibaratkan ayam ini sebagai versatile player dalam sepak bola.
Buat yang tidak mengikuti sepak bola, versatile player adalah pemain yang bisa dimainkan di beberapa posisi.
Dia mungkin bukan selalu pemain yang paling heboh, tetapi ketika tim membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi tertentu, dia bisa diandalkan.
Nah, aku merasa analogi itu cukup menggambarkan ayam Sentul.
Ayam Sentul dikenal sebagai ayam lokal tipe dwiguna.
Dalam berbagai pengembangan dan pemanfaatannya, ayam ini bisa punya peran untuk produksi telur maupun daging.
Penelitian tentang karakteristik ayam Sentul juga menempatkannya sebagai ayam lokal tipe dwiguna.
Jadi kalau ayam sepak bola punya posisi gelandang, bek, atau sayap, ayam Sentul kurang lebih datang dengan CV:
“Bisa telur. Bisa daging. Ayam lokal. Punya sejarah. Punya identitas.”
Multitalenta sekali.
CV-nya lebih rapi daripada CV-ku yang sudah berkali-kali ganti karier. Wkwkwk
Tapi semakin lama memeliharanya, aku justru merasa analogi versatile player itu belum cukup.
Karena ternyata Sentul bukan cuma ayam yang serbaguna.
Dia juga punya lore.
Dan lore-nya lumayan panjang.
Baca juga: Ayam Sentul, Versatile Player yang Bikin Nyesel
Semuanya Berawal dari Ayam di Kandang
Awalnya aku tidak punya niat untuk menjadi orang yang mendalami ayam Sentul sampai sejauh ini.
Aku memeliharanya karena memang suka ayam dan tertarik dengan potensinya sebagai ayam lokal.
Seperti banyak keputusan lain dalam hidupku, awalnya sederhana.
Lalu muncul rasa penasaran.
Aku mulai memperhatikan tingkah lakunya, bentuk tubuhnya, produktivitas telurnya, warna bulunya, bahkan karakter antarindividunya.
Di salah satu koloni Sentul yang kupelihara, aku pernah melihat ayam betina menyerang ayam betina lain, tidak ada pejantan, tidak ada drama rebutan pasangan.
Mereka cuma sesama betina dan tetap bisa ribut.
Tentu saja aku tidak mau buru-buru menyimpulkan bahwa semua ayam Sentul pasti agresif.
Itu hanya pengamatan dari ayam-ayam yang aku pelihara sendiri, bukan penelitian ilmiah.
Tapi pengalaman kecil itu membuatku teringat pada informasi tentang Sentul yang kubaca kemudian.
Dalam salah satu sumber Kementerian Pertanian, ayam Sentul dikaitkan dengan kisah Si Jelug.
Yaitu ayam milik Ciung Wanara yang digambarkan lincah, kuat, dan agresif serta sering memenangkan kontes ketangkasan.
Aku membaca bagian itu sambil menatap ayam-ayamku.
Lalu cuma bisa bilang:
“...Oh.”
Lore-nya mulai masuk akal, walaupun tentu saja pengalaman kandangku tidak bisa dijadikan bukti ilmiah.
Baca juga: Bukan Hanya Soal Pakan, Tapi Belajar Kejujuran dari Ayam
Dari Ciamis, Tapi Bukan Cuma Ayam
Ayam Sentul dikenal sebagai ayam lokal dari Ciamis, Jawa Barat.
Nama “Sentul” sendiri dikaitkan dengan buah kecapi yang dalam bahasa lokal Parahyangan dikenal sebagai buah sentul.
Dalam literatur sumber daya genetik ayam lokal Indonesia, ayam Sentul juga dikaitkan dengan kisah Ciung Wanara dan ayamnya yang bernama Si Jelug.
Di sinilah ceritanya mulai berubah.
Karena aku tidak lagi sedang membaca tentang ayam sebagai ternak semata.
Aku sedang membaca tentang ayam yang sudah masuk ke dalam cerita budaya masyarakat Ciamis.
Dan seperti biasa, kalau sudah menemukan satu informasi menarik, aku bukannya berhenti.
Aku malah menggali lebih dalam.
Si Jelug dan Kerajaan Galuh
Dalam tradisi atau legenda yang berkembang mengenai Ciung Wanara, Si Jelug bukan sekadar ayam peliharaan.
Ayam ini digambarkan sebagai ayam yang kuat dan tangguh dalam kontes ketangkasan.
Dalam sumber Kementerian Pertanian yang membahas sumber daya genetik ayam lokal Indonesia, diceritakan bahwa Si Jelug memenangkan pertandingan melawan ayam milik bangsawan Tatar Galuh hingga akhirnya muncul taruhan sebagian wilayah Kerajaan Galuh.
Nah, di sinilah aku mulai mengalami momen:
“Sebentar. Jadi ini ayam... dan taruhannya wilayah kerajaan?”
Aku yang awalnya cuma memelihara ayam di rumah tiba-tiba masuk ke political thriller versi unggas.
Dalam legenda ini, taruhannya malah wilayah kerajaan.
Bro was playing ranked match with actual territory as the prize.
Tentu kita perlu memberi garis bawah: kisah Ciung Wanara dan Si Jelug berada dalam ranah legenda, hikayat, dan tradisi yang berkembang mengenai Galuh.
Jadi aku tidak akan menuliskannya sebagai laporan sejarah literal bahwa “dulu benar-benar ada pertandingan ayam dengan taruhan wilayah kerajaan.”
Yang menarik justru bagaimana ayam bisa menjadi bagian dari ingatan budaya sebuah daerah.
Dan semakin aku membaca, semakin aku merasa ayam Sentul memang punya cerita yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari kandang.
Baca juga: Awalnya Cuma Ingin Swasembada Pangan, Malah Ketagihan Beternak Ayam
Terus Malah Kepikiran Mahabharata
Ada satu hal lain yang membuatku teringat pada cerita lama.
Mahabharata.
Aku pernah menonton serial Mahabharata versi televisi Indonesia sekitar tahun 2014.
Dan salah satu bagian yang masih melekat di kepala adalah permainan dadu antara Yudhishthira dan Sengkuni.
Yudhishthira bukan sedang bermain untuk mendapatkan Indraprastha.
Dia sudah memilikinya.
Masalahnya, dalam permainan dadu tersebut, ia mempertaruhkan berbagai hal yang dimilikinya dan akhirnya kehilangan kerajaan serta hak atas kekuasaannya.
Jadi ketika membaca kisah Ciung Wanara yang dikaitkan dengan kontes ayam dan taruhan wilayah Galuh, otakku otomatis membuat koneksi:
“Loh, manusia zaman dulu memang suka bikin keputusan yang kalau dipikir sekarang: Bang... are you okay?”
Bedanya, dalam kisah Yudhishthira, permainannya dadu.
Dalam legenda Ciung Wanara, ayam.
Satu pakai meja permainan.
Satu pakai arena.
Dua-duanya sama-sama punya taruhan besar.
Dan sama-sama membuatku berpikir bahwa kalau aku hidup di zaman itu, mungkin aku akan memilih pulang sebelum acara dimulai.
“Aku nggak ikut ya, Pak. Aku cuma mau lihat-lihat.”
Gegara Ayam Sentul, Akhirnya Pergi ke Ciamis
Rasa penasaran itu akhirnya membawaku ke Ciamis.
Aku berkunjung ke Qomafi Farm, salah satu peternakan ayam Sentul yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan kecilku mengenal ayam ini lebih dekat.
Qomafi Farm berada di Desa Sekasari, Kabupaten Ciamis.
Tapi buatku, datang kesana bukan sekadar melihat angka populasi.
Aku ingin melihat ayamnya secara langsung.
Karena selama ini aku mengenal Sentul dari kandang rumah sendiri, dari telur, dari anak ayam, dari pengamatan sehari-hari, dan tentu saja dari internet.
Di sana aku bisa melihat lebih banyak variasi ayam Sentul.
Aku juga mendapat penjelasan dari Abah, Teh Koni, dan Ambu tentang ayam-ayam yang mereka pelihara.
Dan ada satu hal yang aku rasakan:
Oh, ternyata selama ini aku baru kenal satu bagian kecil dari ayam ini.
Setelah datang ke sana rasanya seperti baru membuka episode pertama.
Kalau sudah datang ke peternakan, masa pulang cuma bawa foto?
Nah.
Ini bagian yang sangat aku banget.
Aku datang untuk melihat-lihat.
Kemudian ngobrol.
Kemudian belajar.
Kemudian melihat ayam.
Kemudian...
ya sudah, beli ayam.
Aku akhirnya membawa pulang sekitar empat belasan ekor ayam Sentul.
Dan ternyata Abah juga memberikan satu ekor ayam Sentul bonus untuk dipotong.
Ini menarik karena sebelumnya aku memang belum pernah mencicipi daging ayam Sentul.
Aku selama ini lebih banyak berinteraksi dengan telurnya.
Jadi sekarang ceritanya lengkap:
Aku memelihara.
Aku mengamati.
Aku belajar.
Aku membaca sejarahnya.
Aku pergi ke Ciamis.
Lalu...
ayamnya masuk dapur.
Ini namanya penelitian lapangan dengan metode yang sangat ulalaaaa.
Dari Kandang ke Dapur: Akhirnya Ayam Sentul Masuk Panci
Sebagai orang yang memelihara hewan untuk kebutuhan rumah tangga, aku juga tidak ingin berhenti pada “wah, ayam ini bagus.”
Aku ingin tahu bagaimana rasanya.
Akhirnya ayam Sentul bonus dari Qomafi Farm itu aku masak.
Dan sebelum memasaknya, aku sempat mencari referensi tentang pengolahan daging ayam Sentul.
Aku menemukan penelitian Universitas Padjadjaran yang secara khusus meneliti kualitas fisik daging paha ayam Sentul berdasarkan lama perebusan.
Penelitian tersebut membandingkan perebusan pada suhu 80°C selama 15, 30, dan 45 menit.
Hasilnya menunjukkan bahwa lama perebusan berpengaruh nyata terhadap susut masak, sedangkan pengaruhnya terhadap daya ikat air dan keempukan tidak signifikan.
Dalam kondisi penelitian tersebut, waktu perebusan 15 menit dinilai sebagai perlakuan terbaik.
Aku kemudian mencoba pendekatan yang kurang lebih sama di dapur.
Sekitar 15 menit.
Dan ternyata, di lidahku, hasilnya cukup empuk.
Tentu saja pengalaman memasakku bukan pengganti penelitian.
Kondisi ayam, umur, ukuran potongan, suhu, dan cara memasak bisa berbeda.
Tapi tetap saja ada satu momen yang membuatku senang:
Science, but make it dinner.
Aku membaca penelitian akademik, lalu mencoba menerapkannya di dapur sendiri.
Kalau semua penelitian bisa berakhir jadi lauk, mungkin aku akan lebih rajin membaca jurnal.
Baca juga: Post Traumatic Growth, Kukira Sedang Merawat Hewan, Ternyata Sedang Merawat Luka
Yang Membuatku Tertarik Bukan Cuma Ayamnya
Setelah perjalanan ini, aku semakin sadar bahwa alasan aku menyukai peternakan rumahan bukan semata-mata karena ingin punya banyak hewan.
Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu.
Aku suka proses mengamati.
Melihat ayam tumbuh.
Melihat perilakunya.
Mengamati kapan mulai bertelur.
Mencoba menetaskan telur.
Memperhatikan anak ayam.
Belajar membedakan karakter masing-masing.
Lalu tiba-tiba menemukan bahwa ayam yang setiap hari kulihat ternyata punya sejarah yang panjang.
Bahkan sekarang, ketika aku melihat ayam Sentul di kandang, aku tidak cuma melihat seekor ayam abu-abu.
Aku melihat sebuah bagian kecil dari cerita tentang ayam lokal Ciamis.
Dan menurutku, di situlah slow living versi aku menjadi menarik.
Slow living bagiku bukan berarti hidup harus selalu estetik.
Bukan berarti setiap sore duduk minum teh sambil melihat matahari terbenam.
Kadang slow living itu ya...
Bangun pagi, buka kandang, bersihin kotoran ayam, kasih makan, terus sore malah buka jurnal tentang sejarah ayam.
Tidak selalu Pinterest-able.
Tapi nyata.
Dari Ayam ke Cerita
Semua pengalaman ini kemudian menjadi bagian dari apa yang aku dokumentasikan melalui Si Bocah Angon.
Aku membagikan keseharian beternak di rumah melalui TikTok, Facebook, Instagram, dan YouTube.
Beberapa pengalaman juga akhirnya masuk ke tulisan di blog.
Aku memang tidak ingin menjadikan semuanya sekadar konten.
Aku lebih suka mendokumentasikan prosesnya.
Karena buatku, peternakan rumahan bukan cuma soal berapa ekor ayam yang dimiliki atau berapa banyak telur yang dihasilkan.
Ada proses belajar di dalamnya.
Ada cerita.
Ada kegagalan.
Ada ayam yang sakit.
Ada telur yang gagal menetas.
Ada anak ayam yang tiba-tiba hilang dari pengawasan.
Ada kandang yang harus dibersihkan ketika sebenarnya tubuh sudah ingin rebahan.
Dan ada momen-momen kecil ketika aku sadar:
Oh, ternyata aku sedang membangun sesuatu. Pelan-pelan.
Bukan kerajaan Galuh, memang.
Tapi lumayan.
Ayam Sentul dan alasan kenapa aku tetap memilihnya
Semakin mengenal Sentul, semakin aku memahami kenapa ayam ini menarik untuk dipelihara.
Ia punya identitas lokal yang kuat.
Ia berasal dari Ciamis.
Ia dikenal sebagai ayam lokal tipe dwiguna.
Ia punya sejarah pengembangan dan pemuliaan yang panjang.
Dan ada pula cerita budaya yang membuat namanya tidak berdiri sendirian sebagai komoditas ternak.
Bahkan dalam penelitian karakteristik ayam lokal, Sentul disebut sebagai salah satu ayam lokal tipe dwiguna.
Jadi, kalau dulu aku menyebut Sentul sebagai versatile player, sekarang aku merasa analogi itu harusnya lebih kaya.
Dia bukan cuma punya lebih dari satu fungsi.
Dia punya lebih dari satu cerita.
Telur ada. Daging ada. Sejarah ada. Budaya ada. Lore ada.
Kalau di sepak bola, mungkin pelatih akan bilang:
“Masukkan Sentul. Dia bisa main di mana saja.”
Pada akhirnya, aku cuma ingin memelihara dan bercerita
Aku hanya peternak rumahan yang kebetulan terlalu penasaran dengan hewan yang dipeliharanya sendiri.
Tapi mungkin justru dari rasa penasaran seperti itulah proses belajar dimulai.
Seekor ayam membuatku belajar tentang peternakan.
Peternakan membuatku belajar tentang pangan.
Pangan membuatku belajar tentang pengolahan.
Ayam membuatku membaca sejarah.
Sejarah membawaku ke cerita Ciung Wanara.
Dan Ciung Wanara malah membuatku berpikir tentang Mahabharata.
Satu ayam. Satu season.
Belum selesai.
Dan mungkin memang tidak perlu selesai.
Karena bagian paling menarik dari slow living buatku bukan tentang sampai di mana kita akhirnya.
Tetapi tentang seberapa banyak hal kecil yang bisa kita temukan ketika kita mau memperhatikan.
Dulu aku cuma melihat ayam.
Sekarang aku melihat cerita.
Aku melihat usaha pelestarian.
Aku melihat potensi pangan.
Aku melihat budaya.
Aku melihat kerja para peternak.
Dan aku melihat bagaimana seekor ayam lokal bisa menjadi penghubung antara rumah, kandang, dapur, ilmu pengetahuan, ekonomi, sampai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kerajaan Galuh jelas tidak berhasil kudapatkan.
Tapi setidaknya aku dapat ayam Sentul, telur, pengalaman ke Ciamis, dan satu artikel lagi.
Untuk ukuran side quest kehidupan, menurutku itu sudah lumayan.
Dan mungkin begitulah caraku slow living:
memelihara, mengamati, belajar, lalu bercerita.
Karena kadang-kadang, kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan sesuatu yang menarik.
Cukup buka kandang.
Lihat ayam.
Lalu tunggu sampai rasa penasaran membawa kita ke mana-mana.***


Udah kayak pas punya bayi baru, ya. Diliatin mulu, terus dicariin infonya. Kukira asalnya dari Sentul, Bogor. Ternyata bukan to
BalasHapusKalau semua peternak kayak kamu kak. Wah hubungan antar ayam & nyonya sangat dekat ya ha ha ha. Tapi emang gini nggak sih apa yang dekat dengan kita kayak pelihara tanaman,kucing, ikat pasti jd detail amatin ya? Btw bagian mana itu kak dari si Sentul yang akhirnya jadi opor? Aku sih ceker, pala & paha 🤣
BalasHapusDaku baru engeh ada ayam sentul. Tahunya ayam Kate, ayam biasa aja, ayam jago, ayam kalkun eh. Sesuatu juga kisah ayam ini, apalagi dikaitkan dengan kisah Mahabharata, yang mana daku juga nonton itu pas tayang ulangnya di ANTV, karena aktornya si Raja Anga ganteng haha
BalasHapus