Seratus Unggas Kemudian, Tak Kurencanakan Tapi Nyata Mengejutkan


Dianti - Hari ini aku melakukan hal yang sebenarnya cukup berbahaya bagi ketenangan batin, yaitu menghitung seluruh unggas yang kupelihara di rumah. 


Awalnya cuma penasaran aja sih. 


Selama ini aku merasa ayam, kalkun, dan merpati di rumah memang sudah lumayan banyak, tetapi ternyata perasaan dan matematika adalah dua hal yang sebaiknya tidak dipertemukan kalau kita belum siap menerima kenyataan. 


Setelah dihitung, jumlahnya sudah lebih dari seratus ekor.


Aku nge-freeze sejenak.


Bukan karena bangga.


Lebih karena sedang mencoba mengingat, kapan tepatnya hidupku berubah dari “suka memelihara unggas” menjadi “mengelola populasi”.


Pantas saja setiap selesai mengurus mereka tubuhku rasanya seperti habis mengikuti kegiatan team building, padahal tidak ada timnya dan tidak ada yang membayar. 


Selama ini aku masih menganggap mereka sebagai hewan peliharaan biasa, tetapi kalau jumlahnya sudah lebih dari seratus, rasanya kata “peliharaan” mulai kehilangan konteks. 


Ini sudah peternakan mini. 


Hanya saja versi rumahan, dengan pemilik yang masih merangkap sebagai petugas kebersihan, bagian pakan, bagian pembibitan, bagian administrasi, sekaligus bagian yang panik kalau ada ayam tiba-tiba hilang.


Yang lebih lucu, semua ini sebenarnya tidak pernah masuk rencana hidupku. 


Aku tidak pernah membuat vision board berisi gambar ayam sambil menulis, “Tahun ini aku ingin memiliki seratus ekor unggas.” 


Aku cuma memelihara ayam, lalu ayamnya bertelur. 


Telurnya ditetaskan, menetas, tumbuh, kemudian bertelur lagi. 


Tahu-tahu populasinya sudah lebih dari seratus.


Jadi kalau selama ini orang membuat target hidup dengan metode SMART, unggasku rupanya punya metode sendiri: Suka Menetas, Akhirnya Ramai Terus.


Baca juga: "Chicken Hole" Ayam Sentul & Lore Galuh, dari Kandang Sampai Panci Riset


Seratus Itu Tidak Semuanya Unggas Dewasa


Sebelum angka seratus ini membuat ceritanya terdengar seperti aku sedang membangun peternakan komersial di halaman rumah, aku perlu menjelaskan sedikit. 


Lebih dari seratus itu bukan berarti semuanya ayam dewasa yang setiap pagi berbaris menunggu giliran bertelur. 


Populasinya cukup beragam. 


Ada ayam dewasa, ayam yang sedang tumbuh, anak ayam yang baru menetas, kalkun, dan merpati. 


Jadi suasananya bukan seperti kandang penuh ayam dewasa, melainkan seperti sebuah komunitas kecil yang penghuninya tidak pernah membayar kontrakan tetapi kebutuhan hidupnya terus bertambah.

Sebagian anak ayam merupakan hasil penetasan sendiri dari telur yang kupelihara sebelumnya. 


Elba dan Sentul mulai menghasilkan generasi baru melalui telur yang kami tetaskan menggunakan inkubator. 


KUB 2 Janaka juga ikut berkembang, sementara di sisi lain aku membeli beberapa bibit baru untuk menambah variasi, seperti White Leghorn, Golden Permud, dan Gatotkaca.


Kalau semua jenis ini dikumpulkan dalam satu rumah, sebenarnya aku sudah punya semacam struktur organisasi unggas. 


Elba dan White Leghorn masuk bagian petelur, Sentul dan KUB lebih ke dwiguna, Golden Permud dan Gatotkaca diarahkan untuk kebutuhan daging, sedangkan kalkun dan merpati punya departemen sendiri. 

Departemen apa? Belum tahu! Yang jelas mereka ada.


Kalau dipikir-pikir, rumahku sekarang sudah seperti perusahaan yang struktur organisasinya dibangun berdasarkan kebutuhan perut. 


Ada bagian produksi telur, pembibitan, pertumbuhan, sampai regenerasi. 


Yang belum ada cuma HRD. 


Tapi mungkin memang tidak diperlukan, karena kalau ada unggas yang bermasalah, mereka tidak mengajukan surat keberatan. Mereka cukup berisik.


Dan anehnya, suara ayam jam lima pagi ternyata jauh lebih efektif daripada email kantor berjudul “Reminder Friendly.”


Dari Hobi Pelan-Pelan Menjadi Sistem Operasional


Setiap pagi dan sore, aku harus memberi pakan, memastikan air tersedia, membersihkan area, memeriksa kondisi unggas, dan memperhatikan anak-anak yang pertumbuhannya bisa berubah sangat cepat. 


Anak ayam hari ini masih terlihat seperti bola bulu yang bisa digenggam dengan satu tangan. 


Beberapa waktu kemudian sudah berlarian ke sana-kemari dengan kepercayaan diri seperti mereka punya agenda penting, padahal agenda pentingnya kemungkinan besar cuma mencari tempat untuk buang kotoran.


Baca juga: Ayam Sentul, Si Versatile Player yang Bikin Nyesel


Begitu selesai mengurus anak ayam, masih ada unggas dewasa yang harus diperhatikan. 


Ada telur yang perlu dikumpulkan, kandang yang perlu dibersihkan, pakan yang harus disiapkan, dan populasi yang harus dipantau. 


Pekerjaan seperti ini kelihatannya sederhana kalau hanya dilihat satu per satu. 


Masalahnya, hidup tidak pernah memberikan satu per satu. 


Hidup memberikan semuanya sekaligus, biasanya ketika kita baru saja duduk.


Kadang aku baru merasa pekerjaan selesai setelah semuanya makan, air tersedia, kandang kembali cukup rapi, dan tidak ada ayam yang sedang merencanakan pelarian. 


Karena iya, selalu ada saja ayam yang merasa pagar adalah sekadar saran, bukan batas wilayah. 


Saat aku mengejarnya, dia lari. 


Aku mengejar lagi, dia belok. 


Aku ikut belok, dia malah semakin jauh.


Pada titik tertentu aku mulai curiga, jangan-jangan ayam tersebut sebenarnya sedang menjalankan program kebugaran dan aku cuma dijadikan partner olahraga tanpa persetujuan.


Setelah semua selesai, aku biasanya ingin duduk. 


Besok pagi semuanya dimulai lagi. 

Mereka lapar, aku memberi makan. 

Tempat makan kotor, aku bersihkan. 


Ada telur, aku kumpulkan, ada ayam kabur, aku kejar. 


Siklusnya sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.


Kalau ini perusahaan, mungkin sudah saatnya aku meminta kenaikan gaji. 


Sayangnya aku sendiri yang punya perusahaan.


Jadi HRD-nya juga aku.


Dan jawabannya sudah pasti:


“Nanti kita evaluasi.”


Begitu Bisa Menetaskan Sendiri, Populasi Mulai Punya Ambisi


Dulu, melihat DOC saja sudah membuatku cukup waspada. 


Makhluknya kecil, geraknya cepat, dan kelihatannya rapuh sekali. 


Sekarang aku sudah lebih terbiasa mengurus telur, menetaskan, merawat anak ayam, dan memantau pertumbuhan mereka. 


Bukan berarti aku tiba-tiba menjadi ahli peternakan yang bisa menjawab semua pertanyaan tentang unggas. 


Aku hanya sudah cukup sering mengalami prosesnya sehingga sekarang kalau ada masalah, reaksiku lebih banyak menghela napas daripada langsung panik.


Kemampuan menetaskan telur sendiri ternyata membuat semuanya naik level.


Awalnya menyenangkan karena kita bisa melihat proses dari telur sampai menjadi anak ayam. 


Ada kepuasan ketika hasil penetasan berhasil. 


Tapi kemudian muncul efek samping yang tidak tercantum dalam buku petunjuk: populasi bertambah.


Satu telur menetas, senang. Beberapa telur menetas, lebih senang. 


Banyak telur menetas, mulai melihat kandang dengan tatapan berbeda.


Karena setiap keberhasilan penetasan sebenarnya membawa pekerjaan baru. 


Anak ayam harus dirawat, diberi pakan, dipantau, kemudian tumbuh menjadi unggas yang juga ikut masuk dalam sistem pemeliharaan.


Baca juga: Bukan Hanya Soal Pakan, Tapi Belajar Kejujuran dari Ayam


Di sinilah aku mulai memahami bahwa keberhasilan juga bisa menjadi sumber masalah baru. 


Gagal menetaskan bikin sedih. Berhasil menetaskan bikin senang. 


Berhasil terlalu banyak membuat kita bertanya, “Ini semua mau ditaruh di mana?”


Dari situlah hobi yang awalnya cuma ingin punya unggas sendiri perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. 


Setelah cukup lama menjalani proses pemeliharaan dan pembibitan, akhirnya peternakan rumah kami mulai menjual bibit. 


Ada DOC untuk orang yang ingin memulai dari kecil, ada pulet untuk yang ingin melewati fase bayi, dan ada bibit kalkun bagi yang ingin mencoba memelihara unggas dengan ukuran yang sedikit lebih ambisius.


Untuk ayam, kami juga menyediakan bibit Elba dan Sentul yang berasal dari pengalaman kami memelihara keduanya. 


Rasanya cukup menarik melihat perputaran itu. 


Dulu aku membeli bibit dari orang lain, sekarang sebagian bibit justru berasal dari proses yang kami rawat sendiri.


Dari pembeli bibit, perlahan naik pangkat menjadi penjual bibit.


Bukan karena punya strategi bisnis yang sangat canggih, tetapi karena ayamnya keburu banyak.


Kalau ada orang bertanya, “Ada DOC?”


Aku harus menjawab seperti penjual profesional.


Padahal dalam hati masih ada suara kecil yang berkata,


“Lho, kok kita sudah sampai tahap ini?”


Ayam Ternyata Punya Rencana Karier Sendiri


Sekarang, kalau melihat populasi yang sudah lebih dari seratus tadi, aku mulai bisa memahami kenapa jumlahnya bisa sebesar itu. 


Sebagian memang untuk konsumsi, sebagian untuk produksi telur, sebagian menjadi indukan, dan sebagian lagi tumbuh sebagai calon bibit. 


Jadi mereka bukan sekadar kumpulan unggas yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. 


Ada siklus yang mulai terbentuk: indukan menghasilkan telur, telur ditetaskan, DOC tumbuh, sebagian dipelihara, sebagian bisa dijual, dan sebagian lainnya tetap berada di rumah untuk melanjutkan regenerasi.


Kalau dipikir-pikir, ayam-ayam ini punya jalur karier yang cukup jelas. 


Ada yang menjadi indukan, penghasil telur, bibit, atau bagian dari konsumsi rumah tangga. 


Sementara aku masih menjadi orang yang setiap pagi mencari tahu kenapa tempat minum tiba-tiba kosong lagi.


Dari proses itu aku semakin sadar bahwa pengalaman memelihara unggas memberikan pengetahuan yang tidak semuanya bisa didapat dari membaca artikel atau menonton video. 


Ada perbedaan antara tahu secara teori dan benar-benar mengalami prosesnya. 


Baca juga: Jinak-Jinak Merpati Bukan Sifat, Tapi Pola Avoidant Attachment


Kita baru memahami ketika melihat telur gagal menetas, anak ayam tumbuh, indukan menghasilkan generasi berikutnya.


Atau ketika sesuatu yang kita kira akan berjalan lancar ternyata membuat kita berdiri di depan kandang sambil berkata, “Ya sudah, besok kita coba lagi.”


Keberhasilan dan kegagalan akhirnya sama-sama menjadi bagian dari proses belajar. 


Dan pengalaman itu ternyata punya nilai sendiri. Bukan hanya karena bisa menghasilkan telur, daging, atau bibit.


Tetapi karena dari sana muncul kemampuan untuk memahami proses yang sebelumnya terasa asing.


Jadi kalau dulu aku memelihara ayam karena suka ayam, sekarang ayamnya sudah punya kontribusi terhadap kehidupan rumah. 


Ada yang menghasilkan telur, ada yang menjadi indukan, ada yang menjadi bibit, dan ada yang diam-diam memastikan halaman tidak pernah benar-benar sepi.


Kalau ini perusahaan, mungkin ayam-ayam tersebut sudah punya career path.


Aku cuma belum tahu kapan mereka minta THR.


Manfaatnya Bukan Cuma Telur



Memelihara banyak unggas memang membuat pekerjaan bertambah, tetapi manfaatnya juga semakin terasa. 


Salah satunya tentu telur. 


Aku bisa menikmati telur dari unggas yang kupelihara sendiri, termasuk telur ayam dan kalkun.


Sebagian tidak perlu dijual karena memang kembali ke dapur dan menjadi bagian dari kebutuhan makanan rumah tangga.


Ada rasa puas ketika sesuatu yang setiap hari kita rawat akhirnya menjadi bagian dari makanan sendiri. 


Rasanya seperti mendapatkan bonus dari pekerjaan yang tidak punya jam kantor. Bedanya, bonusnya tidak masuk rekening.


Masuk kulkas.


Aku juga bisa mengalami sendiri perbedaan daging dari beberapa jenis unggas. 


Ada perbedaan ukuran, tekstur, rasa, dan karakter ketika dimasak. 


Jadi pengetahuan yang sebelumnya mungkin hanya berupa informasi akhirnya menjadi pengalaman langsung. 


Aku tidak sekadar membaca bahwa setiap jenis unggas punya karakter berbeda. 


Aku melihatnya sendiri, mengolahnya sendiri, dan tentu saja mencuci peralatan setelahnya sendiri.


Karena ternyata dalam kehidupan nyata, semua pengalaman selalu punya bagian yang tidak masuk foto.


Orang melihat telur.

Aku melihat cucian.


Orang melihat kebun.

Aku melihat ember.


Orang melihat ayam lucu.

Aku melihat kandang yang harus dibersihkan.


Begitulah kehidupan.


Konten estetik memang punya bakat luar biasa untuk hanya menampilkan bagian yang bagus-bagusnya.

Kotorannya biasanya tidak ikut difoto.


Lalu Aku Menemukan Produk Unggas yang Paling Konsisten


Setelah memelihara lebih dari seratus unggas, aku akhirnya memahami satu hukum ekonomi peternakan rumahan: semakin banyak unggas, semakin banyak pula hasil produksinya.


Telur ada.

Daging ada.

Anak ayam ada.

Bibit ada.


Tapi ada satu produk yang tingkat konsistensinya benar-benar mengagumkan. 


Tidak mengenal musim, tidak mengenal hari libur, dan tidak peduli aku sedang sibuk atau santai.


Produk tersebut adalah... Kotoran.


Baca juga: Kelinci Itu Playboy, atau Kita yang Terlalu Cepat Memberi Label?


Ya, kotoran.


Kalau telur membuatku bersyukur, kotoran membuatku memahami apa arti produksi massal. 


Aku bisa mengumpulkan telur dengan senang hati. 


Tapi ketika melihat jumlah kotoran yang harus dikelola, aku mulai memahami bahwa setiap manfaat memang datang bersama konsekuensinya.


Awalnya kotoran hanya terlihat sebagai pekerjaan tambahan. 


Tapi kemudian aku mulai mengolahnya menjadi kompos dan menggunakannya kembali untuk kebun. 


Dari situ muncul sesuatu yang justru menarik: limbah dari kandang ternyata bisa kembali masuk ke sistem rumah.


Unggas menghasilkan kotoran. Kotoran diolah menjadi kompos. 


Kompos membantu tanaman tumbuh. 


Sebagian tanaman bisa menjadi makanan rumah, sementara sebagian lainnya dapat dimanfaatkan sebagai tambahan pakan unggas.


Ekonomi sirkular versi rumah tangga.


Tidak ada seminar.


Tidak ada white paper.


Tidak ada presentasi PowerPoint.


Cuma aku, ayam, sekop, dan keputusan untuk tidak menyerah pada jumlah kotoran.


Dan semakin kupikirkan, ayam-ayam ini sebenarnya cukup membantu menjalankan sistem rumah. 


Mereka menghasilkan telur, bibit, bahan kompos, dan tentu saja pekerjaan.


Sangat lengkap.


Kalau manusia punya job description, ayam juga punya.


Bedanya, ayam tidak pernah membaca kontraknya.


Gara-Gara Kotoran, Aku Malah Makin Rajin Berkebun




Karena kompos semakin tersedia, aku justru semakin terdorong untuk menanam. 


Area atap rumah yang sebelumnya sempat terbengkalai mulai dikembangkan menjadi kebun. 


Beberapa tanaman bahkan bisa tumbuh kembali dari sisa dapur yang sebelumnya mungkin langsung dibuang.


Aku mulai mengenal regrow bukan sekadar sebagai konsep yang terlihat keren di internet, tetapi sebagai sesuatu yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 


Ada sisa tanaman yang ternyata masih bisa dimanfaatkan, ada tanaman yang sengaja kutanam untuk kebutuhan rumah, dan ada juga yang bisa digunakan sebagai tambahan pakan unggas.


Lama-lama aku sadar bahwa kandang dan kebun ternyata tidak berdiri sendiri. 


Keduanya saling terhubung. 


Unggas menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kebun.


Kenudian kebun menghasilkan sesuatu yang bisa kembali dimanfaatkan rumah dan unggas. 


Dari situ terbentuk siklus kecil yang awalnya sama sekali tidak pernah kurencanakan.


Aku tidak pernah membuat masterplan.


Tidak pernah duduk sambil menggambar diagram dengan panah ke sana-sini.


Aku cuma punya ayam.


Ayam punya kotoran.


Kotorannya banyak.


Aku cari solusi.


Ketemu kompos.


Kompos bikin tanaman tumbuh.


Tanaman kemudian bisa dimanfaatkan.


Tahu-tahu sudah punya kebun.


Kalau prosesnya terus begini, jangan-jangan lima tahun lagi aku punya bendungan.


Ternyata Kandang dan Kebun Sama-Sama Mengajari Aku Sesuatu


Kalau sekarang semuanya dilihat sebagai satu sistem, polanya sebenarnya sederhana. 


Unggas membutuhkan makanan, kemudian menghasilkan telur, daging, keturunan, dan kotoran. 


Kotoran bisa diolah menjadi kompos, kompos membantu tanaman tumbuh, sebagian tanaman kembali menjadi bahan makanan atau pakan.


Sementara telur dan hasil ternak lainnya masuk ke kebutuhan rumah atau menjadi bagian dari usaha bibit.


Semuanya berputar.


Tidak sempurna.


Tidak selalu lancar.


Tapi nyata.


Dan mungkin justru itu yang membuat pengalaman ini terasa berbeda. 


Aku tidak sekadar memelihara hewan. 


Perlahan aku belajar melihat hubungan antara kandang, kebun, makanan, limbah, pembibitan, dan kebutuhan rumah tangga.


Dulu aku cuma ingin punya unggas.


Sekarang aku punya unggas, kebun, kompos, bibit untuk dijual, dan pekerjaan yang rasanya tidak pernah benar-benar selesai.


Kalau ada yang bilang aku berhasil membangun sistem pertanian rumahan, mungkin iya. 


Tapi kalau ditanya apakah semuanya sudah direncanakan?


Tentu tidak.


Sebagian besar justru terjadi karena ayam.


Dan menurutku itu cukup menggambarkan kehidupan. 


Kita sering merasa sedang membuat rencana, padahal kadang kita cuma mengikuti konsekuensi dari keputusan kecil yang dulu kita pikir sepele.


Aku membeli ayam.


Ayam bertelur.


Telur menetas.


Anak ayam tumbuh.


Populasi bertambah.


Kotoran bertambah.


Aku membuat kompos.


Kompos membuat kebun berkembang.


Kebun menghasilkan tanaman.


Tanaman kembali masuk ke rumah.


Dan sekarang aku duduk sambil bertanya,


“Kok jadi begini?”


Mungkin Aku Salah Memahami Slow Living


Selama ini slow living sering dibayangkan sebagai kehidupan yang tenang. 


Bangun pagi, membuat teh, menyiram tanaman, membaca buku, lalu menikmati rumah yang rapi dan cahaya matahari yang masuk dari jendela. 


Semuanya terdengar damai. 


Bahkan mungkin terlalu damai untuk orang yang punya lebih dari seratus unggas.


Versiku sedikit berbeda.


Bangun pagi, dengar ayam, cari ayam yang keluar kandang, isi pakan, isi air, bersihkan tempat makan, cek anak ayam, kumpulkan telur, lihat kebun, urus kompos, lalu baru sadar ternyata pagi sudah hampir selesai.


Sangat slow.


Karena pekerjaan yang seharusnya selesai satu jam ternyata bisa menjadi dua jam kalau ada satu ayam yang memutuskan keluar kandang.


Dari situ aku mulai memahami bahwa slow living tidak selalu berarti hidup tanpa kesibukan. 


Kadang justru berarti mengerjakan sesuatu secara perlahan karena memang tidak ada pilihan lain. 


Kita benar-benar hadir di dalam pekerjaan itu. 


Tangan bekerja, badan bergerak, pikiran fokus pada apa yang ada di depan mata.


Ada kepuasan yang sulit dijelaskan dari pekerjaan semacam ini. 


Kandang yang tadinya kotor menjadi bersih. 


Tanaman yang ditanam mulai tumbuh. 


Telur yang dikumpulkan bisa langsung masuk dapur. 


Kompos yang dibuat bisa kembali digunakan. 


Sesuatu yang dianggap limbah ternyata masih punya fungsi.


Memang tidak semuanya cantik.


Tidak semuanya tenang.


Dan jelas tidak semuanya cocok dijadikan konten estetik.


Instagram bisa memperlihatkan ayam sedang berjalan di bawah sinar matahari.


Instagram tidak akan memperlihatkan lima menit sebelumnya ketika aku mengejar ayam tersebut sambil membawa ember.


Itulah bagian kehidupan yang biasanya tidak masuk feed.


Mungkin selama ini aku juga terlalu mengasosiasikan slow living dengan kehidupan yang minim pekerjaan. 


Padahal buatku sekarang, slow living justru terasa seperti hidup yang lebih dekat dengan pekerjaan nyata. 


Aku tahu dari mana telur berasal, kenapa tanaman bisa tumbuh, apa yang terjadi pada sisa makanan, dan kenapa kandang harus dibersihkan.


Semuanya punya hubungan.


Dan mungkin justru hubungan itulah yang membuat hidup terasa lebih sederhana.


Bukan karena pekerjaannya sedikit.


Tapi karena aku semakin mengerti kenapa pekerjaan itu dilakukan.


Walaupun ada satu hal yang tetap belum bisa kupahami:


Kenapa ayam selalu kabur ketika aku sedang buru-buru?


Aku yakin itu bukan kebetulan.


Mereka punya agenda.


Mungkin mereka rapat diam-diam.


Mungkin ada koordinator lapangan.


Aku tidak tahu.


Yang jelas, setiap kali satu ayam keluar kandang, semua teori tentang slow living langsung diuji secara praktis.


Aku lari.

Ayam lari.

Aku belok.

Ayam belok.

Aku berhenti.

Ayam ikut berhenti.

Kami saling menatap.


Dalam momen itu aku sadar, mungkin ayam juga sedang mengajariku tentang mindfulness.


Masalahnya, aku tidak pernah minta ikut kelas.


Jadi aku tetap mengejar.


Dengan ember di tangan.


Begitulah slow living versiku.


Tidak ada lilin aromaterapi.


Tidak selalu ada playlist tenang.


Tidak selalu ada rumah yang estetik.


Kadang yang ada cuma sarung tangan, sekop, ember, kebun, kandang, lebih dari seratus unggas, dan satu ayam yang merasa kebebasan adalah hak konstitusional.


Aku memang tidak hidup sesantai bayangan orang tentang slow living. Tapi aku mulai merasa hidupku lebih terhubung.


Dari telur ke DOC.

Dari DOC ke indukan.

Dari kandang ke kompos.

Dari kompos ke kebun.

Dari kebun kembali ke rumah.

Siklusnya terus berjalan.

Kadang melelahkan.

Kadang lucu.


Kadang membuatku bertanya kenapa dulu membeli ayam sebanyak itu.


Tapi ketika melihat anak ayam tumbuh, tanaman berkembang, telur masuk ke dapur, dan bibit mulai bisa dibagikan kepada orang lain, aku akhirnya mengerti sesuatu.


Mungkin aku memang tidak sedang mencari hidup yang lebih sedikit.


Aku sedang mencari hidup yang terasa lebih berarti.


Dan ternyata jalan menuju sana melewati kandang ayam.


Serta, tentu saja...


tumpukan kotoran yang produksinya jauh lebih stabil daripada omzet.

Slow living, tapi ternyata ayam yang menentukan ritmenya.

2 komentar:

  1. Luar biasa Mbak, udah punya peternakan sendiri walau tanpa disadari. Semoga makin sukses, makin banyak unggasnya, dan bisa punya kandang yang pake cctv dan mesin canggih.

    BalasHapus
  2. Serunya tiap baca tulisan mba di tentang si ayam ini dari yang dulunya hanya beberapa ekor sekarnag gak terasa sudah ada seratus ekor lebih bahkan sudah bisa menjual telur, bibit hingga indukan ayam...
    Gak cuuma berhasi menhembangkan peternakan namun juga sudah mulai merambah perkebuna :)
    Semoga semua berjalan dengan sinkron ya mbaa saling support antara peternakan dan perkebunannya :)

    BalasHapus