Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya

Minggu, Desember 28, 2025 12 Comments


dianti- Ayam jantan itu adalah potret paling jujur dari fenomena fatherless.

Dan lucunya atau tragisnya, ini relevan banget sama kondisi sosial Indonesia hari ini.

Sosoknya ada, tapi perannya gak ada 

Ayam jantan kalo disuruh ngurus anak? Error 404: parental care not found.

Saking tingginya angka fatherless di negara kita, pemerintah sampai bikin kebijakan ambil rapor anak sama ayah.

Bayangin aja betapa lelahnya sistem, sampai harus bilang:

“Pak… minimal tanda tangan ya,"


Kokok tiap Pagi, tapi Tanggung Jawab Skip

Setiap pagi ayam jantan di kandangku berkokok kayak alarm default HP Android, nggak bisa dimatiin, nggak bisa di-snooze, dan selalu paling berisik padahal kontribusinya belum tentu paling besar.

Dari luar kandang, si ayam jantan kelihatan sibuk banget.

Kayak orang yang update story “kerja kerja kerja” tapi kerjaannya cuma ngopi.

Begitu ayam betina bertelur, realita langsung kebuka.

Betina: bertelur, mengerami, ngasuh, pasang badan

Jantan: “gue awasin dari jauh aja ya”

Aku sampe gemes sekaligus bertanya-tanya:

“Ini sistem parenting-nya siapa yang nyusun?”


Fatherless, Tapi Versi Berkokok

Dalam ilmu perilaku unggas dan fisiologi reproduksi ayam (avian reproductive behavior), ayam jantan memang tercatat sangat aktif secara seksual. 

Beberapa studi di bidang poultry science menjelaskan bahwa ayam jantan mampu melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari, tergantung ras, umur, kondisi tubuh, dan ketersediaan betina.

Penelitian klasik dalam jurnal Applied Poultry Research dan Poultry Science menyebutkan bahwa seekor ayam jantan sehat dapat melakukan 5–10 kali kopulasi per hari, bahkan lebih pada sistem pemeliharaan intensif. 

Secara fisiologis, hormon testosteron pada ayam jantan mendukung perilaku kawin yang agresif dan berulang.

Tapiii… di sinilah plot twist biologisnya muncul.

Begitu telur keluar dari tubuh ayam betina, peran ayam jantan secara fungsional langsung berhenti.

 Dalam literatur etologi unggas, sistem pengasuhan ayam dikategorikan sebagai maternal-only parental care

Artinya, seluruh tanggung jawab pasca-reproduksi, mulai dari mengerami telur, menjaga piyik, menghangatkan tubuh anak, hingga mengajarkan perilaku makan dibebankan hampir sepenuhnya kepada induk betina.

Artinya ayam jantan tidak ikut mengerami telur, tidak memberi makan piyik, dan tidak memiliki respons hormonal untuk bonding dengan anak

Bahkan, beberapa penelitian observasional (misalnya pada Gallus gallus domesticus) mencatat bahwa ayam jantan dapat bersikap agresif terhadap anak ayam, terutama jika anak tersebut dianggap mengganggu hierarki atau wilayahnya. 

Dalam bahasa ilmiah: low paternal investment. Dalam bahasa kandang: “bukan urusan gue.”



Sementara itu, ayam betina mengalami lonjakan hormon prolaktin yang memicu naluri mengeram dan mengasuh. 

Dia kerja lembur biologis tanpa cuti.

Ayam jantan? Tetap makan, tetap eksis, tetap mondar-mandir di kandang seolah bilang:

“Aku hadir kok… secara visual.”

Dan disinilah konsep fatherless yang sering dibahas dalam ilmu sosial jadi relevan banget. 

Fatherless itu bukan selalu soal ayah yang benar-benar tidak ada, tapi ayah yang hadir secara fisik namun absen secara fungsi.

Ayahnya tercatat.
Ayahnya terlihat.
Ayahnya hidup di sistem.

Tapi dalam praktik pengasuhan?
Dia cuma jadi background NPC, ada di layar, tapi nggak bisa diajak interaksi.

Dan ironisnya, ini bukan cuma fenomena sosial manusia modern.
Ini pola biologis yang sudah lama terjadi di kandang ayam.


Negara Sampai Capek, Ayam Betina Apalagi


Kadang aku mikir, kebijakan publik yang mendorong keterlibatan ayah itu lahir karena negara udah capek.

Capek lihat ibu kerja sendiri, guru koordinasi sama wali murid yang sama terus.

Hingga anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang beneran hadir

Dan ayam betina? Dia capek dari zaman fosil bestiiii tolooooong!

Ayam betina nggak punya privilege “aku lagi fokus diri dulu”.

Begitu telur keluar, hidup langsung berubah jadi:

“oke, sekarang gue single parent by system.”

Dan lucunya lagi, dalam beberapa kasus, ayam jantan malah bisa nyerang anak ayam sendiri kalau merasa teritorinya keganggu.

Aku sampai mikir:

“Ini ayam jantan kok vibes-nya kayak… ah sudahlah.”


Ilusi Kepemimpinan: Jengger Besar, Peran Tipis

Ayam jantan sering disebut pemimpin kandang. Tapi pemimpin versi apa?

Kalau kepemimpinan itu identik dengan banyak suara, tampil dominan, jarang kerja domestik.

Maka iya, ayam jantan menang.

Tapi kalau kepemimpinan itu adalah ambil beban, ngasuh generasi, turun tangan saat chaos.

Maaf ya… ayam betina yang MVP.

Ayam betina nggak berkokok, tapi tanpa dia, populasi bubar jalan.


Merpati Datang, Patriarki Gak Berlaku

Terus aku nengok ke kandang merpati dan di situ aku cuma bisa bilang:

“Oh… pantes.”

Merpati itu setia, berpasangan, dan dua-duanya ikut mengerami telur.

Plot twist-nya? Jantannya juga nyusuin anaknya.

Iya, pakai susu tembolok (crop milk), fenomena yang dibahas serius di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, terutama pada keluarga Columbidae.

Di titik ini patriarki di keluarga merpati auto gak berlaku.

Pantes aja merpati lebih cocok jadi simbol pernikahan daripada ayam.

Bukan cuma karena setia, tapi karena kerja bareng, bukan cuci tangan bareng.


Ayam Jantan, Negara, dan Kesadaran yang Telat

Aku nggak benci ayam jantan, ini bukan artikel cancel culture unggas.

Ayam jantan itu produk sistem.

Sistem yang lama menganggap suara lebih penting dari kontribusi.

Simbol lebih penting dari kerja nyata.

Dan mungkin, kebijakan publik hari ini adalah tanda kita lagi belajar, telat, kikuk, tapi mulai sadar.

Bahwa hadir itu bukan sekadar ada badan.

Hadir itu ada peran.


Kandang Kecil, Realita Sosial

Setiap sore, waktu aku ngasih pakan, aku suka mikir:

“kok dari unggas, aku belajar isu sosial?”

Ayam jantan tetap berkokok.

Ayam betina tetap kerja.

Merpati tetap kolaboratif.

Dan kita? Masih debat di soal parenting, patriarki, feminisme, dan masih banyak lagi di berbagai sosial media.

Mungkin suatu hari, kita nggak perlu lagi kebijakan yang maksa kehadiran.

Karena semua udah sadar, kalo jadi ayah itu bukan status, tapi kerjaan.

Sampai hari itu datang, aku akan tetap berdiri di depan kandang sambil mengamati perilaku sosial hewan peliharaan dan mencari arti kehidupan.

"Alam sudah memberi contoh, unggas berevolusi dalam aspek sosial, kamu mau niru yang mana?"***



Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual

Sabtu, Desember 13, 2025 26 Comments


dianti- Aku ke kandang dan miara beberapa jenis unggas itu niatnya sederhana banget.

Serius! Cuma mau ngasih makan unggas, ngecek air, terus balik ke rumah sambil ngerasa “wah, aku produktif ya.”

Tapi entah sejak kapan, tiap dari kandang aku pulang bawa:

- pikiran berat

- refleksi hidup

- dan perasaan aneh kayak baru ikut retret tanpa daftar

Semua gara-gara satu spesies unggas penghuni ruang vertikal di kandangku, yaitu MERPATI.


Patriarki di Dunia Unggas, Ayam Jantan Si Alpha Male yang Berisik

Kita mulai dari ayam jantan, ikon patriarki kandang polikultur unggas.

Kalo di analogikan sama sikap manusia, ayam jantan itu tipe orang yang:

- masuk ruangan paling berisik

- duduk paling depan

- tapi pas ditanya kontribusi, jawabannya muter-muter

Setiap pagi dia berkokok keras kayak “BANGUN SEMUA! AKU PEMIMPIN DI SINI!”

Padahal yang bangun cuma sebagian orang, dan itu pun bangun bukan karena terinspirasi, tapi karena kaget.

Naaah, sikap patriarki si ayam jantan mulai terlihat ketika betinanya bertelur dan mengeram.

Ayam jantan kayak langsung hilang dari radar.

Kontribusinya tinggal satu, yaitu keberadaan simbolik.

Yaaaaa, semacam pemeran figuran yang cuma numpang lewat aja, tapi paling koar-koar kalo dia udah main film, wkwkwk.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Karakter Merpati Kayaknya Salah Genre


Setelah sekian lama mengamati perilaku keluarga ayam, tiba-tiba datanglah penghuni baru di kandang berupa keluarga merpati.

Merpati ini nggak ribut, nggak sok jago, dan nggak flexing testosteron.

Dia tipe yang kalau di tongkrongan, nggak banyak ngomong, tapi pas pesen makanan “gue duluan aja ya.”

Aku mulai ngerasa kok merpati ini genre-nya agak laen ketika si betina mulai ngeram, aku refleks mikir “Oke, hitung mundur. Tiga… dua… jantannya kabur...”

EH NGGAK Bestiiiiie.

Hari pertama masih ada.

Hari kedua dia naik ke sarang.

Aku berhenti jalan.

Beneran berhenti "Lah… kamu nggak salah genre nih? kamu kan sama-sama unggas,”


Merpati Pakai Sistem Shift, Bukan Sistem ‘Aku kan Kepala’

Hari berikutnya aku perhatiin lagi pola mereka setelah memiliki telur di sarangnya.

Ternyata mereka gantian! iya... si jantan dan si betina gantian merawat dan menjaga telur di sarangnya.

Yang satu ngeram, yang satu makan.

Yang satu capek, yang satu ganti.

Nggak ada drama.

Nggak ada sindiran pasif-agresif.

Nggak ada “aku capek tapi nggak enakan ngomong.”

Ini burung apa tim badminton ganda campuran?


Anaknya Menetas, Patriarki Auto Logout


Pas telurnya menetas, alias anaknya lahir di sarang mereka.

Awalnya aku nebak gini: biasanya ini fase jantan menghilang sambil bilang “aku dukung dari jauh,”

Tapi si merpati jantan malah nyuapin anaknya.

Aku kaget dong, "kok unggas satu ini agak beda ya?"

Karena fenomena aneh itu, aku akhirnya kepo dan sok rajin baca literatur (demi burung, aku rela jadi setengah akademisi, hahaha).

Secara ilmiah, merpati memang nggak menyusui kayak mamalia.

Tapi mereka menghasilkan susu tembolok (crop milk), yaitu cairan kental berwarna pucat yang diproduksi oleh lapisan tembolok induk dan jadi makanan utama piyik (anakan) di hari-hari awal kehidupannya.

Dan ini bukan mitos kandang.

Beberapa literatur unggas menjelaskan bahwa susu tembolok diproduksi oleh kedua induk, jantan dan betina, dipicu oleh hormon prolaktin yang meningkat menjelang dan sesudah telur menetas.

Artinya, secara biologis, merpati jantan memang “didesain” buat ikut ngasuh, bukan sekadar figuran.

Di titik ini, patriarki di kepalaku langsung nge-lag, kayak laptop tua disuruh buka banyak aplikasi sekaligus.

Burung merpati secara hormon dan sistem tubuh disiapkan untuk kolaborasi.

Jadi gak bakal ada lagi alasan klasik “aku nggak bisa, ini bukan tugasku”

Akhirnya aku cuma bisa bengong sambil mikir “Oh. Jadi ini bukan soal bisa atau nggak bisa. Tapi soal mau atau nggak mau,”


(fenomena susu tembolok ini banyak dibahas di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, salah satunya pada studi tentang parental care pada Columbidae).


Baca juga: Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas


Merpati Tidak Melawan Patriarki, Mereka Bikin Patriarki Ngerasa Aneh Sendiri

Yang paling absurd, merpati nggak pernah niat jadi simbol perlawanan patriarki.

Karena para merpati nggak demo, nggak bikin slogan, nggak bikin podcast 2 jam.

Mereka cuma hidup normal, tapi nunjukin cara kerjasama dalam membangun keluarga cemara, kalo mereka bisa nyanyi kayaknya bakal bawa lagu ini "selamat pagi emak... semalat pagi abah... (sambil goyang riang)," hihihi.


Aku Pulang dari Kandang, Kok Rasanya Kayak Abis Diceramahi Burung

Sekarang tiap ke kandang, aku suka ketawa sendiri, tapi gak jarang juga pulang dari kandang langsung merenung. 

Kadang juga sambil ngomel “burung aja bisa bagi tugas, manusia ribut soal nyapu.”

Merpati nggak pernah bilang "Ini tugas kamu,"

Mereka justru membuktikan dengan tindakan “ini hidup kita.”

Selesai! Nggak pake debat.


Oh… Pantesan Merpati Jadi Simbol Pernikahan


Dan di sinilah aku kena pencerahan terakhir.

Aku tiba-tiba mikir “Oh… pantesan ya.”

Pantesan di pernikahan dilepas merpati.

Pantesan merpati jadi simbol cinta, kesetiaan, dan kebersamaan.

Bukan karena mereka romantis doang, tapi karena mereka kerja bareng.

Bukan karena mereka lucu, tapi karena mereka nggak ninggalin pas repot.

Jadi ternyata, simbol pernikahan itu bukan asal estetik.

Filosofinya mungkin sesederhana ini:
"kalau mau hidup bareng, ya ngeram bareng, capek bareng, dan ngurus anak bareng,"

Dan kalau burung aja bisa, masa manusia masih debat, siapa yang harus lebih lelah?

Kadang, jawaban hidup itu bukan di buku tebal, tapi di kandang kecil, yang dianggap kotor, tapi isinya waras.***

Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas

Minggu, Desember 07, 2025 28 Comments

dianti - Awalnya tuh cuma mau slow living, best.

Pengen hidup santai, dekat alam, pelihara unggas sedikit-sedikit… lalu tiap pagi minum teh sambil liatin ayam berkeliaran.

HAHAHAHA

Nyatanya?

Sekarang jumlah unggas di rumahku sudah cukup buat bikin rapat RT khusus hewan.

Total 68 ekor.

Iya, ENAM PULUH DELAPAN.

Bukan slow living, tapi full team building unggas.

Tapi ya gimana… walaupun chaotic, heboh, dan kadang bikin aku pengen pura-pura pingsan, semua itu tetap lucu dan bikin hidup makin rame.

Mari kita mulai dari awal kehebohan perjalanan manis ini.


Kalkun Si Bodyguard dengan Loyalitas Tinggi

Aku punya 9 ekor kalkun (5 dewasa + 4 remaja).

Kalau kamu belum pernah ketemu kalkun langsung, bayangin ayam… tapi versi lebih gede, lebih berotot, lebih berwibawa, dan kalau jalan ada sound effect: “tuk tuk tuk tuk”.

Kalkun-kalkun ini sekarang jadi pasukan keamanan kandang.

Beneran, kalau ada kucing lewat, mereka langsung pasang badan.

Ayam-ayam kecil sampai ngumpet di belakang mereka kayak pegawai magang di belakang manager.

Dan yang paling bikin senyum, kalkun itu makan sampai ke rumput-rumputnya juga habis.

Jadi selain bodyguard, mereka ini sekalian lawn mower hidup.

Lebih hemat listrik, lebih lucu, lebih drama.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Ayam: dari Lokal Sampai ABG KUB-Elba

Karena hidupku udah chaotic, aku tambahin chaos lain berupa AYAM berbagai versi:

4 ayam kampung lokal, ibu-ibu kompleks, kalem tapi selalu benar.

1 ayam kampung Vietnam, aura petarung, tapi halus budi pekerti.

22 ayam KUB si mesin produksi masa depan (kalau mereka berhenti jadi ABG).

8 ayam Bangkok pasukan elite, aura garang, tapi kalau aku datang bawa pakan langsung mendadak manis.

9 ayam Elba, estetika unggas, warna cantik, vibe artis pendatang baru.

2 ayam Sentul, yang ini calon presiden unggas, genetiknya premium.

Nah, sekarang kita bahas dua spesies paling bikin ketawa: KUB & Elba.

Sampai sekarang belum bertelur sama sekali.

Bukan karena bandel.

BUKAN.

Tapi karena…

Mereka masih ABG.

Tubuhnya gede, nafsu makan tokcer, larinya kayak dikejar mantan.

Tapi sistem reproduksi masih loading.

Pantes tiap pagi aku tanya:

“Hari ini ada telur?”

Mereka jawab dengan tatapan kosong versi unggas:

“Bu… kami masih remaja. Yang ada juga PR sekolah belum kelar.”


Merpati: Penghuni Apartemen Vertikal


Jumlah merpati 13 ekor aja sih.

Kalau kandang ayam itu kayak perumahan landed house, kandang merpati ini kayak apartemen sudut kota.

Mereka memanfaatkan ruang vertikal, jadi nggak ganggu ayam bawah dan nggak bikin konflik.

Tinggalnya rukun, estetik, dan penuh PDKT tiap hari.

Kadang aku turun ke kandang cuma buat lihat merpati ngasih kode ke pasangannya:

“Cik. Cik.”

(bahasa merpati: “ayuk jalan bareng.”)

Healing murah meriah.


Sistem Polikultur, Ribet tapi Waras Dikit

Aku pakai sistem polikultur unggas biar kandang katanya lebih efektif. 

Modelnya semi koloni dan postal, lengkap dengan umbaran terpisah khusus karantina unggas. 

Jadi tenang aja, gak bakal ada drama eek nyasar ke teras tetangga. Aman sentosa. hihihi

Ayam dipisah berdasarkan jenis, usia, karakter, dan produktivitas.

Kalkun? Satpam komplek.

Merpati di atas, jadi penghuni vertikal ala apartemen hemat.

Konon sistem ini bikin hidup lebih efisien dan santuy.

HAHA.

Enggak.

Niatnya mau slow living, tapi kenyataannya aku:

lari-lari ngejar ayam yang kabur kayak lagi audisi Ninja Warrior, ngomel tiap sore, tiap pagi ngitung ayam kayak bendahara organisasi yang takut audit.

Slow living dari mana, Bestieeeee.


Baca juga: Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya


Produksi Telur, Konsumsi Mandiri yang Bikin Bangga


Saat ini hasil ternakku masih untuk konsumsi pribadi. 

Aku melihara sendiri, nyiapin kandang sendiri, nyari pakan sendiri, motong sendiri, masak sendiri, makan sendiri.

Apakah ini self-love?

YES.

Apakah ini bentuk hidup mandiri ekstrem?

JUGA YES.

Tiap makan ayam hasil ternak sendiri rasanya kayak:

“Nih hasil kerja keras gue. No cheating. No outsourcing,

Proud level, naik satu bintang.


Drama Harian Singkat yang sebenarnya panjang


Pagi ngasih pakan.

Sore ngasih pakan lagi.

Ada yang kabur.

Ada yang nemplok bahu.

Ada yang pura-pura pingsan kalau aku marah.

Kalkun sok budiman.

Merpati sok romantis.

Aku ngomel terus.

Tapi entah kenapa…

aku menikmati semuanya.


Dari Ngomel Jadi Sayang, Dari Chaos Jadi Cerita

Pada akhirnya, ini bukan cuma soal ngurus unggas.

Ini soal hidup yang ternyata lebih lucu, lebih ramai, lebih hangat dari dugaanku.

Tiap hari ada aja drama.

Ayam remaja lari-lari, kalkun sok jagoan, merpati pacaran.

Tapi mereka bikin aku ngerasa dibutuhin.

Ngerasa hidup.

Ngerasa nggak sendiri.

Kadang aku marah.

Kadang aku ketawa sampe melorot ke tanah.

Kadang aku cuma duduk di depan kandang sambil mikir:

“Ternyata bahagia tuh sesederhana ngeliat ayam makan rakus.”

Dan walaupun aku ngomel tiap hari…

aku selalu kembali ke kandang itu juga.

Karena ini bukan cuma peternakan.

Ini rumah. Ini cerita. Ini hidupku versi paling jujur.***

Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya

Minggu, November 30, 2025 15 Comments


dianti— Ada satu pertanyaan besar yang selalu muncul setiap kali masuk musim hujan.

“Aku ini petani rooftop atau pemain sinetron Indosiar yang tiap sore dijadwalkan meratapi hujan dengan adegan sedih?”

Awalnya niatku mulia, mau merawat kebun biar tetap produktif meski cuaca galau. 

Tapi realitanya?

Musim hujan tuh kayak manusia toxic yang datang tanpa permisi, pergi sesuka hati, dan ninggalin luka menyakitkan.


Mulai Berkebun, Tapi Cuacanya Kayak Lagi Prank

Sebagai pekerja rumahan yang sibuk nyambi jadi tukang spall spill, chef dadakan, dan tetangga yang jarang bersosialisasi, waktu berkebun tuh paling sering cuma sempet sore hari.

Masalahnya…

Setiap aku mau naik ke rooftop jam 4 atau 5 sore, H U J A N.

Bukan gerimis romantis ya besttt… tapi hujan deras tipe “kamu jangan berharap apa-apa dari hidup ini”.

Jadilah setiap sore aku berdiri di depan pintu rooftop sambil melongo, lihat air turun kayak efek slow-mo MV mellow.

“Yaudah deh tanaman… relakan saja nasibmu.”


POC: Dituang Dengan Cinta, Tersiram Ulang Oleh Semesta

Karena masih punya jiwa zero-waste, aku tetep rutin bikin POC dari dapur.

Setiap mau kasih POC, aku selalu semangat membara. 



Bawa wadah, naik ke rooftop, siap menyiram dengan kasih sayang.

Tapi ya itu dia…

Baru nyiram sebentar, langsung hujan.

POC yang kubuat penuh cinta langsung dilarutkan hujan seolah berkata:

“Udah ya, kamu gak usah capek-capek… biar aku yang ambil alih.” –hujan, probably.

Capek banget sumpah! Rasanya kayak ngisi bensin full tank tapi tumpah semua di jalan.


Melon Mati, Kangkung Kutilang, Jagung Kerdil


Mari kita mulai dengan yang paling tragis dulu…

1. Melon Gugur

Si melon kesayangan mati karena terlalu sering kehujanan.

Daunnya lepek, batangnya letoy, apalagi buah-buah kecilnya membusuk, overall vibes-nya… “let me rest”

Aku cuma bisa mengangguk pasrah sambil bilang:

“Best, kamu mati bukan karena gagal… tapi karena cuaca jahat.”

2. Kangkung Kutilang

Kangkungku tumbuh sih tumbuh… tapi ciamik banget alias kutilang: kurus, tinggi, langsing.

Kayak kangkung yang lagi diet ekstrem buat photoshoot cekrek cekrek, wkwkwk

Aku lihat batangnya yang kurus, aku cuma bisa tahan ketawa:

“Ini kangkung atau model runway Jakarta Fashion Week?”

3. Jagung Mini Kurang Gizi

Jagungku sempat berbuah, tapi kecil banget.

Bukan baby corn aesthetic, tapi lebih ke “aku malas tumbuh di cuaca begini.”

Kayak anak sekolah yang dipaksa upacara pas hujan rintik-rintik: hidup ada, tapi semangat nihil.

Gulma Tumbuh Subur

Sementara tanaman utamaku drama semua, gulma justru paling survive.

Daunnya hijau.

Tumbuh cepat.

Pede banget.

Seolah berkata:

“Tenang… kalau tanamanmu mati, aku tetap ada kok.”

Dari semua tanaman, gulma justru yang paling setia. Ironis banget!


Musim Hujan & Risiko Kesamber Petir: Aku Nggak Se-Strong Itu

Pernah kepikiran untuk tetap naik ke rooftop sambil hujan-hujanan?

Penah.

Tapi setelah mikir:

“Aku mau berkebun atau mau viral di berita?”

Akhirnya aku memilih hidup lebih lama untuk merawat tanaman lain.

Karena ya… siapa juga yang mau berkebun sambil bawa POC, tangan basah, rooftop open air, dan langit kilat-kilat?

Nope.

Aku masih mau hidup bahagia well...

Plot Twist Bahagia: Terong Survive Seolah Kebal Segala Cuaca

Di antara semua tanaman yang menyerah seperti aku tiap lihat saldo e-wallet, ternyata terong adalah MVP musim ini.

Bukan cuma hidup, tapi tumbuh sehat dan berbuah.

Ada terong ungu bulat dan terong hijau bulat, dua-duanya tumbuh gagah tanpa drama.

Aku sampai bengong:

“Serius kalian kuat? Kalian tumbuh di dunia yang sama dengan melonku tadi?”

Terong ini beneran strong independent vegetable.


Akhir Musim, Akhir Drama: Aku Tetap Bertahan

Setelah semua tragedi itu, aku sadar satu hal.

Berkebun di musim hujan itu bukan tentang hasil… tapi tentang mental.

Belajar pasrah, belajar ikhlas, belajar terima kenyataan bahwa tanaman gak selalu sesuai rencana.

Tapi juga belajar senang, karena ada satu-dua tanaman (kayak terong) yang bikin kamu merasa semua usaha gak sia-sia.

Makanya, kalau mau mulai urban farming:

Siap-siap kecewa.

Siap-siap ketawa sendiri.

Siap-siap nyalahin hujan tiap sore.

Tapi juga siap-siap bahagia waktu ada satu tanaman survive kayak pahlawan.

Karena pada akhirnya…

“Kebun mungkin tak terawat, tapi perasaanku minimal tetap sehat,”

Eaaa~***



Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget

Minggu, November 16, 2025 26 Comments


dianti- Awalnya tuh simpel banget, aku cuma pengen ikut tren urban farming yang lagi rame di TikTok, niatnya sih healing tapi malah overthinking.

Katanya, kalau nanam tanaman, hidup jadi tenang, udara bersih, hati adem.

Realitanya? Yang adem cuma AC, bestii

Setiap kali liat orang di TikTok panen kangkung, tomat, sawi dari pot bekas, ekspresinya tuh kayak “hidupku damai banget.”

Aku yang nonton ikut termotivasi.

Mikir, “Ah gampang! Tinggal siram, kasih pupuk, panen. Gitu doang kan?”

Hahaha. Salah besar aku bestii.

Sekarang aku sadar, ternyata berkebun itu bukan cuma soal nyiram dan pupuk.

Tapi juga soal mental support karena tanaman tuh punya drama lebih banyak dari FTV sore.

Kalau sedikit aja telat disiram, langsung kayak mau give up on life.


Dari Galon Bekas Jadi Pot

Karena konsepku zero waste, aku gak beli pot baru.

Aku ambil galon bekas air mineral, potong, cat, kasih lubang di bawah, and done.

Hasilnya? Pot besar gratis dan surprisingly cukup kokoh 

Selain lebih hemat, pakai galon itu juga pas banget karena akar melon lumayan panjang. 

Jadi, niat zero waste ini bukan hanya gaya-gayaan, tapi beneran kepake.


Drama Pruning: Ketelatan yang Bikin Bingung

Awal nanam, aku beneran nggak tau kalau melon harus dipruning atau dipangkas. 

Kupikir melon bakal tumbuh rapi sendiri, tinggal disiram dan dipupuk. 

Tapi ternyata enggak! 

Melon tumbuhnya liar banget, merambat ke mana-mana kayak tanaman yang haus kebebasan bertahun-tahun.

Setelah banyak masukan dari orang-orang baik di TikTok, aku sadar kalau idealnya melon itu disisakan satu batang utama supaya fokus tumbuh dan berbuah.

Masalahnya… aku udah telat bangetttt.

Saat sadar, batangnya udah bercabang dua dan sama-sama terlihat “penting”.

Aku bingung harus buang yang mana. 

Akhirnya keputusan paling aman kuambil: dua-duanya kubiarin hidup.

Tidak sesuai aturan, memang.

Tapi yaudahlah learning by doing yakaaan? hihihi.


Baca juga: Rooftop Garden Story, Kangkung Organik dengan Sentuhan Zero Waste


Dari Kutu Daun ke Ulat Misterius

Awalnya aku pikir semua aman.

Tapi pas perhatiin lebih dekat, kok ada bintik-bintik hitam di bawah daun?

Ternyata kutu daun, banyak banget.

Aku panik, langsung jadi detektif kebun: nyemprot air sabun, ngelap satu-satu, kayak skincare-an tapi buat daun.

Setelah itu, aku pikir aman.

Daun-daun udah kupangkas rapi, tanaman udah cakep lagi.

Eh… seminggu kemudian, kejadian aneh muncul.

Daun yang baru tumbuh tiba-tiba bolong-bolong, kayak abis diserang pasukan tikus ninja.

Aku periksa pagi, oke masih bersih.

Sore, eeeeh kok bolong

Ulatnya tuh kayak makhluk gaib, gak pernah keliatan tapi hasil karyanya nyata.

Aku bongkar tiap daun, tiap lipatan batang, gak nemu.

Tapi tiap pagi, selalu ada daun korban baru.

Beneran aktif dan kreatif banget si ulat tuh udah kayak fandom BlekPing.

Sampai akhirnya aku sadar, mungkin ulatnya tinggal di dimensi lain dan cuma mampir malam buat makan daun lalu menghilang lagi.

Sumpah, kalau ini game, level ulatku tuh boss terakhir kayaknya.


Plot Twist Bernama Hujan

Belum sempat pulih dari ulat misterius, datanglah hujan deras tiap sore.

Dan tolong ingat ya, rooftopku itu open air, gak ada atap, gak ada pelindung, gak ada harapan dahlah..

Begitu hujan, air masuk langsung ke galon.

Tanaman melon yang tadinya semangat langsung letoy, daunnya kayak rambut abis kena rebonding gagal.

Aku naik ke rooftop sambil bawa kopi (niatnya mau chill).

Begitu liat melonnya kedinginan, aku cuma bisa ngomel:

“Baru dihantam hujan aja udah kalah. Gimana kalo nanti dihantam kabar PHK?”

Melonnya diem aja, tapi aku yang nagis meratapi nasib yang sudah diperjuangkan sekian purnama.

Sore itu aku resmi kehilangan satu pot melon.

Aku nunduk, hujan turun, lagu sedih berputar di kepala.

Skenario-nya udah kayak ending Drama Korea versi kebun.


Pupuk Ajaib yang Beraroma Misterius

Karena tetep pegang prinsip zero waste, aku eksperimen bikin POC alias Pupuk Organik Cair.

Bahannya simpel banget, sisa kulit buah, sayur layu, air cucian beras, semua dicemplungin ke wadah.

Minggu pertama, aromanya... luar biasa mengguncang dunia, ehhh hidung.

Campuran antara dapur, selokan, dan eksperimen kimia gagal.

Tapi hasilnya gak bohong!

Daun melon jadi hijau segar, batangnya makin kuat, dan tumbuhnya cepat banget.

Aku sampe mikir,

“Oh, ini ya rasanya jadi ilmuwan, tapi di rumah.”

Sekarang aku udah level pembuat pupuk dengan aroma kejujuran.

Kalau parfum bisa nyimpen aroma gak midal, mungkin POC-ku bisa jadi Eau de Misquens Edition. Wkwkwk 


Pestisida Nabati: Racikan Dapur untuk Mengusir Hama


Entah kenapa sisi idealis aku juga muncul saat bahas pestisida.

Aku bertekad nggak pakai pestisida kimia.

Jadi aku buat pestisida nabati sendiri dari bahan sekitar rumah: bawang putih, cabe rawit, daun sirsak, dan sedikit sabun cair sebagai perekat.

Diblender, disaring, dimasukkan botol, selesai.

Wewangiannya khas, tapi lumayan efektif, minimal bikin hama mikir dua kali sebelum makan daun melonku.


Melon Layu, Tapi Aku Naik Level

Setelah semua drama, dari kutu daun, ulat misterius, sampai hujan deras, aku tetep lanjut berkebun.

Karena ternyata urban farming itu bukan soal hasil panen, tapi soal kesabaran dan keikhlasan.

Kadang aku mikir, berkebun ini kayak hubungan percintaan.

Udah dirawat, dikasih perhatian, disiram tiap hari, tapi tetep aja… layu tanpa alasan, kayak di ghosting gitu, wkwk

Tapi dari situ aku belajar:

“Kalau bisa sabar ngurus tanaman, berarti kamu udah siap ngadepin hidup.” cielah deep, kayak yang bener tapi gak realistis, wkwk

Melon pertamaku memang tumbang, tapi aku naik level.

Aku belajar gimana cara pruning, bikin pupuk, dan ngontrol emosi biar gak nyemprot ulat pake Baygon.

Sekarang aku udah bisa liat daun bolong tanpa langsung overreact, cuma ngomel kecil aja kayak,

“Oke, gue tandain lu! Tapi hari ini gak ada buffet lagi ya, plis.”


Urban Farming Buat Semua (Termasuk yang Sering Galau)

Dulu aku kira urban farming cuma buat orang sabar, rajin, dan kalem.

Ternyata enggak, bestii.

Buat kamu yang gampang panik, gampang baper, bahkan gampang rebahan, cocok juga! 

Seriusss! Berkebun sore hari, cuaca udah mulai redup, sambil dengerin lagu-lagu galau Kahitna, nangeees lu! hahaha

Karena di dunia urban farming, kamu bakal belajar semua hal:

Problem solving waktu daun tiba-tiba gosong

Manajemen waktu biar gak lupa nyiram

Kesabaran ekstrem waktu panen molor dua minggu

Dan keikhlasan sejati waktu hasil panen cuma satu buah mungil tapi kamu tetep bangga banget

Jadi kalau kamu mau mulai, gak perlu lahan luas, gak perlu alat mahal.

Mulai aja dari apa yang kamu punya.

Bisa galon bekas, botol plastik, bahkan ember cuci asal gak bocor.

Dan kalau nanti tanamanmu layu, ingat satu hal:

It’s oke. Setidaknya ulatmu Melon Layu, Tapi Aku Naik Level

Setelah semua drama, dari kutu daun, ulat misterius, sampai hujan deras, aku tetep lanjut berkebun.

Karena ternyata urban farming itu bukan soal hasil panen, tapi soal kesabaran dan keikhlasan.

Jadi kalau kamu mau mulai, gak perlu lahan luas, gak perlu alat mahal.

Mulai aja dari apa yang kamu punya.

Bisa galon bekas, botol plastik, bahkan ember cuci asal gak bocor.

Dan kalau nanti tanamanmu layu, ingat satu hal:

“It’s oke, bestie. Setidaknya ulatmu happy dan kamu punya cerita buat ditertawakan nanti.” 

Belajar Bahasa Arab Level Mubtadi di Usia 30: Perjalanan Lucu Menemukan Makna Doa

Sabtu, November 08, 2025 10 Comments
Pelatihan Bahasa Arab UPA Bahasa Universitas Siliwangi

dianti - Kalau nanya kenapa aku tiba-tiba belajar bahasa Arab di usia 30 tahun, jawabannya bukan karena iseng atau juga bukan karena pengen pamer bisa ngomong kayak Nancy Ajram.

Dari dulu aku punya satu keinginan sederhana tapi gak pernah kesampaian, yaitu pengen bisa bahasa Arab.

Bukan buat keren-kerenan, tapi karena aku pengen ngerti arti dari doa-doa yang tiap hari aku baca.

Selama ini aku hafal, iya. 

Tapi paham? Belum tentu.

Masalahnya, aku gak pernah nemu tempat belajar yang pas.

Kadang waktunya bentrok, kadang kelasnya jauh, kadang juga... ya, cuma niatnya aja yang rajin, tapi langkahnya males.

Hidayah dari Scroll Sosmed

Kalian gak salah baca! Hidayah itu datang di sela doomscrolling sosmed di sore hari.

Lagi rebahan santai, muncul story dari UPA Bahasa Universitas Siliwangi:

“Kelas Bahasa Arab Level Mubtadi — cocok untuk pemula!”

Langsung mataku cling! Kayak semesta lagi nyentil, 

“Tuh, yang kamu cari dari dulu nongol juga.”

Aku kirim infonya ke suami sambil bilang:

“Sayang..Aku pengen ikut ini,”

Dan kayak suami ideal di drama Ramadan, dia jawabnya bukan cuma “boleh”, tapi langsung bantu daftar dari awal sampe selesai.

Dia bahkan lebih niat dari aku, semuanya dibantu.

Pokoknya dia gak cuma suami, tapi manajer pendidikan rohaniku sekaligus tim IT spiritual.

Tapi gara-gara itu, aku mikir "waaahhh gaada alesan buat mundur nih!" Hihihi

Evolusi Belajar Bahasa

Belajar Bahasa Arab

Waktu usia 20-an, aku kuliah teknik dan otomatis fokusnya jadi belajar bahasa pemrograman.

Aku terbiasa ngoding sampai tengah malam, bahkan sampai pagi, ya cuma buat nyari bug di baris kode.

Aku bisa nemuin kesalahan syntax dalam lima menit, tapi kalau disuruh nemuin makna doa, aku harus buka terjemahan dulu baru paham dikit. 

Lucunya, dulu di kampus aku belajar tentang machine logic, tapi sekarang di usia 30 aku lagi belajar makna kalamullah.

Dua-duanya susah, tapi yang ini rasanya lebih... menyentuh hati.

Usia Suhu, Skill Cupu

Kelasnya gak ramai, cuma beberapa peserta.

Aku jadi peserta paling suhu dalam segi usia, tapi sekaligus yang paling cupu skill-nya.

Diantara mereka, cuma aku yang bener-bener nol besar!

Yang lain masih muda, usia 20-an, dan rata-rata udah pernah belajar bahasa Arab di sekolah atau pesantren.

Baca juga: Rooftop Garden Story: Kangkung Organik dengan Sentuhan Zero Waste

Aku? Beneran cupu!

Bahkan ini adalah kali pertama bagiku dalam belajar bahasa Arab.

Pas instruktur nyuruh baca satu kalimat pendek, teman-teman lain bisa langsung nyebutin atau ngikutin dengan lancar.

Sementara aku masih bengong mikir,

“Emang artinya apa Ustadz?”

Tapi karena peserta dikit, interaksinya jadi intens banget.

Instrukturnya sabar banget dan sering bilang,

"Gak apa-apa pelan, nikmati prosesnya, dan konsisten,"

Kalimat itu jadi penyemangat ketika ngerasa minder banget dan ngerasa sangat tertinggal.

Lucunya Belajar dari Nol

Bahasa Arab Dasar

Belajar bahasa Arab level mubtadi itu kayak naik roller coaster emosional, antara kagum dan bingung jadi satu.

Baru juga hafal “Ismi Dianti” (Namaku Dianti), tiba-tiba udah pindah ke “Min aina anti?” (dari mana kamu?).

Otakku yang terbiasa mikir logika teknik langsung short circuit. wkwkwk

Dan setiap kali aku berhasil baca satu kalimat tanpa salah, rasanya kayak berhasil debug program tanpa error.

Tapi kalau salah? Ya udah, tinggal ketawa bareng teman sekelas.

Tarbiyah Itu Bukan Beternak

Waktu sesi perkenalan, para peserta disuruh nulis teks tentang diri sendiri, seperti nama, pekerjaan, dan hobi.

Aku semangat banget nulis:

“Ismi Dianti. Hiyawati Tarbiyah Al Hayawanati.”

Instruktur senyum sambil bilang, “Wah, Bu Dian mendidik hewan-hewan peliharaannya?”

Aku langsung bingung, 

“Lho, bukannya tarbiyah itu beternak, Ustadz?”

Sekelas meledak ketawa, wkwkwk

Dan sejak hari itu, aku resmi jadi bahan bercandaan, tarbiyah hewan-hewan.

"Apa sekarang hewan-hewanku sudah berakhlak mulia, karena terbiasa di-didik?" Hahaha

Ya Allah, sungguh perjalanan ini penuh daging...eh, makna.

Flashback: Kisah Tragikomedi “Ana Dulu Bu!”

Lucunya, kejadian salah arti bukan pertama kali buatku.

Dulu waktu kerja di sekolah berbasis pesantren, aku pernah bener-bener gak ngerti bahasa Arab.

Suatu hari anak-anak antre di depan ruanganku sambil bilang,

“Ana dulu Bu! Ana dulu!”

Refleks aku buka absen, nyari nama “Ana” tapi gak nemu-nemu.

Eh temennya ikutan nyeletuk,

 “Ana juga Bu!”

“Lho, kok banyak banget anak namanya Ana?!” pikirku dengan sambil sibuk cari nama Ana di daftar siswa.

Baru deh aku sadar kalau Ana itu artinya “Saya” 

Ya Allah, malu banget. 

Perihal "Ana" doang gak paham.

Tapi momen itu bener-bener lucu kalau diingat sekarang.

Mungkin memang udah ditakdirkan buat belajar bahasa Arab.

Dulu aku gak paham, supaya sekarang bisa belajar dengan tawa, bukan gengsi.

Feminim dan Maskulin: Ketika Kata Punya Jenis Kelamin

Kosakata Bahasa Arab

Salah satu hal yang bikin aku bengong pas belajar bahasa Arab ternyata kata juga punya jenis kelamin!

Iya, di dunia bahasa Arab, gak cuma manusia yang bisa feminim dan maskulin, kata benda pun punya identitas sendiri.

Misalnya, “ustadz” artinya guru laki-laki, tapi kalau gurunya perempuan jadi “ustadzah.”

Atau kata “thalib” (murid laki-laki) dan “thalibah” (murid perempuan).

Cuma nambah huruf ta marbuthah (ة) di belakang, tapi maknanya langsung berubah jenis.

Aku langsung mikir, 

“Oh jadi selama ini ta marbuthah itu kayak highlighter pink di akhir kata, tanda bahwa ini versi feminimnya,”

Dan dari situ aku mulai paham, belajar bahasa Arab tuh gak cuma ngafalin kosakata, tapi juga belajar mengenal karakter kata.

Arab Gundul Jadi Tantangan Besar

Nah, kalau ditanya bagian tersulitnya apa? jawabannya jelas, membaca Arab gundul!

Tulisan Arab tanpa harakat itu kayak teka-teki hidup. 

Kadang aku nebak “ini kayaknya fathah,” eh ternyata kasrah

Dan bener juga, setiap kali aku berhasil baca satu baris tanpa harakat dengan benar, rasanya kayak menang olimpiade. 

Kosakata yang Nambah Diam-Diam

Dasar Bahasa Arab

Hal paling ajaib selama belajar ini adalah betapa cepatnya kosakata bertambah. 

Sekarang aku udah bisa ngomong kalimat sederhana.

Dan setiap kali bisa ngomong satu kalimat tanpa macet, aku merasa kayak level up di game.

Cuma bedanya ini bukan Mobile Legends, tapi Mubtadi Legends. hihihi

Classmate Dikit, Tapi Seru

Karena pesertanya dikit, suasana kelas tuh kayak tim yang kompak banget.

Kalau satu orang salah baca, yang lain langsung bantu betulin, tapi sambil ngakak juga.

Aku suka banget momen-momen kayak gitu.

Rasanya bukan kayak kelas formal.

Tapi kayak nongkrong produktif bareng temen yang niatnya sama, pengen ngerti, bukan sekadar hafal.

Dari Hafalan Jadi Pemahaman

Semenjak ikut kelas ini, aku mulai ngerti arti doa-doa yang selama ini cuma jadi hafalan otomatis.

Tiap kata yang dulu lewat begitu aja, sekarang terasa punya makna dan rasa.

Misalnya waktu baca “Rabbighfirli” (Ya Tuhanku, ampunilah aku), aku baru sadar betapa lembutnya permintaan itu.

Dulu aku cuma baca cepat, sekarang aku berhenti sejenak, ngeresapi.

Ternyata doa itu bukan cuma tentang hafal, tapi tentang rasa tulus yang lahir dari pemahaman.

Cambuk Halus dari Drama Korea

Bahasa Arab dari Drakor Genie: Make a Wish

Entah kenapa, dorongan tambah semangat datang dari hal yang gak disangka, seperti drama Korea.

Waktu nonton “Genie: Make a Wish”, aku liat Bae Suzy dan Kim Woo-bin bisa ngomong bahasa Arab.

Auto bengong dong.

“Suzy sama Woo-bin dulu mesantren dimana yaa? Kok bisa pinter bahasa Arab?” wkwkwk

Malu tapi termotivasi, dan seperti cambuk halus bagiku.

Ternyata yang namanya motivasi bisa datang dari mana aja.

Aku Mungkin Paling Lambat

Kadang aku merasa minder karena teman-teman di kelas bisa lebih cepat paham karena udah punya dasar.

Tapi dari situ aku sadar, gak apa-apa aku belajar paling lambat, karena mungkin Allah sengaja memperlambat langkahku biar aku bisa menikmati setiap prosesnya.

Awal yang Datang di Usia 30

Sekarang setiap kali aku buka Al-Qur’an atau buku Doa, aku senyum kecil.

Tapi setidaknya, sekarang aku tahu arti dari setiap kata yang kuucapkan dalam doa.

Aku gak lagi hafal tanpa makna, aku paham walau masih terbata.

Dan rasanya... hangat banget.

Kalau dulu aku sibuk nyari bug di baris kode, sekarang aku sibuk nyari makna di baris doa.

Dan setiap kali aku ngerti satu ayat, aku merasa hidupku baru saja di-compile tanpa error. 

Mungkin aku datang paling akhir ke kelas ini, tapi ternyata di sinilah aku menemukan awal yang baru.

Yaitu awal memahami makna doa, bukan sekadar mengucapkannya.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih aku sampaikan kepada UPA Bahasa Universitas Siliwangi sebagai penyelenggara dan Ustadz Adi sebagai instruktur kelas Bahasa Arab ini.

Daaan, terimakasih kepada suami yang sangat mendukung aku ikut program ini, serta teman-teman kelas yang turut menghangatkan setiap pertemuan.***

Rooftop Garden Story: Kangkung Organik dengan Sentuhan Zero Waste

Minggu, November 02, 2025 20 Comments
Kangkung Organik 

dianti- Kalau ada yang bilang urban farming itu cuma hobi “gabut”, percayalah…mereka belum pernah ngerasain panen kangkung sendiri di rooftop yang panasnya kadang kayak neraka sedang promo diskon 90% wkwkwk.

Sebagai orang yang suka eksperimen tanaman (dan kadang sok percaya diri), aku akhirnya bikin kebun kecil di rooftop rumah yang luasnya lumayan, anginnya semriwing, dan mataharinya full all you can shine.


Semuanya bermula dari satu keputusan sederhana “Daripada galon bekas numpuk, mending dijadiin pot.”

Dan begitulah kisah zero waste-ku dimulai. 

Galon-galon bekas air mineral yang tadinya cuma nunggu dijual kiloan, berubah jadi pot kece yang siap menampung tanaman. 

Serius, mereka langsung naik kasta dari “sampah plastik tak berguna” menjadi “pot urban farming kalcer” itu menurutku ya, menurutku aja.

Kenapa Kangkung? Kenapa Bangkok?

Kangkung Bangkok

Ada banyak pilihan tanaman sebenarnya, tapi kenapa aku pilih kangkung bangkok?
Jawabannya simpel:

- Kangkung itu bandel, cocok buat pemula.

- Cepat panen, jadi gak bikin galau nunggu lama kayak PDKT apalagi kalo ujungnya HTS-an, run lah!

- Kalau beli di pasar harganya receh, tapi kalau nanam sendiri… rasanya ulalaaa berharga banget.

- Kangkung bangkok itu cakep, daunnya besar, batangnya gagah, cocok difoto (penting).

Dan yang paling penting, aku penasaran:

“Kenapa namanya bangkok? Emang dia pernah travelling?”

Ternyata bukan. Itu cuma jenisnya aja. Tapi gapapa, yang penting terlihat lebih “premium”.

Rooftop: Surga Mini sekaligus Arena Gladiator

Kangkungku ditanam di rooftop yang notabene luas dan terbuka. 

Kedengarannya sih menyenangkan, kayak punya kebun di atas dunia, tapi kenyataannya mirip arena gladiator, karena: 

- Anginnya kenceng, kadang sampai daun melambai-lambai kayak artis dangdut.

- Mataharinya super niat, bisa bikin tanaman cepat tumbuh tapi juga cepat lemas kalau lupa disiram.

- Hujan tiba-tiba? Wah, itu boss level.

Walaupun begitu, aku tetap cinta rooftop ini. 

Disinilah konsep urban farming hidup. 

Baca juga: Daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Bukan sekadar nanam buat gaya-gayaan, tapi juga buat membuktikan bahwa lahan sekecil apapun bisa jadi sumber kebahagiaan, asal mau kreatif.

Dan tentu saja, semua tanaman di rooftop-ku 100% organik. 

No kimia, no drama residu, no pusing mikirin efek samping.

POC: Pupuk Ajaib yang Bikin Kangkung Montok

Aku pakai POC (Pupuk Organik Cair) homemade dari fermentasi sisa dapur. 

Mulai dari air cucian beras, kulit bawang, daun sisa masak, sampai ampas sayur, semua didaur ulang biar gak jadi sampah sia-sia.

Pokoknya full zero waste.

Sampah dapur tidak pergi ke tempat sampah, tapi naik pangkat jadi nutrisi tanaman.

Dan hasilnya?

Kangkungnya tumbuh dengan percaya diri. 

Daun lebar, warna hijau pekat, dan batangnya… aduh, montok banget. 

Rasanya setiap kali lihat tanaman itu, aku pengen bilang:

“Adeeek, jangan gede-gede amat. Nanti takut sombong.”

Setiap tiga hari sekali, POC kusiramkan dengan penuh kasih sayang. 

Dan seperti biasa, si kangkung merespons dengan pertumbuhan super gesit. 

Aku sampai heran, “Ini kangkung atau anak kecil yang baru disuruh makan sayur?”

Perawatannya: Dari Disiram Sampai Disayang

Merawat kangkung ternyata jauh lebih santai daripada merawat tanaman lain, bukan malika yang dibesarkan seperti anak tiri, ehhh salah...

 Kangkung itu chill banget, yang penting:

  • Dapat air cukup

  • Dapat sinar matahari

  • Sesekali disemprot pestisida nabati biar gak diganggu serangga

Yups, aku juga bikin pestisida nabati sendiri: dari bawang putih, daun sirsak, atau air cabai. 

Yang penting, semuanya organik. 


Baca juga: Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan


Serangga cuma datang, cicip sedikit, lalu sadar bahwa “ini tanaman sehat, terlalu kuat untuk kami.”

Walaupun begitu, ada masa-masa di mana kangkungku sedikit tersinggung sama cuaca. 

Pernah suatu hari angin rooftop terlalu niat, sampai beberapa daun miring kayak habis disuruh ikut lomba balap barongsai deh. 

Tapi karena mereka kuat, semuanya balik sehat lagi.

Hari Panen: Saat Recehan Berubah Jadi Emas Emosi

Panen Kangkung

Setelah beberapa minggu, tibalah hari panen. 

Aku naik ke rooftop sambil bawa pisau dan gunting, feeling excited kayak mau mengambil rapor waktu SD.

Dan jreeeng kangkung bangkokku tumbuh subur banget.

Lebarnya, tingginya, warnanya… semuanya cakeep.

Saat mulai memanen, ada rasa pride yang sulit dijelaskan. 

Bukan karena kangkungnya mahal, tapi karena aku menanamnya dari nol.

Tiap batang yang kupotong rasanya seperti:

“Ya ampun, ini hasil kerja keras aku sendiri!”
“Ini bukan kangkung biasa. Ini kangkung PREMIUM!”

Kalau beli di pasar? Harga cuma seribu dua ribu.
Kalau panen sendiri?
Berasa panen emas hijau.

Aku tahu ini terdengar lebay, tapi perasaan bahagianya itu nyata. 

Rasanya seperti semua siraman, semua cek kondisi daun, semua semprotan POC… terbayar lunas.

Bahkan aku sempat foto-foto kangkung hasil panen. 

Bukan soal pamer, tapi buat dokumentasi kenangan manis antara aku dan tanaman, galon bekas, POC gratisan, dan sedikit cinta.

Masak Sendiri = Nilai Bahagia Naik 300%

Tumis Kangkung

Begitu masuk dapur, kangkung rooftop ini langsung naik level lagi. 

Dibuat tumis bawang putih sederhana aja udah nikmat. 

Rasanya renyah, segar, dan entah kenapa beda dari kangkung pasar.

Mungkin ini namanya “rasa usaha sendiri”.

Setiap kunyahannya…
“Wah, ini hasil keringatku!”

Setiap suapan…
“Inilah kebahagiaan versi urban farming.”

Dan sejak hari itu, aku makin yakin:
Urban farming bukan cuma aktivitas, tapi terapi hati.
Bikin kita sabar, menghargai proses, dan bahagia dengan hal-hal kecil.

Kesimpulan ala Emak-Emak Rooftop Farmer

  • Rooftop luas? Tanam dong. Sayang kalau cuma buat jemur baju.

  • Galon bekas? Jangan dibuang. Pot kangkung terbaik justru ditanam disitu.

  • POC? Gunakan yang organik. Tanaman sehat, bumi juga senang.

  • Kangkung bangkok? Receh di pasar, berharga di hati kalau panen sendiri.

  • Urban farming? Seru, menenangkan, dan bikin ketagihan.

Siapa sangka tanaman sederhana seperti kangkung bisa membawa kebahagiaan sebesar ini?

Kalau nanti panen lagi, kayaknya aku bakal bikin acara syukuran kecil. 

Minimal traktir diri sendiri es teh manis. Kan seger, segernya sama kayak panen kangkung pertama. hihihi***



Daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Minggu, Oktober 19, 2025 22 Comments

dianti- Kalau kita perhatikan baik-baik, alam sebenarnya tidak pernah mengenal kata selesai. 

Yang ada hanyalah pergantian peran. 

Begitu pula dengan pertanian dan peternakan. 

Akhir pertanian selalu menjadi awal peternakan, dan akhir peternakan selalu menjadi awal pertanian.

Di rumah rumah kami, berkebun dengan pot self-watering maupun berdampingan dengan peternakan rumahan (ayam, merpati, kalkun, kambing, dan kelinci), siklus ini bisa terlihat jelas. 

Semua saling melengkapi, semua berputar tanpa henti.

Yuk kita bahas lebih dalam bagaimana daur hidup pertanian dan peternakan bisa berjalan terus-menerus di skala rumah tangga.

Pertanian dan Peternakan: Dua Hal yang Saling Melengkapi

Pertanian dan peternakan ibarat dua sisi mata uang. 

Keduanya tidak bisa dipisahkan. 

Tanaman menghasilkan makanan, tapi juga menghasilkan sisa yang bisa jadi pakan ternak. 

Sementara ternak menghasilkan kotoran yang bisa jadi pupuk bagi tanaman.

Dari sini terlihat jelas, keduanya bukan akhir, tapi siklus. 

Ketika satu berhenti, yang lain justru mulai. Begitulah cara alam menjaga keseimbangan.

Pertanian dalam Pot Self-Watering: Solusi Kebun Atap Rumah

Apa itu Pot Self-Watering?

Pot self-watering adalah sistem tanam yang punya wadah air di bagian bawah. 

Akar tanaman bisa menyerap air sesuai kebutuhan tanpa harus sering disiram.

Keunggulan Pot Self-Watering

Menghemat air → tanaman tidak cepat kering.

Hemat waktu → cocok untuk yang sibuk.

Pertumbuhan stabil → kelembapan tanah terjaga.

Ramah lingkungan → bisa dipakai ulang bertahun-tahun.

Jenis Tanaman yang Cocok


Banyak sayur, buah, daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Dan tanaman herbal bisa tumbuh subur dengan sistem ini, misalnya:

Tomat, Cabai, Kangkung, Bayam, Timun, Seledri, Daun bawang, dan masih banyak lagi.

Setelah beberapa minggu atau bulan, panen pun tiba. 

Tapi bukan hanya panen yang bermanfaat, sisa daun, batang, dan gulma dari kebun juga punya fungsi baru.

Sisa Panen Jadi Pakan Hewan: Dari Kebun ke Kandang


Salah satu manfaat terbesar dari kebun rumah adalah menghasilkan bahan pakan tambahan untuk hewan ternak.

Daun kangkung atau bayam menjadi camilan sehat untuk kelinci.

Daun singkong, jagung, atau kacang menjadi pakan kambing.

Rumput liar yang tumbuh di sekitar pot bisa dipanen untuk kambing dan kelinci.

Dedak hasil sampingan jadi makanan ayam, merpati, atau kalkun.

Artinya, akhir dari pertanian (panen) tidak benar-benar selesai. Justru dimulai lagi dengan memberi energi pada peternakan.

Peternakan Rumahan: Unggas dan Mamalia yang Produktif

Dalam skala rumah kebun, hewan yang cocok dipelihara biasanya tidak terlalu besar dan bisa dirawat dengan pakan sederhana dari kebun. 

Beberapa pilihannya antara lain:

Unggas

Ayam kampung yang menghasilkan telur dan daging, mudah dipelihara.

Burung merpati yang berkembang biak cepat, sekaligus menyenangkan untuk hobi.

Kalkun sebagai pilihan unggas besar bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memberi variasi.

Mamalia

Domba → bisa dipelihara karena bernilai ekonomi tinggi, bisa dimanfaatkan dagingnya, sekaligus menghasilkan pupuk kandang.

Kelinci, mamalia yang lucu, produktif, dan kotorannya bisa langsung jadi pupuk.

Hewan-hewan ini tidak hanya menghasilkan produk pangan, tapi juga menyumbang sesuatu yang sangat penting: kotoran ternak.

Kotoran Hewan Jadi Pupuk: Dari Kandang ke Kebun

Kotoran hewan sering dianggap limbah. Padahal, dalam siklus pertanian dan peternakan, justru inilah harta karun yang membuat daur hidup tidak pernah putus.

Kotoran ayam ternyata kaya nitrogen, cocok untuk tanaman sayuran daun.

Kotoran domba tampak lebih kering, mudah difermentasi, dan tidak berbau menyengat.

Kotoran kelinci bisa ditaburkan ke pot, tanpa harus difermentasi lama.

Dengan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik, tanah dalam pot self-watering akan lebih gembur dan kaya nutrisi. 

Akhir dari peternakan pun menjadi awal dari pertanian berikutnya.

Siklus Berkelanjutan: Daur Hidup yang Tak Pernah Berakhir

Kalau digambarkan, siklus ini berjalan seperti lingkaran yang saling melengkapi:

1. Tanaman dipanen → hasilnya untuk manusia.

2. Sisa tanaman → jadi pakan untuk kambing, kelinci, ayam, merpati, kalkun.

3. Hewan makan → menghasilkan kotoran.

4. Kotoran difermentasi → menjadi pupuk organik.

5. Pupuk dipakai → tanaman di pot self-watering tumbuh lebih subur.

Dan siklus itu terus berulang tanpa henti. Tidak ada limbah yang sia-sia, semua punya peran.

Manfaat Rumah Kebun Berbasis Siklus Pertanian-Peternakan

Menggabungkan pertanian mini dengan pot self-watering dan peternakan rumahan punya banyak manfaat nyata:

1. Hemat Biaya Dapur

Sayuran segar, telur ayam, atau daging kambing bisa dipanen dari rumah sendiri.

2. Pangan Sehat dan Organik

Tidak perlu khawatir dengan bahan kimia berlebih, semua alami dari rumah.

3. Mengurangi Limbah Rumah Tangga

Sisa sayur tidak dibuang, tapi jadi makanan ternak. 

Kotoran ternak tidak dibuang, tapi jadi pupuk.

4. Ketahanan Pangan Keluarga

Dengan rumah kebun, keluarga tidak tergantung 100% pada pasar.

5. Kebahagiaan Batin

Merawat tanaman dan hewan terbukti bisa menurunkan stres dan memberi rasa puas.

Kesimpulan: Dari Rumah Kebun untuk Kehidupan yang Lebih Seimbang

Pada akhirnya, rumah kebun dengan pertanian pot self-watering dan peternakan kecil (ayam, merpati, kalkun, kambing, dan kelinci) bukan hanya sekadar hobi. 

Ini adalah bentuk nyata dari siklus hidup yang berkelanjutan.

Setiap “akhir” dalam pertanian selalu jadi awal untuk peternakan, dan setiap “akhir” dalam peternakan selalu jadi awal untuk pertanian. 

Tidak ada yang terbuang percuma, semuanya saling melengkapi.

Dari rumah kebun yang sederhana, kita bisa belajar satu hal penting: alam tidak pernah berhenti. 

Ia hanya berputar dalam siklus yang tak pernah berakhir.***

Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan

Minggu, September 28, 2025 12 Comments

Slow Living dengan Beternak Kambing
Slow Living Beternak dan Bertani

dianti- Awalnya sih nggak ada niat serius banget untuk mandiri pangan dari rumah.

Cuma karena lihat peluang aja, dan aku sempatkan waktunya jadilah seperti hari ini. 

Rumahku punya atap beton yang luas banget, ada kolam di bawah rumah yang nganggur, sama halaman samping yang lumayan lah daripada nganggur. 

Dari situlah perjalanan kemandirian pangan ala-ala aku dimulai.

Nggak muluk-muluk, aku cuma pengen rumahku bisa jadi sumber pangan sederhana. 

Eh ternyata lama-lama malah jadi kayak mini-farm. 

Serius, tiap bangun tidur sekarang bukan cuma buka jendela, tapi sekalian cek hewan-hewan, siram tanaman-tanaman, sama intip ikan di kolam.

Atap Beton Jadi Kebun Hijau

Tanam Kangkung di Pot

Dulu atap beton rumahku cuma jadi tempat jemur pakaian. 

Panas, gersang, dan yaa gitu-gitu aja. 

Suatu hari aku mikir, “Lha, ini luas banget kenapa nggak aku manfaatin buat nanam sayur?”

Ditambah lagi limbah galon bekas air mineral makin hari makin banyak 

Akhirnya aku sulap limbah galon bekas jadi pot tanaman dengan konsep self watering.

Soal media tanam pun sebenarnya udah melimpah dari kandang ayam dan kandang kelinci, jadi tunggu apalagi?

Akhirnya aku mulai nanam sayuran favorit. 

Ada kangkung yang gampang banget tumbuh, timun buat lalapan, tomat sampai cabe biar nggak khawatir kalau harga di pasar naik. 


Baca juga: Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety


Aku juga coba tanam bawang daun, seledri, plus beberapa tanaman panjang umur kayak jagung, kacang merah, kacang panjang, dan kacang buncis.

Atap beton yang tadinya panas dan bikin mata silau, sekarang berubah jadi kebun hijau yang adem. 

Rasanya tiap sore aku betah nongkrong di atas, sambil nyiram tanaman dan lihat mereka tumbuh.

Kolam Bawah Rumah jadi Lumbung Ikan

Budidaya Lele

Di bawah rumah ada kolam kecil yang dulu sering dipakai cuma buat nampung air hujan. 

Makin kesini malah jentik nyamuk tumbuh liar.

Aku mikir cara membasmi jentik tersebut tapi gak pake zat kimia.

Alhasil setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk menabur bibit ikan nila merah sebagai musuh alami jentik-jentik nyamuk.

Cuma karena kolamnya tidak mendapat cahaya matahari optimal, jadi pertumbuhan nila pun gak sesuai harapan.

Usaha gak berhenti sampai itu aja, setelah ikan nila dipanen, digantilah dengan bibit ikan lele dan patin.

Aku pilih lele sama patin karena gampang banget dirawat dan tahan banting.

Sekarang kalau malam-malam pengin makan ikan goreng, aku nggak perlu ke pasar. 

Tinggal jala, ambil lele dari kolam, langsung masak. 

Segarnya dapet, hematnya juga kerasa. 

Kadang kalau ada teman main ke rumah, mereka suka takjub, “Serius ini lele dari bawah rumahmu?” dan aku cuma bisa nyengir bangga.

Halaman Samping Jadi Kandang Ternak

Ayam Elba

Halaman samping rumah juga nggak mau kalah. 

Aku bikin kandang kecil-kecilan buat hewan peliharaan. 

Awalnya cuma lima ekor, eh sekarang jadi banyak. 

Tiap pagi aku bisa panen telur segar buat sarapan. 

Rasanya beda banget sama telur beli di pasar, kayak lebih gurih, lebih “hidup” aja.

Selain ayam, aku coba tambah koleksi unggas. 

Ada kalkun yang badannya gede dan bikin halaman makin rame, merpati yang awalnya aku pelihara gara-gara dikasih tapi ternyata dagingnya enak juga, dan kelinci yang lucu banget tapi juga cepat berkembang biak.

Puncaknya aku nekat pelihara domba tapi dibantu ngurus sama tetangga. 

Jujur, awalnya agak bingung, tapi ternyata mereka cukup gampang dirawat. 

Domba-domba itu aku kasih makan rumput sekitar rumah, jadi nggak terlalu ribet soal pakan. 


Baca juga: Cerita Me Time yang Nggak Kamu Sangka dari Seekor Kalkun


Emmm... Karena udah ada yang bantu ngurus juga sih kalo domba.

Dan tiap lihat domba ngemil dengan santai, rasanya damai banget.

Saling Melengkapi, Nggak Ada yang Sia-Sia

Salah satu hal paling seru adalah ternyata semuanya saling mendukung. Misalnya:

Kotoran ayam, domba, dan kelinci bisa jadi pupuk buat tanaman di atap.

Sisa sayuran yang layu aku kasih ke kelinci, mereka lahap banget.

Air kolam lele aku pakai buat siram tanaman, jangan salah! nutrisinya kaya banget.

Jadi, dari ternak ke kebun, dari kebun ke ternak, semuanya muter. 

Nggak ada yang sia-sia sama sekali.

Hidup Jadi Lebih Bermakna

Banyak banget manfaat yang aku rasain sejak mulai mandiri pangan.

Belanja dapur lebih hemat, karena beberapa kebutuhan memang sudah tersedia di rumah.

Makanan lebih sehat, aku tahu persis apa yang masuk ke ayam, domba, dan sayuran.

Nggak panik harga naik, cabe mahal? Santai aja, tinggal petik.

Punya hiburan baru, daripada main HP terus, sekarang aku lebih sering main sama kelinci atau sama ayam.

Tapi paling sering sih nguyel-nguyel kucing yang emang di adopsi khusus buat nemenin aku di rumah.

Dan yang penting, aku ngerasa lebih “merdeka”. 

Rasanya tenang banget tahu kalau di rumah sudah ada stok pangan sendiri.

Tips Buat yang Pengen Ikut Coba

Kalau kamu kepikiran buat mandiri pangan juga, jangan langsung besar, tapi mulai dari hal kecil. 

Misalnya tanam kangkung di pot atau pelihara ayam kampung sepasang. 

Dari situ nanti kamu bakal ketagihan sendiri.

Jangan takut gagal, aku pun sering kok, tanaman layu, ayam sakit, atau lele mati. 

Namanya belajar pasti ada jatuh-bangunnya, yang penting jangan berhenti! Lama-lama bakal terbiasa.

Sekarang aku sadar, punya atap beton luas, kolam di bawah rumah, dan halaman samping ternyata rezeki besar. 

Daripada kosong dan nggak kepakai, lebih baik dimanfaatkan. 

Dari situ lahirlah mini farm versiku: ada ayam, kalkun, merpati, kelinci, domba, ikan lele, ikan patin, plus kebun sayuran di atap yang hijau.

Aku nggak bilang ini mudah, tapi percayalah, hasilnya bikin hati puas. 

Rasanya kayak punya lumbung pangan sendiri, langsung di rumah. 

Dan aku yakin, kalau aku bisa, kamu juga bisa. 

Mulai aja dari satu pot cabe atau satu ekor ayam, siapa tahu nanti berlanjut jadi mini farm yang bikin hidupmu lebih bahagia.***