Dianti— Kalau dunia sepak bola punya pemain yang bisa ditempatkan di beberapa posisi sekaligus, dunia ayam ternyata juga punya versi versatile player-nya.
Bukan pemain yang bisa main bek, gelandang, sampai striker, tetapi ayam yang bisa punya fungsi lebih dari satu.
Ayam bisa dimanfaatkan untuk produksi telur, punya potensi sebagai ayam pedaging, sekaligus tetap membawa identitas sebagai ayam lokal.
Salah satu yang belakangan membuatku cukup kagum adalah Ayam Sentul.
Dan lucunya, aku mengenal ayam ini bukan karena melakukan riset panjang atau tiba-tiba mendapat pencerahan bahwa “inilah ayam yang selama ini kucari”.
Tidak.
Aku mengenalnya karena ditawari oleh rekan peternak.
Begitulah kadang perjalanan beternak di rumah bekerja.
Kita tidak selalu menemukan hewan peliharaan karena sudah membuat business plan lengkap dengan analisis SWOT, proyeksi cash flow, dan presentasi PowerPoint 37 slide.
Kadang cuma:
"Teh, mau Ayam Sentul nggak?"
Aku: "Emang bagus?"
Rekan Peternak: "Lumayan."
Aku: "Ya sok atuh boleh dicoba."
Akhirnya tiga ekor diangkut dan jadi penghuni baru di kandang, dua betina dan satu jantan.
Dan beberapa waktu setelahnya aku nyesel banget.
Bukan karena tiba-tiba gak puas, tapi karena...
"Lah... kok cuma beli tiga?"
Baca juga: Bukan Hanya Soal Pakan, Tapi Belajar Kejujuran dari Ayam
Niat Cari Ayam Petelur sampai Kenalan dengan Sentul
Saat itu kami memang sedang tertarik memperbanyak ayam yang bisa mendukung kebutuhan pangan rumah tangga, terutama telur.
Sebelumnya kami sudah lebih dulu memelihara Ayam Elba dan merasakan sendiri manfaatnya sebagai ayam kampung petelur yang produktif.
Jadi ketika ada sesama peternak yang merekomendasikan Ayam Sentul sebagai salah satu ayam lokal dwiguna, aku cukup tertarik.
Istilah dwiguna ini yang kemudian membuatku semakin penasaran.
Sederhananya, ayam dwiguna memiliki potensi untuk dimanfaatkan baik sebagai penghasil telur maupun sebagai penghasil daging.
Jadi tidak terlalu terpaku pada satu fungsi produksi saja.
Kalau dibuat analogi sepak bola, ayam dwiguna ini seperti pemain yang bisa ditempatkan di beberapa posisi.
Aku jadi ingat peran Eliano Reijnders saat awal-awal memperkuat Persib Bandung, ternyata dia bisa bermain di beberapa posisi.
Bahkan di suatu match, Eliano Reijnders kayak ada dimana-mana, di hampir setiap sudut lapangan, hihihi...
Oke... kembali ke ayam...
Entah kenapa, konsep itu terasa cocok dengan sistem peternakan rumahan yang sedang kami bangun saat ini.
Kami tidak sedang membuat peternakan industri dengan satu tujuan produksi yang sangat spesifik.
Kami lebih ingin membangun sistem pangan rumah tangga yang fleksibel, mandiri, dan sebisa mungkin bisa menghasilkan sesuatu dari lahan yang kami punya.
Maka ayam yang punya beberapa potensi tentu menarik untuk dipelajari.
Baca juga: Awalnya Cuma Ingin Swasembada Pangan, Malah Ketagihan Beternak Ayam
Bukan Sekadar “Ayam Kampung Biasa”
Salah satu hal yang membuatku semakin tertarik setelah memeliharanya adalah identitas Ayam Sentul itu sendiri.
Ayam Sentul merupakan salah satu ayam lokal yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat, dan dikenal sebagai bagian dari plasma nutfah daerah tersebut.
Sebagai orang yang tinggal di Jawa Barat, informasi ini ternyata membuat pengalaman memeliharanya terasa sedikit berbeda.
Karena sebelumnya, kalau ditanya jenis ayam, mungkin aku termasuk orang yang akan menjawab dengan sangat sederhana:
"Ayam kampung."
Sudah selesai.
Sekarang, setelah masuk dunia peternakan, ternyata istilah “ayam kampung” itu luas sekali.
Ada berbagai jenis dan galur dengan karakter, tujuan pemeliharaan, dan potensi yang berbeda.
Mulai dari KUB, Elba, Sentul, sampai ayam-ayam lain yang sebelumnya bahkan tidak pernah masuk radar pengetahuanku.
Dulu aku melihat ayam ya ayam.
Sekarang kalau ada orang bertanya, "Ini ayam apa?"
Aku bisa menjawab cukup panjang.
Masalahnya, orang yang bertanya biasanya cuma ingin tahu.
Bukan sedang mendaftar kuliah peternakan, yakaaan?
Lalu Datanglah Telur Pertama Itu
Bagian yang paling membuatku ingat dengan perjalanan Ayam Sentul di kandang kami adalah ketika mereka pertama kali bertelur setelah Idul Fitri tahun ini.
Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat telur pertama dari ayam yang awalnya kami beli hanya karena rekomendasi sesama peternak.
Karena dalam beternak, telur pertama itu bukan sekadar telur.
Tetapi ada proses panjang di belakangnya.
Mulai dari memilih indukan, memelihara, memberi pakan, mengamati pertumbuhan, menjaga kondisi kandang, sampai akhirnya suatu hari kita membuka kandang dan menemukan:
"Loh... ada telur."
Momen seperti ini mungkin terdengar receh bagi orang lain.
Tapi buat peternak rumahan, itu bisa terasa seperti menerima notifikasi:
“Congratulations! Your investment has started working.”
Bedanya, kalau investasi saham melihat grafik.
Kalau investasi ayam, kita melihat wadah telur.
Dan aku senang melihatnya.
Bukan cuma karena berarti ada tambahan sumber telur di rumah, tetapi karena aku mulai bisa mengamati karakter produktivitas mereka secara langsung.
Baca juga: Post Traumatic Growth: Kukira Sedang Merawat Hewan, Ternyata Sedang Merawat Luka
Aku Makin Kagum: Ternyata Si Sentul Rajin Bertelur
Setelah mulai bertelur, aku memperhatikan pola yang cukup menarik dari Ayam Sentul milikku.
Dari pengamatan di kandang, mereka ternyata cukup konsisten dalam produksi telur.
Ada masa ketika mereka berhenti bertelur, tetapi sejauh pengamatanku, jedanya paling lama sekitar lima hari, kemudian kembali bertelur.
Pola itu membuatku melihat produksi telur mereka bukan sebagai sesuatu yang selalu berjalan lurus setiap hari, melainkan seperti sebuah siklus.
Kadang produksi ada, kadang berhenti sebentar, kemudian berjalan lagi.
Yang penting, dari pengamatan sederhana itu aku mulai melihat bahwa beternak ternyata tidak cukup hanya membaca angka produktivitas dari teori.
Kita juga perlu mengenal pola individu yang kita pelihara.
Karena yang terjadi di kandang kita bisa saja memberikan cerita yang berbeda.
Dan justru cerita seperti inilah yang menurutku menarik untuk dibagikan.
Bukan sebagai klaim bahwa semua Ayam Sentul akan memiliki pola yang sama, tetapi sebagai pengalaman nyata dari kandang kami sendiri.
Baca juga: Cerita Me Time yang Nggak Disangka dari Seekor Kalkun
Ternyata Sentul Bukan Tipe Versatile yang Sibuk Mengurus Semua Posisi
Ada satu karakter Ayam Sentul milikku yang kemudian membuatku semakin tertarik.
Mereka tidak mengeram.
Setidaknya, itu yang aku amati dari indukan-indukan Sentul yang kami pelihara.
Bagi kami, kondisi ini justru cukup menarik karena ayam-ayam tersebut bisa lebih fokus pada produksi telur.
Tidak ada drama "Aku mau jadi ibu dulu, jangan ganggu."
Tidak ada fase panjang bagi ayam untuk duduk mengerami telur.
Kami tetap mengumpulkan telur-telur Si Ayam Sentul.
Dan di sinilah kami kemudian mengambil peran dalam proses pembiakannya.
Karena kalau induknya tidak mengeram, bukan berarti proses regenerasinya berhenti.
Telur-telur yang kami dapatkan bisa kami masukkan ke inkubator untuk ditetaskan.
Dan dari situlah perjalanan kami dengan Ayam Sentul masuk ke babak baru.
Bukan lagi sekadar memelihara.
Kami mulai memperbanyak populasi.
Dari Tiga Ekor, Sekarang Sudah Ada Bibit-Bibit Baru
Ini mungkin salah satu bagian yang paling membuatku bangga.
Awalnya cuma ada dua betina dan satu jantan.
Hanya tiga ekor.
Tapi setelah kami pelihara, amati, dan mulai memahami potensinya, kami kemudian mencoba menetaskan telur-telur yang dihasilkan menggunakan inkubator.
Telur dikumpulkan, kemudian masuk mesin tetas, kami tunggu prosesnya, kami pantau perkembangannya.
Sampai akhirnya mulai bermunculan bibit-bibit baru.
Dan di titik itu rasanya berbeda.
Karena sekarang kami tidak hanya memiliki Ayam Sentul.
Kami mulai memiliki hasil dari proses pembiakan Ayam Sentul sendiri.
Ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika melihat telur yang sebelumnya hanya ada di wadah telur, kemudian berubah menjadi kehidupan baru.
Apalagi prosesnya dilakukan secara bertahap.
Tidak langsung punya puluhan ekor, tidak langsung sempurna, tapi kami belajar sambil jalan.
Dalam perjalanannya ada yang berhasil, ada yang gagal, ada juga proses yang harus dievaluasi.
Tetapi justru di situlah bagian menyenangkannya.
Beternak ternyata punya sensasi seperti bermain career mode dalam game sepak bola.
Mulai dari punya pemain sedikit, kemudian akademi berkembang.
Lalu tiba-tiba beberapa musim kemudian kita melihat skuad sendiri dan berkata:
"Lah, kok sudah sebanyak ini?"
Baca juga: Kelinci Itu Playboy, atau Kita yang Terlalu Cepat Memberi Label?
Kenapa Menyesal Cuma Beli Tiga?
Nah, ini bagian yang agak menggelikan.
Kalau ditanya apakah aku menyesal membeli Ayam Sentul, jawabannya jelas: Tidak.
Aku malah menyesal karena waktu itu cuma beli tiga. huhuhu
Karena kalau dari awal tahu produktivitas telurnya menarik dan proses pembiakannya juga bisa kami jalankan menggunakan inkubator, mungkin ceritanya akan berbeda.
Mungkin waktu itu aku sudah bilang: "Pak, yang tiga jangan. Sekalian semua yang ada di kandang." hehehe.
Tapi tentu saja keputusan memelihara ayam tetap harus disesuaikan dengan kemampuan kita.
Ada luas kandang, biaya pakan, waktu untuk merawat, hingga kapasitas untuk mengelola populasi.
Jadi tidak bisa juga setiap melihat ayam bagus langsung kita bawa pulang.
Kalau begitu, konsep swasembada pangan bisa berubah menjadi:
“Aku dan 100 ekor ayam melawan tagihan pakan.”
Dan aku belum siap menjadi pemeran utama dalam film tersebut.
Sentul Mengajarkanku “Ayam Bagus” Itu Tergantung Tujuannya
Pengalaman memelihara Sentul juga membuatku semakin memahami bahwa sebenarnya tidak ada satu jenis ayam yang otomatis menjadi ayam terbaik untuk semua orang.
Sebelumnya aku pernah tertarik dengan Ayam Bangkok karena posturnya besar.
Waktu itu logikanya sederhana: kalau targetnya swasembada pangan, ayam besar terdengar menarik.
Kemudian aku mengenal Elba dan mulai memahami bahwa produktivitas telur juga sangat penting.
Setelah itu kami memelihara KUB Janaka, lalu datang Sentul.
Semakin banyak jenis ayam yang dipelihara, semakin aku sadar bahwa masing-masing punya karakter dan fungsi yang berbeda.
Kalau tujuan utamanya telur, tentu kita akan melihat karakter petelurnya.
Kalau ingin daging, pertimbangannya berbeda.
Kalau ingin kombinasi telur dan daging, ayam dwiguna bisa menjadi salah satu opsi yang menarik untuk dipelajari.
Jadi sekarang aku tidak terlalu suka mengatakan: "Ayam ini paling bagus."
Aku lebih suka mengatakan: “Ayam ini cocok untuk tujuan apa?”
Karena ayam yang sangat cocok untuk satu sistem belum tentu cocok untuk sistem yang lain.
Mirip pemain sepak bola, pemain versatile memang menarik.
Tapi kalau kamu menaruh semua pemain di semua posisi sekaligus, yang ada bukan taktik.
Yang ada adalah chaos.
Baca juga: Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety
Dari Beternak, Aku Mengenal Plasma Nutfah yang Sebelumnya Tidak Kuketahui
Hal lain yang membuatku merasa cukup bangga adalah kenyataan bahwa perjalanan memelihara Sentul ini akhirnya membawa kami ke proses pembiakan.
Bagi kami, awalnya memang sederhana.
Kami ingin punya ayam yang produktif, ingin mendapatkan telur, juga ingin mendukung kebutuhan pangan rumah tangga.
Tetapi kemudian kami sadar bahwa ada nilai lain di balik ayam tersebut.
Ayam Sentul merupakan bagian dari kekayaan genetik ternak lokal Ciamis.
Dan sekarang, melalui skala yang sangat kecil di rumah, kami ikut menjadi bagian dari proses mempertahankan keberadaannya.
Aku tidak mau membesar-besarkan kontribusi ini.
Peternakan kami juga bukan pusat konservasi nasional.
Cuma kandang rumahan.
Tapi menurutku, kontribusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang bisa dimulai dari tiga ekor ayam.
Dua betina, satu jantan, kemudian telur, inkubator, bibit baru.
Dan proses yang terus berjalan.
Penutup: Ternyata Aku Tidak Sedang Membeli Ayam, Aku Sedang Membuka Bab Baru
Kalau mengingat kembali bagaimana awalnya aku mendapatkan Ayam Sentul, semuanya terasa sederhana sekali.
Aku sedang ingin punya ayam petelur.
Ada peternak yang merekomendasikan Sentul.
Aku tertarik.
Akhirnya beli dua betina dan satu jantan.
Tapi ternyata dari tiga ekor ayam itu, aku mendapatkan pengalaman yang jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Aku belajar mengenal ayam lokal Ciamis.
Belajar mengamati produktivitasnya.
Belajar bahwa ayam tidak selalu harus mengeram untuk bisa menghasilkan generasi berikutnya.
Belajar menggunakan inkubator.
Belajar membiakkan.
Dan yang paling menyenangkan, sekarang sudah ada bibit-bibit Sentul baru yang lahir dari proses tersebut.
Ada rasa bangga tersendiri ketika melihatnya.
Bukan karena kami sudah menjadi peternak besar.
Justru karena semuanya dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Dari ketidaksengajaan.
Dan mungkin itulah yang paling kusukai dari perjalanan beternak di rumah.
Kita tidak pernah benar-benar tahu penemuan apa yang akan kita dapatkan ketika mencoba sesuatu yang baru.
Awalnya cuma ingin punya ayam petelur.
Ternyata mendapatkan ayam dwiguna.
Awalnya cuma ingin mendapatkan telur.
Ternyata belajar pembiakan.
Awalnya cuma ingin memelihara.
Ternyata ikut menjaga salah satu plasma nutfah lokal dari Ciamis.
Dan sekarang kalau melihat ayam-ayam Sentul itu mondar-mandir di kandang, aku sering berpikir:
“Dulu cuma beli tiga. Kenapa nggak sekalian sebelas, ya?” hihihi
Ya begitulah.
Namanya juga transfer market peternakan.
Kadang bukan pemainnya yang kurang bagus.
Kita saja yang salah strategi waktu belanja.***

Ngakak banget baca judulnya. Tapi asli baru tahu sih soal ayam sentul ini. Boleh dicoba nih sama para peternak. Jarang soalnya ada bibit unggul begini
BalasHapusAku jadi tau berbagai jenis ayam setelah baca tulisan2 disini karena ternyata untuk ayam kampung sendiri ada banyak jenisnya dulu kupikir ayam kampung ya udah cuma satu itu saja..ayam pedaging ayam petelur hanya ada satu jenis tapi ternyata ada banyak jenisnya,,,
BalasHapusaku kira tadi ayam sentul adalah ayam yang berasal dari daerah Sentul Jogya sana, ternyata bukan.
BalasHapusdan aku juga baru tau istilah-istilah seperti versatile ini, maklum keseharianku jauh banget sama dunia seperti bisnis ayam dan sejenisnya
Mba Dianti telaten sekali dalam beternak ayam. Ternyata melihara ayam itu bukan soal merhatiin makanan dan kandang bahkan kapasitas untuk mengelola populasi juga ternyata harus dipikrin
BalasHapusSaya sedikit-sedikit mulai tau tentang dunia perayaman setelah membaca beberapa tulisan di blog ini. Baru tau saya ayam asli Ciamis. Kiran semua ayam lokal ya sama aja.
BalasHapusAyam Sentul ternyata bukan cuma soal dipelihara atau diternakkan, tapi punya banyak potensi yang menarik. Istilah versatile player-nya juga pas banget. Senang membaca tulisan yang mengangkat kekayaan lokal seperti ini, karena ternyata banyak potensi di sekitar kita yang belum terlalu dikenal.
BalasHapusAkh iya, paham kenapa nyesel beli cuma 3 Ayam Sentul. Padahal ternyata ekh ternyata bagus banget mereka itu ya. Lewat artikel ini jadi keinget, dulu Bapak melihara ayam arab petelur juga.
BalasHapusSesekali salah strategi gapapa karena emang nggak paham banget terkait ayam Sentul. Sekarang, udah paham pasti bisa nambah personil ayam Sentul.
Selalu suka baca cerita soal ayam dari Mbak Dianti. Kali ini ikut nambah pengetahuan deh soal ayam Sentul. Nah kalau main game dapat hasil mungkin berupa kepuasan kalau menang, sedangkan yang ini dapat reward berupa sesuatu yang bisa dikonsumsi yaa, sekaligus juga jadi sarana belajar dan mengasah ilmu dalam perjalanannya.
BalasHapusAku udah planing dari lama pengen ternak ayam petelur dihalaman samping rumah, bukan untuk bisnis. Tapi lebih ke arah ketahanan pangan keluarga sendiri sih. Jadi kalo emang bisa punya stok telur sendiri, gak harus belanja buat beli telur lagi hehehe
BalasHapusAyam yang menarik. Bapakku punya beberapa ayam kampung di rumah, tapi ya sekadar untuk dipelihara aja buat kesibukan di hari tuanya. Lumayan seminggu bisa dapat beberapa ayam kampung. Andaikan lokasinya gak jauh dari Pati, bisa kali saya ambil 1 atau 2 pejantannya.
BalasHapusJujur aku masih penasaran ayam itu kalau bertelur harus kawin dulu nggak sih? Soalnya dulu pernah miara ayam trus tahu-tahu di kandang ada telurnya tapi aku nggak tahu kapan si ayam ini kawin ya? Heu
BalasHapusPenasaran sama hasil telurnya.
BalasHapusKarena sejujurnya, aku mengamati telur jaman sekarang yang warnanya kuning sangat encer seperti air. Apakah ini juga efek dari jenis ayam yang dipelihara?
Aku googling untuk penampakan Ayam Sentul ini..
Dan coraknya sangat cantik yaa.. hitam dan putih.