SEO, AEO, GEO, AIO… Inikah Rasanya Jadi Blogger
Dianti- Dulu aku pikir nenjadi blogger itu sederhana, beda dengan sekarang yang rasanya kayak melewati Ujian Teknologi NASA.
Dulu hidup content writer masih terasa damai seperti warung kopi pinggir jalan yang muter lagu galau tahun 2000-an setiap malam tanpa henti.
Aku cuma perlu nulis artikel, memasukkan keyword secukupnya, lalu berharap search engine mau memberikan sedikit traffic organik supaya semangat hidup tidak benar-benar hilang ditelan algoritma internet.
Waktu itu musuh terbesar blogger hanyalah rasa malas nulis opening dan godaan rebahan sebelum artikel selesai dipublikasikan tepat waktu.
Namun sekarang semuanya berubah sangat cepat, sampai aku merasa internet sedang mengadakan eksperimen sosial besar-besaran terhadap kesehatan mental para penulis digital kecil.
Karena sekarang…
internet dipenuhi singkatan yang terdengar seperti kode rahasia organisasi underground: SEO, GEO, AEO, AIO, SXO, EEAT, dan masih banyak lagi.
Mungkin juga sebentar lagi ada istilah baru bernama “WIFI Emotional Optimization.” ðŸ˜
Apa itu SEO, GEO AEO, AIO?
Sebenernya apa sih semua singkatan yang tampak aneh itu? Mari kita bahas yang terkait soal performa tulisan menurut mesin dengan bahasa sederhananya boy... wkwkwk
Disclaimer dulu, aku bukan ahli, tapi suka aja belajar dan sharing knowledge.
Mulai dari SEO...
"SEO Itu Sebenarnya Cuma Cara Bikin Google Tidak Menganggap Artikel Kita Tulisan Random"
SEO ini sesepuh dari segala penderitaan digital marketing modern yang sekarang semakin rumit setiap tahunnya.
Analogi SEO atau Search Engine Optimization sebenarnya gampang dipahami, seperti warung makan pinggir jalan yang ingin lebih mudah ditemukan pembeli baru.
Misalnya kamu jual ayam geprek di gang kecil yang tersembunyi, tentu kamu harus memasang papan nama jelas supaya orang tahu warungmu menjual apa dan berada dimana.
Nah, Google selaku Search Engine juga mirip sama orang lapar yang sedang mencari ayam geprek jam sebelas malam sambil overthinking kehidupan percintaan, kesiaaaan deh... hihihi.
Jika artikelmu jelas membahas:
“cara membuat ayam geprek”
Maka Google lebih mudah memahami isi tulisanmu dibanding artikel dengan judul:
“Rahasia Kehidupan yang Mengubah Segalanya.”
SEO itu intinya membuat Google berkata:
“Oh, artikel ini ngomongin cara membuat ayam geprek, bukan teori konspirasi alien.”
Makanya dulu blogger fokus pada keyword, heading, backlink, internal link, dan kecepatan website.
Dulu hidup masih sederhana, belum ada AI yang tiba-tiba ikut campur seperti dosen tamu tidak diundang. wkwkwk
Lanjut ke AEO, apakah itu?
"Lalu Muncul AEO yang Membuat Semua Orang Mendadak Suka Menjawab Pertanyaan"
Setelah SEO membuat semua orang sibuk mengejar ranking Google, muncullah AEO atau Answer Engine Optimization yang terdengar seperti nama organisasi rahasia di film sci-fi.
AEO sebenarnya gampang dipahami kalau dianalogikan seperti teman tongkrongan yang selalu ingin menjawab pertanyaan tercepat sebelum orang lain sempat buka Google.
Misalnya ada orang bertanya:
“Berapa protein dalam dada ayam?”
Nah, Google sekarang lebih suka menampilkan jawaban cepat dibanding memaksa orang membaca artikel sepanjang tiga ribu kata tentang sejarah ayam sejak zaman kerajaan Majapahit.
Makanya sekarang artikel harus: langsung menjawab, tidak muter-muter, memakai format jelas, dan gampang dipahami bahkan saat orang sedang setengah ngantuk.
Jadi kalau SEO itu seperti membuat warungmu mudah ditemukan, maka AEO adalah membuat pembeli langsung tahu:
“Oh, ayam geprek di sini pedasnya level neraka."
Tanpa perlu membaca autobiografi pemilik warung terlebih dahulu.
Sekarang ada GEO
"GEO Itu Ketika AI Mulai Ikut Nongkrong dan Mengambil Kesimpulan Sendiri"
Nah, ini bagian yang mulai membuat banyak blogger kehilangan ketenangan hidup.
GEO atau Generative Engine Optimization muncul karena sekarang orang tidak hanya mencari informasi lewat Search Engine biasa.
Kalau dulu apa-apa tanya Mbah Google, sekarang apa-apa mulai tanya AI, seperti ChatGPT, Google Gemini, Microsoft Copilot.
Dulu orang mengetik:
“cara memasak ayam geprek anti gagal.”
Sekarang orang lebih suka berkata:
“Aku masih belajar masak, punya bahan paha ayam, tepung serbaguna, minyak, cabe setan, bawang putih, dan minyak, apakah bisa jadi ayam geprek yang enak?”
Dan AI akan langsung menjawab tanpa menyuruh orang membuka sepuluh website penuh iklan berkedip.
Nah, GEO itu usaha supaya tulisan kita dianggap cukup bagus, cukup jelas, dan cukup terpercaya untuk dijadikan referensi oleh AI ketika menjawab pertanyaan pengguna.
Kalau dianalogikan lagi ke kasus keseharian lain…
SEO itu seperti berusaha masuk mall supaya orang melihat tokomu.
AEO itu seperti membuat penjaga toko langsung menjawab pertanyaan pelanggan.
Sedangkan GEO? GEO itu tokoh yang menjadikan tokomu rekomendasi utama ketika ada orang bertanya:
“Tempat ayam geprek enak yang tidak bikin dompet menangis ada gak?”
Masalahnya AI sekarang seperti teman yang membaca semua artikel internet lalu membuat rangkuman sendiri dengan penuh percaya diri.
Dan kadang traffic blogger ikut hilang dibawa rangkuman tersebut ðŸ˜
Tiba-tiba Temenan sama AIO
"Yupssss.... AIO Itu Ketika Semua Orang Mendadak Menyuruh Kita Berteman dengan AI"
Lalu muncullah AIO atau Artificial Intelligence Optimization yang semakin membuat content writer merasa hidupnya seperti update software tanpa tombol skip.
AIO biasanya dipakai untuk menggambarkan optimasi konten menggunakan bantuan artificial intelligence supaya pekerjaan lebih cepat, lebih efisien, dan lebih tidak manusiawi.
Sekarang banyak orang brainstorming pakai AI, bikin outline pakai AI, cari ide judul pakai AI, bikin caption pakai AI.
Bahkan curhat existential crisis juga pakai AI.
Aku yakin sebentar lagi ada orang berkata:
“Aku putus cinta karena rekomendasi AI.” ðŸ˜
AIO itu seperti punya asisten super cepat yang bisa membantu banyak pekerjaan, tetapi kadang membuat kita overthinking:
“Kalau semuanya bisa dilakukan AI… aku masih dibutuhkan gak sih?”
Dan itulah alasan kenapa banyak content writer sekarang hidup dengan dua mode: produktif, dan krisis identitas.
Gak ada pilihan di tengah-tengah.
Baca juga: Sertifikasi BNSP Data Analyst: Ketika Portofolio Saja Tidak Cukup untuk Menembus Dunia Karir Data
Curhat dan Adu Mekanik di LinkedIn
Loh.. loh.. kenapa tiba-tiba nyenggol LinkedIn sih?
"LinkedIn Sekarang Rasanya Seperti Arena Gladiator Para Orang yang Pura-Pura Paham"
Lantas bagiku yang belom paham-paham amat malah takut jadi orang hilang arah gak sih?
Ehh sebenernya bukan hilang arah, tapi takut memulai dengan langkah yang sangat tertinggal sih.
Laluuuu, aku buka LinkedIn untuk dapat pencerahan terkait kegelisahanku, tapi aku malah menemukan kesimpulan yang bahkan kebalikannya.
Masalah terbesar dari semua perkembangan ini bukan cuma teknologinya.
Tetapi orang-orang di internet yang berbicara seolah mereka baru pulang rapat langsung bersama CEO Google.
Setiap pagi LinkedIn ada aja postingan seperti:
“SEO is officially dead.”
Besoknya:
“Actually GEO will replace traditional search.”
Besoknya lagi:
“Only authentic human-centric conversational content will survive AI disruption.”
Gatau itu cuma hook buat narik engagement atau beneran, yang jelas aku makin pusing dan makin takut tertinggal.
Kalo diibaratkan anak magang, akutu pengen teriak....
MAS… AKU BARU JUGA BELAJAR BEDA H2 DAN H3 ðŸ˜
Yang lucu adalah semua orang di kolom komentar ikut mengangguk seolah memahami seluruh jargon tersebut secara spiritual dan emosional.
“Insightful!”
“Great perspective!”
“Couldn’t agree more!”
Padahal dalam hati:
“MAS INI NGOMONG APA SIH 😔
Realita Nulis Artikel di Era Sekarang
"Sekarang Menulis Artikel Rasanya Seperti Melamar Kerja ke Perusahaan Multinasional"
Dulu artikel cukup enak dibaca, jelas, dan gak typo terlalu parah.
Sekarang?
Artikel harus SEO friendly, AI friendly, human friendly, mobile friendly, semantic-rich, conversational, authoritative, skimmable, voice-search optimized.
ARTIKEL APA APARTEMEN PREMIUM??? KENAPA BANYAK FASILITAS ðŸ˜
Kadang aku takut suatu hari Google mengirim notifikasi:
“Artikel Anda kurang healing-friendly untuk generasi burnout.”
Kalo dipikirin pake banget-banget dengan semua standar itu yang ada penulisnya yang stress duluan gak sih? Hehehe
Tetap Butuh Manusia
"Pada Akhirnya Internet Tetap Membutuhkan Tulisan yang Terasa Manusia"
Walaupun internet sekarang terasa seperti survival game penuh jargon teknologi yang membuat otak panas setiap minggu, aku mulai sadar satu hal penting.
Manusia tetap suka tulisan yang terasa hidup.
Tulisan yang punya keresahan, punya pengalaman, punya humor random, dan terasa seperti ditulis manusia sungguhan yang pernah begadang sambil mempertanyakan masa depan.
Karena AI memang bisa menulis cepat.
Tapi AI belum tentu memahami rasa menunggu artikel terindeks dua minggu, buka analytics tiap sejam, atau senang berlebihan ketika artikel receh tiba-tiba viral karena satu kalimat absurd.
Jadi mungkin… di tengah SEO, AEO, GEO, dan AIO yang semakin membingungkan bagiku…
Hal yang paling penting justru tetap menjadi manusia.
Walaupun manusia yang panikan setiap kali teknologi menciptakan hal-hal atau singkatan baru ðŸ˜***