Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya

Minggu, Desember 28, 2025 12 Comments


dianti- Ayam jantan itu adalah potret paling jujur dari fenomena fatherless.

Dan lucunya atau tragisnya, ini relevan banget sama kondisi sosial Indonesia hari ini.

Sosoknya ada, tapi perannya gak ada 

Ayam jantan kalo disuruh ngurus anak? Error 404: parental care not found.

Saking tingginya angka fatherless di negara kita, pemerintah sampai bikin kebijakan ambil rapor anak sama ayah.

Bayangin aja betapa lelahnya sistem, sampai harus bilang:

“Pak… minimal tanda tangan ya,"


Kokok tiap Pagi, tapi Tanggung Jawab Skip

Setiap pagi ayam jantan di kandangku berkokok kayak alarm default HP Android, nggak bisa dimatiin, nggak bisa di-snooze, dan selalu paling berisik padahal kontribusinya belum tentu paling besar.

Dari luar kandang, si ayam jantan kelihatan sibuk banget.

Kayak orang yang update story “kerja kerja kerja” tapi kerjaannya cuma ngopi.

Begitu ayam betina bertelur, realita langsung kebuka.

Betina: bertelur, mengerami, ngasuh, pasang badan

Jantan: “gue awasin dari jauh aja ya”

Aku sampe gemes sekaligus bertanya-tanya:

“Ini sistem parenting-nya siapa yang nyusun?”


Fatherless, Tapi Versi Berkokok

Dalam ilmu perilaku unggas dan fisiologi reproduksi ayam (avian reproductive behavior), ayam jantan memang tercatat sangat aktif secara seksual. 

Beberapa studi di bidang poultry science menjelaskan bahwa ayam jantan mampu melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari, tergantung ras, umur, kondisi tubuh, dan ketersediaan betina.

Penelitian klasik dalam jurnal Applied Poultry Research dan Poultry Science menyebutkan bahwa seekor ayam jantan sehat dapat melakukan 5–10 kali kopulasi per hari, bahkan lebih pada sistem pemeliharaan intensif. 

Secara fisiologis, hormon testosteron pada ayam jantan mendukung perilaku kawin yang agresif dan berulang.

Tapiii… di sinilah plot twist biologisnya muncul.

Begitu telur keluar dari tubuh ayam betina, peran ayam jantan secara fungsional langsung berhenti.

 Dalam literatur etologi unggas, sistem pengasuhan ayam dikategorikan sebagai maternal-only parental care

Artinya, seluruh tanggung jawab pasca-reproduksi, mulai dari mengerami telur, menjaga piyik, menghangatkan tubuh anak, hingga mengajarkan perilaku makan dibebankan hampir sepenuhnya kepada induk betina.

Artinya ayam jantan tidak ikut mengerami telur, tidak memberi makan piyik, dan tidak memiliki respons hormonal untuk bonding dengan anak

Bahkan, beberapa penelitian observasional (misalnya pada Gallus gallus domesticus) mencatat bahwa ayam jantan dapat bersikap agresif terhadap anak ayam, terutama jika anak tersebut dianggap mengganggu hierarki atau wilayahnya. 

Dalam bahasa ilmiah: low paternal investment. Dalam bahasa kandang: “bukan urusan gue.”



Sementara itu, ayam betina mengalami lonjakan hormon prolaktin yang memicu naluri mengeram dan mengasuh. 

Dia kerja lembur biologis tanpa cuti.

Ayam jantan? Tetap makan, tetap eksis, tetap mondar-mandir di kandang seolah bilang:

“Aku hadir kok… secara visual.”

Dan disinilah konsep fatherless yang sering dibahas dalam ilmu sosial jadi relevan banget. 

Fatherless itu bukan selalu soal ayah yang benar-benar tidak ada, tapi ayah yang hadir secara fisik namun absen secara fungsi.

Ayahnya tercatat.
Ayahnya terlihat.
Ayahnya hidup di sistem.

Tapi dalam praktik pengasuhan?
Dia cuma jadi background NPC, ada di layar, tapi nggak bisa diajak interaksi.

Dan ironisnya, ini bukan cuma fenomena sosial manusia modern.
Ini pola biologis yang sudah lama terjadi di kandang ayam.


Negara Sampai Capek, Ayam Betina Apalagi


Kadang aku mikir, kebijakan publik yang mendorong keterlibatan ayah itu lahir karena negara udah capek.

Capek lihat ibu kerja sendiri, guru koordinasi sama wali murid yang sama terus.

Hingga anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang beneran hadir

Dan ayam betina? Dia capek dari zaman fosil bestiiii tolooooong!

Ayam betina nggak punya privilege “aku lagi fokus diri dulu”.

Begitu telur keluar, hidup langsung berubah jadi:

“oke, sekarang gue single parent by system.”

Dan lucunya lagi, dalam beberapa kasus, ayam jantan malah bisa nyerang anak ayam sendiri kalau merasa teritorinya keganggu.

Aku sampai mikir:

“Ini ayam jantan kok vibes-nya kayak… ah sudahlah.”


Ilusi Kepemimpinan: Jengger Besar, Peran Tipis

Ayam jantan sering disebut pemimpin kandang. Tapi pemimpin versi apa?

Kalau kepemimpinan itu identik dengan banyak suara, tampil dominan, jarang kerja domestik.

Maka iya, ayam jantan menang.

Tapi kalau kepemimpinan itu adalah ambil beban, ngasuh generasi, turun tangan saat chaos.

Maaf ya… ayam betina yang MVP.

Ayam betina nggak berkokok, tapi tanpa dia, populasi bubar jalan.


Merpati Datang, Patriarki Gak Berlaku

Terus aku nengok ke kandang merpati dan di situ aku cuma bisa bilang:

“Oh… pantes.”

Merpati itu setia, berpasangan, dan dua-duanya ikut mengerami telur.

Plot twist-nya? Jantannya juga nyusuin anaknya.

Iya, pakai susu tembolok (crop milk), fenomena yang dibahas serius di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, terutama pada keluarga Columbidae.

Di titik ini patriarki di keluarga merpati auto gak berlaku.

Pantes aja merpati lebih cocok jadi simbol pernikahan daripada ayam.

Bukan cuma karena setia, tapi karena kerja bareng, bukan cuci tangan bareng.


Ayam Jantan, Negara, dan Kesadaran yang Telat

Aku nggak benci ayam jantan, ini bukan artikel cancel culture unggas.

Ayam jantan itu produk sistem.

Sistem yang lama menganggap suara lebih penting dari kontribusi.

Simbol lebih penting dari kerja nyata.

Dan mungkin, kebijakan publik hari ini adalah tanda kita lagi belajar, telat, kikuk, tapi mulai sadar.

Bahwa hadir itu bukan sekadar ada badan.

Hadir itu ada peran.


Kandang Kecil, Realita Sosial

Setiap sore, waktu aku ngasih pakan, aku suka mikir:

“kok dari unggas, aku belajar isu sosial?”

Ayam jantan tetap berkokok.

Ayam betina tetap kerja.

Merpati tetap kolaboratif.

Dan kita? Masih debat di soal parenting, patriarki, feminisme, dan masih banyak lagi di berbagai sosial media.

Mungkin suatu hari, kita nggak perlu lagi kebijakan yang maksa kehadiran.

Karena semua udah sadar, kalo jadi ayah itu bukan status, tapi kerjaan.

Sampai hari itu datang, aku akan tetap berdiri di depan kandang sambil mengamati perilaku sosial hewan peliharaan dan mencari arti kehidupan.

"Alam sudah memberi contoh, unggas berevolusi dalam aspek sosial, kamu mau niru yang mana?"***



Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual

Sabtu, Desember 13, 2025 26 Comments


dianti- Aku ke kandang dan miara beberapa jenis unggas itu niatnya sederhana banget.

Serius! Cuma mau ngasih makan unggas, ngecek air, terus balik ke rumah sambil ngerasa “wah, aku produktif ya.”

Tapi entah sejak kapan, tiap dari kandang aku pulang bawa:

- pikiran berat

- refleksi hidup

- dan perasaan aneh kayak baru ikut retret tanpa daftar

Semua gara-gara satu spesies unggas penghuni ruang vertikal di kandangku, yaitu MERPATI.


Patriarki di Dunia Unggas, Ayam Jantan Si Alpha Male yang Berisik

Kita mulai dari ayam jantan, ikon patriarki kandang polikultur unggas.

Kalo di analogikan sama sikap manusia, ayam jantan itu tipe orang yang:

- masuk ruangan paling berisik

- duduk paling depan

- tapi pas ditanya kontribusi, jawabannya muter-muter

Setiap pagi dia berkokok keras kayak “BANGUN SEMUA! AKU PEMIMPIN DI SINI!”

Padahal yang bangun cuma sebagian orang, dan itu pun bangun bukan karena terinspirasi, tapi karena kaget.

Naaah, sikap patriarki si ayam jantan mulai terlihat ketika betinanya bertelur dan mengeram.

Ayam jantan kayak langsung hilang dari radar.

Kontribusinya tinggal satu, yaitu keberadaan simbolik.

Yaaaaa, semacam pemeran figuran yang cuma numpang lewat aja, tapi paling koar-koar kalo dia udah main film, wkwkwk.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Karakter Merpati Kayaknya Salah Genre


Setelah sekian lama mengamati perilaku keluarga ayam, tiba-tiba datanglah penghuni baru di kandang berupa keluarga merpati.

Merpati ini nggak ribut, nggak sok jago, dan nggak flexing testosteron.

Dia tipe yang kalau di tongkrongan, nggak banyak ngomong, tapi pas pesen makanan “gue duluan aja ya.”

Aku mulai ngerasa kok merpati ini genre-nya agak laen ketika si betina mulai ngeram, aku refleks mikir “Oke, hitung mundur. Tiga… dua… jantannya kabur...”

EH NGGAK Bestiiiiie.

Hari pertama masih ada.

Hari kedua dia naik ke sarang.

Aku berhenti jalan.

Beneran berhenti "Lah… kamu nggak salah genre nih? kamu kan sama-sama unggas,”


Merpati Pakai Sistem Shift, Bukan Sistem ‘Aku kan Kepala’

Hari berikutnya aku perhatiin lagi pola mereka setelah memiliki telur di sarangnya.

Ternyata mereka gantian! iya... si jantan dan si betina gantian merawat dan menjaga telur di sarangnya.

Yang satu ngeram, yang satu makan.

Yang satu capek, yang satu ganti.

Nggak ada drama.

Nggak ada sindiran pasif-agresif.

Nggak ada “aku capek tapi nggak enakan ngomong.”

Ini burung apa tim badminton ganda campuran?


Anaknya Menetas, Patriarki Auto Logout


Pas telurnya menetas, alias anaknya lahir di sarang mereka.

Awalnya aku nebak gini: biasanya ini fase jantan menghilang sambil bilang “aku dukung dari jauh,”

Tapi si merpati jantan malah nyuapin anaknya.

Aku kaget dong, "kok unggas satu ini agak beda ya?"

Karena fenomena aneh itu, aku akhirnya kepo dan sok rajin baca literatur (demi burung, aku rela jadi setengah akademisi, hahaha).

Secara ilmiah, merpati memang nggak menyusui kayak mamalia.

Tapi mereka menghasilkan susu tembolok (crop milk), yaitu cairan kental berwarna pucat yang diproduksi oleh lapisan tembolok induk dan jadi makanan utama piyik (anakan) di hari-hari awal kehidupannya.

Dan ini bukan mitos kandang.

Beberapa literatur unggas menjelaskan bahwa susu tembolok diproduksi oleh kedua induk, jantan dan betina, dipicu oleh hormon prolaktin yang meningkat menjelang dan sesudah telur menetas.

Artinya, secara biologis, merpati jantan memang “didesain” buat ikut ngasuh, bukan sekadar figuran.

Di titik ini, patriarki di kepalaku langsung nge-lag, kayak laptop tua disuruh buka banyak aplikasi sekaligus.

Burung merpati secara hormon dan sistem tubuh disiapkan untuk kolaborasi.

Jadi gak bakal ada lagi alasan klasik “aku nggak bisa, ini bukan tugasku”

Akhirnya aku cuma bisa bengong sambil mikir “Oh. Jadi ini bukan soal bisa atau nggak bisa. Tapi soal mau atau nggak mau,”


(fenomena susu tembolok ini banyak dibahas di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, salah satunya pada studi tentang parental care pada Columbidae).


Baca juga: Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas


Merpati Tidak Melawan Patriarki, Mereka Bikin Patriarki Ngerasa Aneh Sendiri

Yang paling absurd, merpati nggak pernah niat jadi simbol perlawanan patriarki.

Karena para merpati nggak demo, nggak bikin slogan, nggak bikin podcast 2 jam.

Mereka cuma hidup normal, tapi nunjukin cara kerjasama dalam membangun keluarga cemara, kalo mereka bisa nyanyi kayaknya bakal bawa lagu ini "selamat pagi emak... semalat pagi abah... (sambil goyang riang)," hihihi.


Aku Pulang dari Kandang, Kok Rasanya Kayak Abis Diceramahi Burung

Sekarang tiap ke kandang, aku suka ketawa sendiri, tapi gak jarang juga pulang dari kandang langsung merenung. 

Kadang juga sambil ngomel “burung aja bisa bagi tugas, manusia ribut soal nyapu.”

Merpati nggak pernah bilang "Ini tugas kamu,"

Mereka justru membuktikan dengan tindakan “ini hidup kita.”

Selesai! Nggak pake debat.


Oh… Pantesan Merpati Jadi Simbol Pernikahan


Dan di sinilah aku kena pencerahan terakhir.

Aku tiba-tiba mikir “Oh… pantesan ya.”

Pantesan di pernikahan dilepas merpati.

Pantesan merpati jadi simbol cinta, kesetiaan, dan kebersamaan.

Bukan karena mereka romantis doang, tapi karena mereka kerja bareng.

Bukan karena mereka lucu, tapi karena mereka nggak ninggalin pas repot.

Jadi ternyata, simbol pernikahan itu bukan asal estetik.

Filosofinya mungkin sesederhana ini:
"kalau mau hidup bareng, ya ngeram bareng, capek bareng, dan ngurus anak bareng,"

Dan kalau burung aja bisa, masa manusia masih debat, siapa yang harus lebih lelah?

Kadang, jawaban hidup itu bukan di buku tebal, tapi di kandang kecil, yang dianggap kotor, tapi isinya waras.***

Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas

Minggu, Desember 07, 2025 28 Comments

dianti - Awalnya tuh cuma mau slow living, best.

Pengen hidup santai, dekat alam, pelihara unggas sedikit-sedikit… lalu tiap pagi minum teh sambil liatin ayam berkeliaran.

HAHAHAHA

Nyatanya?

Sekarang jumlah unggas di rumahku sudah cukup buat bikin rapat RT khusus hewan.

Total 68 ekor.

Iya, ENAM PULUH DELAPAN.

Bukan slow living, tapi full team building unggas.

Tapi ya gimana… walaupun chaotic, heboh, dan kadang bikin aku pengen pura-pura pingsan, semua itu tetap lucu dan bikin hidup makin rame.

Mari kita mulai dari awal kehebohan perjalanan manis ini.


Kalkun Si Bodyguard dengan Loyalitas Tinggi

Aku punya 9 ekor kalkun (5 dewasa + 4 remaja).

Kalau kamu belum pernah ketemu kalkun langsung, bayangin ayam… tapi versi lebih gede, lebih berotot, lebih berwibawa, dan kalau jalan ada sound effect: “tuk tuk tuk tuk”.

Kalkun-kalkun ini sekarang jadi pasukan keamanan kandang.

Beneran, kalau ada kucing lewat, mereka langsung pasang badan.

Ayam-ayam kecil sampai ngumpet di belakang mereka kayak pegawai magang di belakang manager.

Dan yang paling bikin senyum, kalkun itu makan sampai ke rumput-rumputnya juga habis.

Jadi selain bodyguard, mereka ini sekalian lawn mower hidup.

Lebih hemat listrik, lebih lucu, lebih drama.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Ayam: dari Lokal Sampai ABG KUB-Elba

Karena hidupku udah chaotic, aku tambahin chaos lain berupa AYAM berbagai versi:

4 ayam kampung lokal, ibu-ibu kompleks, kalem tapi selalu benar.

1 ayam kampung Vietnam, aura petarung, tapi halus budi pekerti.

22 ayam KUB si mesin produksi masa depan (kalau mereka berhenti jadi ABG).

8 ayam Bangkok pasukan elite, aura garang, tapi kalau aku datang bawa pakan langsung mendadak manis.

9 ayam Elba, estetika unggas, warna cantik, vibe artis pendatang baru.

2 ayam Sentul, yang ini calon presiden unggas, genetiknya premium.

Nah, sekarang kita bahas dua spesies paling bikin ketawa: KUB & Elba.

Sampai sekarang belum bertelur sama sekali.

Bukan karena bandel.

BUKAN.

Tapi karena…

Mereka masih ABG.

Tubuhnya gede, nafsu makan tokcer, larinya kayak dikejar mantan.

Tapi sistem reproduksi masih loading.

Pantes tiap pagi aku tanya:

“Hari ini ada telur?”

Mereka jawab dengan tatapan kosong versi unggas:

“Bu… kami masih remaja. Yang ada juga PR sekolah belum kelar.”


Merpati: Penghuni Apartemen Vertikal


Jumlah merpati 13 ekor aja sih.

Kalau kandang ayam itu kayak perumahan landed house, kandang merpati ini kayak apartemen sudut kota.

Mereka memanfaatkan ruang vertikal, jadi nggak ganggu ayam bawah dan nggak bikin konflik.

Tinggalnya rukun, estetik, dan penuh PDKT tiap hari.

Kadang aku turun ke kandang cuma buat lihat merpati ngasih kode ke pasangannya:

“Cik. Cik.”

(bahasa merpati: “ayuk jalan bareng.”)

Healing murah meriah.


Sistem Polikultur, Ribet tapi Waras Dikit

Aku pakai sistem polikultur unggas biar kandang katanya lebih efektif. 

Modelnya semi koloni dan postal, lengkap dengan umbaran terpisah khusus karantina unggas. 

Jadi tenang aja, gak bakal ada drama eek nyasar ke teras tetangga. Aman sentosa. hihihi

Ayam dipisah berdasarkan jenis, usia, karakter, dan produktivitas.

Kalkun? Satpam komplek.

Merpati di atas, jadi penghuni vertikal ala apartemen hemat.

Konon sistem ini bikin hidup lebih efisien dan santuy.

HAHA.

Enggak.

Niatnya mau slow living, tapi kenyataannya aku:

lari-lari ngejar ayam yang kabur kayak lagi audisi Ninja Warrior, ngomel tiap sore, tiap pagi ngitung ayam kayak bendahara organisasi yang takut audit.

Slow living dari mana, Bestieeeee.


Baca juga: Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya


Produksi Telur, Konsumsi Mandiri yang Bikin Bangga


Saat ini hasil ternakku masih untuk konsumsi pribadi. 

Aku melihara sendiri, nyiapin kandang sendiri, nyari pakan sendiri, motong sendiri, masak sendiri, makan sendiri.

Apakah ini self-love?

YES.

Apakah ini bentuk hidup mandiri ekstrem?

JUGA YES.

Tiap makan ayam hasil ternak sendiri rasanya kayak:

“Nih hasil kerja keras gue. No cheating. No outsourcing,

Proud level, naik satu bintang.


Drama Harian Singkat yang sebenarnya panjang


Pagi ngasih pakan.

Sore ngasih pakan lagi.

Ada yang kabur.

Ada yang nemplok bahu.

Ada yang pura-pura pingsan kalau aku marah.

Kalkun sok budiman.

Merpati sok romantis.

Aku ngomel terus.

Tapi entah kenapa…

aku menikmati semuanya.


Dari Ngomel Jadi Sayang, Dari Chaos Jadi Cerita

Pada akhirnya, ini bukan cuma soal ngurus unggas.

Ini soal hidup yang ternyata lebih lucu, lebih ramai, lebih hangat dari dugaanku.

Tiap hari ada aja drama.

Ayam remaja lari-lari, kalkun sok jagoan, merpati pacaran.

Tapi mereka bikin aku ngerasa dibutuhin.

Ngerasa hidup.

Ngerasa nggak sendiri.

Kadang aku marah.

Kadang aku ketawa sampe melorot ke tanah.

Kadang aku cuma duduk di depan kandang sambil mikir:

“Ternyata bahagia tuh sesederhana ngeliat ayam makan rakus.”

Dan walaupun aku ngomel tiap hari…

aku selalu kembali ke kandang itu juga.

Karena ini bukan cuma peternakan.

Ini rumah. Ini cerita. Ini hidupku versi paling jujur.***