Bukan Hanya Soal Pakan, Tapi Belajar Kejujuran dari Ayam
Dianti- Ada satu hal yang ternyata lebih jujur daripada manusia, yaitu ayam.
Serius.
Aku baru menyadarinya setelah ngobrol dengan seorang peternak beberapa waktu lalu.
Obrolannya sebenarnya biasa saja, seputar pakan, kandang, dan produktivitas ayam.
Sampai akhirnya ada kawan peternak berkata, “Teteh (panggilan orang terhadapku)…Ayam itu jujur”
Aku langsung memasang telinga.
Katanya, kalau kita memberikan pakan dengan pelit, ayam juga akan pelit memberikan telur.
Jangan terlalu terpaku pada teori di buku, katanya, karena kondisi ayam tetap harus dilihat langsung.
Kadang, kebutuhan makannya bisa berbeda dari angka yang tertulis sebagai patokan.
Aku manggut-manggut, tetapi dalam hati langsung berpikir,
“Waduh, ayam ternyata bisa passive-aggressive juga.”
Bedanya, manusia ngambek lewat silent treatment.
Ayam ngambeknya lewat produksi telur yang tiba-tiba bikin peternak ikut merenung.
Kalimat sederhana itu terus teringat sampai sekarang.
Bukan cuma karena masuk akal dalam konteks peternakan, tetapi juga karena ternyata ada pelajaran lain.
Ayam tidak bisa berpura-pura.
Kalau kondisinya tidak baik, biasanya ada respons yang bisa kita amati.
Kalau kebutuhan pemeliharaannya terpenuhi, tubuhnya juga akan memberikan respons.
Mereka tidak membaca teori, tetapi tubuhnya memberikan feedback yang cukup jujur.
Aku Pernah Cerita Sedikit tentang Elba
Kalau teman-teman sudah membaca artikelku sebelumnya, mungkin nama Elba tidak terdengar asing.
Aku pernah sedikit membahas Elba sebagai salah satu ayam yang kami pelihara.
Elba merupakan ayam kampung petelur yang memang kami pilih untuk mendukung kebutuhan telur di rumah.
Waktu pertama kali membahasnya, fokusku lebih banyak pada pengalaman memelihara ayam tersebut.
Sekarang aku ingin melihatnya dari sisi yang sedikit berbeda.
Bukan cuma soal telurnya.
Tetapi tentang apa yang justru bisa aku pelajari dari respons ayam tersebut.
Karena semakin lama beternak, aku semakin sadar bahwa ayam bukan sekadar “mesin telur”.
Kalau sesederhana itu, mungkin kita tinggal memasukkan pakan lalu menekan tombol PRINT.
Sayangnya, tombolnya tidak tersedia.
Dan ayam tidak pernah mau bekerja berdasarkan spreadsheet kita, wkwkwk.
Ketika Elba Mulai Pelit Telur
Ada masa ketika produktivitas Elba mengalami penurunan.
Bahkan sempat ada periode ketika telur tidak keluar seperti biasanya.
Sebagai manusia yang melihat hasil tidak sesuai harapan, pertanyaan pertama tentu saja:
“Kenapa?”
Kami kemudian mulai mengevaluasi berbagai hal dalam pemeliharaan.
Pakan kami perhatikan kembali.
Kondisi kandang juga kami lihat lagi.
Begitu pula lingkungan, kesehatan, dan faktor lain yang mungkin memengaruhi kondisi ayam.
Di sinilah aku mulai memahami perbedaan antara memberi makan dan memenuhi kebutuhan ayam.
Dua hal tersebut ternyata tidak selalu sama.
Ayam memang sudah makan, tetapi bukan berarti kebutuhan nutrisinya otomatis terpenuhi dengan baik.
Sama seperti manusia yang makan nasi, gorengan, lalu es teh manis.
Perut kenyang, tetapi tubuh belum tentu mendapatkan semua yang dibutuhkan.
Kalau teori manusia sesederhana “yang penting kenyang”, mungkin warteg sudah menjadi pusat kesehatan nasional.
Teori Itu Penting, Tapi Ayam Tetap Harus Dilihat
Perkataan kawan peternak itu membuatku berpikir tentang hubungan antara teori dan praktik.
Aku tetap percaya teori sangat penting dalam beternak.
Kita membutuhkan pengetahuan sebagai dasar untuk menentukan pakan, perawatan, dan manajemen pemeliharaan.
Tetapi teori seharusnya menjadi patokan awal, bukan satu-satunya jawaban.
Kondisi setiap ayam tidak selalu identik.
Jenis, umur, fase produksi, kesehatan, lingkungan, kualitas pakan, dan kondisi pemeliharaan bisa mempengaruhi kebutuhannya.
Karena itu, peternak tetap perlu mengamati kondisi ayam secara langsung.
Bagaimana aktivitasnya?
Bagaimana konsumsi pakannya?
Bagaimana kondisi tubuhnya?
Bagaimana perilakunya?
Bagaimana perubahan produktivitasnya?
Ayam memang tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Tapi mereka memberikan respons.
Tugas kita adalah belajar membaca respons itu.
Ayam Gak Komplain
Aku kadang membayangkan bagaimana kalau ayam bisa mengirim pesan.
Mungkin pagi-pagi sudah ada notifikasi:
“Teteh, izin menyampaikan evaluasi pakan minggu ini.”
Lalu disusul tiga belas pesan panjang dari ayam lain.
Ada yang menyampaikan pendapat.
Ada yang cuma membaca.
Ada yang mengirim stiker.
Ada juga yang tiba-tiba bertanya, “Besok pakannya jam berapa?”
Untung ayam tidak punya WhatsApp untuk komplain.
Karena kita sudah cukup pusing menghadapi berbagai grup WhatsApp, wkwkwkwk.
Tapi justru karena ayam tidak bisa menyampaikan keluhannya secara verbal, kita perlu lebih peka.
Perubahan perilaku dan kondisi fisiknya menjadi semacam bahasa.
Produktivitas juga bisa menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan.
Bukan berarti setiap telur yang berkurang otomatis menunjukkan satu penyebab tertentu.
Tetapi perubahan tersebut bisa menjadi alasan untuk melakukan evaluasi.
Elba Mengajarkanku Tentang Feedback
Setelah berbagai hal kami evaluasi dan perbaiki, kondisi Elba perlahan membaik.
Produktivitasnya kembali berjalan dan telur mulai muncul lagi.
Buat peternak rumahan, menemukan telur di kandang ternyata bisa menjadi sumber kebahagiaan yang cukup sederhana.
Kami senang melihat wadah telur mulai terisi.
Namun dari pengalaman tersebut, aku mulai melihat telur bukan hanya sebagai hasil produksi.
Telur juga bisa menjadi feedback.
Ada proses yang dilakukan.
Kemudian tubuh ayam memberikan respons.
Respons tersebut lalu membantu kita mengevaluasi apakah pemeliharaan yang dilakukan sudah berjalan dengan baik.
Jadi, bukan sekadar:
“Aku sudah kasih pakan, kok tidak bertelur?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Apa yang sedang coba disampaikan ayam lewat perubahan ini?”
Menurutku, cara berpikir tersebut jauh lebih menarik.
Kita tidak langsung menyalahkan ayam.
Kita mulai melihat kembali prosesnya.
Lucunya, Kita Sering Begitu Juga pada Diri Sendiri
Dari ayam, pikiranku malah melompat ke manusia.
Maklum, kalau sudah mulai refleksi, ayam pun bisa menyeret kita ke quarter-life crisis. hihihi
Kita sering sekali terpaku pada angka dan standar.
Umur sekian harus sudah mencapai ini.
Karier harus sudah sampai sana.
Penghasilan harus sekian.
Produktivitas harus tinggi.
Padahal manusia juga makhluk hidup.
Kondisi kita bisa berubah.
Energi bisa naik turun.
Kebutuhan bisa berbeda.
Tetapi ketika tubuh memberikan sinyal kelelahan, kita malah menambah target.
Ketika pikiran sudah penuh, kita membuka media sosial.
Ketika hidup terasa berantakan, kita menyalahkan diri sendiri.
Ayam tidak bertelur → kita evaluasi.
Manusia kelelahan → “Kurang disiplin kali.”
Lho?
Ayam saja mendapatkan evaluasi lebih manusiawi, yakaaaan?
Kejujuran Ayam Ada pada Responsnya
Semakin kupikirkan, semakin aku memahami kalimat sederhana dari kawan peternak tersebut.
Ayam disebut jujur bukan karena mereka punya filosofi kehidupan.
Mereka jujur karena tubuhnya memberikan respons terhadap kondisi yang dialaminya.
Mereka tidak bisa berpura-pura produktif.
Tidak bisa membuat laporan yang dipoles agar terlihat bagus.
Tidak bisa mengatakan, “Sebenarnya performaku tetap optimal secara kualitatif.”
Mereka hanya menunjukkan kondisi sebenarnya melalui berbagai respons.
Dan itu membuat peternak harus belajar mengamati.
Bukan hanya membaca buku, menghitung angka, dan mengejar target.
Tetapi juga melihat makhluk hidup yang ada di depannya.
Jangan Pelit pada Proses
Pada akhirnya, aku merasa kalimat kawan peternak tentang pakan sebenarnya punya makna yang lebih luas.
Jangan pelit pada proses.
Kalau ingin hasil yang baik, berikan perhatian yang sesuai.
Bukan berarti semuanya harus berlebihan.
Bukan pula berarti teori harus dibuang.
Justru kita perlu menggabungkan pengetahuan dengan pengamatan.
Teori memberikan dasar.
Pengalaman memberikan konteks.
Ayam memberikan feedback.
Dan peternak harus cukup rendah hati untuk mendengarkannya.
Mungkin itulah bagian paling menarik dari beternak.
Kita datang membawa teori.
Lalu ayam memberikan ujian praktik.
Tanpa kisi-kisi, juga remedial.
Dan nilai akhirnya bisa berupa telur. Betuuuul?
Jadi, sejak mendengar kalimat itu, aku melihat ayam sedikit berbeda.
Bukan hanya sebagai hewan ternak.
Mereka juga menjadi pengingat bahwa makhluk hidup tidak bisa selalu dipahami melalui angka.
Kadang kita perlu melihat langsung.
Mengamati lebih lama, kemudian mencari tahu apa yang berubah, lalu menyesuaikan cara kita merawatnya.
Karena mungkin benar.
Ayam itu jujur.
Kalau kita pelit memberi, jangan heran ketika hasilnya ikut pelit.
Dan kalau hasilnya tidak sesuai harapan, mungkin sebelum menyalahkan ayam, ada baiknya kita bertanya:
“Jangan-jangan ada yang perlu kami perbaiki?”
Karena pada akhirnya, ayam tidak sedang menghukum kita.
Mereka cuma sedang memberikan feedback.
Dan ternyata, feedback dari ayam lebih jujur daripada hasil survei kepuasan karyawan.
Bedanya, feedback ayam bisa dipanen.***




