Tampilkan postingan dengan label slow living. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label slow living. Tampilkan semua postingan

Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?

Minggu, Januari 11, 2026 7 Comments


dianti- Awalnya aku cuma pengen menjalani hidup ala-ala slow living yang bisa menikmati dan memaknai setiap momen dalam fase kehidupan.

Bukan slow living estetik yang cuma ditampilkan lewat konten sosial media.

Bukan yang tiap langkahnya harus difoto lalu dikasih caption “learning to slow down ”.

Tapi slow living yang fungsional dengan diawali bangun pagi tanpa tergesa, ngerjain pekerjaan domestik, ngasih pakan hewan-hewan peliharaan, tanpa target besar selain hari ini jangan meledak mental.

Slow living versiku sederhana, nggak produktif ala LinkedIn, nggak sibuk “healing tapi capek”.

Rutinitas harianku nggak jauh dari unggas, ikan, dan anabul. 

Diantara semua hewan peliharaan itu, ada merpati.

Merpati ini unik, nggak cari perhatian, nggak rewel, nggak sok lucu biar disayang.

Dia hadir tanpa perform berlebihan, dan jujur aja, itu mencurigakan, karena kebanyakan makhluk sekarang butuh validasi.

Refleksi Tingkah Tenang Merpati

Saat aku ngasih pakan dan terhipnotis melihat hewan-hewan peliharaan makan dengan sibuk, terbersit pertanyaan yang butuh pembuktian.

“Katanya merpati setia… tapi setia itu maksudnya apa?”

Karena di manusia, setia kadang artinya: asal nggak ketahuan.

Se-setia apa sih merpati sama pasangannya, sesuai gak sih dengan tingkahnya yang tenang itu?



Dua Pasang Merpati, Satu Kandang, Dua Jalan Hidup

Di kandangku awalnya ada dua pasang merpati.

Pasangan pertama hidupnya lurus-lurus aja.

Berpasangan, bertelur. anaknya tumbuh.

Nggak ada konflik, apalagi fase “kita evaluasi hubungan”.

Hidup yang sering dibilang membosankan, padahal sebenarnya stabil sesuatu yang sekarang malah mahal.

Pasangan kedua nggak seberuntung itu karena si betina mati.

Dan setelah itu, suasana kandang berubah.

Bukan karena jumlahnya berkurang, tapi karena satu relasi benar-benar selesai.

Si jantan ang kusebut si duda tampak hampa, tanpa cari pengganti, pelarian, apalagi ikut seminar self-love.

Si duda tetep hidup di kandang, cuma agak menarik diri.

Lebih sering sendirian, diam lama, dan nongkrong di kolong kandang ayam.

Kalau manusia, ini tipe yang datang ke acara tapi pulang duluan tanpa pamit dan besoknya bilang, “aku lagi capek aja kemarin.”

Bukan Mati, Tapi Kehilangan Minat Hidup

Secara fisik, si duda aman, masih makan dan bergerak walaupun minimal banget.

Tapi secara sosial, dia hilang dan itu yang bikin aku mulai khawatir.

Dalam dunia hewan sosial, menarik diri terlalu lama itu bukan introvert moment, tapi alaram tanda bahaya.

Beberapa penelitian etologi menunjukkan isolasi sosial pada burung berpasangan bisa meningkatkan hormon stres seperti kortikosteron yang berdampak ke imun dan daya hidup.

Dengan kata lain, sedih yang dipendam lama-lama itu bukan dewasa, tapi berbahaya.

Makanya ada keputusan untuk me-rescue si duda.

Bukan karena aku sok penyelamat, tapi karena aku tahu satu hal:

"Kesepian itu jarang membunuh secara dramatis."

Mirip burnout.

Relationship Romantic Ala Merpati

Merpati bukan cuma “burung yang setia” versi poster pernikahan.

Di tubuh kecilnya, ada sistem biologis yang serius banget soal pasangan.

Mereka hidup dengan pair bond jangka panjang.

Begitu memilih satu, otaknya menyimpan pasangan itu bukan sekadar teman kawin, tapi sebagai titik aman.

Sederhananya seperti tempat pulang yang stabil.

Hormon seperti oksitosin dan vasopresin bekerja diam-diam membangun ikatan itu.

Hal itu membantu menenangkan, menjaga ritme hidup tetap normal, makan teratur, aktif terbang, dan responsif terhadap lingkungan.

Lalu saat pasangannya hilang.

Bukan cuma kandangnya yang sepi, otaknya juga kehilangan satu pusat keseimbangan.

Yang terjadi bukan langsung tangisan dramatis, tapi perubahan pelan-pelan.

Seperti geraknya melambat, makannya berkurang, lebih sering diam, dan menjauh dari yang lain.

Di jurnal Animal Behaviour dan Behavioural Ecology, kondisi ini disebut grief-like behaviour.

Perilaku yang menyerupai duka.

Bukan karena mereka “paham konsep kematian” seperti manusia, tapi karena sistem saraf mereka kehilangan ikatan sosial primer.

Hormon stres naik, tubuh masuk mode siaga.

Yaaaa... Dunia terasa tidak lagi stabil seperti kemarin.

Jadi ketika kita melihat si duda diam di sudut kandang, murung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, itu bukan drama romantis.

Tapi pertanda tubuhnya sedang belajar hidup tanpa pasangan yang selama ini jadi pusat ritmenya.

Kalau manusia menyebutnya patah hati, di dunia biologi disebut adaptasi terhadap kehilangan.

Sama sakitnya, bedanya cuma satu: merpati gak upload story,“aku lagi berduka”.

Tapi tubuhnya bicara.


Baca juga: Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess


Hidup Harus Tetap Berjalan 

Setelah di-rescue secara terpisah dari kawanannya, si duda perlahan menunjukan perubahan positif, hingga akhirnya kembali ke kandang.

Si duda mulai responsif, ikut ritme merpati lain yang ada di kandang.

Bukan karena lupa akan duka atau cinta yang sudah sirna, cieelaaah uhuuuy.

Tapi karena si duda sadar kalau hidup nggak nunggu kesiapan emosional.

Dan akhirnya si duda punya pasangan baru.

Plot twist-nya, pasangan baru si duda itu anak dari pasangan merpati sebelah.

Definisi jodoh itu gak lari kemana kali yaaa.

Tapi di momen ini biasanya komentar netizen mulai agak galak.

“Katanya setia?”

“Cepet amat move-on

“Berarti dulu gak beneran cinta dong.”

Komentar yang sering terdengar yakin, padahal jarang mau mikir lebih dalam.

Setia Itu Bukan Membeku di Masa Lalu

Aku berani bilang merpati itu setia.

Tapi setia mereka bukan berarti berhenti hidup demi membuktikan duka.

Dalam biologi, membentuk pasangan baru setelah kehilangan bukan pengkhianatan, tapi mekanisme bertahan hidup.

Tubuh dan otak memang dirancang untuk pulih, bukan membeku di kesedihan.

Ikatan lama tidak dihapus.

Ia selesai dengan hormat, lalu sistem hidup bergerak lagi.

Kalau stres dibiarkan terlalu lama, tubuh justru rusak.

Maka re-bonding adalah cara alam menjaga kehidupan tetap berjalan.

Jadi setia versi merpati bukan tentang hancur demi cinta, tapi tentang menghormati cinta sambil tetap hidup.

Karena bertahan hidup juga bentuk kesetiaan, terutama pada diri sendiri.


Baca juga: Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya


Romantic Relationship versi Dewasa

Melihat kasus si duda yang melanjutkan hidup, aku mengartikan kalau merpati tidak mendefinisikan cinta lewat simbol, pengakuan publik, atau pembuktian berisik.

Mereka membangun ikatan pelan, menerima kehilangan dengan sunyi, dan lanjut hidup tanpa menyalahkan takdir.

Dan jujur aja, ini terasa lebih dewasa daripada banyak hubungan manusia yang rame di awal, tapi hilang pas diuji.

Makna Kesetian Merpati

"Kesetiaan bukan soal bertahan di satu titik, tapi soal jujur menjalani setiap fase kehidupan, termasuk fase kehilangan."

Merpati romantis, tapi mereka juga realistis.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu ribut soal cinta, kita perlu belajar dari makhluk yang setia tanpa pengumuman, sedih tanpa tontonan, hidup tanpa pembelaan.

Karena tidak semua yang diam itu kalah.

Sebagian hanya… sudah cukup dewasa untuk lanjut tanpa ribut.***

Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess

Minggu, Januari 04, 2026 18 Comments


dianti- Aku baru paham satu hal setelah cukup lama duduk bengong di depan kandang,

"anak ayam (piyik) itu bukan Daddy Princess,".

Mereka nggak pernah hidup dengan keyakinan,

“tenang, bapak gue ayam jantan, hidup gue aman.”

Yang ada justru vibe sejak hari pertama menetas, survive now, complain later.

Begitu piyik keluar dari telur dan masih basah, bulunya nempel, matanya setengah loading, hingga kakinya goyang kayak abis turun dari odong-odong, yang pertama kali menyambut dunia itu bukan bapaknya.

Yang datang duluan selalu ibu ayam.

Tanpa aba-aba.

Tanpa rapat keluarga.

Langsung mode perang.

Sayap dibuka, bulu ngembang, badan merendah. 

Tatapannya bukan tatapan penuh cinta ala iklan susu, tapi tatapan yang bilang:

“Siapa ganggu anak gue, mati lo.”

Di situ aku biasanya refleks nengok ke samping, nyari ayam jantan. 

Dan hampir selalu ketemu… lagi makan.

Atau jalan santai. Atau berdiri sok gagah seolah dia CEO kandang.


Naluri Parenting di Keluarga Ayam

Ayam jantan itu menarik, secara tampilan, dia paling niat. 

Badannya tegap, kokoknya keras, jalannya penuh percaya diri. 

Kalau ayam jantan punya LinkedIn, bio-nya pasti "Protector, Alpha Male".

Tapi begitu anaknya lahir, perannya mendadak menguap.

Bukan karena drama dan bukan karena konflik rumah tangga.

Cuma… yaudah.

Dia ada secara fisik, masih nongkrong di kandang. 

Tapi secara fungsi? Kosong, kayak kursi rapat yang selalu disediain tapi nggak pernah dipakai.

Dan ini bukan sekadar asumsi emosional.

Dalam ilmu perilaku unggas, ayam jantan memang tidak dibekali naluri pengasuhan.

Hormon prolaktin yang bikin induk betina rela duduk berjam-jam di sarang dan pasang badan demi anak, nggak bekerja signifikan di tubuh ayam jantan.

Singkatnya alam memang nggak ngasih ayam jantan "software parenting".

Masalahnya, buat piyik, hasil akhirnya tetap sama, "ayahnya ada, tapi nggak berperan".

Yang bikin aku ketawa pahit adalah kontrasnya. 

Karena di sisi lain, ayam jantan itu justru sangat aktif di bidang lain.

Bukan kerja.

Bukan ngasuh.

Tapi kawin.

Literatur ilmiah mencatat, ayam jantan yang sehat bisa melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari. 

Stamina oke, napas panjang, energi penuh. 

Kalau urusan reproduksi, mereka bukan tipe “capek”.

Kalau urusan bikin telur?

GASPOL.

Tapi begitu telur keluar dari tubuh betina, ayam jantan mendadak kayak karyawan yang bilang:

“Wah ini di luar jobdesk aku sih.”

Prolaktin? Nggak dapet.

Naluri ngasuh? Nggak keinstal.

Empati? Error 404.

Sementara induk betina?

Masuk mode kerja lembur tanpa kontrak.

Aku sering lihat sendiri, induk ayam ngumpulin anak satu per satu, manggil dengan suara khas, ngajarin makan, nutupin dengan sayap waktu hujan atau dingin.

Kalau ada bayangan asing lewat, entah burung lain, manusia, atau suara keras, ibu ayam langsung berdiri paling depan.


Baca juga: Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Pakan Malah kena Pencerahan Spiritual


Dan ini bagian paling mengecewakan tapi nyata:

ibu ayam juga sering harus ngelindungin anaknya dari bapaknya sendiri.

Iya, dari ayam jantan.

Dalam studi etologi unggas, ayam jantan kadang menyerang anak ayam karena dianggap gangguan atau pesaing pakan.

Makanya di banyak sistem ternak, ayam jantan memang sengaja dipisah saat fase piyik.

Jadi induk betina itu bukan cuma single mom.

Dia juga bodyguard, satpam, security system sendirian.


Treatment Daddy Princess atau Mama Warrior 

Di titik melihat perilaku sosial unggas,aku mulai mikir:

kok kayak familiar ya?

Fatherless itu sering disalahpahami sebagai “nggak ada ayah”. 

Padahal yang sering kejadian justru sebaliknya. 

Ayahnya ada, tapi fungsinya nihil. 

Hadir, tapi nggak ikut menanggung.

Kayak ayam jantan.

Kokok iya.

Peran? Nanti dulu.

Hadir secara fisik.

Absen secara fungsi.

NPC with ego.


Dan anak ayam tumbuh di tengah sistem itu. 

Tanpa privilege, tanpa janji, tanpa kalimat, “Tenang, ada bapak.”

Yang ada cuma ibu yang nggak pernah absen.

Makanya jangan heran kalau piyik kelihatan tangguh. 

Bukan karena mereka istimewa, tapi karena dari hari pertama hidup, mereka dibesarkan di dunia yang keras tapi jujur.

Ibu ayam nggak ngajarin teori hidup.

Dia ngajarin dengan badan.

Dengan sayap.

Dengan insting.

Sekarang aku ngerti kenapa aku selalu kesel kalau ada yang bilang,

“Ah, anak ayam mah gampang.”

Gampang dari mana, best?

Mereka lahir tanpa Daddy Princess fasilitas.

Tanpa jaring pengaman emosional dari bapak. 

Yang ada cuma ibu yang kerja sunyi, tanpa kredit, tanpa tepuk tangan, tanpa kokok pagi-pagi.

Ayam jantan boleh jadi yang paling berisik di kandang. 

Tapi yang bikin hidup jalan? Bukan dia.

Dan mungkin, di situlah alam lebih jujur dari manusia. 

Dia nggak ceramah, nggak bikin seminar parenting, tapi nunjukin realita apa adanya.

Siapa yang kerja, dia yang bertahan. 

Siapa yang cuma hadir, ya jadi latar.

Dan setelah semua drama kandang ini, teori unggas, dan realita pedes yang kelihatan receh tapi relate, aku sampai di satu kesimpulan paling sederhana.

"Piyik itu hidup dari didikan Mama Warrior. Bukan dari manja-manjaan sebagai Daddy Princess,"

Mereka tumbuh bukan karena bapak yang gagah, tapi karena ibu yang kerja terus tanpa perlu diumumin.

Ayam jantan boleh paling ribut tiap pagi,

boleh sok jadi simbol kekuasaan kandang,

boleh tampil meyakinkan dari kejauhan.

Tapi kalau urusan bikin hidup tetap jalan, yang bangun duluan, yang pasang badan, yang nggak pernah izin cuti… tetap ibu 

Dan mungkin itu sebabnya piyik kelihatan kuat-kuat.

Bukan karena hidup mereka enak.

Tapi karena sejak menetas mereka sudah ngerti satu pelajaran penting.

"nggak semua yang teriak 'aku pelindung' itu beneran ngelindungin".

Sisanya?

Cuma noise.***

Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya

Minggu, Desember 28, 2025 12 Comments


dianti- Ayam jantan itu adalah potret paling jujur dari fenomena fatherless.

Dan lucunya atau tragisnya, ini relevan banget sama kondisi sosial Indonesia hari ini.

Sosoknya ada, tapi perannya gak ada 

Ayam jantan kalo disuruh ngurus anak? Error 404: parental care not found.

Saking tingginya angka fatherless di negara kita, pemerintah sampai bikin kebijakan ambil rapor anak sama ayah.

Bayangin aja betapa lelahnya sistem, sampai harus bilang:

“Pak… minimal tanda tangan ya,"


Kokok tiap Pagi, tapi Tanggung Jawab Skip

Setiap pagi ayam jantan di kandangku berkokok kayak alarm default HP Android, nggak bisa dimatiin, nggak bisa di-snooze, dan selalu paling berisik padahal kontribusinya belum tentu paling besar.

Dari luar kandang, si ayam jantan kelihatan sibuk banget.

Kayak orang yang update story “kerja kerja kerja” tapi kerjaannya cuma ngopi.

Begitu ayam betina bertelur, realita langsung kebuka.

Betina: bertelur, mengerami, ngasuh, pasang badan

Jantan: “gue awasin dari jauh aja ya”

Aku sampe gemes sekaligus bertanya-tanya:

“Ini sistem parenting-nya siapa yang nyusun?”


Fatherless, Tapi Versi Berkokok

Dalam ilmu perilaku unggas dan fisiologi reproduksi ayam (avian reproductive behavior), ayam jantan memang tercatat sangat aktif secara seksual. 

Beberapa studi di bidang poultry science menjelaskan bahwa ayam jantan mampu melakukan perkawinan berkali-kali dalam sehari, tergantung ras, umur, kondisi tubuh, dan ketersediaan betina.

Penelitian klasik dalam jurnal Applied Poultry Research dan Poultry Science menyebutkan bahwa seekor ayam jantan sehat dapat melakukan 5–10 kali kopulasi per hari, bahkan lebih pada sistem pemeliharaan intensif. 

Secara fisiologis, hormon testosteron pada ayam jantan mendukung perilaku kawin yang agresif dan berulang.

Tapiii… di sinilah plot twist biologisnya muncul.

Begitu telur keluar dari tubuh ayam betina, peran ayam jantan secara fungsional langsung berhenti.

 Dalam literatur etologi unggas, sistem pengasuhan ayam dikategorikan sebagai maternal-only parental care

Artinya, seluruh tanggung jawab pasca-reproduksi, mulai dari mengerami telur, menjaga piyik, menghangatkan tubuh anak, hingga mengajarkan perilaku makan dibebankan hampir sepenuhnya kepada induk betina.

Artinya ayam jantan tidak ikut mengerami telur, tidak memberi makan piyik, dan tidak memiliki respons hormonal untuk bonding dengan anak

Bahkan, beberapa penelitian observasional (misalnya pada Gallus gallus domesticus) mencatat bahwa ayam jantan dapat bersikap agresif terhadap anak ayam, terutama jika anak tersebut dianggap mengganggu hierarki atau wilayahnya. 

Dalam bahasa ilmiah: low paternal investment. Dalam bahasa kandang: “bukan urusan gue.”



Sementara itu, ayam betina mengalami lonjakan hormon prolaktin yang memicu naluri mengeram dan mengasuh. 

Dia kerja lembur biologis tanpa cuti.

Ayam jantan? Tetap makan, tetap eksis, tetap mondar-mandir di kandang seolah bilang:

“Aku hadir kok… secara visual.”

Dan disinilah konsep fatherless yang sering dibahas dalam ilmu sosial jadi relevan banget. 

Fatherless itu bukan selalu soal ayah yang benar-benar tidak ada, tapi ayah yang hadir secara fisik namun absen secara fungsi.

Ayahnya tercatat.
Ayahnya terlihat.
Ayahnya hidup di sistem.

Tapi dalam praktik pengasuhan?
Dia cuma jadi background NPC, ada di layar, tapi nggak bisa diajak interaksi.

Dan ironisnya, ini bukan cuma fenomena sosial manusia modern.
Ini pola biologis yang sudah lama terjadi di kandang ayam.


Negara Sampai Capek, Ayam Betina Apalagi


Kadang aku mikir, kebijakan publik yang mendorong keterlibatan ayah itu lahir karena negara udah capek.

Capek lihat ibu kerja sendiri, guru koordinasi sama wali murid yang sama terus.

Hingga anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang beneran hadir

Dan ayam betina? Dia capek dari zaman fosil bestiiii tolooooong!

Ayam betina nggak punya privilege “aku lagi fokus diri dulu”.

Begitu telur keluar, hidup langsung berubah jadi:

“oke, sekarang gue single parent by system.”

Dan lucunya lagi, dalam beberapa kasus, ayam jantan malah bisa nyerang anak ayam sendiri kalau merasa teritorinya keganggu.

Aku sampai mikir:

“Ini ayam jantan kok vibes-nya kayak… ah sudahlah.”


Ilusi Kepemimpinan: Jengger Besar, Peran Tipis

Ayam jantan sering disebut pemimpin kandang. Tapi pemimpin versi apa?

Kalau kepemimpinan itu identik dengan banyak suara, tampil dominan, jarang kerja domestik.

Maka iya, ayam jantan menang.

Tapi kalau kepemimpinan itu adalah ambil beban, ngasuh generasi, turun tangan saat chaos.

Maaf ya… ayam betina yang MVP.

Ayam betina nggak berkokok, tapi tanpa dia, populasi bubar jalan.


Merpati Datang, Patriarki Gak Berlaku

Terus aku nengok ke kandang merpati dan di situ aku cuma bisa bilang:

“Oh… pantes.”

Merpati itu setia, berpasangan, dan dua-duanya ikut mengerami telur.

Plot twist-nya? Jantannya juga nyusuin anaknya.

Iya, pakai susu tembolok (crop milk), fenomena yang dibahas serius di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, terutama pada keluarga Columbidae.

Di titik ini patriarki di keluarga merpati auto gak berlaku.

Pantes aja merpati lebih cocok jadi simbol pernikahan daripada ayam.

Bukan cuma karena setia, tapi karena kerja bareng, bukan cuci tangan bareng.


Ayam Jantan, Negara, dan Kesadaran yang Telat

Aku nggak benci ayam jantan, ini bukan artikel cancel culture unggas.

Ayam jantan itu produk sistem.

Sistem yang lama menganggap suara lebih penting dari kontribusi.

Simbol lebih penting dari kerja nyata.

Dan mungkin, kebijakan publik hari ini adalah tanda kita lagi belajar, telat, kikuk, tapi mulai sadar.

Bahwa hadir itu bukan sekadar ada badan.

Hadir itu ada peran.


Kandang Kecil, Realita Sosial

Setiap sore, waktu aku ngasih pakan, aku suka mikir:

“kok dari unggas, aku belajar isu sosial?”

Ayam jantan tetap berkokok.

Ayam betina tetap kerja.

Merpati tetap kolaboratif.

Dan kita? Masih debat di soal parenting, patriarki, feminisme, dan masih banyak lagi di berbagai sosial media.

Mungkin suatu hari, kita nggak perlu lagi kebijakan yang maksa kehadiran.

Karena semua udah sadar, kalo jadi ayah itu bukan status, tapi kerjaan.

Sampai hari itu datang, aku akan tetap berdiri di depan kandang sambil mengamati perilaku sosial hewan peliharaan dan mencari arti kehidupan.

"Alam sudah memberi contoh, unggas berevolusi dalam aspek sosial, kamu mau niru yang mana?"***



Merpati vs Patriarki, Cuma Mau Ngasih Makan Tapi Malah Kena Pencerahan Spiritual

Sabtu, Desember 13, 2025 26 Comments


dianti- Aku ke kandang dan miara beberapa jenis unggas itu niatnya sederhana banget.

Serius! Cuma mau ngasih makan unggas, ngecek air, terus balik ke rumah sambil ngerasa “wah, aku produktif ya.”

Tapi entah sejak kapan, tiap dari kandang aku pulang bawa:

- pikiran berat

- refleksi hidup

- dan perasaan aneh kayak baru ikut retret tanpa daftar

Semua gara-gara satu spesies unggas penghuni ruang vertikal di kandangku, yaitu MERPATI.


Patriarki di Dunia Unggas, Ayam Jantan Si Alpha Male yang Berisik

Kita mulai dari ayam jantan, ikon patriarki kandang polikultur unggas.

Kalo di analogikan sama sikap manusia, ayam jantan itu tipe orang yang:

- masuk ruangan paling berisik

- duduk paling depan

- tapi pas ditanya kontribusi, jawabannya muter-muter

Setiap pagi dia berkokok keras kayak “BANGUN SEMUA! AKU PEMIMPIN DI SINI!”

Padahal yang bangun cuma sebagian orang, dan itu pun bangun bukan karena terinspirasi, tapi karena kaget.

Naaah, sikap patriarki si ayam jantan mulai terlihat ketika betinanya bertelur dan mengeram.

Ayam jantan kayak langsung hilang dari radar.

Kontribusinya tinggal satu, yaitu keberadaan simbolik.

Yaaaaa, semacam pemeran figuran yang cuma numpang lewat aja, tapi paling koar-koar kalo dia udah main film, wkwkwk.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Karakter Merpati Kayaknya Salah Genre


Setelah sekian lama mengamati perilaku keluarga ayam, tiba-tiba datanglah penghuni baru di kandang berupa keluarga merpati.

Merpati ini nggak ribut, nggak sok jago, dan nggak flexing testosteron.

Dia tipe yang kalau di tongkrongan, nggak banyak ngomong, tapi pas pesen makanan “gue duluan aja ya.”

Aku mulai ngerasa kok merpati ini genre-nya agak laen ketika si betina mulai ngeram, aku refleks mikir “Oke, hitung mundur. Tiga… dua… jantannya kabur...”

EH NGGAK Bestiiiiie.

Hari pertama masih ada.

Hari kedua dia naik ke sarang.

Aku berhenti jalan.

Beneran berhenti "Lah… kamu nggak salah genre nih? kamu kan sama-sama unggas,”


Merpati Pakai Sistem Shift, Bukan Sistem ‘Aku kan Kepala’

Hari berikutnya aku perhatiin lagi pola mereka setelah memiliki telur di sarangnya.

Ternyata mereka gantian! iya... si jantan dan si betina gantian merawat dan menjaga telur di sarangnya.

Yang satu ngeram, yang satu makan.

Yang satu capek, yang satu ganti.

Nggak ada drama.

Nggak ada sindiran pasif-agresif.

Nggak ada “aku capek tapi nggak enakan ngomong.”

Ini burung apa tim badminton ganda campuran?


Anaknya Menetas, Patriarki Auto Logout


Pas telurnya menetas, alias anaknya lahir di sarang mereka.

Awalnya aku nebak gini: biasanya ini fase jantan menghilang sambil bilang “aku dukung dari jauh,”

Tapi si merpati jantan malah nyuapin anaknya.

Aku kaget dong, "kok unggas satu ini agak beda ya?"

Karena fenomena aneh itu, aku akhirnya kepo dan sok rajin baca literatur (demi burung, aku rela jadi setengah akademisi, hahaha).

Secara ilmiah, merpati memang nggak menyusui kayak mamalia.

Tapi mereka menghasilkan susu tembolok (crop milk), yaitu cairan kental berwarna pucat yang diproduksi oleh lapisan tembolok induk dan jadi makanan utama piyik (anakan) di hari-hari awal kehidupannya.

Dan ini bukan mitos kandang.

Beberapa literatur unggas menjelaskan bahwa susu tembolok diproduksi oleh kedua induk, jantan dan betina, dipicu oleh hormon prolaktin yang meningkat menjelang dan sesudah telur menetas.

Artinya, secara biologis, merpati jantan memang “didesain” buat ikut ngasuh, bukan sekadar figuran.

Di titik ini, patriarki di kepalaku langsung nge-lag, kayak laptop tua disuruh buka banyak aplikasi sekaligus.

Burung merpati secara hormon dan sistem tubuh disiapkan untuk kolaborasi.

Jadi gak bakal ada lagi alasan klasik “aku nggak bisa, ini bukan tugasku”

Akhirnya aku cuma bisa bengong sambil mikir “Oh. Jadi ini bukan soal bisa atau nggak bisa. Tapi soal mau atau nggak mau,”


(fenomena susu tembolok ini banyak dibahas di literatur ornitologi dan fisiologi unggas, salah satunya pada studi tentang parental care pada Columbidae).


Baca juga: Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas


Merpati Tidak Melawan Patriarki, Mereka Bikin Patriarki Ngerasa Aneh Sendiri

Yang paling absurd, merpati nggak pernah niat jadi simbol perlawanan patriarki.

Karena para merpati nggak demo, nggak bikin slogan, nggak bikin podcast 2 jam.

Mereka cuma hidup normal, tapi nunjukin cara kerjasama dalam membangun keluarga cemara, kalo mereka bisa nyanyi kayaknya bakal bawa lagu ini "selamat pagi emak... semalat pagi abah... (sambil goyang riang)," hihihi.


Aku Pulang dari Kandang, Kok Rasanya Kayak Abis Diceramahi Burung

Sekarang tiap ke kandang, aku suka ketawa sendiri, tapi gak jarang juga pulang dari kandang langsung merenung. 

Kadang juga sambil ngomel “burung aja bisa bagi tugas, manusia ribut soal nyapu.”

Merpati nggak pernah bilang "Ini tugas kamu,"

Mereka justru membuktikan dengan tindakan “ini hidup kita.”

Selesai! Nggak pake debat.


Oh… Pantesan Merpati Jadi Simbol Pernikahan


Dan di sinilah aku kena pencerahan terakhir.

Aku tiba-tiba mikir “Oh… pantesan ya.”

Pantesan di pernikahan dilepas merpati.

Pantesan merpati jadi simbol cinta, kesetiaan, dan kebersamaan.

Bukan karena mereka romantis doang, tapi karena mereka kerja bareng.

Bukan karena mereka lucu, tapi karena mereka nggak ninggalin pas repot.

Jadi ternyata, simbol pernikahan itu bukan asal estetik.

Filosofinya mungkin sesederhana ini:
"kalau mau hidup bareng, ya ngeram bareng, capek bareng, dan ngurus anak bareng,"

Dan kalau burung aja bisa, masa manusia masih debat, siapa yang harus lebih lelah?

Kadang, jawaban hidup itu bukan di buku tebal, tapi di kandang kecil, yang dianggap kotor, tapi isinya waras.***

Awalnya Cuma Mau Slow Living, Kok Malah Jadi Ngos-ngosan Karena Unggas

Minggu, Desember 07, 2025 28 Comments

dianti - Awalnya tuh cuma mau slow living, best.

Pengen hidup santai, dekat alam, pelihara unggas sedikit-sedikit… lalu tiap pagi minum teh sambil liatin ayam berkeliaran.

HAHAHAHA

Nyatanya?

Sekarang jumlah unggas di rumahku sudah cukup buat bikin rapat RT khusus hewan.

Total 68 ekor.

Iya, ENAM PULUH DELAPAN.

Bukan slow living, tapi full team building unggas.

Tapi ya gimana… walaupun chaotic, heboh, dan kadang bikin aku pengen pura-pura pingsan, semua itu tetap lucu dan bikin hidup makin rame.

Mari kita mulai dari awal kehebohan perjalanan manis ini.


Kalkun Si Bodyguard dengan Loyalitas Tinggi

Aku punya 9 ekor kalkun (5 dewasa + 4 remaja).

Kalau kamu belum pernah ketemu kalkun langsung, bayangin ayam… tapi versi lebih gede, lebih berotot, lebih berwibawa, dan kalau jalan ada sound effect: “tuk tuk tuk tuk”.

Kalkun-kalkun ini sekarang jadi pasukan keamanan kandang.

Beneran, kalau ada kucing lewat, mereka langsung pasang badan.

Ayam-ayam kecil sampai ngumpet di belakang mereka kayak pegawai magang di belakang manager.

Dan yang paling bikin senyum, kalkun itu makan sampai ke rumput-rumputnya juga habis.

Jadi selain bodyguard, mereka ini sekalian lawn mower hidup.

Lebih hemat listrik, lebih lucu, lebih drama.


Baca juga: Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget


Ayam: dari Lokal Sampai ABG KUB-Elba

Karena hidupku udah chaotic, aku tambahin chaos lain berupa AYAM berbagai versi:

4 ayam kampung lokal, ibu-ibu kompleks, kalem tapi selalu benar.

1 ayam kampung Vietnam, aura petarung, tapi halus budi pekerti.

22 ayam KUB si mesin produksi masa depan (kalau mereka berhenti jadi ABG).

8 ayam Bangkok pasukan elite, aura garang, tapi kalau aku datang bawa pakan langsung mendadak manis.

9 ayam Elba, estetika unggas, warna cantik, vibe artis pendatang baru.

2 ayam Sentul, yang ini calon presiden unggas, genetiknya premium.

Nah, sekarang kita bahas dua spesies paling bikin ketawa: KUB & Elba.

Sampai sekarang belum bertelur sama sekali.

Bukan karena bandel.

BUKAN.

Tapi karena…

Mereka masih ABG.

Tubuhnya gede, nafsu makan tokcer, larinya kayak dikejar mantan.

Tapi sistem reproduksi masih loading.

Pantes tiap pagi aku tanya:

“Hari ini ada telur?”

Mereka jawab dengan tatapan kosong versi unggas:

“Bu… kami masih remaja. Yang ada juga PR sekolah belum kelar.”


Merpati: Penghuni Apartemen Vertikal


Jumlah merpati 13 ekor aja sih.

Kalau kandang ayam itu kayak perumahan landed house, kandang merpati ini kayak apartemen sudut kota.

Mereka memanfaatkan ruang vertikal, jadi nggak ganggu ayam bawah dan nggak bikin konflik.

Tinggalnya rukun, estetik, dan penuh PDKT tiap hari.

Kadang aku turun ke kandang cuma buat lihat merpati ngasih kode ke pasangannya:

“Cik. Cik.”

(bahasa merpati: “ayuk jalan bareng.”)

Healing murah meriah.


Sistem Polikultur, Ribet tapi Waras Dikit

Aku pakai sistem polikultur unggas biar kandang katanya lebih efektif. 

Modelnya semi koloni dan postal, lengkap dengan umbaran terpisah khusus karantina unggas. 

Jadi tenang aja, gak bakal ada drama eek nyasar ke teras tetangga. Aman sentosa. hihihi

Ayam dipisah berdasarkan jenis, usia, karakter, dan produktivitas.

Kalkun? Satpam komplek.

Merpati di atas, jadi penghuni vertikal ala apartemen hemat.

Konon sistem ini bikin hidup lebih efisien dan santuy.

HAHA.

Enggak.

Niatnya mau slow living, tapi kenyataannya aku:

lari-lari ngejar ayam yang kabur kayak lagi audisi Ninja Warrior, ngomel tiap sore, tiap pagi ngitung ayam kayak bendahara organisasi yang takut audit.

Slow living dari mana, Bestieeeee.


Baca juga: Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya


Produksi Telur, Konsumsi Mandiri yang Bikin Bangga


Saat ini hasil ternakku masih untuk konsumsi pribadi. 

Aku melihara sendiri, nyiapin kandang sendiri, nyari pakan sendiri, motong sendiri, masak sendiri, makan sendiri.

Apakah ini self-love?

YES.

Apakah ini bentuk hidup mandiri ekstrem?

JUGA YES.

Tiap makan ayam hasil ternak sendiri rasanya kayak:

“Nih hasil kerja keras gue. No cheating. No outsourcing,

Proud level, naik satu bintang.


Drama Harian Singkat yang sebenarnya panjang


Pagi ngasih pakan.

Sore ngasih pakan lagi.

Ada yang kabur.

Ada yang nemplok bahu.

Ada yang pura-pura pingsan kalau aku marah.

Kalkun sok budiman.

Merpati sok romantis.

Aku ngomel terus.

Tapi entah kenapa…

aku menikmati semuanya.


Dari Ngomel Jadi Sayang, Dari Chaos Jadi Cerita

Pada akhirnya, ini bukan cuma soal ngurus unggas.

Ini soal hidup yang ternyata lebih lucu, lebih ramai, lebih hangat dari dugaanku.

Tiap hari ada aja drama.

Ayam remaja lari-lari, kalkun sok jagoan, merpati pacaran.

Tapi mereka bikin aku ngerasa dibutuhin.

Ngerasa hidup.

Ngerasa nggak sendiri.

Kadang aku marah.

Kadang aku ketawa sampe melorot ke tanah.

Kadang aku cuma duduk di depan kandang sambil mikir:

“Ternyata bahagia tuh sesederhana ngeliat ayam makan rakus.”

Dan walaupun aku ngomel tiap hari…

aku selalu kembali ke kandang itu juga.

Karena ini bukan cuma peternakan.

Ini rumah. Ini cerita. Ini hidupku versi paling jujur.***

Rooftop Garden Mode Survival di Musim Hujan, Terong Jagoannya

Minggu, November 30, 2025 15 Comments


dianti— Ada satu pertanyaan besar yang selalu muncul setiap kali masuk musim hujan.

“Aku ini petani rooftop atau pemain sinetron Indosiar yang tiap sore dijadwalkan meratapi hujan dengan adegan sedih?”

Awalnya niatku mulia, mau merawat kebun biar tetap produktif meski cuaca galau. 

Tapi realitanya?

Musim hujan tuh kayak manusia toxic yang datang tanpa permisi, pergi sesuka hati, dan ninggalin luka menyakitkan.


Mulai Berkebun, Tapi Cuacanya Kayak Lagi Prank

Sebagai pekerja rumahan yang sibuk nyambi jadi tukang spall spill, chef dadakan, dan tetangga yang jarang bersosialisasi, waktu berkebun tuh paling sering cuma sempet sore hari.

Masalahnya…

Setiap aku mau naik ke rooftop jam 4 atau 5 sore, H U J A N.

Bukan gerimis romantis ya besttt… tapi hujan deras tipe “kamu jangan berharap apa-apa dari hidup ini”.

Jadilah setiap sore aku berdiri di depan pintu rooftop sambil melongo, lihat air turun kayak efek slow-mo MV mellow.

“Yaudah deh tanaman… relakan saja nasibmu.”


POC: Dituang Dengan Cinta, Tersiram Ulang Oleh Semesta

Karena masih punya jiwa zero-waste, aku tetep rutin bikin POC dari dapur.

Setiap mau kasih POC, aku selalu semangat membara. 



Bawa wadah, naik ke rooftop, siap menyiram dengan kasih sayang.

Tapi ya itu dia…

Baru nyiram sebentar, langsung hujan.

POC yang kubuat penuh cinta langsung dilarutkan hujan seolah berkata:

“Udah ya, kamu gak usah capek-capek… biar aku yang ambil alih.” –hujan, probably.

Capek banget sumpah! Rasanya kayak ngisi bensin full tank tapi tumpah semua di jalan.


Melon Mati, Kangkung Kutilang, Jagung Kerdil


Mari kita mulai dengan yang paling tragis dulu…

1. Melon Gugur

Si melon kesayangan mati karena terlalu sering kehujanan.

Daunnya lepek, batangnya letoy, apalagi buah-buah kecilnya membusuk, overall vibes-nya… “let me rest”

Aku cuma bisa mengangguk pasrah sambil bilang:

“Best, kamu mati bukan karena gagal… tapi karena cuaca jahat.”

2. Kangkung Kutilang

Kangkungku tumbuh sih tumbuh… tapi ciamik banget alias kutilang: kurus, tinggi, langsing.

Kayak kangkung yang lagi diet ekstrem buat photoshoot cekrek cekrek, wkwkwk

Aku lihat batangnya yang kurus, aku cuma bisa tahan ketawa:

“Ini kangkung atau model runway Jakarta Fashion Week?”

3. Jagung Mini Kurang Gizi

Jagungku sempat berbuah, tapi kecil banget.

Bukan baby corn aesthetic, tapi lebih ke “aku malas tumbuh di cuaca begini.”

Kayak anak sekolah yang dipaksa upacara pas hujan rintik-rintik: hidup ada, tapi semangat nihil.

Gulma Tumbuh Subur

Sementara tanaman utamaku drama semua, gulma justru paling survive.

Daunnya hijau.

Tumbuh cepat.

Pede banget.

Seolah berkata:

“Tenang… kalau tanamanmu mati, aku tetap ada kok.”

Dari semua tanaman, gulma justru yang paling setia. Ironis banget!


Musim Hujan & Risiko Kesamber Petir: Aku Nggak Se-Strong Itu

Pernah kepikiran untuk tetap naik ke rooftop sambil hujan-hujanan?

Penah.

Tapi setelah mikir:

“Aku mau berkebun atau mau viral di berita?”

Akhirnya aku memilih hidup lebih lama untuk merawat tanaman lain.

Karena ya… siapa juga yang mau berkebun sambil bawa POC, tangan basah, rooftop open air, dan langit kilat-kilat?

Nope.

Aku masih mau hidup bahagia well...

Plot Twist Bahagia: Terong Survive Seolah Kebal Segala Cuaca

Di antara semua tanaman yang menyerah seperti aku tiap lihat saldo e-wallet, ternyata terong adalah MVP musim ini.

Bukan cuma hidup, tapi tumbuh sehat dan berbuah.

Ada terong ungu bulat dan terong hijau bulat, dua-duanya tumbuh gagah tanpa drama.

Aku sampai bengong:

“Serius kalian kuat? Kalian tumbuh di dunia yang sama dengan melonku tadi?”

Terong ini beneran strong independent vegetable.


Akhir Musim, Akhir Drama: Aku Tetap Bertahan

Setelah semua tragedi itu, aku sadar satu hal.

Berkebun di musim hujan itu bukan tentang hasil… tapi tentang mental.

Belajar pasrah, belajar ikhlas, belajar terima kenyataan bahwa tanaman gak selalu sesuai rencana.

Tapi juga belajar senang, karena ada satu-dua tanaman (kayak terong) yang bikin kamu merasa semua usaha gak sia-sia.

Makanya, kalau mau mulai urban farming:

Siap-siap kecewa.

Siap-siap ketawa sendiri.

Siap-siap nyalahin hujan tiap sore.

Tapi juga siap-siap bahagia waktu ada satu tanaman survive kayak pahlawan.

Karena pada akhirnya…

“Kebun mungkin tak terawat, tapi perasaanku minimal tetap sehat,”

Eaaa~***



Tanam Melon di Rooftop: Urban Farming Zero Waste yang Drama Banget

Minggu, November 16, 2025 26 Comments


dianti- Awalnya tuh simpel banget, aku cuma pengen ikut tren urban farming yang lagi rame di TikTok, niatnya sih healing tapi malah overthinking.

Katanya, kalau nanam tanaman, hidup jadi tenang, udara bersih, hati adem.

Realitanya? Yang adem cuma AC, bestii

Setiap kali liat orang di TikTok panen kangkung, tomat, sawi dari pot bekas, ekspresinya tuh kayak “hidupku damai banget.”

Aku yang nonton ikut termotivasi.

Mikir, “Ah gampang! Tinggal siram, kasih pupuk, panen. Gitu doang kan?”

Hahaha. Salah besar aku bestii.

Sekarang aku sadar, ternyata berkebun itu bukan cuma soal nyiram dan pupuk.

Tapi juga soal mental support karena tanaman tuh punya drama lebih banyak dari FTV sore.

Kalau sedikit aja telat disiram, langsung kayak mau give up on life.


Dari Galon Bekas Jadi Pot

Karena konsepku zero waste, aku gak beli pot baru.

Aku ambil galon bekas air mineral, potong, cat, kasih lubang di bawah, and done.

Hasilnya? Pot besar gratis dan surprisingly cukup kokoh 

Selain lebih hemat, pakai galon itu juga pas banget karena akar melon lumayan panjang. 

Jadi, niat zero waste ini bukan hanya gaya-gayaan, tapi beneran kepake.


Drama Pruning: Ketelatan yang Bikin Bingung

Awal nanam, aku beneran nggak tau kalau melon harus dipruning atau dipangkas. 

Kupikir melon bakal tumbuh rapi sendiri, tinggal disiram dan dipupuk. 

Tapi ternyata enggak! 

Melon tumbuhnya liar banget, merambat ke mana-mana kayak tanaman yang haus kebebasan bertahun-tahun.

Setelah banyak masukan dari orang-orang baik di TikTok, aku sadar kalau idealnya melon itu disisakan satu batang utama supaya fokus tumbuh dan berbuah.

Masalahnya… aku udah telat bangetttt.

Saat sadar, batangnya udah bercabang dua dan sama-sama terlihat “penting”.

Aku bingung harus buang yang mana. 

Akhirnya keputusan paling aman kuambil: dua-duanya kubiarin hidup.

Tidak sesuai aturan, memang.

Tapi yaudahlah learning by doing yakaaan? hihihi.


Baca juga: Rooftop Garden Story, Kangkung Organik dengan Sentuhan Zero Waste


Dari Kutu Daun ke Ulat Misterius

Awalnya aku pikir semua aman.

Tapi pas perhatiin lebih dekat, kok ada bintik-bintik hitam di bawah daun?

Ternyata kutu daun, banyak banget.

Aku panik, langsung jadi detektif kebun: nyemprot air sabun, ngelap satu-satu, kayak skincare-an tapi buat daun.

Setelah itu, aku pikir aman.

Daun-daun udah kupangkas rapi, tanaman udah cakep lagi.

Eh… seminggu kemudian, kejadian aneh muncul.

Daun yang baru tumbuh tiba-tiba bolong-bolong, kayak abis diserang pasukan tikus ninja.

Aku periksa pagi, oke masih bersih.

Sore, eeeeh kok bolong

Ulatnya tuh kayak makhluk gaib, gak pernah keliatan tapi hasil karyanya nyata.

Aku bongkar tiap daun, tiap lipatan batang, gak nemu.

Tapi tiap pagi, selalu ada daun korban baru.

Beneran aktif dan kreatif banget si ulat tuh udah kayak fandom BlekPing.

Sampai akhirnya aku sadar, mungkin ulatnya tinggal di dimensi lain dan cuma mampir malam buat makan daun lalu menghilang lagi.

Sumpah, kalau ini game, level ulatku tuh boss terakhir kayaknya.


Plot Twist Bernama Hujan

Belum sempat pulih dari ulat misterius, datanglah hujan deras tiap sore.

Dan tolong ingat ya, rooftopku itu open air, gak ada atap, gak ada pelindung, gak ada harapan dahlah..

Begitu hujan, air masuk langsung ke galon.

Tanaman melon yang tadinya semangat langsung letoy, daunnya kayak rambut abis kena rebonding gagal.

Aku naik ke rooftop sambil bawa kopi (niatnya mau chill).

Begitu liat melonnya kedinginan, aku cuma bisa ngomel:

“Baru dihantam hujan aja udah kalah. Gimana kalo nanti dihantam kabar PHK?”

Melonnya diem aja, tapi aku yang nagis meratapi nasib yang sudah diperjuangkan sekian purnama.

Sore itu aku resmi kehilangan satu pot melon.

Aku nunduk, hujan turun, lagu sedih berputar di kepala.

Skenario-nya udah kayak ending Drama Korea versi kebun.


Pupuk Ajaib yang Beraroma Misterius

Karena tetep pegang prinsip zero waste, aku eksperimen bikin POC alias Pupuk Organik Cair.

Bahannya simpel banget, sisa kulit buah, sayur layu, air cucian beras, semua dicemplungin ke wadah.

Minggu pertama, aromanya... luar biasa mengguncang dunia, ehhh hidung.

Campuran antara dapur, selokan, dan eksperimen kimia gagal.

Tapi hasilnya gak bohong!

Daun melon jadi hijau segar, batangnya makin kuat, dan tumbuhnya cepat banget.

Aku sampe mikir,

“Oh, ini ya rasanya jadi ilmuwan, tapi di rumah.”

Sekarang aku udah level pembuat pupuk dengan aroma kejujuran.

Kalau parfum bisa nyimpen aroma gak midal, mungkin POC-ku bisa jadi Eau de Misquens Edition. Wkwkwk 


Pestisida Nabati: Racikan Dapur untuk Mengusir Hama


Entah kenapa sisi idealis aku juga muncul saat bahas pestisida.

Aku bertekad nggak pakai pestisida kimia.

Jadi aku buat pestisida nabati sendiri dari bahan sekitar rumah: bawang putih, cabe rawit, daun sirsak, dan sedikit sabun cair sebagai perekat.

Diblender, disaring, dimasukkan botol, selesai.

Wewangiannya khas, tapi lumayan efektif, minimal bikin hama mikir dua kali sebelum makan daun melonku.


Melon Layu, Tapi Aku Naik Level

Setelah semua drama, dari kutu daun, ulat misterius, sampai hujan deras, aku tetep lanjut berkebun.

Karena ternyata urban farming itu bukan soal hasil panen, tapi soal kesabaran dan keikhlasan.

Kadang aku mikir, berkebun ini kayak hubungan percintaan.

Udah dirawat, dikasih perhatian, disiram tiap hari, tapi tetep aja… layu tanpa alasan, kayak di ghosting gitu, wkwk

Tapi dari situ aku belajar:

“Kalau bisa sabar ngurus tanaman, berarti kamu udah siap ngadepin hidup.” cielah deep, kayak yang bener tapi gak realistis, wkwk

Melon pertamaku memang tumbang, tapi aku naik level.

Aku belajar gimana cara pruning, bikin pupuk, dan ngontrol emosi biar gak nyemprot ulat pake Baygon.

Sekarang aku udah bisa liat daun bolong tanpa langsung overreact, cuma ngomel kecil aja kayak,

“Oke, gue tandain lu! Tapi hari ini gak ada buffet lagi ya, plis.”


Urban Farming Buat Semua (Termasuk yang Sering Galau)

Dulu aku kira urban farming cuma buat orang sabar, rajin, dan kalem.

Ternyata enggak, bestii.

Buat kamu yang gampang panik, gampang baper, bahkan gampang rebahan, cocok juga! 

Seriusss! Berkebun sore hari, cuaca udah mulai redup, sambil dengerin lagu-lagu galau Kahitna, nangeees lu! hahaha

Karena di dunia urban farming, kamu bakal belajar semua hal:

Problem solving waktu daun tiba-tiba gosong

Manajemen waktu biar gak lupa nyiram

Kesabaran ekstrem waktu panen molor dua minggu

Dan keikhlasan sejati waktu hasil panen cuma satu buah mungil tapi kamu tetep bangga banget

Jadi kalau kamu mau mulai, gak perlu lahan luas, gak perlu alat mahal.

Mulai aja dari apa yang kamu punya.

Bisa galon bekas, botol plastik, bahkan ember cuci asal gak bocor.

Dan kalau nanti tanamanmu layu, ingat satu hal:

It’s oke. Setidaknya ulatmu Melon Layu, Tapi Aku Naik Level

Setelah semua drama, dari kutu daun, ulat misterius, sampai hujan deras, aku tetep lanjut berkebun.

Karena ternyata urban farming itu bukan soal hasil panen, tapi soal kesabaran dan keikhlasan.

Jadi kalau kamu mau mulai, gak perlu lahan luas, gak perlu alat mahal.

Mulai aja dari apa yang kamu punya.

Bisa galon bekas, botol plastik, bahkan ember cuci asal gak bocor.

Dan kalau nanti tanamanmu layu, ingat satu hal:

“It’s oke, bestie. Setidaknya ulatmu happy dan kamu punya cerita buat ditertawakan nanti.” 

Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan

Minggu, September 28, 2025 12 Comments

Slow Living dengan Beternak Kambing
Slow Living Beternak dan Bertani

dianti- Awalnya sih nggak ada niat serius banget untuk mandiri pangan dari rumah.

Cuma karena lihat peluang aja, dan aku sempatkan waktunya jadilah seperti hari ini. 

Rumahku punya atap beton yang luas banget, ada kolam di bawah rumah yang nganggur, sama halaman samping yang lumayan lah daripada nganggur. 

Dari situlah perjalanan kemandirian pangan ala-ala aku dimulai.

Nggak muluk-muluk, aku cuma pengen rumahku bisa jadi sumber pangan sederhana. 

Eh ternyata lama-lama malah jadi kayak mini-farm. 

Serius, tiap bangun tidur sekarang bukan cuma buka jendela, tapi sekalian cek hewan-hewan, siram tanaman-tanaman, sama intip ikan di kolam.

Atap Beton Jadi Kebun Hijau

Tanam Kangkung di Pot

Dulu atap beton rumahku cuma jadi tempat jemur pakaian. 

Panas, gersang, dan yaa gitu-gitu aja. 

Suatu hari aku mikir, “Lha, ini luas banget kenapa nggak aku manfaatin buat nanam sayur?”

Ditambah lagi limbah galon bekas air mineral makin hari makin banyak 

Akhirnya aku sulap limbah galon bekas jadi pot tanaman dengan konsep self watering.

Soal media tanam pun sebenarnya udah melimpah dari kandang ayam dan kandang kelinci, jadi tunggu apalagi?

Akhirnya aku mulai nanam sayuran favorit. 

Ada kangkung yang gampang banget tumbuh, timun buat lalapan, tomat sampai cabe biar nggak khawatir kalau harga di pasar naik. 


Baca juga: Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety


Aku juga coba tanam bawang daun, seledri, plus beberapa tanaman panjang umur kayak jagung, kacang merah, kacang panjang, dan kacang buncis.

Atap beton yang tadinya panas dan bikin mata silau, sekarang berubah jadi kebun hijau yang adem. 

Rasanya tiap sore aku betah nongkrong di atas, sambil nyiram tanaman dan lihat mereka tumbuh.

Kolam Bawah Rumah jadi Lumbung Ikan

Budidaya Lele

Di bawah rumah ada kolam kecil yang dulu sering dipakai cuma buat nampung air hujan. 

Makin kesini malah jentik nyamuk tumbuh liar.

Aku mikir cara membasmi jentik tersebut tapi gak pake zat kimia.

Alhasil setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk menabur bibit ikan nila merah sebagai musuh alami jentik-jentik nyamuk.

Cuma karena kolamnya tidak mendapat cahaya matahari optimal, jadi pertumbuhan nila pun gak sesuai harapan.

Usaha gak berhenti sampai itu aja, setelah ikan nila dipanen, digantilah dengan bibit ikan lele dan patin.

Aku pilih lele sama patin karena gampang banget dirawat dan tahan banting.

Sekarang kalau malam-malam pengin makan ikan goreng, aku nggak perlu ke pasar. 

Tinggal jala, ambil lele dari kolam, langsung masak. 

Segarnya dapet, hematnya juga kerasa. 

Kadang kalau ada teman main ke rumah, mereka suka takjub, “Serius ini lele dari bawah rumahmu?” dan aku cuma bisa nyengir bangga.

Halaman Samping Jadi Kandang Ternak

Ayam Elba

Halaman samping rumah juga nggak mau kalah. 

Aku bikin kandang kecil-kecilan buat hewan peliharaan. 

Awalnya cuma lima ekor, eh sekarang jadi banyak. 

Tiap pagi aku bisa panen telur segar buat sarapan. 

Rasanya beda banget sama telur beli di pasar, kayak lebih gurih, lebih “hidup” aja.

Selain ayam, aku coba tambah koleksi unggas. 

Ada kalkun yang badannya gede dan bikin halaman makin rame, merpati yang awalnya aku pelihara gara-gara dikasih tapi ternyata dagingnya enak juga, dan kelinci yang lucu banget tapi juga cepat berkembang biak.

Puncaknya aku nekat pelihara domba tapi dibantu ngurus sama tetangga. 

Jujur, awalnya agak bingung, tapi ternyata mereka cukup gampang dirawat. 

Domba-domba itu aku kasih makan rumput sekitar rumah, jadi nggak terlalu ribet soal pakan. 


Baca juga: Cerita Me Time yang Nggak Kamu Sangka dari Seekor Kalkun


Emmm... Karena udah ada yang bantu ngurus juga sih kalo domba.

Dan tiap lihat domba ngemil dengan santai, rasanya damai banget.

Saling Melengkapi, Nggak Ada yang Sia-Sia

Salah satu hal paling seru adalah ternyata semuanya saling mendukung. Misalnya:

Kotoran ayam, domba, dan kelinci bisa jadi pupuk buat tanaman di atap.

Sisa sayuran yang layu aku kasih ke kelinci, mereka lahap banget.

Air kolam lele aku pakai buat siram tanaman, jangan salah! nutrisinya kaya banget.

Jadi, dari ternak ke kebun, dari kebun ke ternak, semuanya muter. 

Nggak ada yang sia-sia sama sekali.

Hidup Jadi Lebih Bermakna

Banyak banget manfaat yang aku rasain sejak mulai mandiri pangan.

Belanja dapur lebih hemat, karena beberapa kebutuhan memang sudah tersedia di rumah.

Makanan lebih sehat, aku tahu persis apa yang masuk ke ayam, domba, dan sayuran.

Nggak panik harga naik, cabe mahal? Santai aja, tinggal petik.

Punya hiburan baru, daripada main HP terus, sekarang aku lebih sering main sama kelinci atau sama ayam.

Tapi paling sering sih nguyel-nguyel kucing yang emang di adopsi khusus buat nemenin aku di rumah.

Dan yang penting, aku ngerasa lebih “merdeka”. 

Rasanya tenang banget tahu kalau di rumah sudah ada stok pangan sendiri.

Tips Buat yang Pengen Ikut Coba

Kalau kamu kepikiran buat mandiri pangan juga, jangan langsung besar, tapi mulai dari hal kecil. 

Misalnya tanam kangkung di pot atau pelihara ayam kampung sepasang. 

Dari situ nanti kamu bakal ketagihan sendiri.

Jangan takut gagal, aku pun sering kok, tanaman layu, ayam sakit, atau lele mati. 

Namanya belajar pasti ada jatuh-bangunnya, yang penting jangan berhenti! Lama-lama bakal terbiasa.

Sekarang aku sadar, punya atap beton luas, kolam di bawah rumah, dan halaman samping ternyata rezeki besar. 

Daripada kosong dan nggak kepakai, lebih baik dimanfaatkan. 

Dari situ lahirlah mini farm versiku: ada ayam, kalkun, merpati, kelinci, domba, ikan lele, ikan patin, plus kebun sayuran di atap yang hijau.

Aku nggak bilang ini mudah, tapi percayalah, hasilnya bikin hati puas. 

Rasanya kayak punya lumbung pangan sendiri, langsung di rumah. 

Dan aku yakin, kalau aku bisa, kamu juga bisa. 

Mulai aja dari satu pot cabe atau satu ekor ayam, siapa tahu nanti berlanjut jadi mini farm yang bikin hidupmu lebih bahagia.***


Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety

Rabu, Agustus 13, 2025 0 Comments

Anti Anxiety


dianti site- Kalau kamu mikir anti-anxiety itu cuma bisa dari yoga, meditasi, atau staycation, coba deh upgrade mindset. 

Sekarang aku udah nemu resep ampuh yang nggak kalah healing, yaitu rapihin bulu dan daun. 

Yes, ini bukan metafora, ini literally nyisir bulu hewan peliharaan dan merapikan daun tanaman setiap hari.

Awalnya, aku kira kegiatan ini cuma hobi lucu-lucuan aja. 

Tapi ternyata, efeknya tuh ngena banget ke mental health. 

Anxiety yang dulu sering datang kayak iklan pop-up nggak jelas, sekarang makin jarang nongol.

Dari Gedebak-gedebuk ke Yaudahlah Jalanin Aja

Ibarat kata, perubahan dalam diri aku tuh dari genre yang gedebak-gedebuk dar der dor jadi jalanin aja dulu.

Kalo jalan aja dulu tanpa tujuan dan kepastian??? Red flag tuh (canda) ✌️

Dulu aku tipe orang yang ambisius parah.

Target hidup itu harus detail, harus kejadian sesuai rencana. 

Kalau nggak, otak langsung error, hati nggak tenang, dan tidur pun jadi drama.

Tapi semua mulai berubah waktu aku pindah ke pinggiran kota Tasikmalaya. 

Rumahku nggak fancy, tapi halamannya cukup buat pelihara hewan dan tanam sayuran. 

Aku punya ayam kampung, kalkun, merpati, lovebird, kucing, kelinci… plus kebun mini berisi kangkung, cabai, kacang, sampai tanaman hias di pot.

Setiap pagi, ritualnya selalu sama, yaa nyisir bulu anabul (kelinci dan kucing) biar nggak kusut, ngecek daun yang layu, motong daun yang udah tua, nyapu kandang, dan menyiram tanaman. 

Baca juga: Daur Hidup Pertanian dan Peternakan di Rumah: Siklus yang Tak Pernah Berakhir

Sounds simple, tapi rasanya kayak soft reset buat otak.

Kenapa Bulu dan Daun Bisa Jadi "Obat" Anti-Anxiety?

Ternyata, ada alasannya kenapa kegiatan ini bikin hati adem:

1. Gerakan Rutin = Meditasi Terselubung

Nyisir bulu kelinci atau kucing itu bikin fokus. 

Suara ssrrk-ssrrk dari sisir, bulu yang rapi satu per satu… rasanya bikin pikiran tenang. 

Ini sama kayak orang yang merajut atau ngecat, cuma versinya lebih feather-friendly.

2. Sense of Achievement

Lihat bulu hewan jadi rapi atau tanaman jadi segar setelah dibersihin itu bener-bener memuaskan. 

Ada rasa "Yes, aku berguna hari ini!" tanpa harus nyelesain target kerja yang ribet.

3. Koneksi Emosional

Hewan dan tanaman itu merespons perhatian kita, serius deh. 

Hewan jadi manja, tanaman jadi subur. 

Dan ketika mereka tumbuh sehat, kita juga ikut merasa dihargai.

4. Mindfulness Natural

Merhatiin detail warna daun, tekstur bulu, atau aroma tanah basah bikin kita hadir penuh di momen itu. 

Anxiety biasanya muncul karena pikiran lari ke masa depan atau masa lalu, dan kegiatan ini narik kita balik ke "sekarang".

Capek Tapi Bikin Tidur Nyenyak

Jujur, ngurusin hewan dan tanaman setiap hari itu bikin pegel. 

Ada keringat, ada bau kandang, ada tangan kotor. 

Tapi justru itu yang bikin badan capek dengan cara sehat. 

Malamnya, tidur jadi lelap tanpa drama overthinking.

Tips Buat Kamu yang Mau Coba Resep Ini

Biar kegiatan ini nggak cuma jadi "niat doang", cobain trik ini:

Mulai dari Kecil

Nggak harus langsung punya kebun besar atau peternakan mini. 

Cukup pelihara satu ekor kucing atau punya tiga pot tanaman hias.

Jadwalin Waktu

Misalnya pagi sebelum kerja atau sore sebelum magrib. 

Kegiatan ini bakal jadi ritual wajib yang bikin kamu selalu punya jeda dari dunia digital.

Nikmati Prosesnya

Jangan buru-buru! rasain tekstur bulu, hirup aroma daun segar. 

Treat it as me time, bukan beban.

Kesimpulannya yaaa "Healing Nggak Harus Mahal"

Rapihin bulu dan daun mungkin kedengeran receh. 

Tapi buat aku, ini udah jadi life hack yang bikin anxiety turun drastis. 

Dari pinggiran kota, aku belajar kalau ketenangan nggak datang dari liburan mewah, tapi dari momen sederhana yang kita jalani setiap hari.

Jadi kalau besok kamu lagi suntuk, coba aja ambil sisir, rapihin bulu hewan peliharaanmu, atau petik daun kering di pot. 

Siapa tahu, ketenangan yang kamu cari udah ada di halaman rumah sendiri.***



Cerita Me Time yang Nggak Kamu Sangka dari Seekor Kalkun

Selasa, Agustus 12, 2025 0 Comments


dianti.site- Siapa bilang cuma manusia yang butuh me-time? 

Nih, kenalin: Si kalkun di kandang rumah aku. 

Dia hidup di pinggiran kota, nggak punya akun Instagram, apalagi jadwal healing ke pantai, tapi skill menikmati hidupnya… jago banget!

Pagi itu udara masih adem, suara motor belum terlalu rame, dan matahari baru nyembul malu-malu di balik atap rumah tetangga. 

Aku jalan ke kandang sambil bawa segenggam jagung buat sarapan hewan-hewan. 

Eh, pas nyampe, si kalkun ini bukannya langsung nyamperin. 

Dia malah berdiri santai di pojokan, nyender ke pagar kandang, matanya setengah merem, bulu-bulunya mengembang kayak habis blow dry.

Aku cuma bisa mikir: 

Wih, ini sih bukan sekadar kalkun… ini vibes-nya kayak orang yang udah check-in hotel, pesen es kopi susu, terus duduk di balkon sambil dengerin lagu mellow.

Baca juga: Kebun dan Ternak Rumahan, Kita Usahakan Mandiri Pangan

Definisi Me-Time Ala Kalkun

Kalau manusia, me-time bisa berarti pergi ke cafe, nonton film, atau staycation. 

Tapi buat kalkun ini? Simpel aja.

Nggak ada listrik, nggak ada kuota internet, cuma tanah kering, sinar matahari, dan jarak aman dari kerumunan ayam-ayam berisik. 

Dia cuma diem, sesekali ngelirik kanan-kiri, kadang melek sebentar lalu merem lagi.

Intinya: slow living tanpa ribet.

Pelajaran yang Aku Ambil:

Jujur, aku jadi mikir: kita sering banget nyari tempat jauh buat istirahat, padahal nggak selalu perlu. 

Me-time bisa kita dapetin di tempat yang udah familiar, asal kita mau nyisihin waktu buat nikmatin momen.

Si kalkun ini ngajarin aku 3 hal:

1. Jauh dari keramaian itu penting – bahkan ayam pun butuh privasi.

2. Nggak semua waktu harus produktif – rebahan itu juga investasi energi.

3. Nikmatin yang ada – mau tanah, matahari, atau udara, semua bisa jadi sumber bahagia.

Pinggiran Kota dan Vibes-nya

Tinggal di pinggiran kota punya keuntungan sendiri. 

Masih ada suara burung gereja, aroma tanah habis hujan, dan ruang buat bikin kandang kecil. 

Tapi juga masih deket kalau mau ke minimarket atau beli gorengan depan gang.

Kombinasi dua dunia ini bikin me-time terasa lebih gampang dijalanin.

Tips Me-Time Simpel Ala Kalkun

Kalau kamu mau coba gaya me-time low budget tapi high healing, ini beberapa ide:

- Berjemur 10 menit di pagi hari sambil minum teh.

- Duduk di teras tanpa pegang HP.

- Lihat hewan atau tanaman di sekitar rumah.

- Tarik napas dalam, buang pelan-pelan, sambil mikir… “hidup nggak harus buru-buru.”

Penutup

Kadang, kita terlalu sibuk ngejar hal besar sampai lupa nikmatin hal kecil. 

Si kalkun di kandang ini mungkin nggak ngerti konsep self-care, tapi tiap kali aku liat dia santai di pojokan, aku langsung keinget kalau me-time itu hak semua makhluk hidup.

Jadi, kalau lagi penat, coba mode kalkun: diem sebentar, hirup udara, nikmatin momen, dan biarkan dunia jalan tanpa kamu harus ikut lari-lari.***


Biar Hidup Lebih Chill, Cobain Vakum dari Medsos Beberapa Hari Aja!

Rabu, April 30, 2025 2 Comments
Ilustrasi AI: "Vakum dari Medsos"

dianti.site- Gimana rasanya kalau sehari aja tanpa medsos? Mungkin awalnya kikuk, tapi ternyata banyak banget manfaatnya buat kesehatan mental! 

Media sosial memang seru buat update dan ngikutin tren, tapi kalau nggak bijak, bisa bikin pikiran penuh sama tekanan dan perbandingan diri. 

Makanya, cobain vakum dari medsos biar hidup lebih santai dan fokus sama hal yang lebih bermakna.  

Apa Itu Vakum dari Medsos? 

Vakum dari medsos berarti ngasih jeda sejenak dari interaksi digital. 

Bisa sekadar ngurangin waktu scrolling, mute notifikasi, atau kalau perlu uninstall aplikasi sementara.

Intinya, biar nggak terus-terusan terpapar info yang bikin stres atau insecure.  

Vakum bukan berarti anti teknologi, tapi lebih ke bikin batasan yang sehat supaya kita bisa menikmati hidup tanpa selalu bergantung sama medsos. 

Cobain deh buat vakum dari sosmed, beberapa hari aja udah cukup worth it sih.

Kenapa Vakum dari Medsos Worth It?

1. Lebih Santai, Bebas Drama

Vakum dari medsos bikin kita nggak perlu lihat postingan yang bikin overthinking atau bahkan bikin overwhelmed.

2. Waktu Lebih Banyak Buat Diri Sendiri

Karena nggak ke-distract medsos, kita bisa fokus buat menikmati hidup, refleksi diri, dan nikmatin momen tanpa gangguan layar HP.  

3. Fokus & Produktivitas Meningkat 

Tanpa scrolling yang nggak ada ujungnya, kita bisa lebih produktif dan fokus sama kegiatan yang beneran bermanfaat.  

4. Lebih Kenal Diri Sendiri 

Vakum dari medsos bikin kita bisa lebih mengenal diri, nggak cuma ikut tren atau ngikutin opini orang lain.  

5. Stop Bandingin Diri Sama Orang Lain

Kadang lihat pencapaian orang lain di medsos bikin kita merasa nggak cukup baik. 

Padahal, nggak semua yang dibagikan sesuai kenyataan. 

Dengan vakum, kita bisa lebih fokus sama progres diri sendiri tanpa tekanan.  

Kesimpulan

Vakum dari medsos nggak harus selamanya, tapi cukup buat ngasih ruang supaya kita bisa lebih bijak menggunakannya. 

Cobain deh sekali-sekali, dan rasakan bedanya, lebih chill, lebih fokus, dan lebih menikmati hidup yang sebenarnya!  


Best Moment Blogging Bagiku si Pelaku Slow Living dan Ternak Polikultur Unggas

Selasa, Maret 25, 2025 0 Comments

dianti- Di era digital yang semakin berkembang, blogging telah menjadi salah satu bentuk ekspresi diri. 

Bagiku yang merupakan salah satu pelaku slow living dan peternak polikultur unggas, blogging bukan sekadar aktivitas menulis, tetapi juga menjadi sarana untuk mengabadikan perjalanan hidup dengan lebih sadar. 

Menulis blog tentang pengalaman sehari-hari tidak hanya memberikan manfaat pribadi, tetapi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang lebih luas.

Slow living menurutku merupakan filosofi hidup yang menekankan pada kesadaran penuh dalam menikmati setiap momen yang bahkan sebagiannya menjadi rutinitas harian.

Begitu pula dengan peternakan polikultur unggas, yang mengajarkan keseimbangan ekosistem dan kesabaran dalam mengelola kehidupan ternak. 

Dengan menggabungkan keduanya dalam sebuah blog, aku berusaha menciptakan catatan perjalanan yang berharga dan berdampak positif bagi kesehatan mental.

Blogging sebagai Sarana Mengabadikan Momen Berharga

Bagiku si pelaku slow living dan peternak unggas polikultur, setiap momen memiliki makna tersendiri. 

Blogging menjadi cara untuk mendokumentasikan perjalanan ini agar tidak hilang begitu saja dalam ingatan. 

Berikut beberapa alasan mengapa blogging menjadi cara terbaik untuk mengabadikan momen:

Refleksi Diri

Menulis tentang pengalaman sehari-hari memungkinkan aku untuk merefleksikan apa yang telah dilalui. 

Ketika menuliskan perjalanan dalam beternak unggas, sangat memungkinkan kembali untuk dapat melihat kembali perkembangan yang telah dicapai, tantangan yang berhasil diatasi, dan pelajaran berharga yang didapat.

Dokumentasi Perjalanan Ternak

Dalam polikultur unggas, setiap unggas memiliki karakter unik yang menarik untuk diperhatikan. 

Ada momen ketika ayam kampung mulai bertelur untuk pertama kali, kalkun yang menunjukkan perilaku sosialnya, atau merpati yang mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. 

Semua kejadian ini tentu menjadi cerita menarik yang layak diabadikan dalam blog.

Interaksi dengan Alam dan Hewan

Blogging juga menjadi sarana untuk menceritakan pengalaman berinteraksi dengan alam dan hewan. 

Peternakan polikultur unggas bukan sekadar tentang produksi, tetapi juga tentang memahami ritme alam dan membangun hubungan yang harmonis dengan hewan ternak.

Dampak Positif Blogging bagi Kesehatan Mental

Selain sebagai dokumentasi perjalanan, blogging memiliki dampak besar dalam meningkatkan kesehatan mental. 

Ya, ternyata sering berinteraksi dengan hewan ternyata menjadi salah satu sumber relaksasi bagi pikiran.

Berikut ini beberapa manfaat utama blogging bagi kesehatan mental yang sudah aku rasakan:

Mengelola Stres dan Kecemasan

Menulis adalah bentuk terapi yang dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. 

Ketika menuliskan pengalaman, perasaan yang sebelumnya terasa berat bisa menjadi lebih ringan.

Baca juga: Rutinitas Pagi Sore dalam Pemeliharaan Sistem Polikultur Unggas

Menumbuhkan Rasa Syukur

Blogging juga sangat memungkinkanku untuk lebih sadar terhadap hal-hal kecil yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan menuliskan pengalaman unik dalam beternak unggas dan menjalani hidup secara perlahan,  ternyata aku bisa berlatih dan terus belajar untuk bisa lebih menghargai setiap momen yang terjadi.

Membangun Komunitas dan Koneksi

Blogging tidak hanya tentang menulis untuk diri sendiri, tetapi juga tentang berbagi pengalaman dengan orang lain. 

Melalui blog, ternyata aku bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, bertukar ide, serta saling memberikan motivasi.

Kisah Bahagia Merawat Unggas dan Mengabadikannya dalam Blog

Menjalani slow living dengan merawat unggas adalah pengalaman yang penuh kehangatan dan kejutan menyenangkan. 

Setiap hari membawa cerita baru, dari momen pertama memulai peternakan hingga kejadian-kejadian kecil yang mengundang tawa.

Aku masih ingat saat-saat pertama memulai beternak 2 ekor ayam, hingga akhirnya menjadi polikultur unggas. 

Suasana pagi yang sejuk, suara kokok ayam bercampur dengan kelembutan angin yang menyapu dedaunan. 

Aku merasa hidup lebih dekat dengan alam, membuka kandang ayam kampung untuk pertama kali dan melihat mereka dengan penasaran menjelajahi pekarangan membuatku tersenyum. 

Setelah itu, aku menyadari bahwa setiap langkah kecil dalam perjalanan ini adalah sesuatu yang layak diceritakan.

Di hari-hari berikutnya, aku menemukan banyak kejadian unik dan lucu. 

Ada satu kalkun yang bertingkah seperti manja, mengikutiku kemana-mana, hingga sekarang pun demikian. 

Merpatiku juga punya kebiasaan unik, mereka suka terbang mengikuti langkahku seolah menganggapku bagian dari kawanan mereka. 

Kadang aku mengabadikan momen ini dalam foto dan video, kebahagian yang didapat dari hewan ternak ternyata terasa hangat.

Namun tidak semua hari berjalan mulus, ada saat ketika cuaca ekstrem membuatku harus bekerja lebih keras untuk memastikan unggasku tetap sehat. 

Pernah suatu kali ayam-ayamku tampak kurang bersemangat, bahkan beberapa diantaranya mati.

Setelah beberapa hari mengamati serta mencari solusi, aku menemukan bahwa mereka membutuhkan asupan makanan tambahan di musim hujan. 

Mengatasi tantangan seperti ini memberiku kepuasan tersendiri, dan menuliskannya dalam blog bukan hanya sebagai dokumentasi.

Tetapi juga sebagai pengingat bahwa setiap rintangan bisa dilewati dengan kesabaran.

Yang paling membahagiakan adalah bagaimana slow living mengubah cara pandangku terhadap kehidupan. 

Dulu, aku selalu terburu-buru, tetapi sekarang aku lebih menikmati setiap proses. 

Aku tidak hanya merawat unggas, tetapi juga menikmati setiap interaksi kecil yang terjadi setiap hari. 

Dari kebiasaan ayam yang mencari tempat favorit untuk bertelur hingga momen saat kalkunku perlahan menjadi jinak dan mulai percaya padaku. Semua ini terasa begitu berharga.

Mengabadikan pengalaman ini dalam blog adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri. 

Aku bisa melihat kembali cerita-cerita yang sudah kutulis dan merasakan kembali momen-momen tersebut seolah baru terjadi kemarin. 

Lebih dari itu, berbagi cerita ini dengan pembaca yang memiliki ketertarikan yang sama menciptakan rasa kebersamaan yang luar biasa.

Baca juga: Manajemen Polikultur Unggas: Efisiensi Pakan, Perilaku, dan Pencegahan Konflik

Trik yang Aku Lakukan untuk Blogging dan Mengabadikan Momen Slow Living dengan Unggas

Menjaga konsistensi dalam menulis blog bukan hal yang mudah, terutama saat sibuk dengan kegiatan peternakan dan menjalani filosofi slow living

Berikut beberapa trik yang aku lakukan agar tetap bisa menulis blog dengan nyaman dan konsisten:

Menjadikan Blogging sebagai Rutinitas Ringan

Aku tidak memaksakan diri untuk menulis panjang setiap hari. 

Aku hanya mencatat pengalaman harian secara singkat, lalu mengembangkannya menjadi tulisan lebih panjang saat waktu memungkinkan.

Menulis dengan Autentik

Blogging bukan tentang membuat cerita sempurna, tetapi tentang berbagi pengalaman nyata. 

Aku selalu menulis dengan gaya yang mencerminkan kepribadianku agar tulisan terasa lebih natural dan menarik.

Menggunakan Foto dan Video sebagai Pendukung Cerita

Foto dan video menjadi pelengkap dalam blog, terutama untuk menunjukkan perkembangan ternak dan mengabadikan suasana peternakan.

Berinteraksi dengan Pembaca

Aku senang berinteraksi dengan pembaca melalui media sosial. Hal ini membuatku semakin semangat menulis dan merasa bahwa ada komunitas yang mendukung.

Kesimpulan

Ternyata bagiku blogging bukan hanya tentang berbagi pengalaman, tetapi juga tentang mengenali dan merayakan perjalanan hidup. 

Bagi pelaku slow living dan peternak polikultur unggas, blogging adalah cara untuk mengabadikan best moment dengan lebih sadar.