Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?
dianti- Awalnya aku cuma pengen menjalani hidup ala-ala slow living yang bisa menikmati dan memaknai setiap momen dalam fase kehidupan.
Bukan slow living estetik yang cuma ditampilkan lewat konten sosial media.
Bukan yang tiap langkahnya harus difoto lalu dikasih caption “learning to slow down ”.
Tapi slow living yang fungsional dengan diawali bangun pagi tanpa tergesa, ngerjain pekerjaan domestik, ngasih pakan hewan-hewan peliharaan, tanpa target besar selain hari ini jangan meledak mental.
Slow living versiku sederhana, nggak produktif ala LinkedIn, nggak sibuk “healing tapi capek”.
Rutinitas harianku nggak jauh dari unggas, ikan, dan anabul.
Diantara semua hewan peliharaan itu, ada merpati.
Merpati ini unik, nggak cari perhatian, nggak rewel, nggak sok lucu biar disayang.
Dia hadir tanpa perform berlebihan, dan jujur aja, itu mencurigakan, karena kebanyakan makhluk sekarang butuh validasi.
Refleksi Tingkah Tenang Merpati
Saat aku ngasih pakan dan terhipnotis melihat hewan-hewan peliharaan makan dengan sibuk, terbersit pertanyaan yang butuh pembuktian.
“Katanya merpati setia… tapi setia itu maksudnya apa?”
Karena di manusia, setia kadang artinya: asal nggak ketahuan.
Se-setia apa sih merpati sama pasangannya, sesuai gak sih dengan tingkahnya yang tenang itu?
Dua Pasang Merpati, Satu Kandang, Dua Jalan Hidup
Di kandangku awalnya ada dua pasang merpati.
Pasangan pertama hidupnya lurus-lurus aja.
Berpasangan, bertelur. anaknya tumbuh.
Nggak ada konflik, apalagi fase “kita evaluasi hubungan”.
Hidup yang sering dibilang membosankan, padahal sebenarnya stabil sesuatu yang sekarang malah mahal.
Pasangan kedua nggak seberuntung itu karena si betina mati.
Dan setelah itu, suasana kandang berubah.
Bukan karena jumlahnya berkurang, tapi karena satu relasi benar-benar selesai.
Si jantan ang kusebut si duda tampak hampa, tanpa cari pengganti, pelarian, apalagi ikut seminar self-love.
Si duda tetep hidup di kandang, cuma agak menarik diri.
Lebih sering sendirian, diam lama, dan nongkrong di kolong kandang ayam.
Kalau manusia, ini tipe yang datang ke acara tapi pulang duluan tanpa pamit dan besoknya bilang, “aku lagi capek aja kemarin.”
Bukan Mati, Tapi Kehilangan Minat Hidup
Secara fisik, si duda aman, masih makan dan bergerak walaupun minimal banget.
Tapi secara sosial, dia hilang dan itu yang bikin aku mulai khawatir.
Dalam dunia hewan sosial, menarik diri terlalu lama itu bukan introvert moment, tapi alaram tanda bahaya.
Beberapa penelitian etologi menunjukkan isolasi sosial pada burung berpasangan bisa meningkatkan hormon stres seperti kortikosteron yang berdampak ke imun dan daya hidup.
Dengan kata lain, sedih yang dipendam lama-lama itu bukan dewasa, tapi berbahaya.
Makanya ada keputusan untuk me-rescue si duda.
Bukan karena aku sok penyelamat, tapi karena aku tahu satu hal:
"Kesepian itu jarang membunuh secara dramatis."
Mirip burnout.
Relationship Romantic Ala Merpati
Merpati bukan cuma “burung yang setia” versi poster pernikahan.
Di tubuh kecilnya, ada sistem biologis yang serius banget soal pasangan.
Mereka hidup dengan pair bond jangka panjang.
Begitu memilih satu, otaknya menyimpan pasangan itu bukan sekadar teman kawin, tapi sebagai titik aman.
Sederhananya seperti tempat pulang yang stabil.
Hormon seperti oksitosin dan vasopresin bekerja diam-diam membangun ikatan itu.
Hal itu membantu menenangkan, menjaga ritme hidup tetap normal, makan teratur, aktif terbang, dan responsif terhadap lingkungan.
Lalu saat pasangannya hilang.
Bukan cuma kandangnya yang sepi, otaknya juga kehilangan satu pusat keseimbangan.
Yang terjadi bukan langsung tangisan dramatis, tapi perubahan pelan-pelan.
Seperti geraknya melambat, makannya berkurang, lebih sering diam, dan menjauh dari yang lain.
Di jurnal Animal Behaviour dan Behavioural Ecology, kondisi ini disebut grief-like behaviour.
Perilaku yang menyerupai duka.
Bukan karena mereka “paham konsep kematian” seperti manusia, tapi karena sistem saraf mereka kehilangan ikatan sosial primer.
Hormon stres naik, tubuh masuk mode siaga.
Yaaaa... Dunia terasa tidak lagi stabil seperti kemarin.
Jadi ketika kita melihat si duda diam di sudut kandang, murung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, itu bukan drama romantis.
Tapi pertanda tubuhnya sedang belajar hidup tanpa pasangan yang selama ini jadi pusat ritmenya.
Kalau manusia menyebutnya patah hati, di dunia biologi disebut adaptasi terhadap kehilangan.
Sama sakitnya, bedanya cuma satu: merpati gak upload story,“aku lagi berduka”.
Tapi tubuhnya bicara.
Baca juga: Piyik Is Mama Warrior, Not Daddy Princess
Hidup Harus Tetap Berjalan
Setelah di-rescue secara terpisah dari kawanannya, si duda perlahan menunjukan perubahan positif, hingga akhirnya kembali ke kandang.
Si duda mulai responsif, ikut ritme merpati lain yang ada di kandang.
Bukan karena lupa akan duka atau cinta yang sudah sirna, cieelaaah uhuuuy.
Tapi karena si duda sadar kalau hidup nggak nunggu kesiapan emosional.
Dan akhirnya si duda punya pasangan baru.
Plot twist-nya, pasangan baru si duda itu anak dari pasangan merpati sebelah.
Definisi jodoh itu gak lari kemana kali yaaa.
Tapi di momen ini biasanya komentar netizen mulai agak galak.
“Katanya setia?”
“Cepet amat move-on”
“Berarti dulu gak beneran cinta dong.”
Komentar yang sering terdengar yakin, padahal jarang mau mikir lebih dalam.
Setia Itu Bukan Membeku di Masa Lalu
Aku berani bilang merpati itu setia.
Tapi setia mereka bukan berarti berhenti hidup demi membuktikan duka.
Dalam biologi, membentuk pasangan baru setelah kehilangan bukan pengkhianatan, tapi mekanisme bertahan hidup.
Tubuh dan otak memang dirancang untuk pulih, bukan membeku di kesedihan.
Ikatan lama tidak dihapus.
Ia selesai dengan hormat, lalu sistem hidup bergerak lagi.
Kalau stres dibiarkan terlalu lama, tubuh justru rusak.
Maka re-bonding adalah cara alam menjaga kehidupan tetap berjalan.
Jadi setia versi merpati bukan tentang hancur demi cinta, tapi tentang menghormati cinta sambil tetap hidup.
Karena bertahan hidup juga bentuk kesetiaan, terutama pada diri sendiri.
Baca juga: Fatherless Versi Ayam Jantan: Ada Sosoknya, Tapi Nggak Punya Perannya
Romantic Relationship versi Dewasa
Melihat kasus si duda yang melanjutkan hidup, aku mengartikan kalau merpati tidak mendefinisikan cinta lewat simbol, pengakuan publik, atau pembuktian berisik.
Mereka membangun ikatan pelan, menerima kehilangan dengan sunyi, dan lanjut hidup tanpa menyalahkan takdir.
Dan jujur aja, ini terasa lebih dewasa daripada banyak hubungan manusia yang rame di awal, tapi hilang pas diuji.
Makna Kesetian Merpati
"Kesetiaan bukan soal bertahan di satu titik, tapi soal jujur menjalani setiap fase kehidupan, termasuk fase kehilangan."
Merpati romantis, tapi mereka juga realistis.
Dan mungkin, di dunia yang terlalu ribut soal cinta, kita perlu belajar dari makhluk yang setia tanpa pengumuman, sedih tanpa tontonan, hidup tanpa pembelaan.
Karena tidak semua yang diam itu kalah.
Sebagian hanya… sudah cukup dewasa untuk lanjut tanpa ribut.***





.jpeg)













