Awalnya Cuma Ingin Swasembada Pangan, Malah Ketagihan Beternak Ayam
Dianti— Kalau ada yang bertanya sejak kapan aku mulai menjalani slow living, jawabannya mungkin sekitar tahun 2022.
Tapi lucunya, saat itu aku sama sekali belum kepikiran akan menjadi seseorang yang tiap pagi dan sore sibuk menimbang pakan ayam.
Kadang sambil sesekali mengejar kalkun yang mendadak merasa pagar kandang hanyalah sebuah formalitas.
Serius, wkwkwk.
Versi slow living yang kubayangkan waktu itu jauh lebih sederhana.
Aku hanya ingin hidup sedikit lebih pelan dan sedikit lebih mandiri.
Kalau bisa, sedikit mengurangi drama setiap kali harga bahan pangan mendadak naik seperti roller coaster yang lupa cara mengerem.
Saat itu, slow living bukan soal rumah estetik dengan kursi rotan, secangkir kopi, lalu difoto pakai filter warna cokelat susu supaya kelihatan damai, bukan itu!
Versi yang ada di bayanganku lebih membumi.
Aku ingin punya beberapa sayuran yang bisa dipanen sendiri.
Punya cabai tanpa harus mengeluh setiap harga di pasar naik.
Kalau memungkinkan, punya sumber protein sendiri.
Intinya sederhana dan jelas sangat masuk akal.
Aku ingin dapur kecil di rumah ini pelan-pelan belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Kalau dipikir sekarang, targetnya sebenarnya tidak muluk-muluk.
Aku cuma ingin sedikit lebih mandiri, sedikit lebih dekat dengan alam, dan sedikit lebih tenang.
Aku sama sekali tidak menyangka kalau niat sesederhana itu nantinya akan berubah menjadi sebuah peternakan kecil yang isinya lebih ramai daripada grup WhatsApp keluarga saat menjelang Lebaran.
Kadang hidup memang punya selera humor yang aneh.
Kita cuma ingin menanam kangkung.
Eh...
Semesta malah menjawab,
"Sekalian nih, bonus ayam, kelinci, kalkun, domba, ikan, sama kucing. Mau?"
Dan entah kenapa, aku malah menjawab,
"Gas."
Baca juga: Post Traumatic Growth: Kukira Sedang Merawat Hewan, Ternyata Sedang Merawat Luka
Plot Twist Pertama: Penghuni Rumah Pertamaku Bukan Ayam
Lucunya lagi, hewan pertama yang kupelihara bukan ayam, bahkan bukan unggas.
Melainkan... Kelinci.
Kalau ditanya kenapa memilih kelinci, jawabannya mungkin akan mengecewakan orang-orang yang berharap ada analisis bisnis atau strategi investasi jangka panjang.
Jawabannya sesederhana ini: karena lucu.
Sudah! Selesai!
Aku melihat telinganya yang panjang, tingkah lakunya yang kalem, lalu berpikir, "Kayaknya seru juga kalau ada kelinci di rumah."
Untungnya suamiku termasuk tipe manusia yang cukup berbahaya kalau diajak punya ide receh.
Karena responsnya hampir selalu sama.
"Ya udah, coba aja." Begitulah.
Beberapa ekor kelinci akhirnya datang ke rumah.
Dan tanpa kusadari, mereka menjadi pintu masuk ke dunia yang sama sekali belum pernah kubayangkan sebelumnya.
Awalnya rutinitasku hanya memberi makan, mengganti minum, membersihkan kandang, lalu duduk sebentar melihat mereka mengunyah rumput dengan ekspresi yang damainya mengalahkan video ASMR.
Kalau dipikir-pikir, kelinci itu makhluk yang sangat jago menikmati hidup.
Mereka tidak pernah terburu-buru, juga tidak pernah panik karena melihat kelinci tetangga badannya lebih besar.
Bahkan tidak pernah stres karena belum punya rumah dua lantai.
Kerjaan mereka ya makan, lompat, tidur, mengunyah lagi! Repeat.
Dan anehnya, rutinitas sederhana itu ikut mengubah ritme hidupku.
Tanpa sadar, aku mulai menikmati aktivitas-aktivitas kecil yang sebelumnya mungkin terasa melelahkan.
Menyiram tanaman, membersihkan kandang, hingga mengamati hewan-hewan tumbuh.
Ternyata ada rasa puas yang tidak bisa dijelaskan ketika melihat sesuatu berkembang karena dirawat setiap hari.
Bukan karena instan, tetapi karena konsisten.
Mungkin saat itulah bibit seorang peternak mulai tumbuh.
Lucunya... Aku sendiri belum sadar.
Baca juga: Inkubator dan Drama Memahami Slow Living yang Ternyata Gak Sesederhana Itu
Ketika Target Swasembada Pangan Mulai Bertambah
Seiring waktu, muncul satu pertanyaan yang terus berputar di kepala.
Kalau sayuran sudah mulai bisa dipanen sendiri... Kenapa sumber proteinnya tidak sekalian diusahakan?
Nah, dari situlah ide memelihara ayam mulai muncul.
Bukan karena ingin membuka usaha peternakan, dan bukan juga karena sedang terinspirasi acara televisi tentang kehidupan desa.
Alasannya sesederhana tujuan awal kami menjalani slow living dan swasembada pangan.
Aku ingin suatu hari nanti, ketika membuka kulkas, ada telur atau daging yang berasal dari pekarangan sendiri.
Rasanya pasti berbeda!
Bukan sekadar lebih hemat, tetapi ada kepuasan karena tahu prosesnya.
Tahu bagaimana hewan itu dirawat, dan tahu pasti apa yang mereka makan.
Bahkan tahu bahwa makanan yang sampai di meja makan bukan datang begitu saja dari rak supermarket.
Aku kemudian mulai mencari informasi.
Tapi jujur saja... Pengetahuanku soal ayam waktu itu nyaris nol.
Di kepalaku, ayam ya tinggal ayam.
Paling bedanya cuma ayam kampung dan ayam negeri.
Sudah!
Ternyata aku terlalu percaya diri.
Baca juga: Jinak-Jinak Merpati Bukan Sifat, Tapi Pola Avoidant Attachment
Momen yang Membuatku Sadar: "Lho... Ayam Ternyata Ada Jurusannya?"
Salah satu momen yang paling kuingat adalah ketika kami pergi ke pasar hewan.
Niatnya sederhana: cari ayam yang badannya besar.
Aku bahkan datang tanpa daftar ras ayam, tanpa catatan, dan tanpa riset yang mendalam.
Pokoknya lihat yang besar, ya itu yang dipilih.
Kurang lebih logikanya seperti orang beli semangka: yang besar pasti lebih menarik.
Begitu sampai di pasar hewan, aku langsung bengong.
Ternyata ayam itu bukan cuma ayam, tapi ada banyak sekali jenisnya.
Ada yang badannya tinggi, ada yang pendek, ada yang bulunya indah, ada yang jalannya gagah sekali sampai rasanya tinggal diberi jas, langsung bisa jadi satpam kompleks.
Disanalah untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan Ayam Pelung dan Ayam Bangkok.
Keduanya sama-sama punya postur yang besar, hanya berbeda bobot.
Aku masih ingat bagaimana kami berdiri cukup lama sambil memperhatikan dua jenis ayam itu.
Sok-sok menganalisis meski ilmunya hampir tidak ada.
Kalau diingat sekarang, lucu juga.
Aku mungkin terlihat serius, padahal isi kepalaku cuma satu.
"Yang gede yang mana, ya?"
Kalau dipikir sekarang, keputusan itu benar-benar ilmiah.
Metodenya sederhana.
Lihat. Takjub. Beli.
Untung yang dipilih ayam.
Coba kalau waktu itu lagi cari pasangan hidup, terus indikatornya cuma, "Yang badannya paling gede."
Bisa panjang urusannya.
Baca juga: Kelinci Itu Playboy, atau Kita yang Terlalu Cepat Memberi Label?
Cinta Pertama Bernama Ayam Bangkok
Akhirnya pilihan kami jatuh kepada Ayam Bangkok.
Alasannya jelas karena posturnya besar.
Itu juga ada kaitannya dengan target awal swasembada pangan, logika kami waktu itu juga sederhana.
Semakin besar ayamnya, semakin banyak sumber protein yang bisa dihasilkan.
Masuk akal, kan?
Ya... setidaknya menurut versi kami yang masih sama-sama buta soal dunia perayaman.
Ayam-ayam Bangkok itu kemudian mulai mengisi kandang kecil di samping rumah.
Setiap hari kami belajar.
Belajar memberi pakan.
Belajar membersihkan kandang.
Belajar mengenali kebiasaan mereka.
Dan tentu saja...
Belajar menerima kenyataan bahwa ayam ternyata jauh lebih pintar membuat kandang berantakan daripada membersihkannya.
Aku sering bercanda ke suami.
"Kayaknya ayam ini punya prinsip hidup yang sama kayak anak kos. Selama masih ada ruang kosong, ya dibikin berantakan dulu. hihihi"
Meski begitu, kami menikmati prosesnya, karena setiap hari selalu ada hal baru yang dipelajari.
Dan tanpa sadar, rasa penasaran kami terhadap dunia ayam semakin besar.
Kami mulai bertanya-tanya.
Apa benar semua ayam itu sama?
Apa benar cukup memilih ayam yang badannya besar?
Atau... jangan-jangan selama ini kami sedang melewatkan sesuatu?
Dan ternyata...
Pertanyaan itulah yang menjadi awal dari petualangan berikutnya.
Petualangan yang membuat kami sadar bahwa di dunia ayam, ada yang spesialis daging, ada yang spesialis telur, dan ada juga yang ahli di dua-duanya.
Dan sejak saat itu, cara kami memilih ayam berubah total.
Setelah beberapa bulan memelihara Ayam Bangkok, aku mulai menyadari satu hal.
Ayam-ayam ini memang besar dan gagah.
Kalau jalan, auranya tuh kayak preman pasar yang lagi ronda.
Dada dibusungkan, langkahnya mantap, tatapannya seolah berkata, "Ini kandang gue."
Pokoknya kalau soal postur, aku kasih nilai sembilan koma sembilan.
Satu poinnya sengaja aku simpan, biar mereka tetap rendah hati. hhihi
Tapi semakin lama dipelihara, muncul satu pertanyaan yang mulai mengganggu pikiranku.
"Kok telur yang dikumpulkan rasanya segini-gini aja, ya?"
Awalnya aku mengira masalahnya ada di pakan.
Aku coba evaluasi.
Ganti komposisi.
Cari referensi.
Sesekali menyalahkan cuaca, padahal cuaca juga bingung salahnya dimana.
Sampai akhirnya aku mulai membaca lebih banyak tentang dunia perayaman.
Dan di situlah aku mengalami momen yang bisa dibilang... cukup mengguncang.
Ternyata...
Ayam itu punya spesialisasi.
Deyyyymm aku benar-benar baru tahu.
Selama ini kupikir semua ayam tinggal dikasih makan, dirawat baik-baik, nanti tinggal memilih mau ambil telur atau dagingnya.
Ternyata pikiranku sesederhana mi instan.
Realitasnya jauh lebih kompleks.
Kalau dunia manusia punya dokter, guru, programmer, arsitek, dan akuntan, dunia ayam juga kurang lebih begitu.
Ada yang memang "profesinya" fokus menghasilkan daging.
Ada yang sejak lahir memang dirancang menjadi mesin penghasil telur.
Ada juga yang berada di tengah-tengah: tidak paling besar, tidak paling rajin bertelur.
Tapi mampu melakukan dua-duanya dengan cukup baik.
Di situlah aku mulai mengenal istilah yang sebelumnya terdengar asing:
Ayam pedaging, ayam petelur, dan ayam dwiguna.
Jujur saja, waktu pertama membaca istilah "dwiguna", aku sempat membatin,
"Wah, ayam juga bisa multitasking ya? Bahkan lebih jago daripada aku yang buka lima tab kerjaan terus lupa semuanya."
Sejak saat itu, cara pandangku terhadap kandang berubah total.
Aku tidak lagi melihat ayam hanya dari ukuran badannya.
Aku mulai bertanya,
"Ayam ini sebenarnya unggulnya di bagian mana?"
Dan ternyata, pertanyaan sederhana itu mengubah semuanya.
Baca juga: Rapihin Bulu dan Daun, Ritual Receh Anti-Anxiety
Ayam Besar Belum Tentu Jawaban yang Paling Tepat
Dulu aku berpikir sederhana. Kalau targetnya swasembada pangan, berarti pilih ayam yang paling besar.
Semakin besar ayamnya, semakin banyak dagingnya.
Tapi ternyata, hidup memang suka mengajarkan kita bahwa logika yang terlihat paling sederhana belum tentu menjadi jawaban terbaik.
Karena tujuan swasembada pangan di rumahku bukan sekadar menghasilkan daging.
Aku juga ingin telur, kalau bisa, rutin.
Kalau bisa lagi, rajin.
Kalau bisa lebih lagi... ya jangan PHP.
Nah, di sinilah Ayam Bangkok mulai menunjukkan bahwa mereka memang punya keunggulan sendiri, tetapi bukan di bagian yang sedang kami cari.
Mereka tetap kusayang, dan tetap kurawat.
Tetapi aku mulai sadar, mungkin mereka bukan pemeran utama untuk misi swasembada pangan yang sedang kami bangun.
Lucunya, dari sini aku belajar satu pelajaran yang ternyata berlaku bukan cuma di kandang.
Kadang kita terlalu sibuk mencari yang paling besar, paling keren, atau paling mencolok.
Padahal yang sebenarnya kita butuhkan adalah yang paling sesuai.
Dan ternyata, pelajaran hidup itu datangnya dari ayam.
Siapa sangka kaaaaannn?
Selamat Datang, Ayam-Ayam dengan "CV" yang Lebih Cocok
Sejak saat itu, aku mulai rajin membaca.
Nonton video peternak.
Masuk forum.
Baca artikel.
Pokoknya apa pun yang berkaitan dengan ayam, rasanya langsung menarik.
Aku lihat perbandingan produktivitas ayam.
Dan dari proses belajar itulah, aku mulai berkenalan dengan beberapa ras ayam yang sebelumnya sama sekali belum pernah kudengar.
Ada Ayam Elba.
Ada Ayam KUB.
Ada Ayam Sentul.
Semuanya punya karakter yang berbeda.
Dan justru itu yang membuatku semakin tertarik.
Aku mulai sadar bahwa membangun kandang ternyata mirip menyusun tim kerja.
Tidak semua harus jago di hal yang sama.
Justru akan lebih kuat kalau masing-masing punya kelebihan sendiri.
Ayam Elba: Kecil-Kecil Cabe Rawit
Kalau Ayam Bangkok mengajariku soal postur, Ayam Elba mengajariku untuk tidak mudah tertipu penampilan.
Karena jujur saja...
Pertama kali melihat Elba, reaksiku biasa saja.
"Lho... kok kecil?"
Tapi setelah dipelihara...
Barulah aku paham kenapa banyak peternak rumahan menyukainya.
Badannya memang tidak sebesar Bangkok.
Namun soal bertelur?
Nah, di sinilah mereka mulai unjuk gigi.
Rajin, konsisten, tapi agak berisik.
Kalau Ayam Bangkok ibarat atlet binaraga, Ayam Elba ini lebih seperti pegawai teladan.
Datang. Kerja. Pulang. Besok diulang lagi.
Tidak banyak gaya. Tapi hasil kerjanya nyata.
Aku sampai beberapa kali bercanda ke suami.
"Kayaknya Elba ini tipe karyawan yang HRD paling sayang."
Dari situ aku kembali belajar.
Kadang sesuatu yang terlihat biasa saja justru menyimpan potensi yang luar biasa.
Dan itu berlaku bukan hanya untuk ayam.
Membangun Tim Ayam, Bukan Mencari Ayam Terbaik
Kalau Ayam Elba mulai mengajariku bahwa tubuh mungil bukan berarti hasilnya kecil, maka dua penghuni kandang berikutnya justru membuatku sadar.
Bahwa membangun peternakan rumahan itu mirip menyusun tim kerja.
Aku sudah punya "pegawai rajin" yang bertugas menyuplai telur.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
"Kalau suatu saat aku juga butuh ayam dengan pertumbuhan badan yang bagus, tapi tetap bisa menghasilkan telur, ada nggak, ya?"
Jawabannya ternyata ada.
Namanya...
Ayam KUB.
Jujur saja, pertama kali mendengar namanya, aku sempat mengira KUB itu nama koperasi.
Ternyata bukan.
KUB adalah singkatan dari Kampung Unggul Balitbangtan, salah satu hasil pengembangan yang memang dirancang supaya performanya lebih baik dibanding ayam kampung biasa.
Bahasa gampangnya, dia bukan spesialis telur seperti ayam petelur komersial, tapi juga bukan tipe yang cuma mengandalkan ukuran badan.
Dia ada di tengah-tengah, orang peternakan menyebutnya ayam dwiguna.
Nah, istilah "dwiguna" ini menurutku keren.
Karena kalau di dunia manusia, mungkin mereka ini tipe orang yang bisa kerja di lapangan, tapi juga jago bikin laporan.
Bisa ngopi santai, tapi pas deadline datang langsung mode beast, multitalenta.
Lalu Datang Si Kebanggaan dari Ciamis
Setelah mulai mengenal KUB, rasa penasaranku belum selesai.
Namanya juga sudah terlanjur masuk dunia ayam.
Rasanya setiap kali membaca artikel atau menonton video peternakan, selalu ada saja ras baru yang membuatku berpikir,
"Wah... menarik juga, ya."
Sampai akhirnya aku berkenalan dengan Ayam Sentul.
Buatku pribadi, Sentul bukan cuma soal produktivitas, ada rasa bangga juga.
Karena ini adalah salah satu plasma nutfah asli Indonesia, tepatnya dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Dan menurutku, kita memang sering lupa kalau negeri ini punya banyak kekayaan genetik lokal yang luar biasa.
Lucunya, dulu aku lebih hafal nama-nama laptop keluaran terbaru daripada nama ayam lokal Indonesia.
Sekarang malah kebalik.
Kalau disuruh milih bahas prosesor atau bahas ayam Sentul, kemungkinan besar aku akan membuka presentasi tentang ayam dulu.
Lihat?
Hidup memang penuh plot twist.
Anak SMK Elektro.
Kuliah Teknik Informatika.
Kerja di dunia kepenulisan.
Sekarang semangat kalau ngobrolin kualitas telur.
Kalau ada yang bilang hidup harus lurus, mungkin dia belum pernah bertemu algoritma Tuhan, ehehehe.
Baca juga: Merpati Romantic Relationship versi Dewasa, Valid?
Ternyata Kandang Juga Punya Ekosistem
Kalau dipikir-pikir sekarang, isi kandangku memang jadi agak... beragam.
Ada Bangkok.
Ada Elba.
Ada KUB.
Ada Sentul.
Kalau dihitung, masing-masing punya kelebihan sendiri.
Dulu aku sempat bertanya-tanya,
"Apa nggak lebih enak fokus satu jenis ayam saja?"
Jawabannya mungkin iya.
Kalau tujuannya bisnis besar.
Tapi tujuan kami sejak awal memang berbeda.
Kami sedang membangun ekosistem kecil.
Aku ingin ada ayam yang rajin bertelur.
Aku ingin ada ayam dwiguna.
Aku tetap ingin memelihara Bangkok yang dulu menjadi titik awal perjalanan kami.
Karena setiap jenis punya perannya masing-masing.
Dan anehnya, semakin lama aku mengurus kandang, semakin aku sadar kalau alam itu memang tidak pernah menyukai sesuatu yang seragam.
Lihat saja hutan.
Isinya bukan satu jenis pohon.
Sawah pun tidak hidup sendirian, ada cacing, serangga, burung, mikroorganisme, semuanya bekerja diam-diam.
Mungkin karena itulah aku mulai jatuh cinta pada konsep integrated farming.
Semuanya saling terhubung, dan tidak harus sama, justru saling melengkapi.
Baca juga: Lele & Patin, Saudara dengan Perilaku Active vs Pasive Demi Bertahan Hidup
Yang Berubah Bukan Cuma Isi Kandang
Lucunya, semakin sering aku belajar tentang ayam, yang berubah ternyata bukan cuma isi kandang.
Cara berpikirku juga ikut berubah.
Dulu aku sering bertanya,
"Mana ayam yang paling bagus?"
Sekarang pertanyaannya berubah menjadi,
"Ayam mana yang paling cocok?"
Kelihatannya sederhana, padahal bedanya jauh.
Karena ternyata tidak ada ayam yang sempurna.
Yang ada hanyalah ayam yang sesuai dengan tujuan kita.
Kalau tujuanmu menghasilkan telur sebanyak mungkin, jawabannya bisa berbeda.
Kalau tujuanmu mencari ayam pedaging, tentu pilihannya lain lagi.
Kalau tujuanmu seperti kami, yaitu membangun swasembada pangan skala rumahan, jawabannya juga belum tentu sama dengan orang lain.
Dan menurutku, ini bukan cuma soal ayam.
Sering kali kita sibuk mencari yang paling hebat.
Padahal belum tentu paling cocok.
Bukankah hidup juga begitu?
Ada orang yang cocok bekerja di kantor.
Ada yang cocok membangun usaha.
Ada yang bahagia hidup di kota.
Ada juga yang justru menemukan dirinya ketika pagi dan sore hari sedang membersihkan kandang sambil mendengar ayam ribut minta makan.
Dan anehnya...
Aku termasuk yang terakhir.
Kalau beberapa tahun lalu ada yang bilang suatu hari nanti aku akan menghabiskan waktu membaca jurnal tentang ayam, berdiskusi soal produktivitas telur, lalu senang melihat kandang yang baru dibersihkan...
Aku pasti akan tertawa.
Sekarang?
Aku malah sedang menulis artikel tentangnya.
Hidup memang lucu.
Kadang kita terlalu sibuk menyusun rencana lima tahun ke depan, sementara semesta diam-diam sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tidak masuk ke dalam spreadsheet.
Baca juga: Si Paling Jago Tidur: Ternyata Kucing Bukan Malas, Tapi Anti Burnout dan Jago Mengelola Stres
Penutup: Ayam Pertamaku Ternyata Mengubah Banyak Hal
Kalau ada satu hal yang paling kusyukuri dari perjalanan ini, mungkin bukan soal jumlah ayam yang sekarang memenuhi kandang.
Bukan juga soal telur yang mulai rutin mengisi dapur.
Apalagi soal berhasil membedakan Ayam Elba, KUB, Sentul, atau Bangkok hanya dari bentuk tubuhnya yang dulu rasanya mustahil.
Hal yang paling kusyukuri justru adalah keberanian untuk memulai.
Karena kalau waktu itu aku terus menunggu sampai merasa "siap", mungkin kandang ini tidak akan pernah ada.
Kalau aku terus menunggu punya lahan luas, mungkin aku masih jadi penonton video peternakan sambil berkomentar, "Enak ya kalau punya tanah segitu."
Padahal, semua ini dimulai dari langkah yang sangat kecil.
Beberapa ekor kelinci.
Rasa penasaran.
Satu kunjungan ke pasar hewan.
Lalu keputusan sederhana membeli ayam Bangkok karena... ya, badannya besar.
Kalau diingat sekarang, keputusan itu memang terdengar lucu.
Tapi justru dari keputusan yang terlihat sederhana itulah semuanya berkembang.
Aku mulai belajar.
Mulai salah.
Mulai memperbaiki.
Mulai mengenal berbagai jenis ayam.
Sampai akhirnya membangun kandang yang benar-benar sesuai dengan tujuan kami.
Jadi kalau hari ini ada yang bertanya,
"Di, menurutmu ayam yang paling bagus itu apa?"
Aku mungkin tidak akan langsung menyebut satu ras.
Aku justru akan balik bertanya,
"Bagus buat siapa? Dan tujuanmu apa?"
Karena setelah beberapa tahun menjalani slow living, aku belajar bahwa dalam beternak sama seperti hidup, yang paling penting bukan mencari yang paling sempurna.
Melainkan menemukan yang paling cocok.
Dan siapa sangka, pelajaran sesederhana itu justru diajarkan oleh makhluk yang tiap pagi membangunkanku dengan suara yang kadang lebih keras daripada alarm.
Untung mereka ayam. hehehe***









